Bab Seratus Empat Puluh Satu: Sebuah Buku Tak Berguna
Lin Fan terperanjat mendengar perkataan Fang Weisheng, matanya membelalak dan mulutnya menganga.
"Kak Weisheng, bagaimana bisa Kakak berpikir seperti itu? Itu adalah pusaka peninggalan leluhur keluarga Fang kalian. Apakah Kakak tega menyerahkannya begitu saja kepada orang-orang jahat itu? Apakah Kakak tidak takut mereka akan menyalahgunakan buku kedokteran itu untuk melakukan tindakan kriminal? Terlebih lagi, Paman Besar dan Paman Fang tidak akan pernah menyetujuinya. Mereka bersumpah untuk melindungi pusaka keluarga kalian dengan nyawa mereka. Namun, sampai di tanganmu, kamu justru ingin menyerahkannya begitu saja. Apakah menurutmu mereka akan mengampunimu?"
"Aku juga tidak ingin melakukan ini, tetapi bukankah kamu melihatnya sendiri? Mereka sudah gila sekarang dan tidak akan melepaskanku. Jika aku terus memegang buku kedokteran ini di tanganku, kemanapun aku pergi, mereka akan terus membuntutiku. Aku sama sekali tidak merasa aman sekarang. Katakanlah, jika aku tetap menyimpan buku ini sedangkan aku sama sekali tidak memahami ilmu pengobatan tradisional, buku ini tidak lebih dari selembar kertas tak berguna di tanganku."
Melihat sikap Fang Weisheng yang menyebalkan ini, Lin Fan pada akhirnya bisa memaklumi. Ya, melihat keluarganya hancur lebur gara-gara buku di tangan mereka, wajar jika Fang Weisheng merasa ketakutan sekarang.
Namun, rasa takut sebesar apa pun tidak boleh membuat seseorang mengkhianati prinsipnya sendiri, apalagi mengingat ayah dan para leluhur sedang berusaha setengah mati melindungi warisan keluarga Fang. Bagaimana bisa hal ini berhenti di tangan Fang Weisheng? Meskipun saat ini mereka menemui beberapa kesulitan, masalah-masalah ini pasti akan terselesaikan pada akhirnya. Terlebih lagi, Fang Zhonghua sudah menderita di dalam penjara demi masalah ini. Jika pria itu berniat menyerahkan benda-benda tersebut, tentu dia sudah melakukannya sejak lama. Tindakan ini jelas bertentangan dengan keinginan para orang tua.
"Kakak, kamu tidak boleh melakukan ini. Paman Besar lebih rela mendekam di penjara daripada menyerahkan buku itu kepada orang-orang jahat. Tidakkah Kakak melihat maksud dari orang tua itu? Jika Kakak melakukan ini, beliau akan sangat kecewa. Terlebih lagi, Kakek Fang juga telah kehilangan nyawanya karena masalah ini. Beliau dengan susah payah dan penuh semangat ingin meneliti Pil Huizhen."
Pada saat ini, Lin Fan mengungkapkan kebenaran yang sebenarnya. Kematian Kakek Fang bukanlah kematian wajar, melainkan disebabkan oleh eksperimen Pil Huizhen. Setiap selesai meraciknya, beliau selalu menggunakan dirinya sendiri sebagai kelinci percobaan, yang berujung pada hilangnya nyawanya.
Kedua orang tua itu begitu gigih bertaruh nyawa untuk melindungi pusaka leluhur keluarga Fang, tetapi Fang Weisheng justru begitu mudah menyerah. Hal ini membuat Lin Fan merasa sangat kecewa, dan dia tidak akan membiarkan Fang Weisheng berbuat demikian.
"Aku tidak ingin keluargaku terluka lagi. Lihatlah keadaan kami bertiga sekarang. Jika aku benar-benar tidak bisa menyerahkan buku kedokteran ini, orang-orang itu tidak akan pernah melepaskanku, dan mereka juga tidak akan melepaskan keluargaku. Aku tidak sanggup lagi melawan mereka, aku tidak punya tenaga maupun kemampuan untuk itu."
