Bab 5 Perhitungan
Yu Chu telah kembali.
Kabar ini meledak di kalangan anak-anak orang kaya dengan kecepatan yang luar biasa. Di dalam sebuah grup pesan singkat bernama "Hidup Santai Menanti Ajal", pesan-pesan terus mengalir tanpa henti.
—Kalian sudah dengar? Yu Chu sudah kembali!
—Aaah! Yu Chu kesayanganku akhirnya pulang!
—Sudah belasan tahun, tidak tahu apakah dia tumbuh menjadi tidak menarik.
—Sudah pasti tidak, aku melihatnya langsung. Dia tidak hanya tidak jelek, tapi malah cantik luar biasa. Aku tidak pernah menyangka seseorang dengan rambut merah bisa terlihat seindah itu!
—Rambut merah?! Sial! Pasti cakep banget dong!
—Aku menyesal, andai saja aku tahu, aku pasti sudah pergi! Dua kali pernikahan sebelumnya aku datang, tapi justru kali ini aku tidak hadir, membuatku melewatkan gosip sebesar ini!
—Siapa lagi yang ada di sana? Bisakah ceritakan, apakah dia masih penurut dan cantik seperti dulu? Apakah dia masih seperti malaikat kecil yang tak sengaja jatuh ke bumi?
—Hmm... mungkin?
—Apa maksudmu "mungkin"? Jelaskan!
Jiang Yuechuan yang sedang memantau grup tersebut memasang ekspresi aneh. Ia teringat mulut Yu Chu yang sering membuat orang kesal tanpa disadari. Ia terdiam sejenak, lalu menghapus kalimat yang sudah ia ketik di kotak pesan satu per satu.
Yu Chu tidak penurut lagi. Dia bukan hanya seorang yang bermulut tajam secara alami, tapi juga seorang yang sangat pedas saat berbicara.
Hari itu, setelah Yu Chu pergi bersama Tuan Besar Yu, mata Jiang Yuechuan berbinar. Ia langsung mengambil kunci mobil dan bergegas pergi. Ia tahu ke mana biasanya Tuan Besar Yu pergi memancing.
"Sial! Baru mulai sudah mati tiga kali, kau benar-benar tidak berguna! Anjingku saja mainnya lebih jago dari kau!"
Suara makian terdengar dari balik pintu yang setengah terbuka. Wajah Jiang Yuechuan menggelap, ia menendang pintu hingga terbuka lebar.
Jiang Jichuan sedang asyik memaki saat tiba-tiba *headphone*-nya ditarik paksa oleh seseorang. Ia langsung naik pitam dan berteriak kasar, "Sudah berapa kali kubilang! Jangan masuk ke kamarku!"
"Jiang... Ji... Chuan!"
Punggung Jiang Jichuan seketika terasa dingin. Ia tersentak kaget hingga bicaranya terbata-bata, "Ka... Kak, kenapa Kakak ada di rumah?"
Jiang Yuechuan tersenyum sinis, "Pertanyaan itu seharusnya aku yang ajukan padamu. Sekarang hari Rabu jam sembilan pagi, kau sudah pulang sekolah?"
"Aku..." Jiang Jichuan gemetar. Ia tidak mungkin mengaku bahwa ia berpura-pura sakit agar bisa bolos sekolah dan bermain gim.
"Huh... kebiasaan buruk yang tidak pernah berubah. Jiang Jichuan, kali ini aku tidak akan melepaskanmu. Segera ikut aku ke sekolah."
Jiang Jichuan menggeleng panik, "Tidak, tidak! Kak, aku salah. Jangan temui wali kelas kami, ya?"
Jiang Yuechuan tidak bergeming. "Tiga kali sudah cukup. Aku memegang perkataanku. Jiang Jichuan, kau sudah empat belas tahun, kau harus bertanggung jawab atas pilihanmu sendiri."
"Kak! Aku ini adik kandungmu, bagaimana bisa kau memperlakukanku seperti ini!" Jiang Jichuan sudah tidak punya harga diri lagi, ia memeluk kaki Jiang Yuechuan dengan erat.
Jika teman-temannya tahu bahwa pemimpin mereka berpura-pura sakit demi bolos sekolah, di mana ia harus menaruh muka?
Melihat orang yang bersimpuh di lantai itu, dahi Jiang Yuechuan berkerut. "Lepaskan! Aku tidak punya adik sepertimu."
Justru kalimat itulah yang menyentuh titik sensitif Jiang Jichuan. Ia terdiam selama beberapa detik, lalu berteriak histeris, "Akhirnya kau mengatakannya juga, kan? Selama bertahun-tahun ini, di dalam hatimu kau sama sekali tidak menganggapku sebagai adik!"
"Jiang Jichuan, kau sedang mengigau apa?" Jiang Yuechuan mengernyit.
Jiang Jichuan semakin merasa sedih dan menangis tersedu-sedu di lantai. "Kau memang tidak menyukaiku. Adik yang paling kau sukai adalah Yu Chu! Kalau bukan karena kau menginginkan adik seperti Yu Chu, Ayah dan Ibu tidak akan melahirkanku!"
"Sekarang sudah jelas, Yu Chu sudah kembali, pergilah cari adik kesayanganmu itu! Jiang Yuechuan, aku membencimu!"
Mendengar itu, Jiang Yuechuan terpaku di tempat. "Siapa yang memberitahumu hal itu?"
Jiang Jichuan menjawab dengan sedih, "Aku sudah tahu sejak lama. Mereka semua mengatakan hal itu!"
