Bab 42: Chen He seperti seorang ayah tua
Asrama tersebut adalah asrama standar untuk enam orang.
Chen He adalah yang pertama tiba, sementara yang lain belum datang.
Ia tidak suka menempati ranjang di dekat pintu maupun koridor. Ia juga tidak suka jika orang lain duduk di atas seprai miliknya. Oleh karena itu, ia memilih ranjang atas di posisi paling pojok. Setelah merapikan seprai dan selimutnya dengan saksama, Chen He baru meninggalkan asrama.
Sebelumnya, ia telah pergi ke bagian keuangan untuk melunasi biaya kuliah satu semester serta membeli seprai, selimut, dan bantal baru. Rencananya, sebelum tidur nanti, ia baru akan membeli peralatan mandi dan sandal.
"Chen He, haha, benar katamu, sekolah kita ternyata hanya terpisah oleh satu jalan raya. Setelah ini, kita bisa main gim bareng lagi seperti dulu," seru Zheng Xiaobing sambil melambai dari seberang jalan.
Chen He menghampirinya. Zheng Xiaobing tampak sangat antusias.
"Soal main gim kita kesampingkan dulu. Mumpung masih ada waktu, ayo kita keliling di sekitar sini untuk mengenal lingkungan sekitar," ajak Chen He.
"Terserah kamu saja. Kebetulan aku juga ingin melihat apa yang membuat Kota Jiang berbeda," sahut Zheng Xiaobing.
Zheng Xiaobing bukannya tidak pernah melihat hiruk pikuk kota besar, namun ia mengatakan hal itu hanya untuk mengikuti arah pembicaraan Chen He.
"Hai anak muda tampan, mau keramas?"
Saat melewati sebuah gang kecil, seorang wanita matang yang berdandan mencolok melambai ke arah mereka. "Kalian pasti mahasiswa, kan? Kalau mau keramas, saya beri diskon setengah harga."
Zheng Xiaobing merasa heran. Bagaimana wanita itu bisa tahu bahwa dirinya seorang mahasiswa? Padahal hari ini ia sengaja mengenakan sweter yang trendi dan modis.
"Kalian para pelajar juga tidak mudah, saya jamin harganya terjangkau dan kualitasnya bagus. Kalau kalian datang lagi nanti, saya buatkan kartu diskon," ujar wanita itu dengan penuh semangat, tampak sangat ingin menggaet Chen He dan Zheng Xiaobing sebagai pelanggannya.
Chen He melambaikan tangan. "Maaf, kami tidak ingin keramas."
"Tidak keramas pun tidak apa-apa, kami juga punya tukang pijat kaki dan layanan bekam, semuanya dengan harga khusus pelajar," bujuk wanita itu, hampir saja menarik mereka masuk ke dalam tokonya.
"Kondisi ekonomi keluarga kami pas-pasan, sebaiknya jangan buang-buang waktu Anda," tolak Chen He dengan halus.
Melihat Chen He tidak bergeming, wanita itu mengalihkan targetnya. "Anak muda, rambutmu sudah panjang. Ayo pangkas di tempat saya, dijamin kamu akan terlihat makin tampan dan pasti menarik perhatian para gadis saat berjalan di jalan nanti."
Mulut wanita itu memang sangat lihai. Zheng Xiaobing menyentuh cambangnya dan merasa rambutnya memang sudah agak panjang. Ia tampak mulai tertarik.
"Maaf, teman saya ini juga tidak mau keramas, kondisi keluarganya bahkan lebih sulit daripada saya," potong Chen He sebelum Zheng Xiaobing sempat bicara, lalu ia segera menarik Zheng Xiaobing pergi.
"Kenapa kamu menarikku pergi? Rambutku ini memang sudah perlu dirapikan," tanya Zheng Xiaobing kebingungan.
Menurutnya, wanita itu sangat baik dan memberikan pelayanan yang ramah, apalagi sudah menawarkan harga pelajar. Jika tidak memanfaatkan kesempatan ini, rasanya agak kurang sopan.
Chen He menatap Zheng Xiaobing sejenak. "Itu bukan tempat pangkas rambut biasa. Kalau kamu masuk ke sana, aku jamin uangmu tidak hanya akan habis, tapi kamu juga akan kehilangan sesuatu yang paling berharga."
Awalnya Zheng Xiaobing tidak paham, namun tak lama kemudian matanya membelalak. "Maksudmu tempat yang berkedok salon tapi sebenarnya melakukan transaksi ilegal?"
Zheng Xiaobing tiba-tiba tersadar. Tempat yang resmi ia tahu seperti apa, tapi yang tidak resmi tentu bukan seleranya. Ia tersenyum malu. "Untung kamu mengingatkanku, kalau tidak, kesucianku bisa hilang."
Jika bukan karena dicegah oleh Chen He dan ia terlanjur masuk ke sana, bagaimana ia bisa mempertanggungjawabkan dirinya di depan calon istrinya kelak? "Kamu memang saudaraku. Oh ya, dari mana kamu tahu?" tanya Zheng Xiaobing penasaran.
