Bab 4: Pertemuan Pertama Si Kucing dan Si Harimau
Hening merasa bahwa hidungnya sepertinya sudah tidak berfungsi lagi, banyak aroma bercampur hingga tak bisa dibedakan. Ia berlari-lari kecil berhenti sesekali untuk membuat penanda.
Tiba-tiba, di tengah hutan pinus, ia melihat seekor tupai! Ini adalah pertama kalinya selama beberapa hari ini ia melihat hewan kecil lain! Warnanya cokelat, tubuhnya gemuk, ekornya besar melengkung di punggung, di tangannya memeluk sebuah biji pinus yang hampir sebesar tubuhnya sendiri.
Hening berlari cepat beberapa langkah mendekat, matanya berbinar menatap tupai di atas pohon itu. Baru saja hendak membuka mulut, sebelum suara “meong” keluar, tupai kecil itu sudah ketakutan, melempar biji pinus lalu melesat naik ke pohon.
Sesekali daun-daun berdesir, lalu lama kelamaan semuanya kembali sunyi.
“Halo? Tupai kecil, aku Hening, aku tak bermaksud jahat, hanya ingin bertanya apakah kau bisa mengerti ucapanku, dan ini sebenarnya di mana, ya?”
“Halo? Halo?”
“Meong meong? Cit cit?”
...
Tak ada jawaban cukup lama. Mata Hening yang tadinya bersinar perlahan redup, ujung matanya pun menurun kecewa. Diam-diam ia berjalan ke bawah pohon, lalu memungut biji pinus yang dijatuhkan tupai itu, berniat mengembalikannya.
Tunggu, tupai itu termasuk tikus, bukan? Entahlah...
Tapi aku ini kucing... sepertinya hubungan kami bukan untuk berteman, melainkan rantai makanan, ya?
Hening tiba-tiba terdiam... tapi aku kan tidak makan tikus...
Akhirnya ia meletakkan biji pinus itu di bawah pohon tupai, melihat sekeliling, lalu mencari beberapa biji pinus lagi di sekitar dan mengumpulkannya di sana. Anggap saja sebagai ganti rugi karena sudah menakuti tupai kecil!
Hening menunggu sebentar, namun tupai itu tak juga menampakkan diri.
Baiklah, lanjut saja perjalanan. Daging mentah pun aku tidak berani makan, dan sepertinya juga aku tidak akan bisa menangkapnya.
Mungkin bisa cari sungai, tangkap ikan! Sashimi adalah batas terakhirku!!
Entah dari mana rasa percaya diri itu muncul, mungkin karena sekarang aku seekor kucing, pikir Hening dalam hati, setengah mengejek diri sendiri.
Sudahlah, ia membereskan perasaan kecewa, menyemangati diri, kucing imut tidak takut pada kesulitan!
Ayo, berangkat lagi!
Tidak tahu sudah berapa lama berlari, di tengah hutan mulai muncul beberapa ekor kupu-kupu, lalu beberapa capung, suara binatang kecil semakin ramai.
Hening tanpa sadar teralihkan perhatiannya, matanya menatap lekat-lekat seekor kupu-kupu biru tak jauh dari situ, kakinya bergerak-gerak.
Telapak kaki mulai gatal, aduh, ingin sekali menerkamnya!!!
Tidak, tidak boleh! Kupu-kupu secantik itu, nanti malah melukainya!!
“Aduh, kenapa otakku tidak bisa mengendalikan tanganku!” Hening menggerutu dengan putus asa, lalu melompat menerkam, dan berakhir dengan wajah tertanam di rerumputan.
Yah, ternyata terlalu khawatir, sayapnya saja tidak bisa aku sentuh~
Hening menundukkan badan, kembali mengincar kupu-kupu biru itu, dua kaki belakangnya mulai mengumpulkan tenaga, melompat! Menerkam! Tapi meleset...
Kupu-kupu biru itu malah terbang ringan dan hinggap di ujung hidungnya.
Melihat kupu-kupu itu di puncak hidungnya, Hening merasa dirinya seolah diremehkan...
Pelan-pelan ia mengangkat tangan, perlahan mendekat, hampir menyentuh! Tiba-tiba, kupu-kupu mengepakkan sayap dan terbang dari ujung hidungnya, lalu hinggap di telinganya yang kecil.
Ujung telinga terasa gatal, tak tahan sampai harus mengibaskan telinga.
Saat sedang asyik bermain, tiba-tiba ujung hidungnya bergerak sendiri, seolah mencium aroma yang sangat ia sukai. Hening mengendus dengan sungguh-sungguh, ini... aroma air sungai!
Di dekat sini ada sungai! Kalau ada sungai pasti ada ikan! Akhirnya bisa makan ikan!!!
Dengan gembira ia bangkit, memperhatikan arah, lalu mengikuti aroma itu. Semakin lama aroma makin jelas, langkahnya pun jadi semakin riang, hingga tiba-tiba, di depan matanya tampak kilauan biru jernih. Hening bersemangat berlari ke sana! Benar, itu sungai!!
Akhirnya bisa makan ikan!!!
Menahan kegirangan, Hening mengendap di tepi sungai, mengamati keadaan di dalam air.
