Bab 26, Mendapatkan Seorang Adik Perempuan
Waktu masih cukup lapang, jadi Tang Zheng berencana pergi ke pasar untuk membeli lebih banyak bahan makanan. Hari ini adalah hari berkumpulnya seluruh keluarga, tentu saja hidangannya harus dibuat lebih istimewa.
Sepanjang jalan, banyak orang yang menyapa Tang Zheng, dan ia membalas semuanya dengan ramah. Sebagai sosok terkenal di Kampung Zhuyuan, Tang Zheng kini menjadi panutan belajar bagi banyak orang tua dan anak-anak. Namun, beberapa bulan lagi, setelah hasil ujian masuk universitas keluar, Tang Zheng mungkin akan mulai dianggap sebagai contoh buruk oleh para orang tua dalam mendidik anak-anak mereka.
Tentu saja, situasi seperti itu kini tidak akan terjadi. Setelah terlahir kembali, Tang Zheng bertekad untuk mempertahankan reputasinya dalam bidang akademik di kampung itu, dan biarkan kisah suksesnya hanya bisa ditiru, tak pernah bisa dilampaui.
“Hei, Zheng, kamu ke pasar ya? Sekolah sudah libur?” Di belakang lapak ayam, seorang pria setengah baya yang kurus kira-kira berumur empat puluhan berdiri dan menyapanya. Wajahnya tampak pucat kekuningan, rambutnya acak-acakan, terlihat sangat lesu.
Tang Zheng tersadar, lalu tersenyum lebar pada pria itu dan berkata, “Paman Keempat, bagaimana dagangan hari ini?”
Pria itu bernama Tang Yuxiang, paman kandung Tang Zheng. Saat itu, keadaan ekonomi keluarganya sedang sulit, jadi ia berjualan ayam dan bebek di pasar, sekaligus menawarkan jasa sembelih dan cabut bulu untuk menambah penghasilan.
“Lumayan. Lihat kamu bawa keranjang, kamu mau belanja ya? Mau ayam atau bebek, Paman kasih satu gratis!”
Walau keadaannya pas-pasan, tapi kepada keluarga sendiri, Paman Keempat tetap cukup dermawan. Apalagi Tang Zheng berpotensi menjadi mahasiswa pertama di keluarga, tentu hubungan harus dijaga baik-baik.
“Jangan, Paman, niat baiknya sudah cukup. Saya beli saja, ayam dan bebek masing-masing satu. Uang saya cukup kok hari ini.”
Sambil bicara, Tang Zheng mengeluarkan uang lima puluh ribu dan meletakkannya di kotak uang, lalu berkata lagi, “Tolong Paman bersihkan ayam dan bebeknya. Saya mau beli bahan lain dulu, nanti saya ambil. Tidak usah yang terlalu besar, takutnya tidak habis jadi mubazir.”
Harga bahan makanan saat itu masih sangat wajar, seekor ayam kampung besar hanya sekitar dua puluh ribuan, bebek bahkan lebih murah. Tak seperti sepuluh tahun kemudian, harga ayam kampung bisa sampai ratusan ribu. Jadi dengan lima puluh ribu, Tang Zheng sudah lebih dari cukup.
Karena ingin membuat santapan keluarga yang istimewa, tentu ayam, bebek, ikan, dan daging tidak boleh absen. Ayam dan bebek sudah ada, selanjutnya mencari ikan segar dan dua kilo iga babi, baru semuanya lengkap.
Tentu saja, demi keseimbangan gizi, buah dan sayur juga harus ada. Biasanya, tiga bagian lauk dan tujuh bagian sayur adalah kombinasi yang ideal. Namun, pada masa itu, taraf hidup masyarakat baru saja membaik, hampir tidak ada yang mengalami kelebihan gizi. Lagipula, kalau benar-benar mengikuti buku, aturan yang ada terlalu banyak. Tang Zheng tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menunjukkan keahlian memasaknya.
Setelah memilih bahan-bahan untuk menu malam, ayam dan bebek dari Paman Keempat juga sudah selesai diolah. Tang Zheng pun berpamitan dengan senyum, lalu pulang untuk menyiapkan hidangan.
Ternyata, keterampilan memasak dasar sangat baik untuk menambah poin penukaran hadiah. Bahkan saat mencuci dan memotong sayur, sesekali muncul notifikasi “Nilai penukaran bertambah satu”, membuat Tang Zheng semakin bersemangat.
Ayam dan bebek mulai direbus dengan api kecil. Ayam dimasak dengan cara khas Timur Laut, yaitu ayam rebus dengan jamur, sedangkan bebek dimasak dengan bir, resep yang baru saja mulai populer saat itu. Kedua hidangan ini memang harus dimasak perlahan agar cita rasanya meresap.
