Bab 25: Kesalahpahaman
"Tuan Tang dan Nyonya, selamat menikmati makan malam. Saya dan pacar saya masih ada urusan, jadi kami pamit duluan," ujar Feng Ji dengan sopan.
Tang Zhengshen menatap kepergian Feng Ji dan Rong Huan. Tuan muda tertua dari keluarga Feng ini ternyata sudah punya pacar?
"Apakah kau mengenal pacar Tuan Muda Feng?" tanya Tang Zhengshen, yang merasa lebih terkejut dengan fakta tersebut.
Mendengar pertanyaan suaminya, Tian Wanqiu mengangguk kecil. "Ya, dia adalah gadis dari keluarga Jiang. Dia telah sangat membantuku."
Saat memikirkan hal itu, rona kemerahan muncul di wajah Tian Wanqiu tanpa sadar. Entah karena dirinya terlalu banyak berpikir akhir-akhir ini atau bukan, ia merasa seolah-olah ia benar-benar sedang mengandung.
"Keluarga Jiang? Apakah keluarga Jiang yang memulai usaha dari bisnis tekstil itu?"
Tang Zhengshen mengenal watak Tian Wanqiu yang dingin dan menjaga jarak. Biasanya, istrinya tidak akan pernah menyebutkan orang lain di depannya kecuali jika ia merasa memiliki utang budi yang sangat besar dan tidak mampu membalasnya.
"Ya," jawab Tian Wanqiu singkat.
Ia tahu bahwa Rong Huan adalah putri kandung yang baru saja ditemukan kembali oleh keluarga Jiang, dan itu semua berkat Jun Ningyan. Namun, ia merasa tidak perlu menceritakan kerumitan masalah tersebut kepada suaminya. Hubungan mereka memang jauh lebih akrab akhir-akhir ini, dan ia tahu jika Tang Zhengshen memiliki kesempatan, suaminya itu pasti akan berusaha membantu keluarga Jiang.
"Zhengshen, aku rasa... aku mungkin benar-benar hamil."
Setelah masuk ke dalam rumah bergaya tradisional, Tian Wanqiu merasa mual saat melihat hidangan yang disajikan. Melihat kondisi istrinya, Tang Zhengshen tidak lagi memedulikan makan malam tersebut dan segera membawanya ke rumah sakit.
Sementara itu, Feng Ji mengantar Rong Huan kembali ke kediaman keluarga Jiang. Dengan penuh kasih, Rong Huan mengecup pipi Feng Ji sebelum turun dari mobil dan melangkah masuk tanpa menoleh lagi. Ia tidak melihat bahwa Feng Ji yang masih duduk di balik kemudi menatapnya dengan pandangan dalam. Bibir tipis pria itu melengkung membentuk senyum, dan jakunnya bergerak naik-turun.
Gadis itu berlari terlalu cepat. Ciuman singkat seperti itu tidak cukup untuk memuaskannya.
Bunga peony yang dikirim dari rumah tradisional tadi sudah diletakkan oleh pelayan di halaman kediaman keluarga Jiang. Pak Tua Jiang sempat melihatnya dan merasa bunga itu mekar dengan sangat indah. Ia pun telah mendengar dari putranya tentang hubungan antara Rong Huan dan Feng Ji. Sebagai orang tua, tentu ia tidak ingin terlalu mencampuri urusan cinta anak muda. Namun, ia tetap mengingatkan Jiang Chengzhou bahwa bagaimanapun juga, Rong Huan adalah bagian dari keluarga mereka, sehingga persiapan untuk segala kemungkinan harus tetap dilakukan.
Jiang Chengzhou mengerti. Ia dan istrinya, Shen Rumei, memiliki kekhawatiran yang sama: mereka takut jika hubungan itu tidak berakhir baik, Rong Huan akan terluka parah.
***
"Huanhuan, ada yang ingin Mama bicarakan denganmu."
Rong Huan baru saja hendak meraih ponselnya yang berbunyi ketika Shen Rumei mengetuk pintu dan masuk ke kamarnya.
"Ya, silakan, Ma," jawab Rong Huan sambil menatap ibunya.
"Apakah benar kau dan Feng Ji sedang menjalin hubungan?" tanya Shen Rumei.
Rong Huan mengangguk. "Ya."
"Bagaimana awalnya? Apakah kau yang ingin bersamanya, atau dia yang memintamu duluan?" tanya Shen Rumei, persis seperti yang dilakukan Jiang Yueshu sebelumnya.