Melihat kondisi Fang Weisheng yang tak berdaya saat ini, Lin Fan merasa sangat cemas. Tentu saja, dia pasti akan membujuk Fang Weisheng untuk mengurungkan niat tersebut, dan mengenai keselamatan Fang Weisheng serta ibunya ke depan, dia akan berusaha sebaik mungkin untuk melindungi mereka.
Pada saat yang sama, Lin Fan bertekad untuk membongkar dan menyeret dalang di balik layar satu per satu, agar mereka tidak lagi berkeliaran dan mencelakai orang tak bersalah.
Pantas saja Fang Weisheng begitu ketakutan.
Melihat ayahnya mendekam di penjara, melihat ibunya menderita luka parah, ditambah dengan luka di tubuhnya sendiri, Lin Fan dapat memahami perasaan pemuda itu saat ini. Dengan penuh rasa iba, ia menatap Fang Weisheng dan berkata,
"Jangan lakukan itu dulu. Itu adalah pusaka leluhur keluarga kalian, sekaligus warisan budaya negara kita. Jika kita menyerahkannya begitu saja kepada para bandit itu, maka kita tidak layak disebut sebagai warga negara negeri ini, dan kita juga telah mengkhianati leluhurmu. Aku akan berdiri di sisimu dalam masalah ini. Mulai hari ini, tinggallah di rumahku."
Demi menenangkan Fang Weisheng, Lin Fan mengerahkan segala cara. Dia takut Fang Weisheng benar-benar bertindak gegabah dan menyerahkan pusaka di tangannya. Demi keselamatannya sendiri, jika Fang Weisheng sampai melakukan hal itu, sebenarnya hal tersebut masih bisa dimaklumi.
Bagaimanapun juga, Fang Weisheng hanyalah rakyat jelata yang tidak punya kuasa, dan dapat dimaklumi jika ia tidak ingin menjerumuskan dirinya ke dalam bahaya sebesar itu. Namun, sebelum saat-saat terakhir tiba, Lin Fan berharap Fang Weisheng tidak membuat pilihan seperti itu.
Terlebih lagi, dirinya sendiri bahkan bukan dari anggota keluarga Fang, namun ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk melindungi pusaka mereka sekaligus warisan negara.
Jika Pil Huizhen benar-benar berhasil diciptakan, diyakini bahwa penemuan itu akan membawa kesejahteraan bagi umat manusia, serta membuat diri mereka dan masyarakat negeri ini tetap awet muda. Pada saat itu, diyakini akan sangat sulit bagi negara-negara lain untuk menyaingi posisi negeri ini. Memikirkan hal ini, keyakinan Lin Fan semakin teguh.
"Masalah ini serahkan padaku untuk menyelesaikannya. Orang-orang jahat itu cepat atau lambat akan diadili. Kak Weisheng, percayalah padaku, aku pasti akan menyelamatkan Paman Fang juga."
"Tetapi sekarang kita bahkan tidak bisa menemukan petunjuk tentang pihak lawan. Kita bahkan tidak tahu di mana mereka berada, lalu bagaimana kita bisa melawan mereka? Kita berada di tempat terang sementara musuh berada di tempat gelap. Dengan apa kita melawan mereka? Aku tahu kamu hebat, Lin Fan, kamu bisa mengalahkan mereka dan menjadi tandingan mereka, tetapi aku tidak bisa. Aku dan ibuku tidak bisa."
Melihat Fang Weisheng meringkuk di sofa karena ketakutan yang teramat sangat, Lin Fan tahu bahwa pemuda itu sudah benar-benar hilang nyalinya.
"Hari-hari ini aku akan terus bersamamu. Tenang saja, tidak akan ada lagi orang yang bisa menyakiti kalian. Jika memang sudah tidak ada jalan lain, serahkan buku kedokteran itu kepadaku. Namun, jika kamu tidak mempercayaiku, aku tidak akan memaksa."
Mendengar perkataan Lin Fan, Fang Weisheng menatapnya dengan penuh kecurigaan. Saat ini, ia sudah tidak bisa mempercayai siapa pun lagi.
Bisa dikatakan, ia merasa orang-orang dari segala penjuru memandangnya dengan penuh permusuhan dan berniat merampas pusaka di tangannya. Buku kedokteran yang ada padanya saat ini ibarat kentang panas yang membakar tangan.
