Bab Enam Puluh Tanpa Harapan di Hati
Suara berderik kecil terdengar di sisi telinga. Kelopak mata Lin Xu bergerak perlahan, dan ia pun siuman. Begitu membuka mata, ia langsung mendapati sepasang mata Ji Zeqiu yang tampak sedikit terkejut.
"Kamu sudah bangun? Bagaimana perasaan badanmu, demamnya sudah turun?" tanya Lin Xu dengan mata masih mengantuk, suaranya terdengar masih samar karena belum sepenuhnya sadar.
Ia menggerakkan keempat anggota tubuhnya yang kaku, duduk di atas tempat tidur, lalu mengulurkan tangan untuk memeriksa suhu di kening pemuda itu.
Suhunya normal.
Lin Xu mengembuskan napas lega, lalu menuangkan segelas air untuknya. "Kamu mengeluarkan banyak keringat semalam, minumlah sedikit air untuk memulihkan cairan tubuhmu."
Namun, Ji Zeqiu hanya menatap gelas air di tangannya tanpa bergerak sedikit pun, entah apa yang sedang dipikirkannya.
"Apakah kamu ingin aku suapi?" tanya Lin Xu bingung, tetapi ia sendiri tidak keberatan.
Dulu sewaktu kecil ia bahkan pernah menyuapinya makan, jadi segelas air ini bukanlah masalah besar.
Gelas itu didekatkan ke bibirnya, membuat Ji Zeqiu seketika tersadar dari lamunannya. Kepalanya mendadak mendongak ke belakang, menjauhi gelas tersebut.
Padahal demamnya sudah turun, tetapi pipinya justru merona merah saat itu juga. Suaranya bahkan terdengar terbata-bata, "Si-siapa... siapa juga yang bilang minta disuapi!"
"Kalau tidak mau disuapi, makanya ambil gelasnya sendiri." Dengan nada jengkel, Lin Xu menyumpalkan gelas itu ke tangan pemuda tersebut.
"Aku tadi hanya sedang memikirkan sesuatu!" Dengan nada kesal, Ji Zeqiu langsung meneguk habis air itu dalam sekali napas. "Kenapa kamu bisa ada di sini?"
"Manajer mu bilang kamu sakit. Setelah aku tanyakan alamatnya, aku datang untuk melihat keadaanmu."
"Dia bahkan memberitahukannya semudah itu padanya!" gerutu Ji Zeqiu kesal.
Wanita di hadapannya ini kan adalah penggemarnya, bahkan merupakan seorang penggemar wanita berkedok pacar yang sering membawa tongkat suporter bertuliskan "Aku mencintaimu"!
Bagaimana jika wanita ini diam-diam melakukan hal-hal yang tidak senonoh!
Memikirkan hal itu, Ji Zeqiu melipat kedua tangannya di dada dan menatapnya dengan penuh kewaspadaan. "Kamu tidak berbuat macam-macam kepadaku, kan?"
Lin Xu memutar bola matanya malas. "Sebaiknya kamu tanyakan pada dirimu sendiri, apa yang sudah kamu perbuat padaku?"
"Memangnya apa yang bisa kulakukan," balas Ji Zeqiu acuh tak acuh.
"Semalam, entah siapa yang menarik tanganku erat-erat dan tidak mau melepaskannya, terus-menerus memanggilku agar jangan pergi," cibir Lin Xu.
Ji Zeqiu: ?
"Mana mungkin!" Sepasang mata hitamnya melotot lebar, bersikeras membela diri.
Lin Xu mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah rekaman tepat di hadapan pemuda itu. Di dalam rekaman tersebut, terdengar suara lemah Ji Zeqiu yang memanggil-manggil agar jangan pergi.
Mendengar bukti nyata tersebut, Ji Zeqiu seketika mematung di tempat, tampak sangat terpukul.
Bagaimana mungkin ia memohon kepada wanita ini agar tidak pergi...
"A-aku, semalam pasti mengira kamu sebagai Wen Li," kilahnya berusaha menyelamatkan harga diri.
Benar! Tidak salah lagi!
Lin Xu meliriknya sekilas dengan pandangan hambar. Sebenarnya, ia sengaja tidak memutar bagian akhir dari rekaman tadi, karena bagian setelahnya penuh dengan suara rintihan kesakitan saat pemuda itu memanggil "Ibu".
