Bab 40: Pelindung Bunga
Menjelang pukul sepuluh lebih, Su Ti secara mendadak dipanggil ke ruang tamu untuk membantu mencocokkan daftar tamu undangan.
Nama-nama dan hubungan keluarga yang begitu rumit dan memusingkan.
Siapa yang tidak boleh duduk satu meja, siapa yang mendapat jatah di meja utama kedua.
Sangat teliti dan penuh dengan detail.
Su Ti membantu merapikan belasan halaman daftar undangan tersebut, dan tanpa diduga melihat nama Rong Shaoting.
Ia pura-pura membalik beberapa lembar, lalu bertanya dengan santai, "Bibi, di mana seharusnya Rong Shaoting duduk?"
Su Houxia tertawa kecil mendengarnya, "Tuan Rong belum tentu akan hadir. Jika datang, kursi di meja utama kedua akan disiapkan untuknya."
Su Ti berujar pelan.
Ia kembali menunduk menatap nama pria itu, teringat pada berbagai kejadian semalam, senar di lubuk hatinya seolah disentuh dengan lembut.
Hampir mendekati siang hari, Su Ti baru bisa lepas dari tugas tersebut.
Ia diam-diam kembali ke kamar tamu, menguncinya, lalu mengeluarkan ponselnya dengan perasaan antusias yang ingin segera menelepon sang pria.
Nomornya bahkan sudah tersambung, tetapi ia mendadak khawatir pria itu sedang sibuk.
Ia buru-buru memutuskannya, kembali ke halaman WeChat, dan mengiriminya stiker Pikachu sedang minum kopi terlebih dahulu.
Pesan itu terkirim belum genap satu menit.
Ponselnya berdering.
Su Ti berdeham pelan, lalu mengangkatnya, "Halo~"
Ia tidak memanggilnya Tuan Rong, karena merasa panggilan itu terlampau kaku dan penuh formalitas, jadi ia memilih untuk melewatkan sapaan itu.
"Urusan di rumah sudah selesai?"
Suara Rong Shaoting terdengar begitu hangat dan penuh daya tarik seperti biasa.
"Hmm, tadi membantu merapikan daftar tamu," Su Ti bertumpu di ambang jendela, menopang dagunya di lipatan lengannya, "Aku melihat... nama Tuan Rong di dalamnya."
Pria itu menghembuskan napas pelan, nada suaranya entah mengapa dipenuhi dengan senyuman yang dalam, "Keluarga Jiang memang mengirimkan undangan sebulan lalu, tapi malam ini ada urusan, jadi belum tentu sempat."
Su Ti merendahkan separuh wajahnya, dalam hatinya ia sangat paham bahwa ini adalah alasan halus dari pria itu.
Paman iparnya di Kota Hong Kong hanya bisa dianggap sebagai pengusaha kaya yang merintis dari bawah, sama sekali belum layak disebut sebagai keluarga terpandang papan atas.
Masih ada batasan alami antara keluarganya dan lingkaran elit tempat Rong Shaoting berada.
Terlebih lagi, dengan status Rong Shaoting di Hong Kong, begitu ia menampakkan diri di hadapan publik, pasti akan banyak orang yang berbondong-bondong datang menjilat dan mendekatinya.
Pemandangan seperti itu pasti akan mencuri perhatian utama.
Setelah memahami situasinya, Su Ti tidak berniat melanjutkan topik ini.
Baru saja ia hendak bersuara, ia mendengar suara dalam sang pria bertanya, "Karena sudah selesai, bisakah kamu keluar sekarang?"
Jantung Su Ti berdegup kencang, ia melirik waktu dengan ragu-ragu.
Hampir pukul dua belas.
Dan lagi...
"Tok, tok—"
Bibi Liu datang mengetuk pintu pada saat yang tepat, memanggil, "Nona Kedua, makan siang sudah siap."
Su Ti menjauhkan ponselnya, menjawab bahwa ia mengerti.
Ia kembali menempelkan ponsel ke telinganya, sementara pria di ujung sana bersuara dengan lembut, "Pergilah, makanlah yang banyak, jangan terlalu kurus."
