Bab 124: Melukis Hati
"Sudah cukup, turunlah."
Fang Xiaole akhirnya menghentikan ayunan itu perlahan karena khawatir Lin Yao akan terluka setelah membiarkannya berayun beberapa kali. Lin Yao merasa belum puas, tetapi ia tetap patuh turun dari ayunan.
Keduanya duduk di paviliun, menengadah menatap langit bersama-sama. Di langit malam, taburan bintang yang berkilauan tampak begitu memukau dan menghanyutkan. Pemandangan ini persis seperti malam saat mereka pertama kali bertemu di atas atap.
"Kita melihat bintang bersama lagi, ya." Setelah terdiam sejenak, Lin Yao berucap pelan.
"Bintang malam ini bahkan lebih banyak daripada malam itu," gumam Fang Xiaole sambil tersenyum menatap langit malam.
"Malam ini dan malam itu, aku menyukai keduanya." Lin Yao menatap profil samping wajah pria itu, lalu diam-diam tersenyum kecil.
"Malam itu?" Mo Yan yang sedang mengintip dari luar gerbang halaman mengernyitkan dahi, lalu menoleh ke arah Fangfang. Fangfang buru-buru menggeleng, memberi isyarat bahwa ia pun tidak tahu.
Alis Mo Yan semakin bertaut. Ternyata mereka berdua memang sudah saling mengenal sejak lama. Malam yang mana yang mereka maksud, dan apa sebenarnya yang telah terjadi? Mungkinkah Lin Yao sudah...
"Dasar binatang!" Mo Yan menggigit bibirnya, menatap tajam ke arah Fang Xiaole dengan tatapan penuh kebencian, persis seperti seorang petani tua yang sedang mengawasi pencuri yang telah membawa kabur hasil panennya.
"Kak Yan, jangan khawatir. Besok aku akan pergi membeli alat tes kehamilan, biar Kak Yao memeriksa apakah dia sudah..." bisik Fangfang. Tiba-tiba ia merasa hawa di sekitarnya mendingin. Saat menoleh, ia mendapati Mo Yan sedang menatapnya dengan dingin. Fangfang pun segera membungkam mulutnya sendiri.
"Apakah ini tempat kalian akan merekam program itu?" Lin Yao bertanya kepada Fang Xiaole di dalam halaman.
"Betul. Kak Luo dan tim produksi akan segera datang untuk merenovasi kecil-kecilan pekarangan ini. Kak Hong, Guru He Tong, dan Xu Zhenzhen juga akan segera tiba." Fang Xiaole menjelaskan persiapan program baru tersebut, lalu bertanya kepada Lin Yao, "Mengapa kamu bisa sampai di Xishuangbanna?"
Lin Yao menceritakan tujuannya datang untuk membicarakan lagu tema film dengan Sutradara Chen. Terakhir, dengan nada sedikit kecewa, ia berkata, "Tapi sepertinya kali ini aku tidak bisa menyanyikan lagu tema untuk Sutradara Chen. Lagu yang kutulis sama sekali tidak cocok."
Hati Fang Xiaole tergerak, ia pun bertanya, "Bagaimana kalau kamu ceritakan plot filmnya padaku?"
"Boleh saja." Lin Yao tidak mengerti mengapa pria itu tiba-tiba ingin tahu jalan cerita film tersebut, namun karena Fang Xiaole bertanya, ia pun menceritakannya.
"Ini sebenarnya bukan kisah fantasi bela diri, melainkan lebih ke kisah cinta." Lin Yao bersandar di kursi, matanya sedikit menerawang, dan dengan bibir merah yang terbuka perlahan, ia bercerita dengan suara lembut:
"Dahulu kala, seorang perwira bernama Ming Sheng menyelamatkan seorang gadis bernama Xiao Ling saat membasmi bandit gurun. Xiao Ling sangat malang karena tidak memiliki keluarga, jadi Ming Sheng menampungnya. Namun sebenarnya, Xiao Ling adalah siluman rubah yang harus memakan jantung manusia agar tetap bisa berwujud manusia."
"Istri Ming Sheng bernama Yun Rong. Dia sangat mencintai suaminya dan rela melakukan apa saja demi Ming Sheng, sehingga ia memperlakukan Xiao Ling seperti adiknya sendiri. Tak lama kemudian, serangkaian pembunuhan terjadi di kota tempat Ming Sheng bertugas; para korban ditemukan dalam keadaan jantungnya dicungkil."
"Xiao Ling jatuh cinta pada Ming Sheng. Dia mencoba merayu Ming Sheng agar menceraikan Yun Rong dan menikahinya, namun Ming Sheng menolak dan berkata bahwa hanya ada satu Nyonya Ming, yaitu Yun Rong. Yun Rong tanpa sengaja menemukan rahasia Xiao Ling dan mencoba membongkarnya, tetapi Ming Sheng tidak memercayainya, bahkan menyuruh Yun Rong meminta maaf kepada Xiao Ling di depan umum. Saat melihat bagian ini, aku merasa sangat kesal..."
