Bab 119: Apakah Sang Dewi Menaruh Hati Padaku?
“Wah, dewi itu memanggilku!”
Jangan-jangan...
Zhang Zhiqin segera berbalik dengan senyum lebar. “Bu Lin, ada apa?”
“Perencana Zhang, kau hendak pergi ke mana?” Lin Yao melirik Mo Yan yang duduk di sampingnya dengan wajah agak tidak sedap dipandang, lalu bertanya kepada Zhang Zhiqin.
“Aku akan berjalan ke selatan. Kak Fang sudah melihat peta. Katanya, sekitar enam atau tujuh kilometer ke arah selatan ada Taman Suku Dai. Di sebelahnya terdapat Desa Manting. Siapa tahu di sana ada tempat yang cocok untuk lokasi syuting acara kita.”
Zhang Zhiqin langsung menjawab dengan sangat terperinci.
“Taman Suku Dai? Kak Yan, bukankah tadi kau bilang ingin pergi melihat tempat itu?”
Mata Lin Yao langsung berbinar. Ia menarik lengan Mo Yan dan berkata dengan nada manja, “Kalau begitu, kita bisa pergi bersama Perencana Zhang. Bagaimana?”
Lin Yao bukan tipe perempuan yang mudah bermanja-manja. Namun, begitu mulai merajuk, ia mampu meluluhkan siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan—sampai-sampai tulang orang bisa terasa lemas.
Kaki Zhang Zhiqin seketika terasa lunglai. Mo Yan tahu gadis itu pasti punya maksud tersembunyi dengan mengajak Zhang Zhiqin, tetapi ia juga tak sanggup menahan serangan manjanya. Lagi pula, ia tidak enak jika harus bersikap terlalu dingin kepada keponakan wakil direktur stasiun televisi Apel. Karena itu, ia hanya bisa mengangguk setuju.
“Terima kasih, Kak Yan!”
Lin Yao mengucapkan terima kasih dengan manis kepada Mo Yan, lalu menoleh kepada Zhang Zhiqin sambil tersenyum.
“Perencana Zhang, kau keberatan berjalan bersama kami?”
“Tidak keberatan, tidak keberatan, sama sekali tidak keberatan!”
Zhang Zhiqin melambaikan tangan berkali-kali, kepalanya mengangguk-angguk seperti anak ayam mematuk beras. Dalam hati, ia rasanya sudah ingin menyalakan kembang api.
Jangan-jangan Lin Yao sebenarnya sudah lama memperhatikanku, hanya saja selama ini kami selalu berada di lokasi syuting sehingga tak ada kesempatan untuk melakukan apa pun.
Hari ini kami kebetulan bertemu seperti ini. Mungkinkah akhirnya ia tak mampu lagi menahan perasaannya dan ingin mulai mendekatiku?
Dalam sekejap, sebuah kisah cinta besar tentang bintang terkenal yang jatuh cinta kepadaku pun terbentuk dalam benak Zhang Zhiqin.
Ha-ha-ha! Sudah kubilang, dengan kepribadianku yang begitu unik dan bakatku yang luar biasa, bagaimana mungkin tak ada perempuan yang memperhatikanku?
Lihat saja, yang datang langsung seorang dewi!
“Perencana Zhang, ayo.”
“Hah? Oh, baik, baik.”
Suara Lin Yao yang lembut seperti air membuyarkan lamunan Zhang Zhiqin. Ia pun buru-buru mengikuti Lin Yao bertiga naik ke sebuah taksi.
“Fangfang, kau duduk di depan.”
Melihat Lin Yao meminta Zhang Zhiqin duduk bersamanya di belakang, Mo Yan segera menyuruh Fangfang, yang hendak ikut masuk, duduk di kursi penumpang depan. Ia sendiri duduk di antara Lin Yao dan Zhang Zhiqin.
Mobil mulai bergerak, perlahan melaju menuju Taman Suku Dai.
Fangfang duduk di kursi depan dan diam-diam menoleh ke belakang. Melihat Mo Yan duduk di tengah dengan senyum yang terasa mengandung ancaman, sementara suasana di dalam mobil sedikit membeku, ia menjulurkan lidah lalu buru-buru menundukkan kepala.
Saat itu, mobil melewati kawasan penginapan bergaya vila di Desa Miao. Lin Yao tiba-tiba menunjuk sebuah penginapan dua lantai di luar jendela.
“Perencana Zhang, kami tinggal di sana. Alamatnya Blok Tiga, Bangunan Empat, Nomor Enam Belas. Di depan pintu ada pohon flamboyan yang seluruhnya dipenuhi bunga merah menyala.”
Zhang Zhiqin mengikuti arah telunjuk Lin Yao. Benar saja, ia melihat sebuah penginapan dua lantai dengan halaman di depan, serta sebatang pohon yang dipenuhi bunga merah menyala.
“Tempat tinggal kalian indah sekali,” puji Zhang Zhiqin. Jantungnya berdegup sangat kencang.
Apa maksud sang dewi?
Ia bahkan memberitahukan alamatnya dengan begitu terperinci. Jangan-jangan ia ingin mengundangku ke tempat tinggalnya?
Wah, ini terlalu menggoda!
“Perencana Zhang, kapan kalian berencana kembali ke Jiangrong?”
Seolah-olah kenyataan sedang membenarkan dugaan Zhang Zhiqin, Lin Yao kembali menanyakan jadwalnya dengan penuh perhatian.
