Bab 27: Kakak Beradik yang Masih Merasa Gentar

Reencarnei e fracassei ao me declarar, e a beleza da escola se desesperou An Dian 2717kata 2026-08-01 08:23:21

Liu Chen terdiam seribu bahasa saat ditanya.

Warung internet (warnet) ini ia beli dari orang lain. Pemilik sebelumnya sama sekali tidak terpikir untuk membangun jalur evakuasi. Setelah mengambil alih, ia pun tidak terlalu memedulikan detail seperti itu. Ia merasa tidak mungkin dirinya akan sedial itu sampai-sampai warnetnya mengalami masalah. Semua orang punya rasa percaya diri yang membabi buta, dan Liu Chen pun yakin keberuntungannya selama ini sangat baik. Warnetnya pasti tidak akan bermasalah.

"Lalu, tindakan pengamanan lainnya sudah dilakukan belum? Ada berapa alat pemadam api di dalam warnet?"

Dari raut wajah Liu Chen, Liu Lan sudah mendapatkan jawaban yang dicarinya. Bagaimanapun juga, sebagai kakak, ia tentu berpikir lebih komprehensif. Wajah Liu Chen memerah padam. Ia merasa kesal, tetapi tidak berani melampiaskannya kepada sang kakak.

Apa gunanya alat pemadam api? Seolah-olah warnetnya pasti akan terbakar saja. Bukankah itu sama saja dengan mengundang sial?

"Ikut aku sebentar," ujar Liu Lan dengan nada serius.

Tanpa banyak bicara, ia langsung kembali ke dalam warnet. Saat ini, ia sangat ingin memastikan sesuatu.

"Semuanya, maaf sekali. Ada perbaikan jaringan listrik di luar, jadi warnet tutup untuk hari ini. Saat kalian datang lain kali, saya akan berikan potongan harga 10 yuan untuk setiap orang," ucap Liu Lan dengan suara lantang. "Xiao Zhao, nanti tolong catat nomor kartu identitas semua pelanggan. Saat mereka datang lagi, isikan saldo 10 yuan ke kartu mereka."

"Baik, Kak Lan," jawab staf kasir itu sambil mengangguk. Matanya penuh kekaguman. Kak Lan memang sosok yang luar biasa. Tadi saat listrik padam, ia benar-benar takut tidak bisa menghadapi para pelanggan. Namun sekarang, tidak ada satu pun pelanggan yang mengeluh. Mereka semua datang dengan tenang untuk mendaftar.

"Kak, kita mau ke mana?" tanya Liu Chen bingung. Ia merasa sejak tadi, Liu Lan tampak berbeda. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pun terasa aneh.

"Ikut aku ke ruang distribusi listrik," tegas Liu Lan tanpa bantahan.

Melihat sorot mata Liu Lan yang tajam, Liu Chen tidak berani membantah dan patuh mengikutinya. Begitu sampai di ruang distribusi listrik, Liu Chen bertanya, "Kak, sebenarnya ada apa? Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ingin Kakak lakukan."

"Aku tanya padamu, apakah kabel-kabel ini sudah kau periksa?" Liu Lan menunjuk ke arah kabel-kabel hitam yang berserakan di bawah kaki. Ini adalah ruang distribusi listrik, jalurnya sangat rumit dan semrawut.

"Belum, sepertinya belum," jawab Liu Chen terbata-bata.

Hati Liu Lan mencelos. Dari reaksi Liu Chen, ia sudah tahu jawabannya. "Segera panggil orang untuk memeriksanya," perintah Liu Lan.

"Kak, jangan bilang Kakak berpikir karena tiang listrik di luar terbakar, maka kabel di rumah kita juga akan terbakar?" Liu Chen tampak tidak percaya. Saat mengambil alih warnet ini, pemilik sebelumnya bersumpah bahwa tidak ada masalah apa pun di dalam maupun di luar warnet. Ia merasa Liu Lan terlalu membesar-besarkan masalah. Keberuntungannya tidak mungkin seburuk itu. Kebakaran tiang listrik tadi hanyalah kecelakaan.

"Kau mau pergi atau tidak? Kalau kau tidak mau, aku yang akan melakukannya," ujar Liu Lan yang langsung hendak menelepon.

Melihat kegigihan kakaknya, Liu Chen segera mengeluarkan ponsel Motorola V3 dari sakunya dan menelepon sebuah nomor. Setengah jam kemudian, seorang teknisi yang ahli dalam perbaikan jaringan datang. Setelah memeriksa jalur di ruang distribusi listrik sesuai permintaan Liu Lan, teknisi itu langsung mengerutkan kening.

"Bos, dari luar memang tidak terlihat apa-apa, tapi kabel-kabel ini sudah sangat tua. Jika tidak diganti, ini adalah ancaman keamanan yang sangat besar."

Liu Lan terperanjat seketika. Liu Chen pun mulai panik. "Kalau tidak diganti, apa akibatnya?"

