Bab 65: Diskriminasi Profesi
Gedung Shengshi Technology.
Lu Junheng duduk di balik meja kerja, menatap layar laptop dengan pandangan yang sulit diartikan. Suaranya terdengar santai, tidak cepat maupun lambat, "Begitu ya, sudah benar-benar tidak bisa berfungsi lagi?"
"Sebagai seorang dokter, aku wajib melindungi privasi pasien. Pokoknya, aku hanya bisa membocorkan sebanyak ini kepadamu, selebihnya tebak saja sendiri."
Lu Junheng dengan malas menatap tasbih di pergelangan tangannya, jemarinya meraba-raba dengan perlahan.
Tebak sendiri?
Berarti memang sudah tidak berfungsi.
Fang Qingxu berkata dengan nada penasaran, "Lao Lu, aku ingat kau bukan tipe orang yang peduli dengan hal semacam ini. Apa aku melewatkan sesuatu selama beberapa tahun ini saat aku di luar negeri?"
Ia dan Lu Junheng adalah teman sekamar saat kuliah di Universitas A, yang satu mengambil jurusan Ilmu Komputer dan yang satunya Kedokteran. Masuk akal jika dua jurusan yang bagai bumi dan langit ini tidak mungkin menjadi teman sekamar.
Namun, pada tahun itu Universitas A kebetulan menerapkan sistem kamar campur jurusan, dan siapa teman sekamar ditentukan sepenuhnya melalui undian.
Mereka berdua kebetulan mendapatkan kamar yang sama. Fang Qingxu sebenarnya cukup penasaran dengan teman sekamarnya yang masuk jurusan Ilmu Komputer Universitas A dengan nilai ujian masuk tertinggi kala itu.
Namun, Lu Junheng selalu bersikap misterius—bahkan bisa dibilang bagaikan hantu yang datang dan pergi tanpa jejak. Jurusannya pun sangat sibuk, sehingga pada setengah tahun pertama, mereka bahkan jarang bertemu.
Berbicara tentang bagaimana mereka akhirnya benar-benar akrab, itu bermula saat Fang Qingxu pertama kalinya pergi ke bar bawah tanah bersama teman-temannya, tanpa tahu bahwa tempat itu menyembunyikan arena pertaruhan tinju ilegal. Di tempat itulah ia menemukan sisi lain dari teman sekamarnya yang berwajah dingin tersebut, sisi yang tidak pernah diketahui orang lain.
Belakangan, Fang Qingxu mengajukan diri sebagai mahasiswa pertukaran pelajar dan pergi studi ke Amerika, sementara Lu Junheng sudah mulai merintis bisnisnya sendiri selama masa kuliah.
Jenius tetaplah jenius. Hanya dalam kurun waktu enam tahun, Shengshi Technology telah tumbuh menjadi raksasa nomor satu di dalam negeri dan memiliki pengaruh tertentu di kancah internasional.
Melihat Lu Junheng tidak bersuara, Fang Qingxu mulai berspekulasi berdasarkan gosip yang didengarnya setelah pulang ke tanah air, "Kutahu dari para perawat di rumah sakit kami bahwa Tuan Muda yang satu ini punya tunjangan super duper cantik. Tapi kau juga tidak terlihat seperti perebut istri orang..."
Melihat tatapan Lu Junheng yang tiba-tiba mendingin, tenggorokan Fang Qingxu tercekat, dan sebuah pemikiran konyol mendadak terbentuk di benaknya.
Fang Qingxu menelan ludahnya, lalu bertanya dengan nada meraba, "Lao Lu... kau tidak mungkin benar-benar naksir istri orang lain, kan..."
"Tutup mulutmu!" Alis Lu Junheng berkerut dalam, suaranya dingin, "Dia tidak layak!"
"Hiss—"
Fang Qingxu langsung menarik napas tajam. Apa, jadi benar-benar diakui?!
Jadi... perebut istri orang itu ternyata adalah sahabatku sendiri?!
Bagaimanapun juga, mereka sudah bertahun-tahun menjadi teman sekamar. Begitu melihat ekspresi Fang Qingxu, Lu Junheng langsung tahu apa yang sedang dipikirkan pria itu. Ia menatapnya dengan dingin dan berkata, "Tolong segera buang semua sampah yang ada di dalam otakmu itu."
Fang Qingxu: "......"
"Uhuk..." Fang Qingxu buru-buru membahas urusan serius, "Begini, Lao Lu, tolong bantu aku. Aku benar-benar tidak ingin terus bekerja di bawah kendali lelaki tua itu! Setiap hari dia selalu mengirim perawat-perawat cantik ke sisiku, dan semuanya berdada besar lagi. Memangnya dia pikir aku tidak tahu apa niatnya?!"
Alis Lu Junheng terangkat sedikit, "Kau tidak suka?"
"Tentu saja su... eh! Bukannya masalah suka atau tidak sekarang!" Fang Qingxu merasa sangat frustrasi, lalu berkata dengan nada menggebu-gebu, "Poin utamanya adalah, siapa yang cara mendesak untuk menikah seobsesif dirinya? Aku sudah tidak tahan lagi!"
Sambil berkata demikian, bola matanya berputar dan ia menatap Lu Junheng penuh harap, "Lao Lu, apa kau masih kekurangan dokter pribadi? Jenis lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Harvard yang merupakan institusi top dunia, lho!"
Lu Junheng: "......"
"Terima kasih, tidak butuh."
Fang Qingxu seketika meradang, "Kenapa! Bukankah latar belakang pendidikanku ini luar biasa? Aku bahkan masuk peringkat sepuluh besar di jurusanku!"
