Bab 109: Giok Putih Lemak Domba Hetian

Harta Gaib Tuan Fu 2395kata 2026-03-31 22:44:15

Nyonya Fang mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan. Setelah berbicara beberapa patah kata, ia menoleh ke arah Xu Song sambil tersenyum, "Suami saya akan segera naik. Oh ya, bolehkah saya tahu siapa nama Anda?"

"Xu Song," jawab Xu Song ramah. "Xu seperti nama marga, dan Song seperti pohon cemara."

"Baik, Pak Xu. Terima kasih banyak atas keramahtamahan kalian," ucap Nyonya Fang dengan senyum tipis.

Xu Song menggeleng pelan, "Tidak masalah, ini hanya hidangan rumahan biasa, jangan sungkan."

*Tap, tap!*

Suara langkah kaki terdengar dari bawah. Tak lama kemudian, seorang pria berusia tiga puluhan muncul. Ia mengenakan jaket abu-abu, tingginya sekitar seratus tujuh puluh sentimeter, berwajah tampan, berperawakan kurus, dan mengenakan kacamata tanpa bingkai.

"Sayang!" seru Nyonya Fang.

Pria itu tersenyum, lalu menatap Xu Song dan rekannya. Ia sempat terpana oleh kecantikan dan aura Kakak Yun, namun dengan cepat ia kembali tenang. Pandangannya menunjukkan kekaguman tanpa niat buruk, tipe orang yang layak dijadikan teman.

"Halo, saya dengar dari istri saya bahwa kalian ingin menjamu kami. Terima kasih banyak. Nama saya Zhang Shan."

"Saya Xu Song. Pak Zhang, silakan masuk," sambut Xu Song.

Mereka pun masuk ke dalam kamar Xu Song. Zhang Shan dan Nyonya Fang tampak bingung dan saling berpandangan. Tempat itu tidak terlihat seperti hunian keluarga, melainkan kamar seorang pria lajang, atau paling banter kamar pasangan kekasih.

Zhang Shan bertanya dengan heran, "Pak Xu, apakah Anda sekeluarga tinggal di sini?"

"Bukan, masih ada satu kamar lagi di sebelah sana," Xu Song menunjuk ke ruangan di dekatnya.

Zhang Shan mengangguk paham, "Pantas saja, tempat ini memang tidak terlihat seperti tempat tinggal keluarga beranggotakan tiga orang."

Tak lama, matanya tertuju pada sesuatu. "Eh, Pak Xu, Anda memiliki jimat dan benda-benda ritual di sini. Apakah Anda menganut kepercayaan tertentu?"

"Saya lupa memberitahu kalian, saya seorang Taois," jawab Xu Song sambil tersenyum.

Pasangan Zhang Shan tampak terkejut. Menjadi seorang Taois memang bukan hal yang aneh, namun jumlah mereka memang tidak banyak di tengah masyarakat luas.

"Pak Xu seorang Taois?" tanya Zhang Shan tak percaya.

Xu Song mengangguk, "Benar. Saya mengundang kalian makan di sini bukan hanya untuk berterima kasih karena Nyonya Fang telah mengantar Xiao He pulang, tetapi juga karena ada sesuatu yang tidak bersih pada putri kalian."

"Apa!" Wajah pasangan itu berubah drastis.

Zhang Shan berkata dengan nada tidak senang, "Pak Xu, kita baru saja bertemu, tidak perlu bersikap klenik seperti ini."

Sambil berkata demikian, ia bangkit hendak pergi.

"Tunggu sebentar, Pak Zhang. Saya mengerti perasaan Anda. Sebagai orang tua, tentu tidak ada yang mau mendengar hal buruk tentang anaknya." Xu Song tersenyum tenang. "Tapi, apakah Anda pernah bertanya pada putri Anda, apakah belakangan ini ia merasa kedinginan luar biasa di malam hari dan sering mengalami mimpi buruk?"

"Konyol! Mana mungkin saya tidak tahu kondisi putri saya sendiri?" bentak Zhang Shan sambil menarik tangan putrinya untuk pergi.

Xu Song menatapnya, "Orang tua tentu tahu banyak hal tentang anaknya, tapi mengapa Anda tidak mencoba bertanya?"

