Bab 54: Beginilah Cara Menikmati Taman Bermain?
Yue Qingxi terdiam sejenak, tatapannya menyiratkan sedikit rasa iba: "Kalau begitu, apakah sekarang kamu merasa sangat sedih?"
"Tidak bisa dibilang sedih, bahkan aku bisa dibilang sedang bahagia."
Lin Bei tersenyum kecil: "Setidaknya hari ini aku tahu siapa saja musuh-musuhku, balas dendamku kini memiliki tujuan. Mungkin tidak lama lagi, sanak saudaraku yang telah tiada bisa beristirahat dengan tenang."
Yue Qingxi tidak mengatakan apa-apa lagi.
Sebaliknya, Lin Bei justru bersikap semakin santai: "Apakah kamu ingin bermain-main di taman hiburan ini?"
Yue Qingxi sedikit tertegun: "Apakah ini pantas?"
"Aku selalu berjiwa besar. Hal-hal di masa lalu sudah berlalu, yang bisa kulakukan adalah membuat diriku bahagia. Jika tidak, bukankah orang-orang yang telah mencelakai seluruh keluargaku itu akan merasa sangat senang?"
Lin Bei berujar dengan lembut.
Yue Qingxi lantas mengangguk dan berkata, "Kalau begitu, ayo kita naik bianglala!"
"Sejujurnya, aku belum pernah ke taman hiburan."
Lin Bei menatap dengan rasa ingin tahu: "Kamu belum pernah ke taman hiburan?"
Yue Qingxi mengangguk: "Keluargaku biasanya tidak mengizinkanku keluar untuk melakukan hal-hal seperti ini. Mereka pikir ini adalah hal yang tidak berguna."
"Apakah keluargamu sangat ketat kepadamu?"
Lin Bei sedikit mengerutkan kening.
Yue Qingxi mengangguk:
"Jika tidak begitu, aku tidak perlu repot-repot kabur dari rumah."
Tanpa menunggu Lin Bei melanjutkan pertanyaannya, Yue Qingxi berkata, "Kamu pasti juga bisa melihat bahwa kali ini aku pergi secara diam-diam dari rumah, bukan?"
Lin Bei mengangguk: "Memang benar."
Yue Qingxi tersenyum tipis, lalu berkata lagi: "Baiklah, jangan membicarakan hal-hal yang menyedihkan lagi. Mari kita berbahagia, ayo kita naik bianglala di sebelah sana."
Yue Qingxi melangkah lebih dulu, diikuti erat oleh Lin Bei di belakangnya. Keduanya berjalan beriringan.
Wahana di sebelah sana memerlukan tiket terpisah seharga lima belas yuan. Sambil mengeluarkan uang, Lin Bei menggerutu kecil:
"Ini sama sekali tidak masuk akal. Mengapa sudah bayar tiket masuk, masih harus bayar tiket terpisah?"
Kasir itu tersenyum: "Ini sudah menjadi peraturan bos kami. Kami para pekerja rendahan tidak bisa memutuskan apa-apa."
Lin Bei terkekeh geli: "Kelak kalau aku sudah mengakuisisi tempat ini, aku pasti akan menceramahinya kepada bos kalian."
Kasir itu hanya tersenyum tanpa menjawab, menganggap ucapan Lin Bei hanya angin lalu.
Namun, Yue Qingxi justru tersenyum dan berkata: "Mengingat kamu tinggal di kawasan Vila Yunding, kamu pasti sangat kaya. Bukan tidak mungkin kamu benar-benar bisa mengakuisisi tempat ini."
"Tapi kutbak, kalau kamu mengakuisisi tempat ini, tujuannya pasti untuk membangun kembali rumah keluargamu, kan?"
Lin Bei merenung sejenak: "Memang benar."
"Namun, aku masih punya urusan yang harus diselesaikan dalam tiga tahun ke depan, sepertinya hal itu harus ditunda sampai aku senggang."
Alangkah baiknya jika orang tua bangka itu tidak menyuruhku untuk mengawasi Yue Qingxi.
Setelah membeli tiket, keduanya pun naik ke bianglala.
Lin Bei hanya memandangi pemandangan di luar jendela, sama sekali tidak memperhatikan Yue Qingxi yang duduk di sampingnya.
Emosi di dalam mata Yue Qingxi tampak sedikit rumit, namun ia memilih untuk tidak berkata apa-apa.
Sambil menikmati pemandangan di luar jendela, Lin Bei berkata lagi: "Menara lonceng di sebelah sana itu sudah berdiri di sini hampir dua puluh tahun lamanya. Waktu kecil, aku paling suka memanjat ke atapnya untuk melihat menara itu."
"Dulu, setiap kali waktu menunjukkan tepat jam penuh, menara itu selalu berbunyi."
Semakin banyak Lin Bei berbicara, semakin berfluktuasi pula emosi di dalam hatinya.
Yue Qingxi memilih untuk tetap diam, dengan tenang menemani Lin Bei berkeliling menikmati seluruh sudut taman hiburan tersebut.
"Hari ini kamu telah melakukan hal yang cukup melelahkan."
Setelah emosinya kembali stabil, Lin Bei berkata kepada Yue Qingxi: "Bagaimana kalau aku traktir kamu makan sate?"
