Setelah memperoleh sistem kecerdasan medis, ia menjadi magang paling hebat di dunia, memulai mode dokter agung, dan akhirnya mencapai puncak kehidupan yang luar biasa.
Kota Qingjiang, Departemen Neurologi Rumah Sakit Antai.
Liu Muqiao mengenakan jas dokter putih ukuran L yang masih tampak agak pendek di tubuhnya, dan stetoskop 3M yang masih baru tergantung rapi di lehernya.
Tinggi badannya memang tidak terlalu menjulang, tapi wajahnya tampan, sehingga di antara barisan para dokter magang yang akan bergiliran bertugas, kehadirannya menyejukkan mata.
Hari ini adalah hari pertamanya magang. Sangat beruntung, kebetulan ada Profesor Hao dari Rumah Sakit Pendidikan Universitas Kedokteran yang datang untuk mengajar sekaligus melakukan visitasi—kesempatan belajar yang jarang terjadi.
Sebagai seorang profesor bergelar, Profesor Hao tentu membawa rombongan besar. Di belakangnya, selain dua mahasiswa S3 bimbingannya, seluruh dokter, peserta pelatihan, dan para dokter magang dari Departemen Neurologi Rumah Sakit Antai juga turut serta.
Total ada dua puluh delapan orang berkerumun di sekitar ranjang pasien.
Fokus visitasi kali ini adalah ruang perawatan intensif.
Di sana terdapat belasan pasien koma dengan kondisi berat, sebagian besar adalah penderita perdarahan otak dan infark otak luas.
Tentu ada juga pasien lain, seperti satu kasus sindrom Guillain-Barré berat dan satu kasus miastenia gravis berat, keduanya telah memakai alat bantu napas.
Ranjang nomor 11 baru tadi malam menerima pasien baru dengan perdarahan thalamus, kondisinya sangat kritis dan masuk dalam prioritas utama konsultasi hari ini.
“Perdarahan thalamus, volume 15 mililiter sudah tergolong parah. Saat ini, tindakan paling