Bab 37 Tokoh Ternama!
Semua itu sama sekali tidak diketahui oleh Lin Fan. Bahkan jika dia tahu, dia pun takkan peduli. Meskipun dia tidak melumpuhkan Chen Bingrong, selama dia masih hidup, Long Aotian dan Ji Kun pasti tidak akan membiarkannya begitu saja. Jika memang demikian, mengapa tidak sekalian saja menyingkirkan antek-antek mereka lebih awal? Setidaknya, itu bisa sedikit mengurangi masalah yang akan dihadapinya.
Dikelilingi oleh begitu banyak orang yang memperhatikan, Lin Fan merasa sangat tidak nyaman. Ia pun buru-buru menghabiskan makanannya tanpa berlama-lama, lalu segera berjalan menuju asrama.
Begitu kembali ke asrama dan menutup pintu, Lin Fan akhirnya bisa sedikit bernapas lega. Diperhatikan sedemikian rupa, bahkan dibicarakan dan dinilai di depan umum, rasanya benar-benar tidak enak. Saat itu, Lin Fan lebih memahami mengapa para bintang harus berdandan sedemikian rupa ketika keluar rumah, membalut diri rapat-rapat seperti lemper. Hanya dengan begitu mereka bisa menghindari banyak masalah.
Memang benar pepatah berkata, manusia takut terkenal, babi takut gemuk. Dulu Lin Fan pernah bermimpi menjadi sosok terkenal di kampus, namun sekarang ketika itu benar-benar terjadi, ia malah merasa bingung dan tak nyaman.
Kisah Lin Fan menyebar ke seluruh penjuru kampus dengan kecepatan luar biasa. Para mahasiswa yang biasanya bosan, kini api gosip dalam hati mereka menyala-nyala. Terlebih Long Aotian yang sebelumnya memang dikenal sebagai jagoan kampus, kini babak belur dibuat Lin Fan. Sontak, kejadian ini menjadi bahan perbincangan seru di mana-mana.
Tak heran, ketika teman-teman sekamarnya pulang, kalimat pertama yang mereka lontarkan hampir sama, “Wah, ternyata kamu diam-diam menyimpan kekuatan, ya? Biasanya pendiam, sekali bertindak langsung jadi idola kampus. Hebat juga, kamu benar-benar pandai menyembunyikan diri.”
Lin Fan hanya bisa menepuk dahinya. Susah payah mencari ketenangan, sekarang mereka kembali membuat keributan. Akhirnya, setelah didesak bertubi-tubi, ia pun “berterus terang”. Ia hanya bilang bahwa pada saat menghilang beberapa waktu lalu, ia bertemu seorang ahli ketika sedang berwisata, lalu diajari satu set ilmu bela diri. Karena tekun berlatih, akhirnya ia bisa menjadi sehebat sekarang.
“Kamu benar-benar beruntung, ya. Cuma diberi petunjuk sedikit dari seorang ahli, langsung sehebat ini. Kenapa aku tidak pernah mengalami hal seperti itu? Kalau saja, pasti hidupku jadi luar biasa juga,” gumam ketua kamar.
“Kamu itu kebanyakan nonton cerita aneh, makanya suka ngelantur,” balas Lin Fan tidak sabar.
Ketua kamar pun hanya bisa tertawa malu. Saat itu, teman sekamar lain ikut menimpali, “Pantesan, dulu kamu rajin banget ke kelas, tapi akhir-akhir ini malah sering di kamar. Ternyata sembunyi diam-diam latihan jurus, ya. Kapan-kapan ajari aku beberapa gerakan, supaya bisa dipakai menarik perhatian cewek. Pasti ampuh!”
“Eh, ide bagus tuh, ajari aku juga nanti,” sambung yang lain.
“Kalian ini memang keterlaluan,” Lin Fan mencak-mencak sambil tertawa.
Setelah lama bercanda, meski Lin Fan kini berubah jadi sosok kuat dan terkenal, hubungan persaudaraan mereka tetap hangat seperti biasa. Ini membuat Lin Fan sangat bersyukur.
