Bab Sembilan Puluh Tujuh: Saudara Angkat
Pintu kamar tidur berderit pelan saat terbuka, dan Yun He keluar dengan senyum lebar di wajahnya. Sejujurnya, selama bertahun-tahun menjadi tabib, bahkan saat menangani orang-orang penting, ia tak pernah segugup ini. Apalagi kali ini sang guru besar mengawasinya langsung. Jika sampai gagal, ia rela menebusnya dengan nyawa.
“Tuan Kang... Tuan Kang, operasi sangat berhasil. Dengan perawatan di rumah sakit selama setengah bulan lebih, Anda akan pulih seperti sediakala.”
Kang Wu mengangguk pelan. “Terima kasih.”
Sekejap, Yun He merasa melayang. Guru besar berterima kasih padanya! Sungguh, ini puncak pencapaian hidupnya.
“Pak Yun?”
Chen Tianzhen menatap Yun He tak percaya. Ia sudah setua itu, tapi masih saja mengusap matanya demi menegaskan keterkejutannya.
Mendengar suara itu, Yun He melirik sekilas dan bertanya dengan dahi berkerut, “Anda siapa?”
Lu Ting nyaris saja muncrat darah. Kakeknya, Chen Tianzhen, seorang petarung tingkat sembilan yang terhormat, ternyata diabaikan begitu saja. Sungguh tak masuk akal.
Yang lebih menakutkan, Chen Tianzhen sama sekali tidak marah, malah dengan hormat menjawab, “Pak Yun, saya Chen Tianzhen. Dulu Anda pernah menolong saya.”
Chen Tianzhen? Yun He makin berkerut.
“Tak ingat. Saya sudah menolong orang tak terhitung jumlahnya, mana mungkin ingat satu per satu.”
Menyadari sesuatu, Yun He berbalik dan bertanya, “Bagaimana kamu bisa masuk? Teman sesepuh?”
Teman muridku? Mustahil. Teman Kang Wu? Lebih tak mungkin lagi. Guru besar sekelas beliau, temannya paling rendah pun pasti tokoh besar macam sesepuh dari kalangan tersembunyi. Jadi, Yun He mengabaikan.
Segala kejadian di perjalanan, termasuk saat Lu Ting diangkat Yun He dengan satu tangan, membuat sang sesepuh mulai menebak sesuatu. Kini, mendengar pertanyaan itu, ia buru-buru bicara untuk memastikan dugaannya.
“Pak Yun, bukan teman. Chen Tianzhen datang untuk membunuh Kang Wu.”
Sekejap, Yun He sudah berdiri di depan Chen Tianzhen. Mata mereka hanya terpaut sejengkal, dan aura yang menekan dari Yun He membuat Lu Ting di sampingnya bergidik ngeri.
“Kau mau membunuh Kang Wu?”
Chen Tianzhen tertegun. Mengapa reaksi Yun He sehebat itu? Ia bukan orang yang bisa dimusuhi. Bahkan orang-orang dari kalangan tersembunyi pun menghormatinya.
“Tidak, tidak... salah paham... Saya... Cucu saya kenal Kang Wu, kami hanya ingin menjenguk temannya.”
Chen Tianzhen yang sudah malang-melintang di dunia keras, langsung membaca niat pembunuhan di mata Yun He. Tabib sakti ini bukan cuma ulung dalam mengobati, kemampuan membunuhnya pun setara.
Untung otaknya berputar cepat, ia segera tersenyum canggung dan melirik Kang Wu, berharap ada pertolongan. Kalau saja Kang Wu bicara lain, mungkin nasibnya tamat di situ juga.
Menatap kejadian itu, Kang Wu merasa geli sekaligus kesal. Apalagi setelah dendam lamanya telah disembuhkan, ia pun merasa lebih lega dan tersenyum, “Tak ada masalah.”
Namun, kadang ada saja kawan yang malah membuat masalah. Saat Chen Tianzhen sudah bernapas lega dan hendak buru-buru pamit, Lu Ting malah berteriak, “Kakek! Apa yang kau katakan? Kenapa aku...”
Untung saja Chen Tianzhen sigap, langsung membekap mulut Lu Ting dan mendorong kursi rodanya keluar. Ia takut tinggal sedetik lebih lama, nyawanya melayang.
“Chen Tianzhen, dengar! Kang Wu adalah saudara angkat muridku. Pikirkan baik-baik perbuatanmu, atau kau tahu akibatnya.”
Tentu saja Yun He tak tertipu dengan akal bulus semacam itu. Tapi karena Kang Wu tak berkata apa-apa, ia pun tak melanjutkan, hanya meninggalkan pesan itu.
Sesepuh yang duduk di sofa tampak merenung. Meski matanya menyiratkan keterkejutan, ia tetap tenang menganalisis situasi. Jelas, hubungan antara Kang Wu dan Yun He tidak biasa.
Feng Er menahan dagu dengan tangan, tatapannya polos. Ia sebenarnya ingin berkata sesuatu, tapi dicegah oleh isyarat gurunya. Kang Wu, sejak kapan kau jadi saudara angkatku?
“Baiklah, karena semua sudah selesai, aku pamit dulu,” kata sang sesepuh, bangkit berdiri. Ia harus segera melapor pada nona. Hari ini banyak kejadian besar dan aneh, beberapa hal harus dianalisis langsung oleh nona.
“Terima kasih, Sesepuh,” Kang Wu mengulurkan tangan dan menjabatnya. Apa pun tujuan sesepuh, selama tak berniat jahat padanya, Kang Wu tetap berterima kasih.
