Bab Dua Puluh Enam: Antar Jemput Kerja
Hari kedua.
Ji Tingyang berjalan menuju ruang kerja seperti biasanya untuk memulai pekerjaan hari itu. Sejak hari pertama Lin Xu tiba di sini, ia tidak pernah melihat pria itu keluar rumah untuk pergi ke kantor Ji Group. Segala urusan pekerjaan disampaikan oleh sekretaris untuk kemudian diselesaikan di ruang kerja.
Awalnya, hal itu dilakukan agar ia bisa mengawasi Wen Li dan mencegahnya melarikan diri secara diam-diam, namun lama-kelamaan ia menjadi terbiasa. Sebaliknya, Lin Xu merasa bahwa terus-menerus berada di dalam rumah akan membuat orang yang paling normal sekalipun jatuh sakit karena bosan.
Harus ada cara untuk membuatnya kembali menjalani hidup normal, dimulai dengan pergi ke kantor.
Oleh karena itu, saat makan siang, Lin Xu tiba-tiba menghela napas panjang.
"Ada apa?" tanya Ji Tingyang sambil menatapnya. "Masakannya tidak sesuai selera?"
Seolah-olah jika ia mengangguk, pria itu akan segera menyingkirkan hidangan di atas meja dan memasak ulang.
Lin Xu menggelengkan kepala dengan raut wajah yang masih tampak murung. "Tadi aku menonton sebuah drama. Ada adegan seorang ibu yang mengantar anaknya ke sekolah, tiba-tiba aku teringat dulu aku jarang sekali mengantarmu, jadi aku merasa sedikit bersalah."
Saat Ji Tingyang kecil duduk di taman kanak-kanak, Lin Xu sesekali mengantarnya, namun lebih sering sang suami yang melakukannya. Sebelum berangkat ke kantor, suaminya selalu menyempatkan diri mengantar Tingyang kecil ke sekolah, lalu menjemputnya saat pulang kerja.
Kemudian, saat Tingyang masuk sekolah dasar, tugas antar-jemput dialihkan kepada sopir keluarga. Lin Xu bahkan belum sempat melakukan tugas itu sebelum ia berpindah waktu ke dua puluh tahun kemudian.
Mengenai dua puluh tahun saat ia tidak ada, tidak ada lagi yang memedulikan bagaimana mereka berangkat ke sekolah. Tingyang yang saat itu baru berusia tujuh atau delapan tahun terpaksa memikul tanggung jawab sebagai kakak yang baik; ia mengantar Ze Qiu ke taman kanak-kanak dengan bus, lalu menyambung kendaraan lain untuk pergi ke sekolahnya sendiri. Setelah adiknya beranjak besar dan mulai bersekolah, ia pun harus mengantar keduanya sekaligus.
Ji Tingyang juga teringat akan hal itu, lalu berkata dengan acuh tak acuh, "Tidak apa-apa, semuanya sudah berlalu."
"Mana bisa begitu!" Lin Xu tampak kesal.
Saat Ji Tingyang hendak menenangkannya, ia melihat mata wanita itu berbinar dan memberikan sebuah saran.
"Bagaimana kalau begini saja, aku yang mengantarmu berangkat dan menjemputmu pulang kerja!"
Pria itu tertegun sejenak.
"Kau sekarang sudah lulus, jadi aku tidak bisa lagi mengantar jemputmu sekolah. Maka satu-satunya cara untuk menebusnya adalah dengan mengantar jemputmu kerja. Sana, bersiaplah, jam dua nanti aku akan mengantarmu ke kantor!" desak Lin Xu.
"Aku..." Ji Tingyang tampak ragu, namun saat melihat betapa bersemangatnya wanita itu, ia menelan kembali kata-katanya. "Baiklah."
Lin Xu bertindak dengan sigap. Seolah takut pria itu berubah pikiran, begitu waktu tiba, ia langsung menariknya masuk ke mobil. Lokasi Ji Group masih berada di tempat yang sama, hanya saja setelah sekian lama, banyak dekorasi yang telah berubah.
Lin Xu merasakan emosi yang hanya sekilas, lalu turun bersama Ji Tingyang dan berpesan dengan teliti di depan pintu masuk:
"Aku akan jalan-jalan di sekitar sini. Jika sudah selesai kerja, telepon aku, nanti aku datang menjemputmu. Bekerjalah dengan baik, ya."
