Bab 44: Apakah boleh memperlakukan pelanggan seperti ini?!
Ketika Song Xi pulang ke rumah, waktu sudah menunjukkan tengah hari.
Pasukan keluarga Lu berkumpul di depan pintu, membawa banyak orang sehingga suasananya jadi agak kacau, sampai-sampai terpaksa memanggil polisi lagi. Pasukan keluarga Lu segera dibubarkan, tapi begitu polisi pergi, mereka balik lagi dan kembali mengepung pintu. Kedua belah pihak seperti sedang bermain petak umpet di depan rumah keluarga Song, sama sekali tidak mau bertatap muka, dan bertekad tidak akan mundur.
Tetua Agung pun mengeluh, “Xi kecil, begini terus juga bukan penyelesaian. Dua hari ini banyak urusan bisnis perusahaan kita yang gagal.”
Karena berita ini sudah tersebar luas di internet, banyak perusahaan mengetahui masalah Song Xi dan menghentikan kerja sama dengan keluarga Song. Kalau dibiarkan berlarut-larut, perusahaan pasti akan sangat terdampak.
Song Xi memandang kerumunan penggemar yang berkumpul di luar jendela, sambil berpikir dalam hati.
“Keluarkan saja gerobak makanan keliling milik kita, jualan di bawah.”
Keluarga Song punya beberapa gerobak makanan kecil, semacam rumah mini beroda yang bisa digunakan untuk memasak makanan sederhana. Dulu, pemilik tubuh ini sangat suka dengan gerobak itu, sampai membeli beberapa unit meski ditentang keluarga, hanya demi memudahkan dirinya makan dan minum.
Sejak dibeli, gerobak-gerobak itu dibiarkan begitu saja, tak ada yang mengelola, berubah jadi tumpukan besi tua.
Ketika Tetua Agung mendengar Song Xi menyebut soal gerobak lagi, ia hampir naik darah. Dalam situasi seperti ini, masih sempat-sempatnya memikirkan makanan.
“Kamu masih sempat mikirin makanan, lalu para penggemar di bawah itu mau bagaimana supaya bisa bubar?” tanya Tetua Agung, kesal.
Song Xi menjawab dengan nada wajar, “Bubar? Untuk apa dibubarkan?”
Gadis itu lalu menoleh, memberi instruksi pada kepala pelayan, “Keluarkan semua gerobak makanan kita, tempel poster ‘Boikot Song Xi’ di atasnya, poster yang sama seperti yang dipegang para penggemar.”
Para penggemar itu, demi mengepung dirinya, bisa berdiam di situ seharian, tentu saja mereka butuh makan. Di sekitar rumah mereka, warung makan terdekat saja sudah dua blok jauhnya. Banyak penggemar bahkan datang dari luar kota, membawa bekal sendiri dan botol minum.
Bukankah ini peluang bisnis yang bagus?
Kepala pelayan mengikuti perintah, mengambil gerobak makanan dari gudang, lalu menempelkan berbagai poster “Boikot Song Xi”.
Tetua Agung sama sekali tidak yakin dengan ide Song Xi. Ia pikir, si gadis itu pasti cuma mau memanjakan diri sendiri dengan makanan. Ia pun menyuruh orang untuk menelepon polisi lagi, berniat membubarkan para penggemar itu saja.
Tak lama kemudian, beberapa gerobak makanan sudah berjejer di depan pintu. Bakpao kukus di atas gerobak mengepulkan uap putih, sementara ayam goreng di atas wajan berbunyi “cesss”.
Banyak penggemar yang mencium aroma harum itu, tak tahan hingga mulai menelan ludah.
Mereka sudah berjaga-jaga di sana, tak tahu kapan Song Xi akan muncul. Lebih baik membeli makanan dulu, menunggu sambil makan pun tak ada salahnya.
Tak lama kemudian, antrean panjang terbentuk di depan gerobak makanan. Para penggemar mulai membeli berbagai camilan dan makanan ringan. Bahkan orang-orang yang lewat, melihat keramaian di depan gerobak pun ikut penasaran dan meramaikan suasana.
Tetua Agung mengintip dari balik tirai, melihat bisnis gerobak makanan keluarganya laris manis, sampai terperangah sendiri.
Gerobak yang tadinya tak berguna itu, tiba-tiba jadi tempat jajanan yang ramai pembeli?
Ide aneh Song Xi ternyata benar-benar berhasil!
Tetua Agung diam-diam menghitung omzet penjualan. Memang uang dari jualan makanan terlihat kecil, tapi penggemar Lu Han Cheng begitu banyaknya. Sekecil-kecilnya laba, tetap saja jadi penghasilan. Apalagi sekarang keluarga Song tak lagi seperti dulu, uang sekecil apa pun tetap terasa berarti.
Saat kepala pelayan selesai mengatur semuanya, ia kembali dan bertanya pada Tetua Agung, “Tuan, apa kita masih perlu telepon polisi?”
Tetua Agung langsung menjawab, “Buat apa telepon polisi? Masa pedagang memperlakukan pelanggan seperti itu? Cepat, hubungi pemasok, buka juga gerobak mi pedas dan minuman teh susu!”