"Aku juga dengar dari orang lain," jawab Chen He berbohong.
Di kehidupan sebelumnya, ia pernah tertipu secara langsung. Saat itu ia sama naifnya dengan Zheng Xiaobing. Baru setelah masuk ke dalam, ia menyadari bahwa tempat itu menyediakan layanan terlarang. Untungnya, ia segera melarikan diri saat itu juga.
"Kita baru saja sampai di Kota Jiang, masih asing dengan tempat ini, jadi kita harus selalu waspada," nasihat Chen He.
"Aku mengerti."
Kehidupan Chen He di masa lalu sangatlah keras; ia menghabiskan seluruh hidupnya berjuang di lapisan bawah masyarakat. Kini, setelah terlahir kembali, jika usia kehidupan sebelumnya digabungkan, umurnya jauh lebih tua daripada ayah Zheng Xiaobing.
Saat berhadapan dengan Zheng Xiaobing, ia selalu merasa seperti sosok ayah. Zheng Xiaobing masih berada di usia yang polos dan naif; sedikit saja lengah, ia bisa melakukan kesalahan yang tidak bisa diperbaiki. Dirinyalah yang menyarankan Zheng Xiaobing untuk masuk ke Akademi Kota Jiang, jadi ia merasa harus menjaga temannya itu dengan baik.
"Kita sudah berkeliling cukup jauh, ayo kita makan enak hari ini."
Begitu mendengar soal makanan, Zheng Xiaobing langsung bersemangat.
Chen He menoleh ke sekeliling sebelum mengeluarkan ponsel dari sakunya. Membawa barang berharga memang harus selalu berhati-hati.
"Halo, ini Chen He."
"Chen He? Aku dengar kamu sudah masuk kuliah, kenapa meneleponku?" Suara di seberang sana adalah Zhao Lei.
"Lei, datanglah ke Kota Jiang menemuiku, aku punya cara untuk menghasilkan uang."
"Kamu tidak sedang bercanda, kan?"
"Mana mungkin. Kita sudah kenal sejak kecil, mana mungkin aku menipumu? Datanglah."
Zhao Lei terdiam sejenak. "Aku percaya padamu, tapi bagaimana rencanamu mengajakku mencari uang?"
Chen He sudah memikirkannya matang-matang. Pertama, ia harus mengikuti arus zaman. Dengan semakin populernya internet, gaya hidup masyarakat akan mengalami perubahan drastis, dan perdagangan elektronik (e-commerce) menyimpan potensi yang sangat besar.
"Kamu tahu toko daring? Yaitu menjual barang-barang melalui internet."
"Tahu, maksudmu memindahkan toko fisik ke internet?"
Chen He mengangguk. "Tidak bisa dijelaskan panjang lebar lewat telepon, nanti kalau kamu sudah di sini, aku jelaskan lebih detail."
Suara Zhao Lei terdengar ragu. "Aku sih mau, tapi bagaimana kalau orang tuaku tidak setuju? Mereka terus memaksaku masuk sekolah kejuruan."
"Bicaralah baik-baik dengan mereka, aku tunggu kabarmu."
Chen He menutup telepon. Ia yakin Zhao Lei mampu meyakinkan orang tuanya. Dalam beberapa tahun ke depan, perdagangan daring akan berkembang pesat. Jika masuk lebih awal, mereka bisa menguasai lebih banyak keuntungan.
"Kamu benar-benar ingin menekuni e-commerce? Tapi bukankah kita hanya bertiga? Apakah jumlah orangnya tidak terlalu sedikit?" Zheng Xiaobing mendengar percakapan Chen He tadi. Ia sangat memercayai pandangan Chen He.
"Nanti bisa rekrut orang pelan-pelan."
"Untuk tahap awal, kita bertiga saja dulu. Setelah Lei datang, aku akan jelaskan lebih rinci kepada kalian." Chen He memutuskan bahwa nantinya Zhao Lei akan menjadi bagian layanan pelanggan yang bertugas mengetik dan mengobrol dengan klien, sementara Zheng Xiaobing bertanggung jawab atas koordinasi barang dan pengiriman.
"Zhao Lei sering bolos sekolah hanya untuk main gim, perilakunya juga agak urakan. Apa benar tidak masalah mengajaknya?" Zheng Xiaobing masih ragu. Menurutnya, Zhao Lei selalu bersikap seenaknya, dan orang seperti itu biasanya tidak mudah diatur.
Chen He tersenyum tipis. "Tenang saja, kalaupun dia membangkang, aku punya cara untuk membuatnya patuh."
Di kehidupan sebelumnya, hidup Zhao Lei sangat suram. Alasan Chen He ingin menariknya adalah untuk mengubah nasib tragis temannya itu, sekaligus membalas budi Zhao Lei yang pernah membantu ayahnya di masa lalu.
Pandangan Chen He sangat jauh ke depan. Begitu peta bisnisnya resmi terbangun, bahkan tanpa perlu diminta pun, Zhao Lei nantinya akan sadar untuk tumbuh, berubah, dan menjadi pribadi yang lebih baik.