Tenggorokan Su Ti terasa seolah dilapisi oleh lapisan gula yang manis bercampur getir, menghadirkan sensasi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata: "Lalu... bagaimana denganmu?"
Ia tadinya mengira pagi ini akan senggang, tetapi tidak menyangka malah ditarik secara mendadak untuk merapikan daftar nama.
Sore nanti entah akan ada agenda apa lagi, ia tidak berani lagi membuat janji sembarangan, agar tidak kembali mengecewakan pria itu.
Pria itu menangkap sedikit nada murung dan rasa bersalah dalam suara Su Ti.
Nada bicaranya menjadi semakin lembut dan memikat, penuh dengan pengertian, "Ada rapat rutin siang ini, memang tidak bisa ditinggal terlalu lama. Pergilah makan dulu, urusan keluarga lebih diutamakan."
Semakin pria itu berkata demikian, Su Ti justru semakin merasa menyesal dan bersalah.
Perasaan ini terus berlanjut hingga makan siang selesai.
Bahkan Jiang Chen yang biasanya tidak peka pun menyadari keanehannya, "Masih memikirkan urusan Kak Wen, ya?"
Su Ti menghela napas sambil menopang dagunya, "Kamu tidak mengerti."
Melihat ekspresinya yang lesu dan tampak tidak bernafsu makan, Jiang Chen langsung paham, "Aku mengerti, kamu mengkhawatirkan Tuan Rong."
Su Ti menatapnya dengan sayu: "..."
Jiang Chen tersenyum lebar, sama sekali tidak merasa takut.
Kemudian, dengan mengerahkan seluruh kemampuannya merayu wanita, ia memberikan pelajaran hidup yang amat nyata tentang pria bajingan kepada Su Ti.
Poin utamanya: Pria itu penuh nafsu, wanita itu silau harta.
Baru menjelaskan setengah jalan, ia sadar kalau pembicaraannya sudah melenceng jauh.
Tuan muda kaya itu hendak meralat ucapannya, namun langsung diusir keluar oleh Su Ti yang sedang merasa kesal.
Sore harinya, Su Ti mengikuti rombongan besar menuju restoran tempat perayaan ulang tahun diadakan.
Sebelum berangkat, ia mengirimkan pesan WeChat kepada Rong Shaoting.
Entah apakah pria itu sedang rapat rutin, pesan itu sama sekali tidak dibalas.
Setibanya di restoran, begitu kesibukan dimulai, Su Ti tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal lain, yang justru sedikit meredakan rasa kecewa di dalam hatinya.
Lewat pukul lima, para tamu undangan mulai berdatangan satu per persatu ke lokasi.
Su Ti mengenakan gaun pendek berwarna biru danau dengan model satu bahu, berdiri di pintu masuk restoran untuk menyambut para tamu.
Bukannya tanpa alasan.
Itu adalah perintah dari ayah kandungnya, memintanya keluar untuk menyambut Qin Yi.
Su Ti menggenggam ponselnya, sesekali menyalakan layar untuk mengeceknya.
Masih belum ada balasan.
Apakah dia sebegitu sibuknya?
Atau karena siang tadi mereka tidak bisa bertemu, jadi dia marah?
"Xiao Ti."
Panggilan jernih Qin Yi terdengar dari balik pintu mobil.
Su Ti mematikan layar ponselnya, mendongak untuk menyapa, "Kak Yi."
Qin Yi malam ini hadir dengan pakaian formal, setelan jas biru dipadukan dengan kemeja putih. Gaya busana dewasanya itu sedikit mengurangi kesan kekanak-kanakan pada dirinya.
Qin Yi berjalan ke sisi Su Ti, tatapannya tanpa sadar mengamatinya, "Kamu terlihat sangat cantik hari ini."
Su Ti menjawab terima kasih dengan setengah hati, sudah terbiasa dengan pujian semacam itu.
"Ayo masuk, Ayah dan Paman ada di dalam."
Qin Yi mengangguk menyetujui.
Keduanya berjalan berdampingan melewati kerumunan bising di depan pintu restoran tempat para tamu mencatat hadiah ucapan selamat.
