Aku benar-benar dibuat tak berdaya oleh istriku. Dia jelas-jelas diva terbesar di dunia musik, tapi yang dia sukai hanyalah membelikan bahan makanan dan memasak untukku. Dia adalah dewi nasional yang dielu-elukan semua orang, namun satu-satunya keinginannya hanyalah menjadi istri yang baik dan ibu yang teladan. Setiap hari para penggemarnya mengirimkan ancaman padaku, menyalahkanku karena dianggap telah ‘menghambat’ dirinya, padahal aku sendiri juga tak menginginkan semua ini! Ternyata, istri yang terlalu sempurna juga bisa menjadi semacam beban? Sebenarnya, semua suka duka penuh kebahagiaan ini berawal dari malam itu, saat aku duduk di atap rumah dan menyanyikan lagu “Di Atap Rumah”... Inilah kisah tentang seorang dewi nasional yang gigih mengejar pria lurus hati, tak gentar menghadapi rintangan, menembus segala kesulitan, hingga akhirnya berhasil membalikkan takdir dan mendapatkan cintanya. (Tanpa konflik berat, sedikit pergolakan di awal, selanjutnya penuh adegan manis nan romantis.)
“Xiao Le, suaramu sudah tidak bisa digunakan untuk bernyanyi lagi. Bar ini juga hanya usaha kecil-kecilan, maafkan aku.”
“Tempat ini akan selalu jadi rumahmu. Kalau nanti kamu berhasil, jangan lupa kembali melihat-lihat ya.”
Ketika pemilik bar dengan penuh rasa bersalah mengantar Fang Xiao Le keluar melalui pintu belakang, lalu menutup pintunya dengan keras, Fang Xiao Le tidak memohon, juga tidak marah.
Ia hanya berdiri diam di gang kecil, lalu beberapa saat kemudian, merapatkan gitar yang tergantung di pundaknya, keluar dari gang, dan meninggalkan bar tempat ia menjadi penyanyi tetap selama lebih dari setahun.
Fang Xiao Le melangkah ke jalan utama, berjalan melawan arus orang-orang yang mencari hiburan malam, menunduk melewati bar-bar di pinggir jalan yang gemerlap dan penuh godaan.
Fang Xiao Le adalah seorang penyanyi bar; tak bisa dihindari, alkohol dan begadang membuat tubuhnya bermasalah.
Suara emasnya rusak.
Ia sudah pergi ke banyak rumah sakit, namun tak ada yang bisa menyembuhkan, sama seperti ia tak pernah bisa mengingat kenangan tentang tempat bernama “Bumi” sebelum ia menyeberang ke dunia ini, tak peduli sekeras apa pun ia berusaha.
Karena hubungan baik di masa lalu, pemilik bar menahan diri selama seminggu, akhirnya malam ini ia harus juga bicara.
Setiap orang harus mencari nafkah.
Fang Xiao Le keluar dari jalan bar, menoleh ke belakang. Jalan itu tetap ramai dan gemerlap seperti biasa, surga bagi orang-orang yang mengejar hasrat di tengah kesepian, juga panggung bagi para penyanyi kelas bawah untuk mempert