46, Kutub Utara
“Baki...”
Rochas merenung sejenak.
Belakangan ini, ia telah banyak mencampuri takdir para anggota Hyrda, dan itu membuatnya mendapatkan banyak poin.
Dengan membunuh Alexander Pierce lebih awal dan membiarkan Sitwell mengambil alih Hydra, Rochas langsung menghapus alur cerita Captain America 2.
Meskipun ‘Proyek Pengintaian’ Hydra masih berjalan, namun proyek itu kini tak lagi bertujuan mengeliminasi orang-orang yang dianggap ancaman bagi Hydra. Sebaliknya, proyek itu telah Rochas jadikan sebagai mata-mata yang mengawasi seluruh planet.
Proyek Pengintaian generasi baru berubah menjadi sistem yang, berdasarkan jalur kehidupan setiap individu, menghitung potensi tindakan kejahatan sebelum terjadi, lalu mengeluarkan peringatan dini.
Dengan demikian, angka korban jiwa dan kerugian akibat kejahatan dapat sangat ditekan.
Hanya dengan memulai proyek baru ini, sistem sudah memberikan tugas berhadiah seratus ribu poin pada Rochas.
Artinya, setelah proyek pengintaian baru ini berhasil dijalankan, dan tiga kapal induk udara melayang di atas awan, Rochas akan memperoleh hadiah seratus ribu poin dari sistem.
Untuk saat ini, Rochas belum memutuskan bagaimana ia akan menangani masalah Baki, jadi ia memutuskan untuk mengambil langkah sementara, “Hapus sepuluh tahun terakhir ingatan Baki, lalu bekukan dia di salah satu markas.”
“Mengerti!” Sitwell langsung menjawab.
Rochas melanjutkan, “Beberapa waktu ke depan, aku akan pergi sebentar. Kau pimpin Hydra untuk terus bersembunyi, cari kesempatan untuk menjatuhkan Nick Fury dari jabatan Direktur S.H.I.E.L.D.”
“Menjatuhkan Nick Fury?”
Sitwell kembali tampak kesulitan, “Tuan Rochas, jika Nick Fury benar-benar membuat Anda terganggu, saya bisa mengatur seseorang untuk menyingkirkannya. Tapi untuk menjatuhkannya lewat proses hukum, ini sedikit sulit!”
“Nick Fury hanya tidak cocok memimpin, dia tidak pantas mati... Segera kau akan menemukan kesempatan untuk menjatuhkannya. Sebelum itu, aku ingin kau menyiapkan segalanya, dan ketika waktunya tiba, keluarkan dia dari permainan dalam sekejap,” kata Rochas.
“Percayakan saja pada saya, Tuan Rochas, saya akan menyiapkannya!”
Sitwell sangat penasaran dengan ‘kesempatan’ yang dimaksud Rochas, namun merasa Rochas tak ingin membicarakannya lebih lanjut. Ia pun menahan diri dan tidak bertanya lagi.
Setelah laporan selesai, Sitwell segera pergi.
S.H.I.E.L.D. dan Hydra, setelah serangkaian kekacauan akhir-akhir ini, masih menyisakan banyak urusan yang harus dibereskan.
Setelah Sitwell pergi, Rochas berdiri dari kursi presiden dan berkata pada Norman yang berdiri di sampingnya, “Norman, ikut aku.”
“Baik, Tuan.”
Norman menjawab patuh, mengikuti Rochas dengan penuh hormat.
Keduanya melewati ruang presiden dan memasuki sebuah laboratorium yang sangat luas di ruangan sebelah.
Biasanya, Rochas belajar dan meneliti di tempat ini.
Rochas berjalan ke sebuah lemari pendingin logam di sisi dinding, membuka pintunya, dan mengambil dua botol cairan berwarna biru muda.
“Tuan Rochas, ini apa...”
Norman langsung melihat ada nama dirinya dan nama putranya, Harry, tertulis pada dua botol itu.
Sekejap saja, Norman seolah mengerti, menatap Rochas dengan mata penuh harap dan kegembiraan.
Rochas mengangguk, “Sebelumnya aku sudah berjanji akan membantumu mengatasi penyakit genetik keluarga Osborn. Ini adalah serum gen yang aku kembangkan khusus berdasarkan sampel darahmu dan darah Harry.”