"Dia terus mengajakku makan. Aku bertanya apakah dia menyukaiku, dan dia menjawab iya. Aku bertanya apakah dia menyukai wajahku, dia juga menjawab iya. Menurutku dia sangat dangkal. Lalu dia bertanya bagaimana pendapatku tentang dirinya dan apakah dia boleh menjadi pacarku. Aku bilang aku ini orang yang tidak setia dan mudah jatuh cinta pada siapa saja. Dia menjawab tidak masalah, dia akan berusaha menjadi orang yang paling kucintai."
Rong Huan melanjutkan, "Karena dia tampan dan sering mengajakku makan enak, rasanya tidak sopan jika aku menolak, jadi aku setuju saja."
Shen Rumei tertegun mendengar penjelasan itu. Ia menyadari bahwa ia masih kurang memahami keberanian putrinya. Gadis ini benar-benar nekat; saat pria seperti Feng Ji menyatakan cinta, dia justru mengaku sebagai orang yang mudah berpindah hati. Apakah dia tidak takut Feng Ji akan marah?
"Lalu, jika—Mama hanya berandai-andai—suatu hari nanti Feng Ji meminta putus, apa yang akan kau lakukan?" tanya Shen Rumei hati-hati.
"Dia yang minta putus? Kenapa bukan aku saja yang memutuskannya?" tanya Rong Huan dengan wajah polos yang tulus.
Shen Rumei terdiam.
"Ma, maksud Mama kalau suatu hari aku dicampakkan oleh Feng Ji, kan? Jika dia tidak menyukaiku lagi, ya aku juga tidak boleh menyukainya lagi. Kita pulang ke rumah masing-masing saja. Kalau kami sudah menikah dan punya anak lalu dia mencampakkanku, aku akan langsung membuat anaknya memanggil pria lain sebagai ayah."
Itulah pemikiran jujur Rong Huan. Jika Feng Ji tidak menyukainya lagi, untuk apa merengek agar tidak putus? Itu bukan gaya seorang gadis dari Sekte Hehuan. Lagipula, dia tidak akan pernah menggantungkan hidupnya pada satu pohon saja.
Shen Rumei kembali ke kamarnya dengan perasaan bingung. Ia merasa pemikiran putrinya sebenarnya cukup logis dan ia tidak perlu terlalu khawatir. Ternyata, dia memang kurang mengenal Rong Huan.
Di sisi lain, Feng Ji tidak tahu apa yang dipikirkan pacarnya. Ia masih sibuk bekerja di kantor. Selama Feng Ji belum pulang, Gu Huai selaku sekretaris utama juga harus ikut lembur. Meski begitu, Gu Huai tidak terlalu keberatan; di rumahnya saat ini ada "makhluk jadi-jadian" yang membuatnya enggan untuk pulang cepat.
Di ponselnya, Rong Huan membuka obrolan dengan toko daringnya.
[Yun Juan Yun Shu]: Aku hamil, terima kasih! Benar-benar terima kasih banyak!
Tian Wanqiu baru saja mengirim pesan setelah hasil pemeriksaan di rumah sakit keluar. Ia tidak menyangka produk dari toko Rong Huan begitu ampuh. Rong Huan mengirim stiker ucapan selamat lalu menutup aplikasi tersebut. Sebenarnya, Rong Huan sudah bisa melihat kehamilan Tian Wanqiu saat mereka bertemu di rumah tradisional tadi, namun saat itu mulutnya dibungkam oleh Feng Ji sehingga ia tidak bisa mengucap apa pun.
***
Tang Zhengshen tampak sangat bahagia akhir-akhir ini. Setelah bertahun-tahun menikah, Tian Wanqiu akhirnya lebih terbuka padanya, dan kini mereka akan segera memiliki buah hati.
Jiang Chengzhou, yang melihat kegembiraan di wajah Tang Zhengshen, tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Tuan Tang sepertinya sedang ada kabar gembira?"
"Ya, ada kabar baik. Namun, belum bisa diumumkan secara resmi. Nanti saat acara perjamuan, Tuan Jiang harus datang, ya," jawab Tang Zhengshen. "Bawalah putri Anda sekalian, istri saya sangat menyukai putri Anda."
Tang Zhengshen menyerahkan kontrak yang sudah ditandatangani kepada asistennya sambil tersenyum pada Jiang Chengzhou.
"Tentu saja, itu pasti!" jawab Jiang Chengzhou dengan gembira. Ia tidak menyangka kerja sama dengan Tang Corporation berjalan semulus ini. Namun, ia bertanya-tanya, putri mana yang dimaksud oleh Tang Zhengshen? Apakah Yueshu atau Rong Huan?
Jiang Chengzhou berpikir pastilah Yueshu, karena kecil kemungkinan Rong Huan pernah bertemu dengan Tian Wanqiu. Sepertinya, keberhasilan kerja sama ini sebagian besar berkat andil Yueshu.