Bab 14: Betapa Rapuhnya Hubungan Antara Dia dan Chi Jin
Halaman (1/3)
Dari belakang terdengar suara pintu didorong terbuka. Tang Baizhi menarik napas dalam-dalam, lalu segera menata kembali emosinya.
Ketika Chi Jin masuk, ia sudah duduk di tepi ranjang seolah tidak terjadi apa-apa.
“Kenapa tidak mencobanya?” Chi Jin melirik gaun itu, kemudian kembali menatapnya.
Jarang sekali Tang Baizhi melihat emosi sekuat itu dalam mata Chi Jin yang biasanya dingin dan tenang. Harapan samar bergelora di dalam sorot matanya. Ia menatap Tang Baizhi dengan begitu penuh perhatian, seakan telah membayangkan betapa cantiknya perempuan itu saat mengenakan gaun tersebut.
Karena itu, kalimat “Aku tidak ingin memakainya” hanya tertahan di tenggorokan Tang Baizhi.
Seperti biasa, ia menurut dan mengangguk. Ia bangkit, lalu pergi ke ruang ganti untuk mengenakan gaun itu.
Harus diakui, selera Chi Jin memang sangat bagus.
Potongan gaun itu begitu pas, menonjolkan lekuk tubuh Tang Baizhi yang indah hingga tampak semakin memikat.
Setiap kali ia bergerak, rok yang berkilauan seperti riak cahaya semakin menambah pesonanya.
Bahkan bidadari yang turun dari kahyangan pun mungkin hanya akan tampak seperti itu.
Chi Jin menatap Tang Baizhi yang berdiri dengan kepala tertunduk. Kekaguman samar mengambang di matanya.
Jarang sekali ia tidak menyembunyikan emosinya di hadapan Tang Baizhi.
Tang Baizhi menggigit bibir bawahnya, berusaha sekuat tenaga menekan kepedihan yang bergolak di dalam dada. Perasaannya bercampur aduk.
Hanya sebuah gaun yang gagal ia berikan sudah mampu membangkitkan begitu banyak emosi dalam diri Chi Jin.
Sementara dirinya, seorang manusia yang hidup dan nyata, yang selama tiga tahun selalu mendampinginya, memahami dingin dan hangatnya, justru tak pernah benar-benar ia pedulikan.
“Lumayan pas,” kata Chi Jin sambil menyentuh ujung hidungnya dan tersenyum.
Sinar matahari sore menembus jendela besar dari lantai hingga langit-langit, menorehkan bayang-bayang keemasan di tubuhnya.
Tang Baizhi sedikit tertegun. Begitu Chi Jin tersenyum, ia seolah kembali ke masa mudanya.
Dahulu, pohon-pohon platanus Prancis di tepi jalan Universitas Kota Kaisar juga pernah memantulkan cahaya berbintik-bintik yang sama ke tubuh Chi Jin.
Saat itu, Chi Jin adalah lelaki impian dalam khayalan cinta gadis-gadis Kota Kaisar.
Sedangkan dirinya adalah perempuan yang menolak tak terhitung banyaknya pemuda, hanya demi menanti satu tatapan dari Chi Jin.
“Kau sangat cocok memakainya,” tambah Chi Jin sambil tersenyum.
Ia tidak melihat sudut mata Tang Baizhi yang diam-diam memerah, lalu berbalik dan meninggalkan kamar.
Seolah-olah ia kembali hanya untuk melihat Tang Baizhi mengenakan gaun itu.
Tang Baizhi berdiri membisu di tempatnya. Sutra lembut menempel pada kulitnya yang putih dan halus, tetapi rasanya seperti ada ribuan jarum yang menusuk sela-sela tulangnya.
Lihatlah, betapa rapuhnya hubungan mereka.
Begitu rapuh hingga sebuah gaun indah saja sudah cukup untuk menghancurkan seluruh kebohongan yang selama ini ia ciptakan bagi dirinya sendiri.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Ia berbalik dan kembali ke ruang ganti untuk menanggalkan gaun itu, lalu menggantungnya di bagian paling dalam lemari.
Setelah berganti pakaian, telepon Tang Baizhi berdering.
Itu panggilan dari He Ling, yang menanyakan apakah ia bersedia makan malam bersama.
Semula Tang Baizhi tidak ingin pergi. Namun, teringat ekspresi Chi Jin barusan, ia malah menyetujuinya tanpa sadar.
Sesampainya di tempat yang disepakati dengan He Ling, Tang Baizhi baru menyadari bahwa restoran itu berada tepat di seberang gedung Grup Chi.
Dari ruang kerja presdir di lantai sembilan belas, orang dapat melihat langsung meja di dekat jendela restoran tersebut.
Celakanya, He Ling memang memesan meja dekat jendela, dan saat itu ia bahkan sudah duduk di sana.
Kening Tang Baizhi sedikit berkerut. Ia mendongak menatap ke arah ruang kerja presdir.
Entah mengapa, tiba-tiba ia merasa bersalah.
Meskipun tahu Chi Jin masih berada di ruang kerja rumah Teluk Pendar Bulan untuk menyelesaikan pekerjaannya, langkahnya tetap terhenti.
Mungkin lebih baik ia membatalkannya saja.
Namun He Ling sudah melihatnya dan tersenyum sambil melambaikan tangan.
Tang Baizhi terpaksa melangkah masuk dengan hati yang berat.
“Baizhi, cepat duduk.” He Ling menyambutnya dengan senyum lebar, lalu menuangkan secangkir teh untuknya. “Aku ingat kau paling suka teh merah dari Gunung Tanpa Batas. Teh di tempat ini sangat autentik. Kau harus mencobanya.”
“Terima kasih, Kakak Senior.”