“Tapi, kamu harus hati-hati, Lin Fan. Sekarang kamu sudah membuat Long Aotian babak belur, aku dengar latar belakangnya tidak main-main. Kamu sendirian, kami khawatir kamu akan celaka. Kalau butuh bantuan, jangan sungkan kabari kami. Meski harus menantang bahaya, kami tetap akan bersamamu,” kata ketua kamar, Guo Zigang, setelah suasana tenang.
“Betul, kata-katanya masuk akal. Kamu harus waspada, Lin Fan. Kalau ada apa-apa, segera ceritakan pada kami.”
Merasa diperhatikan seperti itu, Lin Fan sangat terharu. Meski mereka tahu siapa Long Aotian sebenarnya, mereka tetap mau berdiri di sisinya. Persaudaraan seperti inilah yang selalu ia simpan dalam hati.
Tak perlu banyak kata, Lin Fan hanya mengucapkan terima kasih pada teman-temannya. Dalam hati, ia bertekad sekuat tenaga tidak akan pernah menyeret saudara-saudaranya ke dalam masalah. Bagaimanapun juga, ia akan melindungi mereka.
Hingga siang keesokan harinya, barulah Long Aotian perlahan siuman. Setelah sehari penuh tertidur dan mendapat perawatan, lukanya sudah jauh membaik—bengkak di pipi mulai mengempis, rasa sakit pun berkurang. Namun, setiap bicara atau makan dan menarik sudut bibir, rasa sakitnya tetap menyiksa hingga ia meringis.
Rasa sakit itu menjadi pengingat bagi Long Aotian bahwa semua penghinaan ini berasal dari Lin Fan. Dendamnya kian membara, keinginan untuk menyingkirkan Lin Fan semakin kuat.
Ia meraih ponsel di samping ranjang, menahan sakit, lalu langsung menekan nomor Ji Kun. Begitu tersambung, ia langsung bertanya dengan nada kesal, “Kak Kun, sebenarnya ada apa? Kau sudah kirim orang buat bereskan Lin Fan belum? Kenapa anak itu masih sehat walafiat?”
“Kau masih punya muka menanyakan itu? Kalau berani, hadapi sendiri saja! Ngapain cari aku?” Ji Kun juga sedang kesal, tidak tahu harus melampiaskan ke mana. Begitu Chen Bingrong sadar, Ji Kun langsung menanyai kronologinya. Setelah mendengar cerita itu, amarahnya yang sudah mengendap pun meledak. Sekarang Long Aotian malah menelepon menegur, tentu saja Ji Kun tak bisa menahan diri dan langsung marah besar.
Mendengar bentakan itu, Long Aotian seketika terdiam. Ia berpikir cepat. Jika Ji Kun memang tidak mengirim orang, seharusnya ia merasa bersalah, bukannya marah balik. Sikap ini jelas ada yang janggal.
Memikirkan hal itu, Long Aotian meredam kemarahannya, lalu dengan hati-hati meminta maaf, “Kak Kun, jangan marah. Aku yang salah bicara. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Lin Fan masih baik-baik saja?”
Melihat Long Aotian mengalah, Ji Kun juga tidak ingin memperpanjang masalah. Bagaimanapun, mereka sama-sama anak orang terpandang, jika bertengkar terlalu jauh tidak baik, karena mereka juga masih akan sering bertemu.
“Ini semua karena informasimu kurang akurat. Anak itu jauh lebih hebat dari yang kau bilang. Aku sudah kirim orang, tapi malah anak buahku yang celaka, sampai-sampai tangannya dilumpuhkan oleh Lin Fan!” jawab Ji Kun dengan nada kesal. Namun, ia juga sadar, sebenarnya ini bukan sepenuhnya salah Long Aotian. Saat itu Long Aotian memang sudah memperingatkan, hanya saja ia sendiri tak pernah menganggap Lin Fan ancaman. Ia pikir, mengirim Chen Bingrong saja sudah cukup. Siapa sangka Lin Fan jauh lebih kuat dari perkiraan mereka.
Mendengar penjelasan Ji Kun, tubuh Long Aotian langsung merinding. Amarahnya seperti disiram air dingin, tidak membara seperti sebelumnya. Jika dibandingkan dengan nasib anak buah Ji Kun, ia masih jauh lebih beruntung.