Bab 124: Zhou Qiuling Membeli Buzzer untuk Menyerang Song Xi
Berita ini hanyalah salah satu dari sekian banyak berita serupa di internet, dan judul berita lainnya bahkan lebih bombastis.
#Bintang perempuan ajang pencarian bakat memanfaatkan ketenarannya untuk menindas rakyat jelata di jalanan#
#Setelah terkenal, perbuatan yang dilakukannya sungguh keterlaluan!#
#Merasa dirinya seorang bintang, dia seenaknya memukuli orang di jalanan, bahkan tak peduli meski korbannya memohon ampun#
Semua berita itu sepihak mencoreng nama Song Xi. Penjahat yang melakukan kekerasan justru diberitakan sebagai korban.
Komentar-komentar di bawahnya pun telah termakan propaganda media. Mereka murka setelah dikejutkan oleh apa yang disebut sebagai “fakta” tersebut.
“Gila, Song Xi ini benar-benar menjijikkan, ya? Sebelumnya aku hanya mengira dia ingin mendompleng Lu Hancheng agar bisa naik daun dan punya gaya hidup yang tak bermoral. Tak kusangka dia bahkan memukuli orang di jalan! Memangnya dia pikir dirinya siapa?”
“Belum benar-benar terkenal saja sudah bersikap sok penting. Memangnya ikut acara pencarian bakat itu hebat? Orang biasa dipukuli seperti itu—memangnya orang biasa bukan manusia?”
“Dia pantas disebut bintang? Dia cuma orang aneh yang mendompleng Lu Hancheng untuk mencari popularitas. Akhirnya wajah aslinya terlihat juga.”
“Perempuan ini benar-benar menjijikkan. Tolong industri hiburan memboikotnya!”
“Benar, kali ini dia harus diboikot. Orang macam apa dia ini? Sungguh merusak moral masyarakat!”
“Diboikot saja masih terlalu ringan. Bukankah memukuli orang itu melanggar hukum? Dia seharusnya dipenjara!”
Awalnya, yang membenci Song Xi hanyalah pasukan penggemar Lu Hancheng dan sebagian penggemar di industri hiburan. Namun, masalah ini telah menyentuh ranah moral. Kini, beberapa situs berita sosial pun mulai memberitakannya, sehingga para pengguna internet yang tidak berkecimpung di dunia hiburan ikut menaruh perhatian.
Bisa dikatakan, kali ini skandal Song Xi bahkan telah menyebar ke luar lingkup industri hiburan!
Su Qing berkata dengan cemas, “Sekarang bagaimana? Masalah ini sangat serius, dan kita sudah terlambat untuk membungkam beritanya.”
Bagaimanapun, seluruh internet sudah melihatnya. Jika berita itu dihapus secara paksa, hal tersebut hanya akan menimbulkan kecurigaan dan membuat orang-orang mengira Song Xi merasa bersalah.
Lu Hancheng tidak berkata apa-apa. Matanya yang tajam melirik ke arah Song Xi.
Gadis itu terus menelusuri berita, seolah sedang memikirkan sesuatu...
Sejujurnya, meskipun ada rekaman video, ini tetap saja hanya perkara perkelahian.
Setiap hari terjadi kasus pembunuhan di seluruh negeri, tetapi tak pernah ada yang diberitakan sebesar ini. Kalaupun dilaporkan, biasanya hanya disampaikan dalam beberapa kalimat singkat, dan jumlah komentar maupun tanggapannya tidak akan mencapai seratus. Dia hanya menendang pria itu beberapa kali, tetapi namanya malah dicemarkan sampai menjadi perhatian di luar lingkaran hiburan.
Bagaimanapun dipikirkan, jelas ada seseorang yang menggerakkan semuanya dari balik layar dan sengaja mendorong masalah ini menjadi berita utama.
Setelah berpikir sejenak, Song Xi menyadari bahwa satu-satunya orang yang mampu melakukan hal ini hanyalah Zhou Qiuling.
Cih. Terakhir kali di Perusahaan Song, dia gagal menghantam perempuan jalang itu sampai mati. Tak disangka, setelah kembali ke Perusahaan Zhou, perempuan itu langsung mulai membalas dendam. Rupanya dia memang sedang mencari gara-gara!
Melihat kedua orang itu tidak berbicara, Su Qing bertanya dengan gelisah, “Tuan, sekarang kita harus bagaimana? Tolong buat keputusan.”
Song Xi berkata, “Pria itu adalah seorang cabul. Aku memukulnya demi menyelamatkan gadis lain. Bukankah aku juga sudah menangkap si cabul itu? Asalkan dia diserahkan ke kantor polisi, setelah diinterogasi oleh petugas, kebenaran akan terungkap.”
Rencana Zhou Qiuling kali ini akan gagal, karena orang yang dipukul Song Xi memang orang jahat!
Namun, setelah mendengar perkataan itu, Su Qing melirik atasannya dengan perasaan bersalah.
Tiba-tiba Song Xi merasa ada yang tidak beres. Dia segera menoleh kepada Lu Hancheng. “Di mana si cabul yang kutangkap itu?”
Lu Hancheng mengatupkan bibirnya. Nada suaranya terdengar ragu-ragu. “Orang itu... sepertinya sudah tidak dapat diinterogasi lagi.”
“Kenapa?”