Qin Yi secara diam-diam mengangkat tangannya dari belakang untuk melindungi Su Ti.
Ia tidak menyentuhnya.
Namun maksudnya sebagai pelindung wanita begitu jelas terlihat.
Di saat yang sama.
Sebuah mobil sedan mewah Maybach melaju dengan kecepatan konstan melewati jalur khusus di depan pintu restoran.
Dari jendela pintu belakang yang terbuka setengah, sehelai kepulan tipis asap rokok melayang keluar dan memudar di udara.
Tepat pukul enam, perjamuan ulang tahun Jiang Youshang resmi dimulai.
Tiga puluh enam meja penuh terisi tanpa ada kursi yang kosong.
Pembawa acara adalah seorang profesional ternama di industri tersebut. Usai menyampaikan kata sambutan pembuka, Jiang Youshang bersama keluarganya naik ke atas panggung untuk menyampaikan pidato ucapan terima kasih.
Su Ti duduk di sudut meja utama, pandangan sekenjanya menyapu ke arah meja utama kedua di sebelah yang sudah penuh terisi orang.
Meskipun ia sudah tahu sejak awal bahwa Rong Shaoting tidak akan datang, di lubuk hatinya tetap tersimpan secuil harapan kecil.
Pada saat itu, ponsel di atas meja bergetar, sebuah pesan WeChat masuk.
Jantung Su Ti berdegup kencang, ia membukanya, dan orang yang "hilang" akhirnya kembali.
Tuan Rong: [308, kesini.]
Apa maksudnya?
Su Ti merasa bingung, ia menoleh ke arah tangga.
Sebuah ide melintas di benaknya, ia menarik lengan seorang pelayan yang sedang lewat, "Permisi, apakah ada kamar 308 di sini?"
Pelayan yang sedang membawa nampan makanan itu menjawab terburu-buru, "Ada, di lantai tiga, itu adalah ruang VIP. Tamu pesta ulang tahun tidak diperbolehkan naik ke atas."
Mata Su Ti berbinar-binar, memanfaatkan kelengahan orang-orang, ia diam-diam meninggalkan lokasi acara.
Lantai Tiga.
Su Ti mengenakan sepatu hak tingginya, menaiki anak tangga satu persatu dengan langkah tergesa.
Tidak ada yang menghalangi sepanjang jalan, bahkan ia tidak melihat satupun petugas pelayan.
Su Ti menghitung nomor kamar dan menemukan nomor 308.
Berdiri di depan pintu, ia merasa ragu-ragu.
Bukankah tadi dikatakan itu adalah ruang VIP lantai tiga? Kenapa begitu mudah baginya untuk naik ke atas, jangan-jangan ia salah kamar?
Su Ti menenangkan diri, berniat mengirim pesan lagi kepada Rong Shaoting untuk memastikan.
Ia pun mengetik tiga kata ‘aku sudah sampai’, bersiap untuk mengirimkannya.
Ketika jarinya hanya berjarak sehelai kertas dari tombol kirim.
Pintu kamar pribadi 308 perlahan terbuka.
Su Ti tertegun, saat ia mendongak seketika, bahkan belum sempat melihat dengan jelas siapa orangnya, ia sudah ditarik masuk ke dalam.
"Eh—"
Seruan tertahan itu bersamaan dengan bayangan sang gadis yang lenyap di balik pintu ruang VIP 308.
Semuanya terjadi dalam sekejap mata.
Di dalam ruangan.
Setelah merasakan sensasi kehilangan gravitasi yang membuat dunia berputar sejenak.
Su Ti berdiri dengan mantap, ia mengerjap dan memfokuskan pandangannya—
Saat ini, punggungnya menempel erat pada dinding, sementara sosok yang berada sangat dekat di hadapannya, dengan satu tangan diselipkan di saku celana dan garis wajah yang tegas, adalah Rong Shaoting.
Tidak hanya itu saja.
Ketika Su Ti sedikit memutar tubuhnya, ia jelas-jelas merasakan bahwa di antara pinggang belakangnya dan dinding, masih ada sebilah lengan kekar yang kokoh menahan.