Kebahagiaan yang Singkat
Melihat Qiu Wanyue yang begitu mempesona dan lembut, Lu Song tertegun. Ia hampir tidak percaya bahwa semua ini nyata!
"Wanyue... Kau tidak sedang mengujiku, kan?"
Keadaan Qiu Wanyue kali ini sedikit berbeda dari biasanya. Pengalaman serupa pernah terjadi sebelumnya, namun setiap kali Lu Song bergerak, telinganya pasti ikut terlibat. Oleh karena itu, bahkan dalam situasi seperti ini, ia hampir tidak berani percaya.
"Bagaimana menurutmu?" Qiu Wanyue melangkah mendekat, menggandeng tangan Lu Song untuk duduk di tepi ranjang. "Aku mau cuci muka dulu, tunggu sebentar ya."
Saat itu, Lu Song merasa sangat gembira sekaligus gelisah, meskipun sikap Qiu Wanyue sudah sangat jelas.
Tak lama kemudian, Qiu Wanyue keluar dari kamar mandi. Ia menatap Lu Song dengan penuh kasih sayang. "Selama beberapa waktu ini, banyak sekali pengorbanan yang telah kauberikan untukku. Aku juga tahu isi hatimu, seperti yang kaukatakan. Aku menyukaimu, jadi malam ini aku sepenuhnya menjadi milikmu."
"Wanyue... Kalau ini hanya ujian, tolong jangan diteruskan. Aku tidak akan sanggup menghadapinya!"
Menghadapi gadis seperti itu, siapa yang sanggup menahan diri? Qiu Wanyue tersenyum tipis, melingkarkan kedua tangannya di leher Lu Song, lalu mendekatkan bibirnya.
Semakin dekat...
Saat merasakan hembusan napas tipis Qiu Wanyue, Lu Song hampir kehilangan kendali. Bibir kedua orang itu akhirnya bersentuhan!
Seketika itu pula, keduanya merasa seolah tersengat aliran listrik. Ini adalah ciuman pertama bagi mereka berdua, hal terindah dalam hidup ini. Pada detik itu, mereka merasakan sensasi yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Dengan tangan yang sedikit bergetar, Lu Song merangkul pinggang Qiu Wanyue.
Namun, ia hanya bisa mengikuti alurnya, tidak berani melakukan tindakan yang terlalu berlebihan. Qiu Wanyue bagaikan seorang putri, dan jika bukan karena inisiatifnya sendiri, selamanya Lu Song tidak akan pernah berani...
Mereka berdua melepaskan sepatu, lalu terhanyut dalam kehangatan pelukan satu sama lain...
Sepuluh menit kemudian, Lu Song memeluk Qiu Wanyue dan bertanya dengan lembut, "Apakah tadi aku terlalu kasar?"
Qiu Wanyue menggelengkan kepalanya perlahan, lalu membenamkan wajahnya di dada Lu Song.
"Tapi, kau tadi jelas-jelas..."
Lu Song sebenarnya ingin mengatakan bahwa Qiu Wanyue sempat bersuara tadi. Namun, ia merasa terlalu malu untuk mengatakannya dan memilih menelan kembali kata-kata itu.
"Apa kau ini bodoh? Kan baru pertama kali!"
Mendengar itu, rona merah langsung menjalar di wajah Qiu Wanyue hingga ke lehernya. Ia sungguh ingin mencubit telinga Lu Song karena pria itu jelas-jelas sengaja menggodanya.
Bagaimana mungkin Lu Song tidak mengerti? Meskipun ini juga pengalaman pertamanya, ia sudah mempelajari banyak hal melalui internet.
Masing-masing dari mereka telah menyerahkan keperawanan kepada orang yang paling dicintai. Pikirnya, tidak ada lagi hal di dunia ini yang lebih membahagiakan daripada ini.
Kebahagiaan itu datang begitu tiba-tiba, hingga saat ini pun Lu Song masih merasa seperti berada dalam mimpi. Ia sempat membayangkan suatu hari nanti momen ini akan tiba, tetapi ia tidak menyangka semuanya akan terjadi secepat ini, dan ia juga tidak menyangka Qiu Wanyue akan begitu berinisiatif dalam hal ini.
Ia membelai rambut lembut Qiu Wanyue dan berkata dengan penuh kebahagiaan, "Kalau begitu, sekarang kau adalah miliku. Mulai hari ini, aku yang akan melindungimu."