“Belum bisa dipastikan. Kalau kami tidak segera menemukan lokasi yang cocok untuk syuting, mungkin kami harus tinggal beberapa hari lagi.”
Zhang Zhiqin merasa jantungnya berdetak semakin cepat. Namun, karena ia menempuh jalur “bakat”, ia tetap harus mempertahankan sikap anggun dan penuh pesona di permukaan.
“Oh, lalu kalian tinggal di mana?”
Lin Yao kembali bertanya.
“Kami tinggal di...”
“Ehem.”
Saat Zhang Zhiqin hendak menjawab, Mo Yan, yang duduk di antara mereka, tiba-tiba berdeham keras dan memotong perkataannya.
“Manajer Mo, kau tidak apa-apa?”
Zhang Zhiqin merasa bingung. Entah mengapa tubuhnya juga terasa dingin. Tanpa sadar, ia menggeser tubuhnya menjauh sedikit dari Mo Yan.
Untuk sementara, suasana di dalam mobil kembali hening.
“Oh, ya. Kami tinggal di sebelah barat Desa Miao, di kawasan penginapan bergaya vila. Alamatnya Blok Tiga, Bangunan Empat, Nomor Enam Belas. Di depan pintu ada pohon flamboyan yang seluruhnya dipenuhi bunga merah menyala.”
Lin Yao tiba-tiba kembali berbicara kepada Zhang Zhiqin.
“Hah? Oh, aku tahu.”
Zhang Zhiqin menjawab dengan bingung. Ia merasa agak aneh.
Bukankah tadi Lin Yao sudah menyebutkan alamat tempat tinggalnya?
Mengapa ia mengatakannya lagi?
Saat itu, telepon Zhang Zhiqin berdering. Rupanya Fang Xiaole yang menelepon. Ia segera mengangkatnya.
“Zhang Zhiqin, aku menemukan tempat yang sangat bagus. Letaknya tidak jauh dari Desa Miao, namanya Gunung Manao. Di kaki gunung ada sebuah rumah kayu yang cukup besar. Pemiliknya bekerja di Shencheng dan bersedia menyewakannya kepada kita.”
Begitu telepon tersambung, suara Fang Xiaole yang penuh semangat langsung terdengar.
“Cepat kemari. Akan kukirimkan lokasinya kepadamu!”
Tampaknya Gunung Manao sangat memenuhi persyaratan tim acara. Bahkan Fang Xiaole yang biasanya tenang pun terdengar bersemangat. Setelah selesai berbicara, ia langsung menutup telepon. Sesaat kemudian, lokasi yang dikirimnya muncul di aplikasi pesan Zhang Zhiqin.
Ternyata tempat itu sangat dekat—jaraknya bahkan kurang dari tiga kilometer dari Desa Miao.
Setelah bersusah payah mencarinya seharian, ternyata harta karun itu ada di dekat mereka!
Zhang Zhiqin pun ikut bersemangat. Ia segera berkata kepada Lin Yao, “Bu Lin, maaf. Kak Fang sudah menemukan tempat yang bagus. Aku harus segera pergi ke sana!”
“Benarkah? Wah, bagus sekali!”
Tak disangka, Lin Yao malah terlihat lebih bersemangat daripada Zhang Zhiqin. Suaranya yang semula lembut mendadak meninggi.
Ketika menyadari semua orang memandangnya dengan heran, Lin Yao buru-buru menutup mulut karena malu. Wajahnya kembali tenang dan lembut saat ia berkata kepada Zhang Zhiqin, “Bagaimana kalau kami mengantarmu ke sana?”
“Ehem!”
Mo Yan kembali berdeham dua kali.
Zhang Zhiqin segera berkata, “Tidak perlu, tidak perlu. Kalian cukup menurunkanku di sini saja. Tempatnya dekat.”
“Oh... baiklah. Pak, tolong hentikan mobilnya.”
Lin Yao menggigit bibir dengan sedikit kecewa, lalu terpaksa meminta sopir menghentikan mobil.
Zhang Zhiqin turun dari taksi. Tiba-tiba Lin Yao memanggilnya.
“Perencana Zhang.”
“Ya, aku di sini.”
Zhang Zhiqin segera berbalik.
“Kami tinggal di kawasan penginapan dua lantai di sebelah barat Desa Miao. Blok Tiga, Bangunan Empat, Nomor Enam Belas. Di depan pintu ada pohon flamboyan yang seluruhnya dipenuhi bunga merah menyala.”
Lin Yao kembali mengulangi alamat itu.
“Oh... oh.”
Zhang Zhiqin mengangguk dengan linglung sambil menatap taksi yang perlahan menjauh.
Mengapa Lin Yao menyebutkan alamat tempat tinggalnya sampai tiga kali?
Jangan-jangan ia benar-benar sedang menyampaikan suatu isyarat?
Zhang Zhiqin berdiri terpaku di tempat, mengingat kembali berbagai sikap “akrab” Lin Yao kepadanya barusan. Dadanya pun mulai bergelora.
Tampaknya memang ada sesuatu dalam diriku yang berhasil memikat sang dewi.
Ha-ha-ha!
Su Yu bahkan pernah berkata bahwa Lin Yao menyukai Kak Fang. Cih, matanya benar-benar buta. Sekembalinya nanti, aku akan menyuruhnya memenggal kepalanya sendiri agar bisa kujadikan bola untuk ditendang!