Dulu, Jiang Yuechuan memang selalu merengek ingin punya adik karena Yu Chu sangat penurut dan menggemaskan. Ia memang sering meminta orang tuanya untuk membawa Yu Chu pulang. Setelahnya, ia memang pernah mengeluh bahwa Jichuan terlalu sering membuat masalah dan tidak sepenurut Yu Chu, namun di dalam hatinya, ia tidak pernah merasa Jichuan lebih rendah dari Yu Chu.
Ia tidak menyangka bahwa ketidaksengajaannya telah melukai hati Jichuan begitu dalam.
"Maafkan aku, Jichuan." Jiang Yuechuan menghela napas, lalu duduk di sampingnya dengan wajah penuh penyesalan. "Maaf, aku memang mengabaikan perasaanmu. Tapi bagiku, kau sama sekali tidak lebih buruk dari Yu Chu."
Meskipun terkadang ia memang ingin memukulnya sampai pingsan.
"Ayah dan Ibu juga tidak memutuskan untuk punya anak kedua hanya karena aku menginginkan adik. Kau sudah besar, kalau ada yang tidak kau mengerti, tanyalah. Jangan berandai-andai sendiri."
Jiang Jichuan membenamkan wajahnya di lutut dan bertanya dengan suara teredam, "Aku tidak mau dengar, kau membohongiku!"
"Sungguh, aku tidak berbohong."
"...Lalu kenapa Ayah dan Ibu melahirkanku?"
Jiang Yuechuan menjawab tanpa berpikir, "Karena Ibu adalah pegawai negeri, dia tidak boleh punya anak kedua. Setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan anak kedua, barulah mereka melahirkanmu."
"..."
Mendengar itu, tangisan Jiang Jichuan justru semakin menjadi-jadi.
...
Di kamar hotel, Mo Lin bersandar di kepala ranjang dengan wajah kesal, tubuhnya terbalut selimut, sementara bekas-bekas kemerahan yang ambigu terlihat jelas di tulang selangkanya.
"Sudah kubilang jangan tinggalkan bekas. Bagaimana aku harus pergi bekerja kalau seperti ini?"
"Tenang saja, aku akan mengaturnya. Acara varietas yang kau bicarakan waktu itu sudah ada titik terang." Xia Yuhang duduk dengan dada terbuka. "Ada apa? Apa terjadi sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
Wajah Mo Lin tampak sedikit lebih tenang. "Tahu pun tidak akan membantu..." Ia berhenti sejenak, matanya berkilat tajam. "Aku ingat kau dan Yu Chu sepertinya pernah memiliki pertunangan, bukan? Bahkan sudah bertukar tanda mata."
Nenek Yu dan nenek Xia Yuhang adalah sahabat karib selama puluhan tahun. Sebelum Yu Chu lahir, mereka sempat bercanda ingin menjodohkan cucu mereka agar hubungan keluarga semakin erat, bahkan mereka bertukar tanda mata. Setelah nenek Yu meninggal, masalah itu pun terlupakan begitu saja.
Negara Naga sudah lama melegalkan pernikahan sesama jenis dan mengeluarkan kebijakan terkait. Saat ini, meskipun pernikahan sesama jenis bukanlah hal yang lumrah, orang-orang tidak lagi memandang mereka dengan tatapan aneh.
"Itu hanyalah candaan antara nenekku dan nenek Yu, tidak dianggap sah." Xia Yuhang segera meyakinkan. "Lin-lin, tenanglah. Aku tidak menyukai pria, secantik apa pun Yu Chu, aku tidak tertarik padanya."
"Tidak, kau menyukai Yu Chu!" Mo Lin menyipitkan mata. "Candaan itu harus dianggap serius!"
Yu Che baru berusia empat belas tahun dan sedang berada di masa pemberontakannya. Ia dan ibunya tidak bisa mendidiknya, tetapi membiarkan Yu Chu mengambil segalanya begitu saja tentu tidak bisa mereka terima.
Paman Yu sangat menghormati mendiang nenek Yu. Jika nenek Xia mengangkat kembali masalah lama itu, demi menghormati keinginan terakhir mendiang, Paman Yu tidak mungkin mengabaikannya.
Mendengar itu, Xia Yuhang tersentak dan menatapnya dengan tidak percaya. "Apa maksudmu?! Lin-lin, kau ingin aku menikah dengan Yu Chu?"
"A-Hang, aku tidak keberatan, asal kau terus mencintaiku."
Xia Yuhang: "...Bukan begitu, ini bukan masalah cinta atau tidak! Lin-lin, apakah kau sadar apa yang kau katakan?"
Sorot mata Mo Lin berubah, air mata seketika membasahi pelupuk matanya. "Aku juga tidak ingin seperti ini, aku juga sangat tersiksa. Tapi A-Hang, kau tahu posisiku. Che tidak memiliki keunggulan apa pun di depan Yu Chu, kita hanya bisa mengandalkanmu."
"Hanya jika kau menikah dengan Yu Chu, kau bisa membantu Che. Jika tidak, Ibu tidak akan membiarkan kita bersama. Terjepit di antara kalian membuatku sangat menderita!"
Che saat ini hanya sedang memberontak. Saat ia dewasa nanti, ia akan menyadari betapa bodoh keputusannya. Sebelum itu terjadi, ia dan ibunya akan menyiapkan jalan untuknya.
Saat Mo Lin menangis, Xia Yuhang segera melupakan segalanya dan menghiburnya dengan penuh kasih sayang, "Maafkan aku, Lin-lin, jangan menangis lagi."
"Jadi, apakah kau mau membantuku?"
"Tapi..."
"A-Hang, aku hanya punya kau. Jika kau tidak membantuku, aku benar-benar tidak punya jalan keluar lagi..."
"Baiklah, aku akan mencobanya..."
Tujuannya tercapai. Dalam pelukan Xia Yuhang, Mo Lin menyunggingkan senyum dingin.