Mengingat tatapan dingin pemuda itu saat mengatakan agar tidak menyebut-nyebut mendiang ibunya, Lin Xu memutuskan untuk tidak menceritakan hal tersebut kepadanya.
Lin Xu menguap lebar, lalu mendorong Ji Zeqiu menjauh dari tempat tidur. "Bangun sana, biarkan aku tidur sebentar."
Ji Zeqiu mengalami demam tinggi sepanjang malam kemarin. Lin Xu harus mengompres keringatnya, mengganti plester penurun panas, dan baru bisa tidur dengan merebahkan kepala di tepi ranjang saat menjelang pukul tiga atau empat pagi.
"Aku kan masih pasien, kenapa aku harus mengalah..." protesnya dengan nada geram. Namun, begitu melihat lingkaran hitam di bawah mata Lin Xu, suaranya mendadak terhenti.
Setelah terdiam canggung sejenak, ia turun dari tempat tidur. "Jangan salah paham, aku bangun bukan karena sengaja memberikan tempat tidur ini untukmu, tapi cuma ingin menghirup udara segar."
"Iya, iya, kalau begitu pergilah menghirup udara segar sana. Jangan lupa belikan aku sarapan saat kembali ya, perutku lapar sekali," ucap Lin Xu dengan suara yang mulai tidak jelas karena kantuk.
"Kenapa pula aku harus membelikanmu makanan, kalau mau makan beli sendiri!" teriak Ji Zeqiu dengan kesal. Namun, saat menoleh ke belakang, ia mendapati wanita itu sudah jatuh tertidur lelap, membuatnya merasa seperti sedang memukul gumpalan kapas yang tak mempan.
Kemarahannya mereda. Ji Zeqiu menggertakkan gigi, mendengus pelan dari tenggorokannya, lalu berbalik dan melangkah keluar kamar.
Manajer yang kebetulan baru kembali dari luar berpapasan dengan Ji Zeqiu yang tampak bugar di koridor. Rasa khawatir yang menggelayutinya sepanjang malam akhirnya sirna seketika.
"Tubuhmu kan baru saja sembuh, kenapa tidak istirahat saja di kamar, mau pergi ke mana?" tanya sang manajer.
"Mencari makanan," jawab Ji Zeqiu santai.
Manajer ber-oh ria dan hendak melangkah melewati pemuda itu untuk kembali ke kamar dan beristirahat. Namun, sebelum sempat membuka pintu, ia sudah dipanggil oleh Ji Zeqiu.
"Kak Zhao, ikut aku saja."
"Baiklah, tunggu sebentar aku mau ambil barang dulu di dalam," kata manajer.
"Tidak usah diambil, ayo cepat jalan." Seolah-olah sedang diburu waktu, Ji Zeqiu langsung menarik lengan manajernya.
Menu sarapan prasmanan di hotel itu tampak sangat beragam. Meskipun demamnya sudah turun, nafsu makan Ji Zeqiu masih buruk, sehingga ia hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya dengan perasaan bosan.
Tepat pada saat itu, ponsel di dalam saku celananya berdering.
Wen Li yang menelepon.
Biasanya, jika menerima panggilan telepon inisiatif darinya, Ji Zeqiu pasti akan langsung mengangkatnya dengan penuh semangat.
Namun, mengingat kejadian kemarin saat gadis itu mengingkari janjinya, tatapannya mendadak berubah rumit saat melihat nama yang tertera di layar ponsel.
Ponsel itu berdering cukup lama. Tepat pada detik sebelum panggilan tersebut terputus otomatis, ia tidak kuasa menahan diri dan akhirnya mengangkatnya.
Pikirannya melayang, mungkin saja Wen Li benar-benar memiliki urusan yang sangat mendesak sehingga tidak bisa datang.
Mungkin ia tiba-tiba mengalami kecelakaan, jatuh sakit, atau ada urusan darurat di rumah...
Ia seharusnya memberi kesempatan kepada gadis itu untuk menjelaskan.
Dengan pemikiran tersebut, Ji Zeqiu membuka suara, "Wen Li, apa kamu baik-baik saja?"
"Eh?" Orang di ujung telepon tampak tertegun sejenak, tidak mengerti maksud dari pertanyaan itu. "Aku baik-baik saja kok."
