Bab 17 Satu Pukulan Langsung Tumbang!
“Apa? Maaf, ini semua gara-gara aku. Kenapa kamu begitu nekat, sih? Kamu kan tahu betapa berbahayanya Long Aotian, kenapa masih ikut campur urusan orang?” Mendengar ucapan Lin Fan, wajah Ding Simin langsung dipenuhi rasa bersalah. Jika bukan karena dirinya, Lin Fan tak akan sampai bermusuhan dengan Long Aotian.
“Tak apa. Kalau aku tidak ikut campur, bagaimana kamu bisa lepas hari ini? Apa kamu benar-benar mau dinodai oleh bajingan itu?” Lin Fan tersenyum menenangkan.
“Tapi...”
Ding Simin hendak bicara lagi, namun suara Long Aotian yang penuh amarah langsung memotongnya, “Bocah sialan, siapa yang kamu bilang bajingan? Mau mati, ya?”
“Eh, apa aku tadi kurang jelas?” Lin Fan menanggapi dengan tawa penuh sindiran.
“Kamu cari mati!” Dipermalukan sedemikian rupa oleh Lin Fan, Long Aotian pun meluap amarahnya. Ia membentak dua orang suruhannya di sampingnya, “Ngapain bengong?! Cepat hajar bocah itu sampai babak belur!”
Dengan status dan pengaruh Long Aotian di kampus, ia tak pernah menyangka akan dipermalukan oleh mahasiswa tak dikenal. Ini jelas tak bisa ia terima. Jika hari ini ia tak bisa menghajar Lin Fan sampai babak belur, orang lain pasti mengira ia mudah dipecundangi.
Dua anak buahnya yang menerima perintah langsung mengangkat lengan, mengepalkan tangan, dan menerjang Lin Fan dengan penuh amarah.
Keduanya juga mahasiswa Universitas Songjiang, bertubuh besar dan mengandalkan tenaga kasar. Mereka cukup piawai dalam perkelahian dan sudah sering melakukan perbuatan buruk mengikuti Long Aotian, bisa dibilang mereka kaki tangan terbesarnya.
Long Aotian, berkat latar belakang keluarganya, hanya perlu memberi sedikit keuntungan untuk mengumpulkan pengikut. Kedua pria bertubuh besar ini pun rela menjadi bawahannya karena tertarik pada kekuasaan dan pengaruh yang dimiliki Long Aotian.
Dua kepalan tangan besar itu melayang ganas. Jika ini terjadi sebelumnya, mungkin Lin Fan tak akan sempat menghindar. Namun, setelah berlatih seharian penuh, kekuatan Lin Fan sudah mencapai tingkat kedua pada tahap penyerapan energi. Dirinya kini sudah jauh berbeda dari sebelumnya. Meski lawan menyerang bersama, Lin Fan tetap tenang dan tak gentar.
Kekuatan tahap kedua penyerapan energi memang tampak rendah, namun jika dibandingkan dengan preman yang hanya mengandalkan tenaga kasar, keunggulannya sangat jelas. Bagaimanapun, ia sudah menjadi seorang kultivator. Meski masih di tingkat terendah, ia tetap jauh lebih kuat dari manusia biasa.
Sejak kekuatannya menembus batas, Lin Fan selalu merasa tubuhnya penuh tenaga. Ia ingin sekali mencoba seberapa hebat dirinya sekarang. Dua pria di hadapannya ini adalah lawan yang tepat untuk menguji diri.
Melihat dua kepalan tangan besar mengarah ke dirinya, Lin Fan tak menghindar. Ia langsung mengangkat kedua lengan, mengepalkan tangan, dan mengayunkan pukulan lurus menyambut serangan lawan.
Duar! Duar!
Empat kepalan tangan saling berbenturan, suara tulang beradu yang nyaring terdengar, diikuti dua jeritan kesakitan.
Pertarungan yang awalnya tampak tidak seimbang itu justru berakhir di luar dugaan semua orang. Yang terlempar mundur bukanlah Lin Fan, melainkan dua anak buah Long Aotian. Dua jeritan itu pun keluar dari mulut mereka, dan keduanya kini sudah tergeletak di tanah.
