Bab 55: Teknik Bertarung
Tak lama kemudian, sudah ada belasan sosok yang menerobos keluar dari patung batu. Mereka memiliki bentuk yang beragam; ada yang berupa prajurit berzirah, ada yang berbentuk burung purba dengan tubuh sekeras besi, dan ada pula binatang buas raksasa yang memancarkan aura mendominasi...
"Hidup... hidup kembali?" Li Yang terperanjat, sangat curiga kalau raungan barusan telah membangunkan makhluk-makhluk yang tertidur itu.
Namun setelah merasakan dengan seksama, ia akhirnya menghela napas lega karena tak merasakan adanya tanda-tanda kehidupan dari para makhluk itu. Jika benar-benar hidup, bahkan para tetua keluarga besar pun pasti akan ketakutan setengah mati. Makhluk yang berasal dari zaman Dewa Petir, bukankah itu sama saja dengan arwah gentayangan?
"Doong!"
Tiba-tiba, prajurit yang paling dekat dengan Li Yang melangkah ke depan. Tanah pun ikut bergetar.
"Boom!"
Prajurit itu langsung melayangkan pukulan lurus tanpa embel-embel apa pun, gerakan yang sangat sederhana. Namun Li Yang merasakan ruang di sekitarnya menyusut mendadak, tubuhnya tak bisa bergerak, sehingga ia hanya bisa nekat mengangkat tinju untuk menandingi.
"Bang!"
Tinju Li Yang dilapisi oleh energi murni, menyala seperti terbakar. Bahkan seorang kultivator tingkat Zhoutian bisa terluka jika terkena pukulan ini. Namun saat bersentuhan dengan kepalan lawannya, bahkan untuk melawan pun ia tak sempat, seperti anak kecil melawan orang dewasa, benar-benar tak sebanding!
Ya, benar-benar dilindas. Li Yang terpental seperti kelereng, langsung terbang jauh.
Ia jatuh belasan meter jauhnya, lengannya bergetar hebat, bahkan tak sanggup mengerahkan sedikit pun tenaga.
"Pukulan macam apa ini?" Ia terheran-heran.
Tanpa energi murni, tanpa teknik, hanya satu pukulan sederhana, namun dari segi aura dan kekuatan, jelas melampaui segala jurus yang dikuasai kultivator Zhoutian!
"Doong!"
Prajurit itu kembali melangkah maju, langkahnya panjang, sekali melangkah langsung belasan meter. Wajahnya datar, seperti mesin tanpa jiwa, seolah dikendalikan seseorang.
"Boom!"
Masih pukulan yang sama, sederhana dan brutal. Kali ini Li Yang merasakan lebih jelas, ia tidak berani menerima langsung, dengan cepat melesat ke udara.
Kini, setelah kunci energi murninya terlepas, kekuatan kultivasi tingkat Jindan pun kembali, kecepatannya meningkat berkali lipat. Sekejap saja ia sudah melesat sepuluh meter lebih. Tentu saja, kecepatannya masih kalah jauh dibanding kultivator tingkat Wanxiang—mereka memiliki sayap dan penguasaan jurus, kecepatannya setara burung buas terbang.
"Sial, kalau tak bisa melawan, masak aku tak bisa menghindar juga?" Li Yang mengejek dari udara.
Namun tepat saat itu, sebuah cahaya hitam melesat di depan matanya; ternyata burung buas itu menyerang. Ukurannya tak sebesar burung Garuda, bentang sayapnya hanya satu meter, bulu-bulunya hitam pekat dan keras seperti pedang baja yang tertancap di tubuhnya.
Tetapi kecepatannya sangat tinggi. Li Yang tak sempat menghindar, salah satu sayap itu sudah menyapu tubuhnya.
"Tring!"
Suara benturan logam tajam menggema, kedua lengan Li Yang diselimuti energi murni berunsur api, membentuk perisai yang menahan serangan itu. Namun kekuatan serangan itu tak bisa diredam, ia pun terjatuh ke tanah.
"Boom!"
Belum sempat menarik napas, prajurit itu kembali melayangkan tinju. Li Yang menyilangkan kedua lengan di dada untuk melindungi bagian vital, dan sekali lagi terpental oleh pukulan itu.
Anehnya, pukulan yang cukup untuk menghancurkan beberapa kultivator tingkat Wanxiang itu ternyata tak melukainya, membuat Li Yang terkejut.
