Bab 61: Ingin Main yang Lebih Menantang?

Vício em mimos: o Sr. Chi se ajoelha em submissão Valorizar a elegância 2401kata 2026-08-01 08:00:50

Chi Jin menyentuh pipinya dengan ujung lidah, lalu dengan jari telunjuknya ia mengusap lembut noda darah yang merembes di sudut bibirnya. Senyumnya terukir mengerikan, "Ingin bermain yang lebih menantang?"

Sambil berkata demikian, ia melonggarkan dasinya, lalu meraih kedua tangan Tang Baizhi dan menutup matanya dengan kain.

"Lepaskan aku, lepaskan!"

Tang Baizhi meronta-ronta sambil menendang-nendangkan kakinya.

Namun, bagaimana mungkin tenaga kecilnya bisa menandingi Chi Jin?

Chi Jin melingkarkan lengannya di pinggang Tang Baizhi yang ramping, mengurungnya erat-erat di dalam dekapannya.

Kedua tangan Tang Baizhi meronta di bahunya, mendorong serta mencakar. Bagaimanapun ia berjuang, ia tetap tidak mampu melepaskan diri dari Chi Jin.

Di hadapannya hanya ada kegelapan pekat, seolah ia sedang berada di tengah lautan api yang menyala-nyala, bertekad menerangi langit.

Mobil telah lama terparkir di gerbang Teluk Boyue. Cahaya remang-remang senja memantul di ufuk barat.

Lincoln putih yang begitu mencolok di tengah malam itu tampak terombang-ambing bagai sehelai daun di tengah badai.

Entah sudah berapa lama berlalu, Chi Jin membawanya kembali ke kamar tidur dengan menggendong Tang Baizhi yang kini telah lemas tak bertulang bagaikan genangan air.

Tang Baizhi telah lelah menangis dan meronta, kini ia tertidur pulas.

Chi Jin menyelimutinya dengan rapi, lalu mengelus pipinya yang pucat dengan penuh kasih sayang. Pandangannya tertumbuk pada bekas kemerahan di leher wanita itu, yang seketika membuat tatapannya semakin melembut, lantas ia mengecup keningnya sekilas.

Ponsel di saku celananya bergetar dua kali. Chi Jin melirik Tang Baizhi yang tengah terlelap, lalu dengan langkah tanpa suara ia meninggalkan kamar tidur menuju ruang kerja.

Nama "Xing Jiashang" yang tertera di layar membuat Chi Jin mengernyitkan dahi.

Ia tidak ingin mengenang kembali masa lalu, dan tentu saja tidak ingin lagi berhubungan dengan orang-orang dari masa lalu itu.

Ia sebenarnya bisa saja melupakannya.

Namun getaran ponsel yang terus mendesak bagaikan dentang lonceng kematian dari neraka, memaksanya untuk mengangkat panggilan tersebut.

"A-Jin, ini aku."

Suara serak Xing Jiashang menembus layar, bergeming di telinga Chi Jin.

Hanya dari suaranya saja, Chi Jin bisa menebak bahwa akhir-akhir ini hidup pria itu tidak berjalan dengan baik, sama sekali tidak menyisakan lagi semangat membara seperti di masa lalu.

"Aku tahu." Chi Jin menyalakan sebatang rokok, memusatkan pandangannya ke luar jendela yang gelap gulita.

Keheningan panjang tercipta di ujung sambungan, seolah penelepon sedang merangkai kata untuk memulai percakapan dengannya.

Chi Jin menghirup rokoknya dalam diam tanpa berniat mendesak.

Waktu telah berlalu terlalu lama, hingga jarak di antara mereka pun telah merenggang sejauh ini.

"Aku akan pulang ke negeri."

"Hm." Chi Jin menurunkan pandangannya, mengetuk-ngetuk abunya. "Nanti aku jemput."

"Kau masih bersedia menemuiku?" Xing Jiashang tampak sedikit terkejut.

Chi Jin menarik sudut bibirnya. "Jika tidak bersedia, aku tidak akan mengangkat panggilan ini."

"Aku juga ingin pergi ke makamnya. Selama bertahun-tahun ini, aku belum pernah sekalipun berziarah kepadanya." Suara serak Xing Jiashang terdengar seolah diselipi isakan tertahan.

Chi Jin tidak menjawab. Kesunyian seolah menjadi tema utama malam ini.

Xing Jiashang menarik napas dalam-dalam, nadanya tiba-tiba berubah penuh kebencian, "Kau masih bersama Tang Baizhi?"

Ketiadaan jawaban di ujung telepon membuat emosi Xing Jiashang mendadak tersulut. "Kenapa kau tidak menceraikannya? Dia pembunuh itu! Pembunuh yang merenggut nyawa kakakmu!"

"Istirahatlah lebih awal." Usai berkata demikian, Chi Jin langsung menutup sambungan telepon tanpa ampun.

Ia mematikan puntung rokoknya, lalu mengalihkan pandangan ke layar ponsel. Tak mampu menahan diri, ia membuka galeri foto dan menemukan sebuah potret kebersamaan Xing Jiashang dan Sun Wantang.

Dua orang dalam foto itu tampak saling merapat, menampilkan kemesraan yang begitu nyata.

Saat itu mereka masih begitu muda, sama-sama mengira masa depan masih sangat panjang, dan asalkan dijalani perlahan, mereka pasti akan bersama hingga rambut memutih.

Namun dalam sekejap mata, segalanya telah berubah.

Chi Jin menatap foto itu, pikirannya perlahan melayang jauh.