Setelah saling bertukar pukulan dengan Lin Fan, keduanya langsung terpental ke belakang dan jatuh terduduk. Rasa sakit luar biasa di tangan akibat benturan membuat mereka meringis dan menjerit lirih.
“Tidak mungkin!” Long Aotian menatap pemandangan di depan matanya dengan kaget, nyaris tak percaya dengan apa yang ia saksikan.
Ding Simin pun tertegun, memandang kosong ke depan tanpa bisa berkata apa-apa. Dua orang lawannya jelas-jelas bertubuh lebih besar dan tampak jauh lebih kuat dari Lin Fan. Mereka berdua, sedangkan Lin Fan seorang diri. Namun, hasil akhirnya benar-benar di luar nalar. Bagaimana Lin Fan bisa menang?
“Aneh sekali bocah ini, jangan-jangan dia memang jagoan bela diri? Tapi, meskipun begitu, masak bisa sekuat itu?”
Long Aotian tak bisa memahami apa yang terjadi. Namun, ia sadar betul, hari ini ia tak mungkin bisa membalas Lin Fan. Dengan kekuatan gabungan dirinya dan dua anak buahnya, mereka tetap tak mampu berbuat apa-apa. Bahkan jika ia masih nekat, bisa-bisa mereka bertiga yang jadi bulan-bulanan Lin Fan.
Menyadari itu, Long Aotian mulai berpikir untuk mundur. Seperti pepatah lama, lebih baik mundur sementara untuk membalas dendam di lain hari. Meski hari ini ia kalah telak di tangan Lin Fan, ia takkan melupakan dendam ini dan akan mencari kesempatan membalas di kemudian hari.
Namun, melihat gadis idamannya, sang primadona kampus, lepas begitu saja di depan mata, Long Aotian tak rela. Ia menatap Lin Fan penuh kebencian dan mengancam dengan suara dingin, “Bocah, berani menggagalkan urusanku, tunggu saja pembalasanku!”
Usai berkata demikian, ia menendang kedua anak buahnya yang masih tergeletak, “Cepat bangun! Mau bikin malu lebih besar lagi?!”
Dua anak buahnya pun segera bangkit dengan susah payah, menahan sakit di tangan, lalu bergegas mengikuti Long Aotian pergi dari tempat itu dengan langkah tertatih.
Hingga Long Aotian dan kedua orangnya sudah menjauh, Lin Fan baru tersadar dari keterkejutannya. Hasil pertarungan barusan bukan hanya mengejutkan orang lain, namun Lin Fan sendiri pun sangat terkejut.
Baru berlatih satu hari saja, ia sudah mencapai tahap kedua penyerapan energi dan merasakan kekuatan yang meluap-luap di dalam tubuhnya. Meski demikian, ia tak menyangka kekuatan tahap ini ternyata begitu hebat.
Dua lawan yang sebelumnya nyaris mustahil dikalahkan, kini bisa ia taklukkan dengan mudah setelah menjadi seorang kultivator. Ini baru permulaan. Jika kelak kekuatannya makin meningkat, seberapa hebat lagi dirinya?
Saat itu juga, Lin Fan makin dapat memahami betapa dahsyatnya para dewa dari surga yang dulu sering ia lihat di televisi. Dulu ia mengira kekuatan para dewa itu dilebih-lebihkan, mustahil kemampuan semacam itu benar-benar ada. Tapi sekarang, ia benar-benar percaya. Baru sehari berlatih saja, kekuatannya sudah jauh melampaui manusia biasa. Jika kelak benar-benar menjadi dewa, memiliki kemampuan ajaib pun rasanya bukan sesuatu yang aneh.
Tadinya, saat berhadapan dengan Long Aotian, Lin Fan sudah cukup percaya diri, tapi ia masih meremehkan kekuatan tahap kedua penyerapan energi. Ia hanya mengira dirinya bisa menahan Long Aotian dan menyelamatkan Ding Simin, namun tak menyangka semuanya begitu mudah—lawan bahkan tak sanggup melawannya sedikit pun.