Lu Junheng menatapnya dalam diam. Tatapannya yang tenang seolah sedang bertanya: Kenapa aku menolakmu, apa kau tidak punya sedikit pun kesadaran diri?
Fang Qingxu yang memahami arti tatapan itu: "......"
"Diskriminasi profesi itu tidak boleh dilakukan. Aku ini sedang mengawal dan melindungi kehidupan bahagia para kaum pria di luar sana. Siapa tahu suatu hari nanti..."
"Uhuk..." Fang Qingxu mengalihkan pandangannya, dengan paksa mengabaikan tatapan setajam pisau dari Lu Junheng. Namun, insting profesionalnya tetap mendorongnya untuk melanjutkan dengan kepala tegak, "Bukankah kau menyukai pria? Antar sesama jenis justru harus lebih memperhatikan masalah aspek ini. Bagaimana kalau besok kau datang ke tempatku..."
"Enyah."
Maka, Fang Qingxu dengan sukses mendapatkan kata "Enyah".
...
"Chubao, Anan, Papa kem..." Yu Zhuoyuan telah membayangkan berbagai macam situasi setibanya di rumah, tetapi ia sama sekali tidak pernah membayangkan pemandangan di hadapannya ini.
Mendengar suara pintu dibuka, Yu Chu di tengah kesibukannya menyempatkan diri mengangkat kepala selama satu detik dari dalam kue stroberi yang ukurannya beberapa kali lebih besar dari wajahnya, lalu melirik ke arahnya, "Papa, kau sudah pulang."
Wajah bulat Yu An penuh dengan krim, begitu juga dengan bagian dadanya. Mendengar suara tersebut, ia ikut tersenyum dan berkata, "Papa, makan kue!"
Yu Zhuoyuan: "......"
Kue dengan ukuran sebesar ini biasanya hanya ia lihat di acara perjamuan ulang tahun.
Yu Zhuoyuan memejamkan matanya sejenak, lalu bertanya dengan nada sabar, "...Chubao, di mana Bibi?"
Ia ingat tadi secara khusus sudah berpesan kepada sang bibi agar tidak membelikan kue untuk mereka. Pola makan kedua anak ini memang sudah harus dikontrol.
Anan masih lumayan, tapi Chubao makan es krim setiap hari, dan bahkan diam-diam memesan makanan lewat layanan pesan-antar saat ia tidak melihat. Entah siapa yang mengajarinya cara memesan makanan secara daring.
Yang dipesan pun semuanya makanan tinggi kalori. Makanan dari luar tidak higienis, bagaimana kalau sampai keracunan atau jatuh sakit?
Yu Chu makan tanpa mengangkat kepalanya, "Bibi sudah pulang."
Dari sudut pandang Yu Zhuoyuan, ia hanya bisa melihat separuh kepala yang dibenamkan ke dalam kue bergerak-gerak naik turun. Yu An di sampingnya juga sedang makan dengan penuh antusias.
Melihat pemandangan yang hangat dan harmonis di depannya ini, Yu Zhuoyuan membatin dalam hati, Anan cepat atau lambat pasti akan ikut terpengaruh oleh Chubao...
Semenjak kejadian menggigit Anan hingga menangis waktu itu, sifat posesif Chubao terhadap makanannya sudah banyak berkurang. Tentu saja, itu hanya berlaku untuk Anan.
"Chubao, makan kue terlalu banyak itu tidak baik..."
"Aku tahu, Papa." Yu Chu menatapnya dengan ekspresi sangat serius, "Makanya aku hanya makan satu."
Yu Zhuoyuan: "......"
Tetapi satu kue milikmu itu besarnya beberapa kali lipat dari jatah orang lain!
Setelah berpikir sejenak, Yu Chu mengambil garpu cadangan di sampingnya dan menyerahkannya kepada Yu Zhuoyuan, "Papa, apa kau juga ingin makan?"
"Tidak..." Melihat garpu tersebut, Yu Zhuoyuan justru merasa sedikit terkejut dan senang, "Baiklah, kebetulan Papa juga sudah lama tidak makan kue."
Jika dipikir-pikir baik-baik, ia bahkan sudah tidak ingat kapan terakhir kalinya ia makan kue.
Melihat pria itu menerimanya, Yu Chu justru merasa sedikit kecewa. Ia tadinya mengira sang Papa akan menolak, sehingga ia bisa menikmati seluruh kue itu seorang diri.
"Papa, makan!" Melihat itu, Yu An ikut menyendok sesendok krim dan mengarahkannya ke dekat bibir Yu Zhuoyuan.
"Terima kasih Anan..." Yu Zhuoyuan tersenyum sambil menundukkan kepala. Namun, begitu melihat gumpalan krim di sendok itu, ekspresinya langsung kaku, "Papa makan punya Kakak saja, Anan makan sendiri ya."
"Tidak... Papa makan!"
Pada akhirnya, Yu Zhuoyuan tetap tidak tega mengecewakan sang putra. Dengan ekspresi bagaikan seorang pahlawan yang hendak gugur di medan perang, ia langsung menelan sesendok krim tersebut.
Mengenai bagaimana rasanya, maaf, ia sama sekali tidak sempat merasakannya.
Sebuah kue cokelat krim yang tadinya berbentuk indah, di tangan Yu An kini telah mengalami modifikasi sedemikian rupa hingga hasil akhirnya sangat sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Rasanya mungkin masih enak saat dimakan, itu pun dengan syarat Anda sanggup memakannya setelah melihat bentuknya yang sudah hancur.