"Aku bukan anak kecil," ujar Ji Tingyang pasrah.
"Di mata seorang ibu, kau akan selalu menjadi anak kecil." Kalimat yang dulu sering diucapkan ibu Lin Xu kepadanya, kini ia ucapkan kembali kepada Ji Tingyang. Namun, melihat wajah muda yang tidak jauh berbeda usia dengannya itu, Ji Tingyang merasa agak aneh.
Kemunculan sang presiden yang sudah lebih dari dua tahun tidak terlihat di kantor mengejutkan seluruh karyawan. Sedetik sebelumnya mereka masih bersantai, namun detik berikutnya mereka langsung bersiap siaga dan bekerja dengan sangat tekun.
Begitu sampai di kantor, Ji Tingyang baru menyadari betapa malasnya setiap departemen. Tidak heran jika beban kerja yang harus ia tangani semakin menumpuk dan efisiensi perusahaan jauh lebih buruk dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Ia mendengus dingin.
Ji Tingyang, yang dua jam lalu enggan pergi ke kantor, seketika memulai perombakan internal besar-besaran. Dalam sekejap, seluruh penjuru kantor dipenuhi keluh kesah.
Sementara itu, Lin Xu sedang bersantai menikmati kopi di sebuah kafe. Mengingat Ji Ze Qiu yang sedang menjalani syuting tertutup, suasana hatinya sedang bagus. Ia pun mengirimkan banyak catatan mengenai hal-hal yang harus diperhatikan untuk merawat Ze Qiu kepada sang manajer.
Setelah sepuluh menit berlalu, manajer itu membalas dengan kata "baik" yang terkesan sekadar formalitas, entah ia benar-benar membacanya atau tidak.
"Woi, apa kau punya mata! Baju ini sangat mahal, apa kau mampu menggantinya? Di mana manajermu? Aku ingin melaporkanmu!"
Suara makian terdengar dari arah sebelah. Lin Xu menoleh dan mendapati seorang pelanggan sedang bertengkar dengan seorang pelayan. Pelayan tersebut tidak sengaja menjatuhkan cangkir, sehingga kopi tumpah dan mengotori pakaian pelanggan yang ada di dalam kantong kertas. Melihat logo merek mewah yang tercetak di kantong kertas itu, dapat dipastikan harganya sangat mahal.
Pelayan itu membungkuk meminta maaf kepada pelanggan, "Maaf, maaf, tadi tangan saya tidak stabil, ini salah saya. Saya akan segera mencucinya sampai bersih..."
"Mencucinya? Tidak semua baju bisa dicuci sembarangan! Apa kau tahu gara-gara ini, aku tidak punya gaun untuk menghadiri pesta malam ini!" Pelanggan itu sangat emosional dan kembali mengancam akan mencari manajer untuk meminta ganti rugi.
"Saya pasti akan mencucinya sampai bersih, atau dibawa ke penatu (laundry) juga bisa, tolong jangan laporkan saya..." wajah pelayan itu tampak gelisah. Jika ia mendapat satu laporan, gajinya akan dipotong dua ratus yuan, yang setara dengan bekerja dua hari secara cuma-cuma.
Tepat saat perdebatan memanas, seorang gadis tiba-tiba menarik pelayan itu ke belakangnya untuk melindunginya. "Xiao Yu, untuk apa kau meminta maaf padanya! Hanya sepotong baju saja, seberapa mahal sih harganya."
Gadis itu memasang raut wajah meremehkan.
"Kalau memang tidak seberapa, bayar sepuluh ribu yuan sebagai ganti rugi." Agar mereka tidak menganggapnya memeras, pelanggan itu mengeluarkan nota pembeliannya.
"Aku pikir berapa, bukankah cuma sepuluh ribu yuan." Gadis itu mengeluarkan ponselnya, memindai kode QR pelanggan, dan dalam hitungan detik, uang sepuluh ribu yuan pun terkirim.
Setelah menerima ganti rugi, pelanggan itu tidak lagi memperpanjang masalah. Ia melirik Xiao Yu dan gadis itu dengan tatapan menilai