Tang Baizhi tersenyum tipis, mengangkat cangkir teh, lalu menyesapnya sedikit.
Rasanya lembut, bagaikan kabut di Gunung Tanpa Batas yang melayang samar di antara bibir dan lidah, meninggalkan keharuman yang menyebar ke seluruh rongga mulut.
Dahulu, neneknya gemar menikmati teh. Karena tumbuh dalam lingkungan seperti itu, Tang Baizhi pun sejak kecil ikut mengenal budaya teh dan sangat menyukainya, terutama teh merah.
Namun Chi Jin menyukai kopi.
Setelah menikah, Tang Baizhi perlahan berhenti minum teh. Sebagai gantinya, ia mempelajari banyak hal tentang kopi dan bahkan menghabiskan banyak uang untuk membeli seperangkat mesin kopi. Hampir-hampir ia menjadikan dirinya seorang barista ahli.
Chi Jin pernah berkata bahwa kopi racikannya memiliki cita rasa yang tidak dimiliki tempat lain. Mendengar itu, Tang Baizhi merasa bahagia selama berhari-hari.
Namun kini, saat duduk berhadapan dengan He Ling dan menyesap teh merah yang dahulu paling disukainya, barulah Tang Baizhi tersadar bahwa selama bertahun-tahun ia telah begitu banyak berubah demi Chi Jin.
Dan ia melakukannya dengan senang hati.
Menepis lamunannya, Tang Baizhi meletakkan cangkir teh dan berkata dengan nada datar, “Mengapa memilih restoran ini?”
“Setelah kembali ke negeri ini, aku terus mencari tempat yang menyajikan teh merah Gunung Tanpa Batas paling autentik. Setelah susah payah, akhirnya aku menemukan tempat ini.” He Ling kembali menuangkan teh untuknya. “Kebetulan hari ini aku datang ke Grup Chi untuk membicarakan sebuah proyek, jadi aku mengajakmu kemari.”
“Bukankah Grup Chi memiliki departemen hukum?” Tang Baizhi bertanya dengan heran.
Departemen hukum Grup Chi terkenal sangat tangguh di Kota Kaisar. Karena itu, jarang ada orang yang benar-benar berani terlibat sengketa hukum dengan Grup Chi.
He Ling baru saja kembali ke negeri ini dan membuka firma hukumnya sendiri, tetapi sudah berani membicarakan proyek dengan Grup Chi. Itu memang terbilang berani.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
He Ling tersenyum tenang. “Bukan kerja sama, hanya perkara kecil pembatalan kontrak. Merek kosmetik yang baru diluncurkan Grup Chi menggaet aktris pemenang penghargaan, Bai Anning, sebagai duta merek. Namun Bai Anning ternyata telah menikah diam-diam selama dua tahun dan kini sedang hamil. Jadi, mereka menunjukku untuk merundingkan pembatalan kontrak.”
“Oh, begitu.”
Tang Baizhi mengangguk.
Chi Jin tidak pernah menceritakan hal itu kepadanya. Sebenarnya, kecuali ketika membutuhkan bantuannya, Chi Jin jarang membicarakan urusan perusahaan dengannya.
Banyak berita yang ia ketahui dari surat kabar atau dari orang lain.
Lagipula, pembatalan kontrak seperti itu bagi Grup Chi hanyalah perkara kecil yang nyaris tidak berarti.
Setelah selesai makan malam, He Ling menawarkan diri untuk mengantar Tang Baizhi pulang.
Tang Baizhi langsung menolaknya.
Chi Jin sejak dulu tidak suka melihatnya terlalu dekat dengan pria lain.
Meskipun tidak memiliki cinta untuknya, Chi Jin tetap memiliki rasa memiliki khas seorang pria terhadap dirinya.
Terlebih lagi, keluarga Chi selalu sangat menjaga nama baik. Jika menantu perempuan mereka benar-benar terseret gosip dengan pria lain, orang tua Chi Jin tentu tidak akan tinggal diam.
Karena itu, Tang Baizhi tidak pernah mencari masalah untuk dirinya sendiri.
Ia juga tidak ingin menggunakan pria lain untuk menarik perhatian Chi Jin. Hari ini, ia hanya datang karena emosinya terusik oleh Chi Jin, dan karena pria itu adalah He Ling.
Setelah berpisah dengan He Ling, Tang Baizhi kembali ke Teluk Pendar Bulan.
Chi Jin masih bekerja di ruang kerjanya. Tang Baizhi membuat secangkir kopi, lalu mengetuk pintu.
“Masuklah.”
Tang Baizhi mendorong pintu hingga terbuka. Chi Jin sedang menatap komputer dengan penuh perhatian, seolah tengah membalas surat elektronik.
“Aku membuatkan kopi untukmu. Jangan bekerja sampai terlalu larut.”
Tang Baizhi meletakkan kopi itu dan hendak pergi, tetapi Chi Jin malah meraih tangannya.
Ia menoleh dan menatap mata Chi Jin yang dalam bak telaga tanpa dasar, lalu perlahan-lahan merasa dirinya tenggelam.
“Malam ini kau tidak perlu menungguku.”
Chi Jin menggenggam tangannya sedikit lebih erat, kemudian kembali memusatkan perhatian pada pekerjaannya.
Tang Baizhi mengatupkan bibir dan bergegas meninggalkan ruang kerja.
Baru saja, dari sudut matanya, ia melihat layar komputer Chi Jin.
Pria itu ternyata bukan sedang membalas surat elektronik pekerjaan. Di layar tampak dua foto bersama yang begitu mencolok hingga mustahil untuk tidak diperhatikan.
Chi Jin dalam wujud seorang pemuda berdiri di bawah pohon beringin besar bersama seorang gadis berpakaian putih. Senyum mereka hangat, selembut angin musim semi.
Halaman (3/3)