Lin Yao menatap Fang Xiaole, "Saat itu aku berpikir, mengapa Ming Sheng tidak bisa memercayai istrinya sendiri?"
Fang Xiaole balik menatapnya, "Menurutmu, apa yang seharusnya dilakukan Ming Sheng?"
Lin Yao mendongak, tatapan mereka bertemu, dan cahaya bulan yang putih terpantul indah di bola matanya yang jernih. "Jika aku menikah nanti, aku akan selalu memercayaimu... memercayainya, karena aku tahu dia pun pasti akan selalu memercayaiku."
Fang Xiaole menatap mata Lin Yao yang bening, sempat tertegun sejenak. Ia mengulurkan tangan, lalu... batuk kecil, ia mengusap wajahnya sendiri untuk menghindari tatapan Lin Yao. "Lalu, bagaimana kelanjutannya?"
"Lalu..." Lin Yao perlahan mengendurkan tubuhnya yang tegang, meski ada rasa kecewa yang tidak jelas di hatinya. Ia tersenyum tipis dan melanjutkan, "Suatu malam, Xiao Ling datang ke kamar Yun Rong membawa semangkuk air beracun iblis. Dia mengancam jika Yun Rong tidak pergi, dia akan membunuh semua orang, termasuk Ming Sheng."
"Yun Rong pun meminum air beracun itu. Wajahnya menjadi pucat seperti mayat, dan air mata merah darah mengalir dari matanya. Orang-orang mengira Yun Rong adalah siluman yang membunuh banyak orang, dan mereka hendak membunuhnya. Saat itulah Ming Sheng maju untuk melindungi Yun Rong. Namun, sebagai pelindung kota, dia memiliki tanggung jawab yang tak bisa dihindari. Demi memberikan keadilan bagi rakyat kota, dia membunuh Yun Rong... lalu melakukan bunuh diri karena cinta."
"Terakhir, Xiao Ling tidak sanggup melihat pria yang dicintainya mati di depan matanya. Dia memilih menggunakan inti iblisnya untuk menghidupkan kembali semua orang yang telah mati. Saat Ming Sheng dan Yun Rong yang telah hidup kembali berpelukan erat, seekor rubah kecil bersembunyi di sudut ruangan, memperhatikan mereka dengan tenang..."
Setelah cerita selesai, halaman itu mendadak sunyi. Lin Yao dan Fang Xiaole duduk berdampingan, menatap langit berbintang. Di pekarangan yang tenang itu, bahu mereka perlahan merapat dan bersentuhan.
"Ini akan menjadi film yang klasik," ujar Fang Xiaole sambil menoleh ke arah Lin Yao. "Dan hanya film seperti inilah yang layak disandingkan dengan lagumu."
"Laguku?" Lin Yao kebingungan.
Fang Xiaole tersenyum tipis, mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah foto, lalu memberikannya kepada Lin Yao.
"Melukis Hati?" Lin Yao menerimanya dan menyadari bahwa itu adalah notasi lagu dan lirik. Ia langsung terhanyut. Setelah membacanya beberapa kali, ia mencoba menyenandungkan beberapa baris awal, dan matanya perlahan mulai berbinar.
"Apakah ini lagu yang kamu tulis?" tanyanya kepada Fang Xiaole dengan penuh kejutan. Lagu berjudul "Melukis Hati" ini terasa begitu pas untuk film tersebut. Benar-benar sangat cocok!
"Eh, ini diajarkan oleh seorang komposer dari dunia lain saat aku bermimpi," canda Fang Xiaole sambil tertawa kecil.
"Menyebalkan." Lin Yao memukul lengannya pelan, lalu menatapnya lekat dengan kekaguman yang terpancar dari matanya. "Fang Xiaole, kamu benar-benar jenius."
"Cih, tinggal kurang satu kalimat 'nikahi aku saja'," gumam Fangfang yang sedang mengintip dari luar gerbang dengan penuh antusias.
"Tutup mulutmu." Suara peringatan yang sedingin es segera terdengar dari samping. Fangfang menciutkan lehernya dan tidak berani bicara lagi.
"Perhatikan bagian ini, pada baris terakhir dari bait kedua sebelum bagian reff, nada 'ah' di situ sangat tinggi." Di dalam paviliun, Fang Xiaole sedang menjelaskan bagian-bagian yang harus diperhatikan oleh Lin Yao, terutama bagian nada tinggi yang ia khawatirkan.
Mungkin ini hanyalah kebetulan, atau mungkin ada keterkaitan antara Bumi dan dunia ini. Namun bagaimanapun juga, karena Sutradara Chen telah membuat film dengan plot yang mirip dengan "Lukisan Kulit", maka lagu "Melukis Hati" ini sudah pasti adalah pelengkap yang paling sempurna.
Kuncinya sekarang adalah, apakah Lin Yao yang selama ini terbiasa menyanyikan lagu cinta yang lembut, mampu mencapai nada tinggi yang menantang tersebut.