Jilid Pertama: Pelarian Bab Dua Puluh Tujuh: Perselisihan Asrama
Sekolah Menengah Atas Honghua, Kota Haicheng.
Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah. Banyak orang tua mengendarai mobil mewah mereka untuk mengantar anak-anaknya masuk ke lingkungan sekolah. Maybach, Bentley, Rolls-Royce, dan mobil-mobil edisi terbatas lainnya berderet rapi di tempat parkir sekolah yang sangat luas. Sekolah ini memang sekolah khusus kaum bangsawan; luas tempat parkirnya saja mencapai sepertiga dari total lahan sekolah. Tempat ini sekaligus menjadi ajang pamer dan saling unjuk gengsi bagi para orang tua dan siswa. Kekayaan seseorang bisa langsung terlihat dari kendaraannya. Tentu saja, ada juga yang lebih rendah hati, hanya mengendarai Audi atau BMW biasa. Mereka biasanya adalah anak-anak pejabat tinggi. Ada pula yang menggunakan Accord atau Passat, namun tidak ada yang berani meremehkan mereka karena tidak ada yang tahu status asli orang yang turun dari mobil tersebut.
Di sekolah ini, pihak yang selalu dipandang rendah dan ditindas adalah para siswa penerima beasiswa dari berbagai daerah yang berprestasi, berpakaian biasa, dan berangkat ke sekolah menggunakan transportasi umum. Karena tidak punya uang dan kekuasaan, mereka menjadi sasaran perundungan para siswa yang menyebut diri mereka kaum bangsawan. Zhang Lingyun adalah salah satunya.
Hari ini, Zhang Lingyun mengenakan celana jins berwarna terang, kaus putih, dengan rambut yang diikat ekor kuda tinggi, dan menarik koper masuk ke sekolah. Melihat pemandangan sekolah yang masih sama, hatinya berdesir. Ia menarik napas dalam-dalam menghirup udara kampus, lalu melangkah masuk dengan senyuman manis.
Saat tiba di depan pintu asrama, Zhang Lingyun merasa seolah sedang melangkah ke neraka. Ia tahu mulai hari ini ia harus kembali menerima ejekan dan hinaan dari teman sekamarnya. Bagi dirinya, ruangan sempit ini adalah tempat mimpi buruk. "Sudah bertahan dua tahun, tidak masalah jika harus bertahan satu tahun terakhir ini," gumamnya pelan sambil menghela napas, lalu membuka pintu.
Mendengar suara pintu terbuka, tiga gadis berparas cantik dengan kulit seputih salju menoleh ke arahnya. Mereka memang cantik dan memiliki tubuh proporsional, namun masih ada celah perbedaan jika dibandingkan dengan Zhang Lingyun. Itulah sebabnya mereka sering menindasnya. Semua pekerjaan kotor di asrama selalu dilimpahkan kepada Zhang Lingyun, memperlakukannya seperti pembantu dan tidak pernah menganggapnya sebagai teman sekamar.
"Oh, lihat siapa ini, si cantik Zhang yang miskin. Apa lagi barang rongsokan yang kau bawa dari rumah semester ini? Cukup untuk bertahan berapa hari?" Gadis yang mengejeknya bernama Zhao Xiting, yang keluarganya berbisnis furnitur. Ia memiliki karakter angkuh dan paling suka menindas Zhang Lingyun di asrama. Ia tidak pernah memedulikan perasaan Zhang Lingyun karena ia merasa sudah menemukan kepuasan diri dengan merendahkan Lingyun.
Zhang Lingyun tidak menjawab. Ia merapikan tempat tidurnya di sebelah kanan pintu dan memasukkan pakaian ke dalam nakas. Melihat Zhang Lingyun tidak mengacuhkan mereka, mereka merasa ada yang berbeda. Jika biasanya Zhang Lingyun akan membungkuk dan tersenyum ramah, kini ia justru mengabaikan mereka.
"Bicara padaku, Zhang Lingyun! Sayapmu sudah keras, ya? Atau apa kau sudah punya pacar anak orang kaya sampai tidak peduli lagi pada kami?" Zhou Yinuo, yang duduk di seberang Zhao Xiting, menatap dengan pandangan menghina. Ia sangat cantik, namun karakternya sombong dan suka memamerkan kekayaannya di media sosial.
"Dasar penerima beasiswa, entah cara kotor apa yang kau gunakan untuk menyuap kepala sekolah agar bisa masuk ke Honghua. Menurutku, kau hanyalah pelacur kecil, haha... Aakh!" Belum sempat Zhou Yinuo menyelesaikan tawanya, sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya. Zhao Xiting dan Pan Xianruo terperangah. Mereka tidak menyangka Zhang Lingyun yang biasanya penakut kini berani melawan.