"Urusi dan lindungi dirimu sendiri dulu sana!"
Qiu Wanyue menempeleng dahi Lu Song pelan, lalu meraih pakaiannya.
"Mau ke mana?"
"Mandi!"
"Boleh ikut?"
"Tidak boleh."
"Baiklah, kalau begitu kau duluan saja. Toh nanti sepertinya kita akan lanjut lagi. Mandi pun percuma!"
Qiu Wanyue meliriknya sekilas dengan pandangan jengkel, lalu berjalan menuju kamar mandi. Memandangi punggung wanita itu, Lu Song tetap merasa sangat bahagia. Di dunia ini sepertinya tidak ada hal lain yang bisa menandingi kebahagiaan ini. Sejak zaman dahulu kala, ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa lebih baik mati di bawah bunga peoni, menjadi hantu pun tetap romantis. Sekarang ia benar-benar merasakannya; bahkan jika ia harus mati detik ini juga, ia tidak akan memiliki penyesalan lagi.
Setibanya di dalam kamar mandi, Qiu Wanyue menatap pantulan dirinya di cermin dan perlahan-lahan terisak.
Setelah ia selesai, giliran Lu Song yang masuk untuk mandi.
Awalnya, Lu Song berencana untuk bermesraan sekali lagi begitu selesai mandi. Tentu saja, kali ini tujuannya bukan demi kesenangan pribadi, melainkan agar Qiu Wanyue bisa merasakan kepuasan yang lebih. Umumnya, pengalaman pertama seorang gadis belum memberikan rasa nikmat yang maksimal, setidaknya pada ronde kedua ia harus memberikan pelayanan yang setimpal.
Namun, saat ia keluar, Qiu Wanyue sudah memejamkan mata, kelihatannya wanita itu benar-benar kelelahan. Bagaimanapun juga, dalam dua hari terakhir ini mereka terus bepergian ke sana ke mari. Lu Song menyelimuti tubuhnya, lalu berbaring miring di sisi ranjang, menatapnya dalam diam untuk waktu yang sangat, sangat lama.
Bagi Lu Song, malam ini adalah malam yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidupnya. Sambil terus memandangi wajah itu, ia akhirnya tertua. Ketika terbangun keesokan harinya, ia mendapati Qiu Wanyue sudah tidak ada di atas ranjang.
"Wanyue..."
Lu Song memanggil dengan cemas, benar-benar takut jika kejadian semalam ternyata hanyalah sebuah mimpi.
Qiu Wanyue menyahut dari arah kamar mandi, sepertinya ia sedang merias wajah. Lu Song bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi, lalu memeluknya dari belakang.
"Kenapa bangun tidak membangunkan?"
"Bisa tidur lebih lama ya tidur saja dulu." Qiu Wanyue berbalik menghadapnya. "Cuci muka sana, setelah itu ada yang ingin kukatakan padamu."
"Siap, Nyonya Besar."
Lu Song mengepalkan kedua tangannya memberi hormat sambil tersenyum bodoh.
Setelah mencuci muka, ia sempat-sempatnya bercermin dengan penuh percaya diri dan merasa bahwa dirinya memang cukup tampan. Ya, pasti tampan. Kalau tidak, bagaimana mungkin ia bisa memenangkan hati sang dewi?
Keluar dari kamar mandi, ia mendapati Qiu Wanyue sedang duduk di tepi ranjang sambil memegang sebuah map dokumen.
"Ada apa? Mau bahas pekerjaan lagi?"
Lu Song berkata sambil tersenyum lebar, berniat meraih tangan wanita itu, namun ditepis oleh Qiu Wanyue.
"Ada apa ini?"
Lu Song merasa sangat bingung, kenapa tiba-tiba suasana menjadi begitu serius?
Qiu Wanyue menggigit bibirnya pelan, matanya berkaca-kaca karena air mata. Melihat wanita itu menangis, Lu Song buru-buru maju untuk menyeka air matanya. "Wanyue, ada apa sebenarnya? Kenapa menangis? Apa aku ada salah lagi yang membuatmu tidak senang?"
Qiu Wanyue mendorong Lu Song menjauh, lalu menyerahkan map dokumen itu ke tangannya.
Ketika dibuka, Lu Song tertegun. Ternyata itu adalah surat perjanjian. Perjanjian pernikahan yang mereka tanda tangani di awal, di mana tanda tangannya sendiri masih terlihat sangat jelas di atas kertas tersebut.