"Lagipula, setiap orang memiliki rahasia pribadinya sendiri."

"Anda... hmph, baiklah, baiklah! Saya akan bertanya agar Anda yang mengaku-ngaku dukun ini bisa berhenti berkhayal!" Zhang Shan yang kesal kemudian bertanya pada putrinya, "Xiao Lian, apakah kamu merasa kedinginan di malam hari?"

"Iya," jawab Xiao Lian sambil mengangguk pelan.

Zhang Shan terkejut, "Kenapa kamu tidak mengatakannya sebelumnya?"

"Ayah bilang, kalau pakai selimut tebal tidak akan dingin lagi. Jadi, aku tidak berani bilang lagi," jawab Xiao Lian dengan mata yang menghindari tatapan ayahnya.

Zhang Shan langsung terdiam seribu bahasa.

Putrinya adalah tipe anak yang sangat penurut dan pengertian. Ditambah lagi, anak perempuan biasanya lebih cepat dewasa secara fisik maupun mental daripada anak laki-laki. Karena tidak ingin membuat orang tuanya khawatir, ia selalu memendam keluh kesahnya sendiri.

Xu Song berkata, "Pak Zhang, putri Anda sangat pengertian."

"Maafkan saya, Pak Xu. Saya telah salah paham," ucap Zhang Shan dengan perasaan tidak enak. Namun, tak lama kemudian ia kembali cemas, "Tapi, apa maksud Anda ada sesuatu yang tidak bersih pada putri saya?"

"Kemungkinan besar berasal dari gelang yang dipakai di pergelangan tangan putri Anda," ujar Xu Song sambil menunjuk gelang giok di tangan gadis kecil itu.

Zhang Shan heran, "Tidak mungkin. Ini hadiah dari sahabat baik istri saya. Gelang ini sudah dibawa ke kuil untuk disucikan oleh seorang biksu ternama."

"Betul, teman saya itu sudah seperti saudara sejak kecil, tidak mungkin dia memberikan sesuatu yang buruk untuk putri saya," tambah Nyonya Fang, menatap Xu Song dengan tatapan curiga.

Xu Song menjelaskan, "Mungkin teman Anda berniat baik, tetapi benda ini benar-benar bermasalah."

Pasangan itu saling berpandangan, masih merasa ragu.

Xu Song mengulurkan tangannya, "Jika tidak percaya, silakan lepaskan gelang itu dan berikan pada saya. Saya akan membuktikannya. Jika tidak ada masalah, Anda bisa mengambilnya kembali. Saya tidak mungkin merampok di depan mata kalian, bukan?"

"Itu tentu saja tidak," Zhang Shan melambaikan tangan, lalu berjongkok, "Xiao Lian, Ayah lepas gelangnya sebentar ya?"

"Baik, Ayah," jawab Xiao Lian patuh.

Zhang Shan mengelus kepala putrinya, lalu melepaskan gelang giok tersebut. Ia sempat menimbang-nimbang gelang itu, namun tidak menemukan keanehan apa pun. Ia menyerahkannya pada Xu Song, "Pak Xu, apa yang salah dengan gelang ini?"

"Ada sesuatu yang tersembunyi di dalamnya." Xu Song mengambil silet tipis dari laci, lalu menggoreskannya ke bagian dalam gelang giok tersebut.

Wajah Zhang Shan berubah, ia berteriak, "Itu giok putih lemak domba Hetian!"

Di antara batu giok tradisional Tiongkok, giok Hetian dari wilayah Barat menempati urutan pertama, dan giok putih lemak domba adalah yang terbaik di antaranya. Gelang berkualitas seperti itu tentu berharga puluhan ribu yuan. Dengan goresan Xu Song, nilai gelang itu akan jatuh drastis.

Namun, di luar dugaan, silet itu justru masuk menembus ke dalam badan giok!

"Ini...!?" Zhang Shan terbelalak.

Nyonya Fang juga terperangah, "Bagaimana mungkin silet setipis itu bisa memotong batu giok?"

Secara logika, pisau dapur pun hanya akan meninggalkan goresan di permukaan giok, bukan menembus ke dalamnya. Bagaimana Xu Song bisa melakukan hal itu? Apakah dia memiliki kekuatan luar biasa?