"Maaf ya, kemarin aku sebenarnya berjanji mau datang menjengukmu, tapi guru tiba-tiba menyuruh mengumpulkan tugas lebih awal. Aku harus mengebut semalaman sampai-sampai tidak sempat melirik ponsel," jelas Wen Li kepadanya. "Maafkan aku ya, apakah sekarang badanmu sudah sembuh?"
Ji Zeqiu membuka mulutnya, ingin memberikan jawaban, tetapi tenggorokannya mendadak terasa perih seperti ditusuk ribuan jarum, membuatnya tidak mampu mengeluarkan suara apa pun.
"Wen Li, tinggal sedikit lagi, cepat ke sini dan selesaikan," terdengar suara dari dalam ponsel yang agak jauh, seseorang sedang berbicara di dekat Wen Li.
"Xiao Yu, jangan bergerak dulu, aku sedang menelepon!" omel Wen Li dengan nada manja kepada orang tersebut.
Ji Zeqiu menelan ludahnya. Suaranya yang tadinya rendah dan karismatik kini berubah menjadi parau dan terdengar tidak menyenangkan. Sambil pura-pura tidak tahu, ia bertanya, "Kamu sedang bersama siapa?"
Setelah ragu-ragu sejenak, Wen Li menjawab, "Bersama Xiao Yu. Ada banyak PR yang tidak kukerjakan, jadi dia bilang bisa membantuku belajar."
Jadi, mulai dari kemarin hingga detik ini, ia terus menghabiskan waktu bersama Xiao Yu?
Ji Zeqiu merasa seolah-olah dirinya terjatuh ke dalam gua es, dan hawa dingin langsung menjalar dari telapak kakinya.
"Ngomong-ngomong, badanmu sudah baikan? Nanti setelah kelar kelas aku ada waktu luang, apa perlu aku datang menjengukmu?"
Wen Li masih terus berbicara, tetapi Ji Zeqiu sudah tidak berniat mendengarkannya lagi. Tanpa menaruh harapan apa pun di dalam hatinya, ia langsung menutup sambungan telepon.
"Sudah selesai makan? Kalau sudah, ayo kembali," ujar Ji Zeqiu bangkit berdiri. Baru berjalan dua langkah, seolah teringat sesuatu, ia berbalik dan memesan satu porsi sarapan lagi untuk dibawa pulang.
Manajer mengira pemuda itu belum kenyang, sehingga ia tidak banyak bertanya.
Hingga setibanya kembali di kamar hotel, manajer melihat Lin Xu sedang melahap sarapan yang dibawa oleh Ji Zeqiu dengan lahap, dan pada saat itulah ia baru mengerti.
Pantas saja tadi pemuda itu melarangnya masuk kamar dan bersikeras mengajaknya pergi makan di luar, rupanya karena ada Lin Xu di dalam sana.
Pria dan wanita berada di satu ruangan tertutup memang kurang pantas.
Menangkap tatapan penuh godaan dari sang manajer, Ji Zeqiu mengira pria itu sedang membahas masalah sarapan tadi. Dengan leher kaku ia bersikeras membela diri, "Aku sengaja membelikannya bukan karena perhatian, tapi takut kalau dia mati kelaparan di kamarku dan nanti polisi datang menangkapku!"
[Catatan Penulis:]
Komentar kalian semua sudah kubaca, berikut adalah jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan kalian.
T: Kenapa tidak langsung bilang saja kepada sang adik bahwa Lin Xu adalah ibunya?
J: Lin Xu sebenarnya sudah mengatakannya, tetapi adiknya tidak percaya, bahkan melarang Lin Xu untuk terus membahas tentang mendiang ibu mereka.
T: Kenapa sang adik tidak mengenali ibu kandungnya sendiri?
J: Karena adiknya merasa terpukul atas kematian sang ibu, hatinya menolak kenyataan tersebut, sehingga ia sengaja menghindari melihat foto-foto ibunya maupun mengingat masa lalu demi melupakannya. Dua puluh tahun telah berlalu, dan jika tidak sengaja diingat-ingat, rupa wajah sang ibu pun sudah tidak diingatnya lagi.
T: Alurnya bertele-tele, kapan mereka bisa cepat-cepat saling mengenali?
J: Tidak bisa cepat. Kalau mereka sudah saling mengenali, cerita ini bisa langsung tamat. Kalau begitu, apa lagi yang harus kutulis dan bagaimana perkembangan plot selanjutnya?