"Apa sebenarnya maksudnya?"
Tentu saja tak akan ada jawaban. Wajah prajurit itu sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda hidup, ia bergerak seperti mesin, seolah Li Yang telah terkunci menjadi target. Langkahnya lebar dan cepat, pukulannya memang tak terlalu gesit, tapi sulit dihindari. Li Yang tak ingin melawan secara langsung, tapi setiap kali ia melesat ke udara akan disapu turun oleh burung buas, dan kadang baru saja menghindar, sudah ada binatang buas lain yang menerjang dan mencakar tubuhnya, membuatnya terpental. Ia pun terpaksa menerima setiap pukulan.
"Bang! Bang!..."
Tenaga prajurit berzirah itu sangat terukur, tak melukai Li Yang, tapi tiap kali dipukul, darahnya berdesir dan tulang-tulangnya serasa remuk.
"Apakah ini latihan bagiku?" pikir Li Yang. Mungkin semua rintangan yang dipasang Dewa Petir memang untuk melatih anak keturunannya, bukan membunuh.
"Boom! Boom!..."
Serangan terus mengganas, namun tetap saja berupa satu pukulan itu. Setelah menerima dua puluh pukulan, tiba-tiba Li Yang terpikir, mungkinkah Dewa Petir ingin menurunkan seni pukulan ini lewat prajurit itu?
"Aku harus mencoba!" Ia menggertakkan gigi, lalu melepas energi murni dari tinjunya.
"Doong!"
Prajurit itu menyerang seperti biasanya, satu langkah menghentak bumi, tanah bergetar dan tubuhnya melesat, tinjunya melayang dari pinggang.
Li Yang tak perlu belajar secara langsung. Dengan bantuan pikirannya, seluruh gerakan prajurit itu, mulai dari melangkah hingga memukul, terekam jelas dalam benaknya, seolah menonton film.
"Boom!"
Prajurit itu menuntaskan tenaga, satu pukulan mengayun, udara di sekelilingnya seolah tersedot habis dan menciptakan ruang hampa!
"Bummm..."
Li Yang mengangkat tinju, menahan serangan itu. Saat bersentuhan, ia merasakan tenaga dahsyat meledak dari kepalan lawan, seperti gelombang lautan yang bertumpuk-tumpuk.
"Bang!"
Ia kembali terpental, terbelalak kaget, "Apa sebenarnya seni pukulan ini?"
Barangkali sudah tak layak disebut seni pukulan semata. Dalam setiap pukulan prajurit itu terkandung banyak makna; kadang bergelora seperti ombak, kadang berat seperti gunung.
"Apakah ini yang disebut teknik tempur?" pikir Li Yang.
Pada zaman purba, para kultivator lebih menekankan pengembangan kekuatan fisik. Anak usia tiga tahun sudah mengangkat batu, anak lima tahun mengangkat kendi besar, memasuki usia sepuluh mereka berburu binatang buas bersama orang dewasa, dan dalam pertempuran-pertempuran itu mereka menempa teknik berkelahi. Teknik-teknik itu sederhana, langsung, namun sangat praktis. Dalam latihan yang tak terhitung jumlahnya, manusia pun memasukkan makna-makna alam seperti gunung, sungai, matahari, bulan ke dalam teknik, yang kemudian disebut teknik tempur.
Namun, makna-makna itu sungguh mendalam, tak bisa dijelaskan lewat kata-kata. Jadi, meski diajarkan langsung, tanpa bakat dan pemahaman, sangat sulit menguasai teknik tempur.
Karena itu, banyak orang akhirnya terhalang, tidak bisa maju dalam jalan kultivasi. Para leluhur purba pun mencari jalan keluar, dan muncullah teknik-teknik sihir yang lebih mudah dipelajari.
Li Yang merasa gembira. Ia sudah menguasai Kitab Membakar Langit, salah satu kitab terkuat di dunia, tapi selalu kekurangan teknik serangan yang kuat. Satu-satunya yang bisa diandalkan hanyalah seni jiwa peninggalan Raja Dewa Awan Chen. Jika bisa menguasai satu-dua teknik tempur, itu akan sangat menguntungkan.
Teknik pukulan yang ia bawa sendiri, seperti Delapan Penjuru, terlalu lemah. Selain itu, dengan kultivasi yang belum mencapai tingkat Zhoutian, ia pun belum mampu mempelajari teknik sihir, jadi teknik tempur adalah pilihan paling tepat!