"Kalau begitu, aku tidak akan sungkan-sungkan lagi."
Yue Qingxi berkata dengan nada ceria, lalu menambahkan: "Dan aku ingatkan kamu, nafsu makanku sangat besar."
"Bagaimanapun juga, bosmu ini adalah orang yang tinggal di kawasan Vila Yunding. Mana mungkin seorang gadis sepertimu bisa membuatku bangkrut karena makan?"
Barulah pada saat itu Lin Bei menunjukkan sedikit senyuman. Ia menepuk dadanya: "Nanti silakan makan sepuasnya."
"Kalau sampai tidak kenyang, itu salahku."
Yue Qingxi bertanya lagi: "Lalu, di mana kamu berencana makan sate?"
Lin Bei berpikir sejenak: "Ada warung sate di dekat sini yang rasanya lumayan enak, hanya saja aku tidak tahu apakah mereka masih buka. Kalau masih, kita bisa makan di sana."
Yue Qingxi mengangguk dan mengikuti langkah Lin Bei.
Setelah berkeliling mencari sesaat, Lin Bei memasang ekspresi agak kecewa: "Sepertinya warung sate itu sudah tidak ada."
Yue Qingxi merenung sejenak, lalu mengeluarkan ponselnya: "Sebutkan namanya, biar kucari di internet."
Lin Bei menjawab: "Sepertinya namanya Sate Sumei."
Yue Qingxi membuka ponselnya dan mencari: "Ada."
Lin Bei bertanya lagi: "Di mana lokasinya?"
"Tidak terlalu jauh dari sini."
Yue Qingxi menunjuk ke sebuah arah: "Ayo kita segera ke sana!"
Setibanya di sana, mereka melihat sebuah warung sate yang sangat ramai pengunjung. Desain plang namanya terlihat sangat akrab, hampir sama persis dengan yang ada di dalam ingatan masa kecilnya. Sudut bibir Lin Bei pun terangkat membentuk senyuman.
Setelah berjalan mendekat bersama Yue Qingxi, Lin Bei bertanya kepadanya: "Kamu mau makan apa?"
"Apa pun yang kamu makan, aku ikut saja," jawab Yue Qingxi lembut.
Lin Bei berpikir sejenak, lalu memesan: "Beri kami tiga puluh tusuk sate kambing, dua porsi udang karang, sepuluh tusuk ginjal babi, dua porsi tahu bakar, dua botol bir, dan dua botol jus buah dingin."
"Baik, sate kambing sembilan puluh yuan, dua porsi udang karang seratus dua puluh, sepuluh tusuk ginjal babi seratus, dua porsi tahu bakar dua puluh, bir dan jus tiga puluh enam. Semuanya tiga ratus tiga puluh enam yuan."
Lin Bei mengeluarkan empat lembar uang seratus yuan dan menyerahkannya: "Aku pelanggan lama, kembaliannya tidak usah diambil."
Pemilik warung itu sempat tertegun: "Pelanggan lama seharusnya mendapat potongan harga, kenapa uang kembaliannya malah tidak diambil?"
Lin Bei tersenyum: "Aku sudah makan di sini sejak bertahun-tahun yang lalu. Tadi aku sempat mengira warung ini sudah tutup. Sungguh, tidak usah dikembalikan, kelebihannya anggap saja sebagai tip."
Pemilik warung itu tertawa: "Kalau begitu, saya traktir satu porsi kacang tanah dan satu porsi telur pitan."
Setelah mereka duduk di meja, Yue Qingxi berkata dengan suara pelan: "Pemilik warung ini orangnya jujur ya, tidak mau merugikanmu."
"Waktu aku masih SD, aku sangat iri melihat orang-orang bisa makan sate sepulang sekolah, tapi keluargaku melarangku... Suatu kali, aku diam-diam membawa kartu tabungan berisi uang angpao milikku untuk beli sate, tapi akhirnya pemilik warung ini malah menelepon polisi."
Lin Bei tersenyum pahit seraya berkata: "Bisa dibilang itu adalah masa lalu yang memalukan bagiku."
Yue Qingxi tertawa kecil: "Kamu benar-benar nekat juga ya, tapi pemilik warung itu memang sangat bertanggung jawab."
Sebelum hidangan disajikan, tiba-tiba tujuh atau delapan orang preman berjalan mendekat ke arah meja mereka.
Salah satu dari preman itu berkata kepada pemilik warung: "Seperti biasa, siapkan sate dan bir untuk kami."
Wajah pemilik warung itu sedikit mengerenyit tidak senang: "Apakah kalian masih mau berutang lagi kali ini?"
Preman itu mengerutkan kening dan menjawab: "Kami sudi makan di tempatmu itu sudah memberikan muka kepadamu, apa masalahnya kalau kami berutang?"
"Memangnya kamu mau berbuat apa?"
Pemilik warung berbicara dengan nada yang agak serius: "Jika kalian masih berniat berutang, silakan makan di tempat lain saja."
"Aku tidak menyambut kalian di sini."
Preman itu langsung mencibir dingin. Ia melangkah maju dengan cepat, mendorong lemari es tempat penyimpanan bahan makanan, lalu mencengkeram kerah baju pemilik warung:
"Kulihat kamu sepertinya memang sudah tidak ingin berbisnis lagi, ya?"