"Wanyue, kenapa ini masih kausimpan? Sebenarnya sudah tidak perlu lagi!"
"Ketentuan di dalam perjanjian ini tertulis dengan sangat jelas; jika salah satu pihak melanggar, maka ia harus membayar ganti rugi dua kali lipat dari yang tertera dalam kontrak. Sekarang, aku harus membayarmu empat kali lipat." Begitu mengatakan hal itu, air mata Qiu Wanyue kembali tumpah.
Pikiran Lu Song mendadak berdengung. Ia menatap Qiu Wanyue dengan penuh kebingungan. "Wanyue, apa yang kaubicarakan? Pelanggaran apa? Kita baru saja melakukannya kemarin, dan sekarang kau malah membahas soal pelanggaran kontrak, ini terlalu mengada-ngada. Oh... aku mengerti, yang palsu mau dihancurkan dan diganti dengan yang asli, kan?"
Selesai berbicara, ia bahkan tertawa. Ia menertawakan dirinya sendiri karena terlalu sensitif tadi. Jelas-jelas Qiu Wanyue sudah menunjukkan niat baiknya, jadi pembahasan soal pelanggaran ini pasti maksudnya adalah mengubah pernikahan kontrak ini menjadi sungguhan.
"Ini sungguhan!"
Ekspresi Qiu Wanyue tampak sangat serius. Selesai berkata demikian, ia merampas kembali kontrak itu dari tangan Lu Song, lalu merobeknya menjadi dua bagian dengan kasar dan melemparkannya ke lantai.
"Coba cek ponselmu, aku baru saja mentransfer sejumlah uang padamu, totalnya dua belas juta."
Lu Song mengambil ponselnya dan melihat layar. Benar saja, ada notifikasi transfer masuk. Pada titik ini, ia benar-benar tercengang. Ini jelas bukan sebuah lelucon lagi.
"Wanyue, sebenarnya apa yang terjadi?" Lu Song mulai panik. "Kemarin semuanya baik-baik saja, kemarin kau bahkan membiarkanku menggendongmu naik ke lantai atas. Hubungan kita baru saja dimulai, kenapa sekarang kau bertingkah seperti ini?"
"Ibuku tidak setuju kau bersamaku, dan telah menjodohkanku dengan orang lain." Qiu Wanyue meninggikan suaranya, sementara air matanya kembali mengaburkan pandangannya.
"Bagaimana mungkin?" Lu Song mencoba mendebat dengan logika. "Bibi sangat baik padaku, beliau menaruh harapan besar padaku. Beliau adalah orang yang paling ingin kita bersatu, mana mungkin beliau menikahkanku dengan orang lain? Bisakah kita tidak bercanda, hubungan kita sedang baik-baik saja."
Setelah mengatakannya, Lu Song kembali berniat meraih tangan wanita itu, namun lagi-lagi ditolak oleh Qiu Wanyue.
Saat itu, mata Qiu Wanyue sudah memerah, dan air mata kembali mengalir deras.
"Wanyue, apa yang sebenarnya terjadi, beri tahu aku! Bagaimana mungkin Bibi menikahkanku dengan orang lain? Sekalipun kau menangis, aku tidak akan bisa mempercayainya begitu saja."
Lu Song merasa jiwanya hampir runtuh. Dari sikap Qiu Wanyue kemarin hingga segala hal yang telah terjadi, ia mengira mereka sudah semakin dekat dan akan segera hidup bersama. Namun, mengapa hanya dalam kurung waktu semalam semuanya berubah drastis menjadi seperti ini?
Qiu Wanyue menyeka air matanya. "Terserah kau mau percaya atau tidak. Aku pergi! Mulai sekarang, jangan pernah mencariku lagi."
"Tunggu sebentar! Kalaupun kau ingin membuatku mati, biarkan aku mati dalam kejelasan, kan? Aku akan menelepon Bibi sekarang juga. Jika apa yang kaukatakan itu benar, aku akan membiarkanmu pergi. Tapi jika itu tidak benar, kau tidak boleh membohongiku lagi. Hatiku rasanya mau hancur!"
Qiu Wanyue yang tadinya berbalik, menghentikan langkahnya. Ia mengangguk pelan sebagai tanda setuju, mengizinkan pria itu untuk melakukan panggilan telepon tersebut.