"Boom!"
Prajurit berzirah kembali menyerang. Li Yang tak lagi menghindar, ia juga melangkah maju, tinju dilayangkan dari pinggang, menyalurkan tenaga hingga bertemu kepalan lawan.
"Bummm..."
Sekali lagi ia terpental, tapi ia tak menyerah, terus mengangkat tinju dan melawan.
"Bang! Bang!..."
Berkali-kali ia mencoba, namun selalu terpental, benar-benar seperti karung pasir. Setelah menerima puluhan pukulan, akhirnya ia tak tahan lagi.
"Dimana letak kesalahannya?" Meski bisa meniru gerakan prajurit itu dengan sangat presisi, ia sadar dirinya belum memahami inti teknik tempur ini.
Kali ini, ia tak buru-buru menyerang, melainkan mengamati dengan seksama.
"Doong!"
Prajurit itu melangkah, dan Li Yang memperhatikan tanah yang ikut bergetar.
"Swoosh!"
Prajurit itu melesat maju, dan menurut Li Yang, gerakannya lebih mirip melenting.
Li Yang mengernyit. Bukankah ini mirip dengan kekuatan tersembunyi yang pernah ia pelajari? Namun ia juga menyadari bedanya, kekuatan tersembunyi saja tak bisa menandingi teknik tempur, perbedaan terbesarnya adalah teknik tempur mengandung banyak makna.
Namun setidaknya kini ia mendapat petunjuk. Dengan cekatan, ia ikut menghentakkan kaki ke tanah, meniru gerakan prajurit itu.
"Bang!"
Ledakan terdengar, lalu sebuah sosok terpental ke belakang.
Li Yang berdiri sepuluh meter jauhnya, kesal, "Kenapa masih belum berhasil juga?"
Ia tak mau menyerah, kembali menerjang lawan.
"Bang! Bang!..."
Li Yang terus memusatkan pikiran, berusaha meniru setiap detail gerakan prajurit itu, namun tetap saja terpental.
Setelah seratus jurus, kedua lengannya nyaris mati rasa. Ia berpikir keras, dimanakah letak kekurangannya?
"Tunggu..." Tiba-tiba ia memperhatikan mata prajurit itu; sejak tadi matanya tak pernah bergerak, hanya menatap dirinya sebagai target.
"Aura!"
Ya, aura! Karena prajurit itu sebenarnya sudah mati, ia jadi tak memperhatikan. Namun setiap kali lawan memukul, Li Yang selalu merasakan tekanan luar biasa, bahkan ruang pun terasa terkunci.
"Bunuh!"
Li Yang berteriak lantang, menghentakkan kaki ke tanah, tubuhnya melengkung seperti busur, tinjunya di pinggang, seluruh gerakan sangat padu.
Saat itu juga, ia benar-benar menjadi busur, dan tinjunya jadi anak panah!
"Boom!"
Begitu mendekati lawan, akhirnya ia menyalurkan seluruh tenaga, satu pukulan dilepaskan!
"Bummm..."
Bagai dua meteor bertabrakan, udara di sekitar mereka menyusut, tersedot habis lalu meledak dahsyat menyebar ke segala arah.
"Tap, tap, tap!"
Li Yang menjejak tanah, mundur beberapa langkah sebelum dapat menstabilkan tubuh.
Prajurit berzirah tetap berdiri di tempat, "krek", terdengar suara retakan dari tubuhnya, lalu bagian dadanya pecah, retakan menjalar hingga ke paha.
"Prak prak prak!"
Bagaikan suara kedelai disangrai, tubuh prajurit itu hancur berkeping-keping, jatuh ke tanah, dan seketika berubah menjadi tumpukan batu hitam.
"Berhasil!" Seluruh lengan kanan Li Yang hampir tak bisa digerakkan, namun ia sangat bersemangat. Setelah berjuang begitu lama, akhirnya ia berhasil mempelajari teknik tempur ini.
"Doong!"
Namun saat itu juga, tanah kembali bergetar. Kini, prajurit berzirah lain yang berdiri puluhan meter jauhnya mulai bergerak.
Sekali melangkah menyeberang belasan meter, lalu satu langkah lagi, dan dalam sekejap sudah muncul tepat di hadapan Li Yang, bersama tinjunya yang melayang.
"Sialan! Masih ada lagi!"