"Tentu saja, aku tidak akan memaksamu dalam hal ini, karena aku bukanlah bagian dari keluarga Fang, dan aku tidak memiliki hak maupun kualifikasi untuk menuntutmu melakukan hal itu. Namun, menurutku cara inilah yang paling bisa menjamin keselamatanmu. Begitu orang-orang itu tahu buku kedokteran ini ada padaku, mereka tidak akan lagi mengincar kalian."
Fang Weisheng tidak memberikan jawaban pasti atas perkataan Lin Fan. Ia ragu-ragu apakah seharusnya ia menyerahkan buku itu ke tangan Lin Fan, meskipun ia sangat mempercayai pemuda itu.
Namun, ia juga takut ayahnya akan menyalahkannya nanti saat keluar dari penjara. Bagaimanapun juga, buku itu telah berada di tangan ayahnya dan di rumah mereka sejak ia bisa mengingat sesuatu, dan tidak pernah berpindah tangan.
Ayahnya memperlakukan buku itu bagaikan harta karun yang sangat berharga. Bahkan dirinya sendiri baru pernah melihat buku tersebut setelah sang ayah dijebloskan ke dalam penjara, yang menunjukkan betapa besar arti penting buku itu bagi ayahnya.
Namun sekarang, dengan kemampuannya sendiri, ia benar-benar tidak berdaya untuk menjaga keamanan buku kedokteran tersebut.
Lalu, apa yang harus dilakukan? Melihat keraguan di wajah Fang Weisheng, Lin Fan memutuskan untuk tidak mendesaknya lagi. Bagaimanapun, masalah ini sangat besar, dan ia perlu memberi waktu bagi Fang Weisheng untuk memikirkannya baik-baik.
"Kak Weisheng, jika tidak keberatan, tidurlah bersamaku di ranjang yang sama malam ini."
Mendengar saran tersebut, Fang Weisheng mengangguk berulang kali tanpa ragu. Ya, ia sekarang merasa ketakutan, takut kedua pria berpjs pakaian hitam itu menyelinap kembali ke kamarnya dan mencelakainya.
Melihat Fang Weisheng yang dengan cepat jatuh tertidur lelap, Lin Fan justru bolak-balik tidak bisa tidur. Ya, sebenarnya siapa dalang di balik kedua pria berpakaian hitam itu? Tampaknya pihak musuh sudah sangat tidak sabar dan ingin secepat mungkin mendapatkan pusaka di tangan mereka.
Musuh berada dalam kegelapan sementara mereka berada di tempat terang, cara apa yang harus dilakukan untuk mencegah bahaya-bahaya ini?
Saat fajar mulai menyingsing, Lin Fan sudah bangun dari tidurnya.
Ia berjalan menuju dapur dengan niat menyiapkan sarapan untuk semuanya. Namun setibanya di sana, ia melihat pemuda bertubuh besar itu sudah sibuk mondar-mandir di dalam dapur.
Anak ini ternyata cukup rajin juga.
"Guru, biarkan muridmu ini yang menyiapkan sarapan untuk kalian hari ini."
Melihat Lin Fan melangkah masuk ke dapur, pemuda itu langsung menyapa sambil tersenyum lebar.
Sungguh terlalu percaya diri, siapa yang bilang telah menerimanya sebagai murid? Lin Fan tertawa kecil dalam hati, tetapi ia tidak menolak ucapan pemuda itu dan hanya mengamati sarapan yang sedang disiapkan.
Biar dipikir-pikir, ada orang yang siap melayani seperti ini lumayan juga, jadi ia tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk mengurus keperluan sehari-hari.
"Baiklah, kalau begitu merepotkanmu ya."
Sambil berucap demikian, Lin Fan membalikkan badan dan berjalan kembali ke ruang tamu. Pada saat yang sama, Fang Weisheng keluar sambil menggosok matanya yang masih mengantuk. Keadaan pemuda itu tampak sudah jauh membaik, obat yang diminum tadi malam telah menunjukkan khasiatnya, dan energi dalam milik Lin Fan juga turut membantu pemulihan luka-luka Fang Weisheng.