"Kau cari mati ya, Zhang Lingyun!" teriak Zhao Xiting marah.
"Kau berani memukulku, pelacur kecil!" Zhou Yinuo hendak membalas, namun satu tamparan lagi mendarat di wajahnya. Ia menangis tersedu-sedu sambil memegangi pipinya yang memerah.
Saat itu, Pan Xianruo tidak berani berucap sepatah kata pun. Ia merasa takut melihat perubahan drastis Zhang Lingyun.
Zhang Lingyun memandang mereka bertiga dengan tatapan tajam dan dingin. "Dulu kalian menyuruh-nyuruhku, aku diam. Kalian memaki, aku diam. Kalian mengotori tempat tidurku, aku diam. Kalian menaruh air seni di sabun mandiku, aku pun diam... Tapi hari ini, Zhou Yinuo, kau menghinaku, dan kali ini aku tidak akan tinggal diam. Mulai hari ini, jangan harap bisa menindasku lagi. Pilihannya cuma dua: kalian pindah asrama, atau bersikaplah sopan. Jangan mentang-mentang punya sedikit uang dan koneksi, kalian bisa bertindak semena-mena. Ingat, aku bukan orang yang bisa diinjak-injak!"
Ucapan itu membuat mereka bertiga terkejut dan ketakutan. Nyali mereka menciut melihat Zhang Lingyun yang kini tampak seperti iblis. "Ingat, jangan coba-coba main licik. Siapa pun bisa membalas dendam. Kalian berani berbuat, aku berani menanggung akibatnya, dan kalian pun harus siap menanggung konsekuensinya."
Sebenarnya, semua ini adalah hasil latihan yang saya berikan kepada Zhang Lingyun. Karena dia sudah terlalu lama menderita, saya melatihnya bela diri, teknik pertahanan diri, dan memintanya untuk tidak takut. Saya berjanji akan melindunginya kapan pun ia butuh.
Tidak lama kemudian, Zhou Yinuo, Zhao Xiting, dan Pan Xianruo yang pengecut itu pun pergi meninggalkan asrama dengan perasaan kesal.
Menjelang siang, Zhang Lingyun sedang berbaring santai di tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Tiba-tiba, suara langkah kaki terburu-buru terdengar dari koridor dan berhenti tepat di depan pintu 501. "Brak!" Pintu didobrak terbuka.
Zhao Xiting, Zhou Yinuo, dan Pan Xianruo masuk bersama tiga orang pria dengan wajah garang. "Masih berani duduk tenang di kasur, ya?" ejek Zhou Yinuo. Ia menunjuk Zhang Lingyun dan berkata kepada pria di sampingnya, "Zheng Lei, dia ini pelacur kecilnya. Beri dia pelajaran sampai dia tidak bisa bangun dari tempat tidur selama sebulan!"
Zheng Lei adalah pria kaya yang misterius dan suka bergonta-ganti pacar. Ia sedang tergila-gila mengejar Zhou Yinuo. Mendengar permintaan itu, Zheng Lei merasa ini adalah kesempatan emas untuk memenangkan hati Zhou Yinuo.
Zheng Lei menatap Zhang Lingyun dengan senyum mesum. "Siapa yang memberimu nyali untuk memukul nona cantik kami? Apa kau mau menyerah dengan sukarela, atau kau mau kupaksa?"
Zhang Lingyun menatapnya dengan tenang dan menjawab dingin, "Terserah kau saja, lakukan apa yang kau suka."
Jawaban itu membuat mereka semua tertegun. Zhang Lingyun yang mereka kenal biasanya adalah gadis penakut yang tidak melawan saat disakiti. Kini, ia tampak begitu dingin dan menakutkan.
"Oh, kau cukup pengertian juga," ujar Zheng Lei sambil tertawa mesum. Ia hendak memanjat ke tempat tidur Zhang Lingyun, namun dengan gerakan cepat, Zhang Lingyun menendang wajahnya hingga hidungnya berdarah.
"Belum ada yang berani membuatku berdarah. Hari ini, aku akan membuatmu menyesal!" teriak Zheng Lei marah.
Zhang Lingyun melompat dari tempat tidur, mencengkeram kerah baju Zheng Lei, dan berbisik dingin, "Tempat tidurku hanya untuk satu orang. Kau—sama sekali—tidak layak, mengerti?"