Airnya tidak terlalu dalam, tapi ikannya banyak dan ukurannya lumayan, ada yang sebesar telapak tangan, ada yang sepertinya lebih besar dari tubuhnya!
Hening mengincar satu ekor ikan besar, diam-diam mengatur posisi, ikan sebesar ini pasti tidak selincah yang kecil! Ia menganalisis dengan teliti, lalu melompat dengan sekuat tenaga.
Byur! Sukses masuk ke air!
Ikan itu tepat di depan matanya, Hening membuka mata lebar-lebar, seluruh tubuhnya menerjang ke arah ikan itu.
Ikan-ikan lain langsung berpencar menghilang, tapi ikan besar itu seolah tidak tahu harus ke mana.
Haha! Ikan bodoh! Makan ikan bodoh tidak akan bikin bodoh, kan?
Baru saja berpikir begitu, tiba-tiba, byar! Detik berikutnya tubuhnya melayang ke udara, oh tidak, betapa familiar adegan ini, betapa akrab rasanya melayang (O_O)
Dirinya dilempar ke udara oleh ekor seekor ikan...
“Meong! Ini ikan beneran, bukan sih??? Makan bayam super, ya!!!” Hening marah-marah dengan kesal.
Brukk!
Lalu seluruh tubuh kucingnya terjatuh ke sesuatu yang bulu-bulunya putih.
Hening tercengang, bulu putih dari mana?
Lalu ia meronta-ronta, membebaskan diri, mendongak, dan bertemu sepasang mata biru bening.
Di bawah sinar matahari, mata itu tampak seperti permata transparan, besar, bulat, dan berkilauan. Lalu tampaklah seluruh wajah, bulu lembut berwarna putih susu, dihiasi garis-garis cokelat tua yang simetris seperti harimau. Pandangannya terhenti di dahi makhluk itu, seperti ada tulisan “Raja”...
Ini, sepertinya... harimau!!!
Hening langsung terpaku, bulu-bulu di sekujur tubuhnya berdiri semua... Bagaimana ini? Siapa yang bisa kasih tahu kucing kecil harus berbuat apa dalam situasi begini???
Meong-meong saja, ya? Atau peluk wajahnya?...
Gu Zheng juga sedang mengamatinya, tubuh kecil itu bahkan belum setinggi kakinya sendiri, lebih imut dari yang terlihat di video.
Kucing kecil yang basah kuyup tampak makin mungil, Gu Zheng tetap duduk jongkok, mengulurkan satu kaki depan untuk mengangkat kucing kecil yang terselip di dadanya dengan hati-hati.
Takut menggunakan tenaga, juga takut membayangkan, kalau tadi ia tidak menangkap kucing kecil itu, mungkinkah makhluk rapuh ini akan terluka.
Hening terdiam di tangan harimau itu, apakah ia akan dimakan dalam satu gigitan? Rasanya tubuhnya bahkan tidak lebih besar dari telapaknya, ini pun tak cukup untuk jadi camilan!
“Meong?” Ia memberanikan diri memeluk tangan harimau itu, menggesekkan wajahnya pelan-pelan. Bukankah katanya kucing menggesekkan kepala itu tanda bersahabat? Harimau juga keluarga kucing, pasti bisa juga, kan!
Gu Zheng terdiam sejenak, memandangi kucing kecil bermata bulat yang menatapnya penuh harap, serta sentuhan lembut di tangannya. Kucing itu bergetar halus, tiba-tiba ia merasa geli di telapak tangan hingga ke hatinya.
Hanya sekejap, tak terjangkau.
Gu Zheng sadar kucing kecil itu mungkin ketakutan. “Jangan takut,” katanya sambil mendekat, menggesekkan hidungnya pelan ke kepala kucing itu.
Saat kepala besar harimau itu mendekat, Hening benar-benar nyaris pingsan ketakutan, mengira dirinya akan jadi mangsa! Tapi ternyata, harimau itu hanya menggesekkan kepala lalu menurunkannya ke tanah, dan mengeluarkan suara lirih, “auu.”
Itu tanda bersahabat, kan? Tidak langsung dimakan berarti aman, kan? (O_O)
Ia berpikir sejenak, menatap harimau di hadapannya, lalu perlahan berdiri. Baik, tidak ada reaksi. Lalu ia melangkah kecil dua langkah, baik, hanya memperhatikan, tidak menyerang.
Hening memberanikan diri, melupakan ikan, dan segera berbalik berlari masuk ke hutan, keempat kakinya bergerak cepat, jantung berdegup kencang!
Saat hampir masuk ke hutan, ia tak tahan menoleh sekilas. Dari jauh, harimau putih itu tampak makin gagah! Terlihat sangat kuat! Tapi ia hanya duduk diam, tidak mengejar.
Tidak mengejar, syukurlah! Tak disangka, selama dua puluh empat tahun hidup, akhirnya bisa melihat harimau putih sekeren itu dari jarak sedekat ini!! Dan lebih tak disangka, ternyata aku tidak dimakan!!
Hehe, harimau baik, ikan jahat! o(^▽^)o
Tak lama kemudian Hening sudah lenyap dari pandangan.
Melihat titik putih kecil yang sudah menjauh, Gu Zheng menarik pandangannya. Kucing kecil itu ternyata lebih berani dari yang ia bayangkan.