Teknisi itu menatap Liu Chen sejenak. "Kabel yang sudah tua akan menyebabkan korsleting listrik, yang kemudian memicu kebakaran. Saya lihat tadi, ruang distribusi listrik Anda berada di lantai dasar, dan di sekelilingnya banyak bahan yang mudah terbakar. Begitu api muncul, kobaran api akan langsung merambat ke warnet di lantai atas. Lokasi warnet Anda berada di posisi arah angin, sekali terbakar, api tidak akan bisa dikendalikan."

Wajah Liu Lan memucat, sementara Liu Chen sudah dibanjiri keringat dingin. Apa yang dikatakan teknisi itu sebenarnya sudah sangat halus.

"Pak, segera ganti! Berapa pun biayanya, segera ganti!" Liu Chen menelan ludah dan mengambil keputusan.

Seluruh kabel di ruang distribusi listrik harus diganti. Demi keamanan, Liu Lan bahkan menyuruh Liu Chen membeli material isolasi tahan api untuk melapisi dinding ruang distribusi listrik tersebut. Dengan begitu, meskipun terjadi kecelakaan, masih ada cukup waktu untuk bereaksi.

Saat ini, pintu warnet tertutup rapat. Di area istirahat lantai dua—yang merupakan kamar pribadi Liu Chen—terdapat tempat tidur, televisi, sofa, dan meja biliar. Liu Chen tampak masih terguncang, ia mengusap keringat dingin di dahinya. "Kak, tadi aku benar-benar ketakutan. Kalau sampai benar-benar terbakar, tidak akan ada satu orang pun yang bisa selamat."

Liu Lan pun masih merasa ngeri. Ia tidak sanggup membayangkan jika terjadi kebakaran di warnet, apakah ia akan sanggup menanggung rasa sakit kehilangan adiknya. Beberapa saat kemudian, perasaan keduanya mulai tenang.

"Ini semua berkat peringatanmu, kalau tidak, aku sendiri tidak sadar bahwa selama ini aku tinggal di atas bom waktu," kata Liu Chen. Ia berpikir Liu Lan pasti teringat untuk mengingatkannya karena melihat kabel terbakar di jalan tadi. "Terima kasih, Kak. Nanti aku traktir makan hot pot."

Liu Lan melambaikan tangannya. "Bukan aku yang harus kau terima kasih."

"Kak, kalau bukan sama Kakak, sama siapa lagi? Kita kan saudara kandung, tidak usah sungkan."

"Aku tidak sedang sungkan. Sejujurnya, aku pun tadinya tidak percaya kabel bisa terbakar begitu saja." Wajah Liu Lan memerah. Ia merasa malu karena ketidaktahuannya terbongkar di depan adiknya. "Coba lihat ini."

Liu Lan mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. Liu Chen menerimanya dengan penasaran dan membaca kata-kata yang seolah-olah merupakan sebuah ramalan.

"Kak, siapa yang memberikan ini padamu?"

"Jangan tanya dulu siapa orangnya, apa pendapatmu?"

"Pendapat apa lagi? Tentu saja aku sangat berterima kasih," jawab Liu Chen lugas. Jika tidak ada yang mengingatkan, ia tidak akan pernah memperhatikan apakah kabel di ruang distribusi listrik sudah tua atau belum. Jika dibiarkan, bencana pasti akan terjadi. Jika ia sedang sial dan kebetulan berada di warnet saat itu, akibatnya tidak terbayangkan. Ia harus berterima kasih kepada orang itu.

Liu Lan mengangguk. "Memang sudah seharusnya berterima kasih pada orang itu." Dalam hati, Liu Lan merasa orang yang menulis catatan itu pasti orang yang sangat baik.

Tepat pada saat itu, ekspresi Liu Chen tiba-tiba berubah drastis. "Kak, tunggu dulu. Ruang distribusi listrik itu selalu terkunci, dan kuncinya ada padaku. Selain aku, tidak ada orang yang pernah masuk ke sana. Bagaimana orang ini bisa tahu?"

"Tidak ada orang lain yang masuk?"

"Iya, karena selama ini tidak pernah ada masalah, jadi sejak mengambil alih warnet ini, aku bahkan tidak pernah masuk ke ruang distribusi listrik."

Liu Lan terkejut dan terdiam di tempat. Benar juga, bagaimana mungkin orang yang menulis catatan itu bisa mengetahuinya?

"Mungkinkah pemilik warnet yang lama?"

"Tidak mungkin, dia itu orang kaya baru yang bahkan tidak bisa membaca."

Liu Lan pun bingung. "Jangan-jangan, orang itu bisa meramal?"

"Kak, sebenarnya siapa yang memberikan kertas itu padamu?"

"Aku juga tidak tahu."

"Karena dia berniat baik mengingatkan kita, dia seharusnya bukan orang jahat. Tapi, apa sebenarnya tujuannya?" tanya Liu Chen sambil mengerutkan kening.