Ngomong-ngomong, pertemuannya dengan Xing Jiashang juga berawal dari sebuah ketidaksengajaan.

Xing Jiashang memulai kariernya sebagai bintang cilik dan telah terkenal sejak usia dini. Sejak kecil ia sudah terbiasa dengan sorotan lampu kilat dan tatapan penuh kekaguman dari jutaan orang.

Bahkan kelahirannya pun berhasil menarik perhatian dunia, semua itu karena ayahnya adalah Xing Tian, seorang bintang legendaris tingkat nasional yang selama puluhan tahun berkarier hingga kini tetap menjadi sosok termasyhur di dunia perfilman.

Xing Jiashang mewarisi gen unggul ayahnya dengan baik; berwajah rupawan, alis tebal bagai pedang dan mata bagai bintang.

Segala hal dalam hidupnya sejak kecil telah diatur oleh sang ayah. Ia tumbuh sesuai jalur yang telah digariskan untuknya sejak lama: menjadi bintang cilik, menjadi seorang idola, meriah gelar aktor terbaik, lalu menikahi seorang wanita dari keluarga terpandang seperti ibunya.

Terkadang Xing Jiashang merasa bingung, tidak mengerti apa arti dari pengulangan jalan hidup ayahnya itu.

Rasa tidak puas terhadap sang ayah membentuk kepribadiannya yang pemberontak. Ketenaran di usia muda membuatnya semakin arogan dan memandang rendah segalanya.

Ia kerap mengajak teman-temannya berpesta hingga pagi hari, sementara wanita di sekelilingnya datang dan pergi bagaikan kawanan ikan di sungai; bahkan ada yang belum sempat ia ingat namanya sudah tergantikan oleh yang lain.

Kendati demikian, ada satu pengecualian di antara para wanita itu. Namanya Meng Yao, seorang gadis yang dikenalnya saat menjalani syuting iklan.

Xing Jiashang mengingat dengan jelas saat itu usianya baru genap 15 tahun. Sesuai arahan ayahnya, ia harus membintangi iklan promosi sampo, dan rekan kerjanya adalah Meng Yao. Usia mereka sebaya, seorang model pendatang baru yang memiliki mata jernih serta senyuman menawan. Bahkan di tengah industri hiburan yang dipenuhi oleh wanita-wanita cantik, pesonanya tetap begitu menonjol.

Benih-benih cinta tumbuh di antara mereka selama proses kerja sama. Selepas syuting, mereka saling bertukar nomor kontak. Saat itu keduanya belum begitu terkenal. Meng Yao berjuang seorang diri di dunia hiburan dan kerap mengalami perlakuan tidak adil. Xing Jiashang merasa iba pada gadis kecil itu, sehingga ia menggunakan pengaruh ayahnya untuk membantu beberapa kali secara diam-diam. Mereka sering bertukar pesan dan saling menanyakan kabar, hingga perlahan-lahan mereka resmi menjadi sepasang kekasih.

Cinta di masa remaja begitu manis. Mereka merencanakan masa depan untuk membintangi sebuah film yang akan dikenal semua orang, pergi bersama untuk menerima penghargaan Oscar. Xing Jiashang berjanji akan menulis sebuah lagu khusus untuk Meng Yao dan menyanyikannya di atas panggung megah di hadapan ribuan orang pada hari ulang tahun kedewasaan mereka.

Namun janji itu pada akhirnya tidak pernah terwujud. Di musim panas dua tahun kemudian, Xing Jiashang pulang dari pelatihan di luar negeri dan mendadak menyadari bahwa ia tidak lagi bisa menghubungi Meng Yao. Ia mencari ke seluruh teman-temannya, tetapi semua orang mengatakan sudah cukup lama tidak melihat Meng Yao.

Ia lari mendatangi rumahnya, namun kompleks perumahan tua itu telah rata dengan tanah dan tampak sedang dibangun kembali. Penanggung jawab proyek konstruksi memberitahunya bahwa tempat itu telah digusur beberapa waktu lalu, dan seluruh penghuni telah pindah setelah menerima uang ganti rugi yang tidak sedikit.

Hanya demi sejumlah uang kompensasi, Meng Yao tega melepaskan jalinan cinta mereka dan pergi begitu saja tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Xing Jiashang tidak menyangka hati manusia bisa begitu dingin. Benarkah pepatah yang mengatakan bahwa wanita malam tak berhati dan pelaku seni tak bertuan?

Hati tulus dan penuh gairah miliknya mengalami pukulan telak. Sejak saat itu, ia semakin gila bermain di antara para wanita. Ia bahkan tidak tahu sudah berapa banyak wanita yang singgah dalam hidupnya, dan ia pun tidak peduli dengan perasaan mereka. Ia hanya ingin melampiaskan rasa sakit akibat cinta tak berbalas yang dialaminya dari Meng Yao.

Ulah Xing Jiashang memicu banyak skandal asmara yang membuat manajernya harus bekerja keras untuk meredakannya, namun ia sama sekali tidak berniat memperbaiki diri. Di hadapan publik ia adalah seorang idola yang dipuja jutaan orang, namun di balik layar ia sebenarnya adalah Tuan Muda kaya raya yang arogan.

Justru karena alasan itulah ia akhirnya berkenalan dengan Chi Jin.

Keluarga Chi layak disebut sebagai keluarga terpandang nomor satu di Ibukota. Bahkan Xing Tian, ayah Xing Jiashang sekalipun, harus bersikap amat hormat tatkala berhadapan dengan Chi Yusheng.