Bab 86: Mimpi Buruk Menjadi Kenyataan

Raja Malam Gelap Zhao Junhao 1113kata 2026-02-08 05:53:46

Melihat Direktur He berbicara dengan penuh hormat kepada Jiang Ye, kepala Song Zhiwei berdengung kosong, seolah seluruh dunia lenyap, hanya kata-kata Direktur He yang terus bergema dalam benaknya, berulang-ulang.

Ketika ia mendengar kabar bahwa ketua Qingshi Capital bermarga Jiang, ia memang sempat menduga orang itu mungkin ada hubungannya dengan Jiang Ye. Namun akal sehatnya menepis kemungkinan itu, sehingga pikiran tersebut hanya sekilas melintas dan segera sirna.

Namun kini, hal yang paling mustahil menurutnya, justru terjadi nyata di depan matanya.

Rasanya seperti suatu malam kau terbangun ketakutan karena mimpi buruk, lalu menenangkan diri dengan berkata: itu hanya mimpi, tak mungkin terjadi. Tapi kini mimpi buruk itu menjadi kenyataan.

Begitu mustahil, namun terasa sangat nyata, seolah bisa diraih dengan mengulurkan tangan.

Keterkejutan luar biasa itu sekejap saja meruntuhkan seluruh pertahanan batin Song Zhiwei. Ia berubah seperti manusia tanpa jiwa, kehilangan kemampuan berpikir.

Xu Zhi’an pun benar-benar tercengang. Di matanya, Jiang Ye hanyalah pengemis yang pulang dari pelarian, tak punya apa-apa. Meski di Zhongtian International ia pernah dipermalukan oleh Jiang Ye, sejatinya ia tak pernah menganggap Jiang Ye sebagai sosok yang perlu diperhitungkan.

Tak disangka, pengemis yang ia remehkan itu ternyata adalah taipan papan atas di Lingnan. Bahkan keluarga Xu yang begitu besar pun hanya bisa menengadah.

Keluarga Song semua terperangah, merasa seolah langit mempermainkan mereka dengan lelucon yang kejam. Adegan di depan mata, bagai mimpi dan kenyataan yang saling bertukar, membuat mereka tak tahu lagi apa itu nyata dan apa itu ilusi.

Kerumunan besar yang menonton, meski tak mengenal Jiang Ye atau tahu perseteruannya dengan keluarga Song, tetap saja menahan napas tanpa sadar.

Sebab Jiang Ye masih sangat muda. Di usia segitu, sudah bisa duduk sebagai pengendali utama raksasa Qingshi Capital, memiliki kekayaan ratusan miliar, memandang rendah semua pesaing—alangkah luar biasanya bakat langka ini!

“Direktur Song? Direktur Song? Direktur Song!”

Direktur He memanggil Song Zhiwei tiga kali, lalu mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya. Barulah Song Zhiwei seperti terbangun dari mimpi.

Dengan linglung ia bertanya, “Ada apa?”

Direktur He menjawab, “Ketua Jiang akan segera mengadakan rapat dewan direksi.”

Song Zhiwei hampir seperti mayat hidup, mengikuti Direktur He masuk ke dalam perusahaan.

Baru setelah duduk lima menit di ruang rapat, Song Zhiwei perlahan mulai sadar kembali.

Dengan sorot mata rumit yang tak terlukiskan, ia menatap Jiang Ye. “Aku tidak tahu bagaimana kau bisa duduk di posisi itu sekarang, tapi apa sebenarnya yang ingin kau lakukan?”

Semua anggota keluarga Song dan Xu Zhi’an juga berada di sana. Mendengar pertanyaan itu, mereka semua menatap Jiang Ye dengan cemas. Hati mereka dipenuhi kegelisahan, sebab mereka tahu, dengan permusuhan antara Jiang Ye dan keluarga Song, apa yang akan dilakukan Jiang Ye pasti tidak akan menguntungkan mereka.

Jiang Ye menjawab dengan tenang, “Aku ingin mengambil kembali semua yang pernah kuberikan padamu, dan pada keluargamu.”

Ia memberi isyarat pada Direktur He. Direktur He lalu mendorong setumpuk dokumen ke hadapan Song Zhiwei, lalu berkata, “Sesuai arahan Ketua Jiang, kemarin aku telah merangkum laporan kondisi operasional dan keuangan Grup Song, kemudian menyerahkannya ke pengadilan kota untuk mengajukan permohonan pailit. Pagi ini pengadilan telah mengabulkan permohonan itu. Grup Song segera akan diambil alih tim likuidasi pengadilan.”

Bagaikan petir di siang bolong, kata-kata itu menghantam keras hati setiap anggota keluarga Song.

Begitu Grup Song dinyatakan pailit, semua saham yang mereka miliki akan seketika menjadi tidak berharga. Mengingat seluruh aset tunai mereka sudah diambil alih Jiang Ye, bila perusahaan runtuh, mereka semua akan kehilangan segalanya dan hanya bisa menjadi gelandangan.