Sambil menunggu, Tang Zheng sempat keluar menemani nenek menonton televisi. Mungkin karena usia sudah lanjut, nenek mudah sekali terlelap saat duduk menonton, kebiasaan yang umum di kalangan lansia, meski sebenarnya kurang baik. Bagi lansia yang punya tekanan darah tinggi, kebiasaan ini bisa meningkatkan risiko stroke mendadak.
Saat Tang Zheng hendak membangunkan nenek, terdengar suara kunci diputar di pintu. Spontan Tang Zheng merasa bersemangat dan berdiri menyambut.
Siapa pun yang pulang—ayah atau ibu—adalah orang yang sangat ingin ia jumpai. Namun, setelah pintu terbuka, yang masuk adalah seorang gadis berkulit agak gelap, berambut ekor kuda, membawa tas sekolah. Sambil mengganti sandal, ia dengan dingin memanggil, “Kak.”
“Hah?” Tang Zheng tertegun.
Bukankah ia anak tunggal? Dari mana datangnya adik perempuan ini?
Tak lama, sepotong ingatan pun muncul di benaknya. Gadis itu adalah anak yang dulu, ketika Tang Zheng berumur lima tahun, ayah dan ibunya temui di Danau Merah—seorang ibu malang yang tak mampu membesarkan anaknya, memohon agar ada orang baik yang mau mengasuhnya.
Di kehidupan sebelumnya, meski orang tua Tang Zheng ingin mengadopsi gadis itu, mereka akhirnya tak sanggup mengambil keputusan. Tak disangka, kini setelah ia terlahir kembali, gadis itu benar-benar diadopsi menjadi adiknya. Efek kupu-kupu yang luar biasa!
“Yun Er sudah pulang ya, sini biar nenek lihat, apa tambah kurus?” Lansia memang mudah terbangun. Saat Tang Yun Er membuka pintu tadi, meski pelan, tetap saja nenek terbangun.
“Nenek!” Setelah meletakkan tas, Tang Yun Er duduk di sisi nenek dan memanggil dengan manis. Sikapnya pada nenek benar-benar berbeda dengan pada Tang Zheng.
Walaupun Tang Yun Er anak angkat, nenek tetap sangat menyayanginya. Jujur saja, Tang Yun Er jauh lebih penurut dibanding Tang Zheng; di rumah, ia sering berebut mengerjakan pekerjaan rumah, sangat dewasa meski masih kecil.
Sementara Tang Zheng, setelah pulang ke rumah, lebih mirip tuan muda yang enggan mengerjakan apa-apa. Nenek dan ibunya pun sangat memanjakannya, hingga Tang Zheng tumbuh jadi agak manja dan pemalas. Jika dibandingkan dengan adiknya, jelas ia kalah jauh.
Namun, Tang Zheng kini bingung, kenapa adik barunya itu bersikap dingin padanya? Bukankah di drama-drama, hubungan kakak-adik selalu akrab dan penuh kasih? Kenapa di keluarganya jadi berbeda?
Sebenarnya, Tang Zheng tidak tahu, alasan Tang Yun Er kurang menyukai dirinya adalah karena sejak SD hingga SMP, prestasi Tang Zheng terlalu luar biasa. Terutama saat ujian akhir SMP, ia bangkit secara gemilang, jadi bahan pembicaraan guru-guru yang pernah mengajarnya.
Kampung Zhuyuan memang kecil, dan jarang ada guru dari luar yang mau mengajar di desa yang relatif tertinggal ini. Jadi, banyak guru yang dulu mengajar Tang Zheng, kemudian juga mengajar Tang Yun Er. Begitu nilai keduanya dibandingkan, terlihat jelas jurangnya.
Mungkin karena waktu kecil Yun Er agak kurang gizi. Saat diadopsi oleh keluarga Tang Dejun, ia sudah hampir setahun, dan orang tua kandungnya pun pendidikannya tidak setinggi pasangan Tang Dejun. Jadi, dari segi kecerdasan bawaan, Yun Er memang sedikit tertinggal.
Pepatah mengatakan, “Jenius adalah satu persen bakat dan sembilan puluh sembilan persen kerja keras,” sesungguhnya hanyalah penghiburan bagi mereka yang kemampuannya biasa saja.
(Selamat Hari Nasional untuk semua! Terima kasih atas hadiah dua ratus koin dari ◣???◢. Jika tidak ada halangan, hari ini akan ada setidaknya tiga bab. Mohon dukungan dengan klik, simpan, dan rekomendasi!)