Setelah sesepuh pergi, Yun He mengantar Kang Wu masuk ke dalam untuk melihat keadaan Xue Chou. Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul empat dini hari.
“Aku kembali ke akademi dulu. Yun He, tolong jaga Xue Chou selama masa pemulihannya. Aku khawatir masih ada yang berniat jahat,” pinta Kang Wu.
Yun He segera mengangguk, “Guru besar, tenanglah. Meski besok aku harus pergi dua minggu, aku akan menyuruh ahli terkuat menjaga saudara Xue Chou. Jika terjadi apa-apa, nyawaku taruhannya.”
Sementara itu, Chen Tianzhen langsung membawa pulang Lu Ting tanpa banyak bicara. Merasakan suasana hati sang kakek, Lu Ting yang awalnya masih berani bertanya, akhirnya terdiam membisu.
Sesampainya di rumah, Lu Yuan sudah menunggu. Baru saat itu, Chen Tianzhen berkata, “Kang Wu itu, cucuku, apa pun dendam kalian, bahkan jika dendam membunuh ayah, kau tidak boleh lagi mengusiknya. Mengerti?”
Lu Yuan memutar bola mata. Ayah, aku masih hidup, masa dendam membunuh ayah... Tapi ia buru-buru bertanya, “Ayah, apa yang kau maksud itu Kang Wu si menantu tak berguna keluarga Lian?”
“Tak berguna, katamu? Hah! Apa pun Kang Wu itu, orang-orang yang dikenalnya cukup menggerakkan jari untuk melenyapkan seluruh keluarga Lu. Paham?”
Mendengar itu, Lu Yuan penuh tanda tanya, tapi memilih diam. Yang paling aneh, Lu Ting justru berkata tulus, “Kakek, aku sadar salah. Sudah merepotkan kakek. Mulai sekarang, kalau bertemu Kang Wu, aku akan menghindar.”
Melihat cucunya begitu mengerti, Chen Tianzhen merasa lega dan langsung pergi tidur. Setelah kejadian tadi, ia memang perlu menenangkan diri.
Tak seorang pun menyadari, tangan Lu Ting mencengkeram erat pegangan kursi roda hingga berdarah, namun ia seolah tak merasa. Mata merahnya jelas menyimpan bara dendam yang tak semudah itu padam.
Keesokan harinya, Akademi Gaya Klasik mengumumkan pelatih dan tukang kebun baru. Seorang pria berjenggot lebat tiba-tiba muncul di hadapan para murid.
Sekejap, Kang Wu kembali jadi bahan tertawaan semua orang.
Bersamaan itu, ada pula yang mempertanyakan kejadian semalam di pesta ulang tahun Tuan Tua Cangzhou. Lu Mingxue dengan tegas memberikan sanksi peringatan pada Bai Ting, Yuan Xiaolong, dan Li Long, sebagai peringatan bagi yang lain.
Serangkaian berita itu membuat Kang Wu nyaris tenggelam dalam cemooh para murid. Berbagai kata pedas silih berganti.
Zhang Meng, yang sarapan bersama Kang Wu, tak tahan mendengar semua itu, “Kata-kata mereka sungguh keterlaluan. Kau kan juga korban! Kenapa mereka melampiaskan kemarahan padamu? Tidak adil.”
Kang Wu mengangkat tangan, “Sudahlah, dunia ini memang tak adil. Kalau aku petarung tingkat enam, takkan ada yang berani berkata begitu. Tapi aku cuma orang biasa. Untung ada kau, kalau tidak, sudah ada yang memaki-maki di depan hidungku.”
Menjelang selesai makan, Kang Wu melihat Peng Hua melambaikan tangan dari pintu. Ia segera berdalih dan pergi.
Di hutan kecil tak jauh dari kantin, Kang Wu menemui Peng Hua yang bersandar pada pohon.
“Kang Wu, apa-apaan ini? Bukankah harusnya pasti mati? Aku hampir ketahuan, tahu!”
Peng Hua penuh keluhan. Tak pernah ia sangka akan berada di bawah kendali Kang Wu.
“Ada sedikit kejadian tak terduga. Chen Xu ternyata diam-diam punya pengawal?”
Peng Hua menghela napas, “Benar, aku baru tahu malam itu. Orang bertopeng yang kau kirim menghabisi dua pengawal Chen Xu dengan mudah. Tapi saat hendak membunuh Chen Xu, seorang pria asing bertubuh besar menyerbu masuk dan langsung melukai orang bertopeng itu.”
Peng Hua menatap Kang Wu dengan serius, “Kau masih pegang janji? Aku sudah mengatur pertemuan dengan Chen Xu. Dendam kita lunas, kan?”
“Ya, urusanmu selesai.”
Peng Hua pun lega, langsung berbalik pergi. Setelah tahu Kang Wu yang mengutus orang membunuh Chu Feng, awalnya ia tak peduli. Tapi setelah mendengar kabar Chu Feng benar-benar hilang, ia mulai takut.
Tak peduli bagaimana Kang Wu tiba-tiba punya kenalan petarung hebat, Peng Hua tetap gentar. Chu Feng yang begitu kuat saja bisa tewas, apalagi dirinya? Ia lebih baik percaya daripada celaka.
Kang Wu mengusap dagu, entah memikirkan apa. Saat itulah telepon dari istrinya, Lian Tianyi, masuk. Begitu tersambung, suara cemas langsung terdengar.
“Kang Wu, Ayah dan Ibu dalam bahaya!”