“Tuan Rochas, saya tak tahu bagaimana harus berterima kasih,” Norman tak kuasa menahan kegembiraannya.
“Norman, kau sudah membuktikan kesetiaan dan nilaimu. Ini memang hakmu.”
Rochas melambaikan tangan dengan santai, lalu melanjutkan, “Aku punya urusan, harus pergi selama sebulan. Untuk urusan Hydra, kau awasi dengan baik.”
Awalnya, Norman sangat terkejut saat tahu Sitwell dan yang lainnya adalah anggota Hydra yang namanya sangat buruk itu.
Sama seperti kebanyakan orang, ia kira Hydra sudah lama musnah setelah kematian (atau lebih tepatnya, hilangnya) Red Skull.
“Jadi, Anda masih belum mempercayai Sitwell?” Norman memang tidak punya kesan baik terhadap Hydra.
Bahkan bisa dibilang sangat membencinya, sama seperti tikus yang dibenci orang banyak.
“Sitwell itu penakut, dia takut mati, jadi dia tidak akan berkhianat padaku. Tapi dia tidak punya kemampuan untuk mengendalikan Hydra, apalagi organisasi itu punya banyak faksi, termasuk ekstremis yang tak takut mati. Lama kelamaan, Hydra pasti akan lepas kendali.”
Sejak awal, Rochas hanya berniat mengendalikan pemimpin Hydra agar organisasi itu bekerja untuk dirinya, bukan benar-benar menerima Hydra sebagai bagian dari kelompoknya.
Hydra punya banyak kejahatan dan sangat mudah menyusup ke mana-mana. S.H.I.E.L.D. adalah contoh terbaik; karena dulu S.H.I.E.L.D. menerima banyak ilmuwan Hydra, akhirnya organisasi itu pun bocor di mana-mana.
Rochas tentu tak akan mengulangi kesalahan semacam itu.
“Tuan Rochas, kalau Hydra memang punya potensi bahaya, kenapa tidak segera dimusnahkan saja?” tanya Norman.
Rochas menjelaskan, “Untuk saat ini, Hydra masih ada gunanya. Aku perlu tahu semua anggota dan lokasi markas rahasia mereka, baru setelah itu bisa menangkap semuanya sekaligus dan memastikan organisasi itu benar-benar lenyap dari dunia.”
Norman mengangguk hormat, “Saya mengerti, Tuan Rochas, Anda tak perlu khawatir. Saya akan mengawasi mereka.”
...
Sebulan kemudian.
Di sebuah gletser di Kutub Utara.
Sebuah kapal penangkap paus sipil mengarungi lautan yang dingin membeku.
Langit semakin gelap, angin kencang dingin berembus membawa serpihan salju, membuat kapal kecil itu terombang-ambing di atas laut, seakan kapan saja bisa terbalik.
“Nahkoda, badai salju sebentar lagi datang! Kita belum juga kembali?”
Di geladak, seorang pelaut yang menarik jaring kosong dari air mengeluh keras ke dalam ruang kemudi.
Bulan ini, kapal penangkap paus itu terus berlayar tanpa henti di lautan, para pelaut sudah berkali-kali mengeluh, di wilayah ini jangankan paus, makhluk hidup pun tak ada. Mereka benar-benar tak mengerti kenapa harus berlayar ke tempat seperti ini.
Nahkoda mendengar keluhan para pelaut, naik ke geladak, lantas melirik ke atap kapal dan menggeleng. “Selama si juragan besar kita belum bilang pulang, kalian jangan ribut.”
Semua pelaut pun ikut memandang ke atap kapal.
Di puncak kapal itu, berdiri seorang pemuda Tionghoa berusia dua puluhan.
Sebulan lalu, pemuda ini menghabiskan banyak uang menyewa kapal beserta nahkodanya, dengan syarat semuanya harus menuruti perintahnya.
Awalnya nahkoda menolak, tapi tawaran pemuda itu terlalu menggiurkan.
Satu bulan penuh membawa kapal dan kru, bayarannya setara kerja keras nahkoda selama beberapa tahun.
Selama sebulan, pemuda itu setiap hari mengarahkan kapal ke perairan berbeda, dan dari pagi hingga malam, ia selalu berdiri di atap kapal, menatap lautan tanpa henti.
“Jangan-jangan juragan kita ini punya cerita tragis, semacam Titanic.”
“Iya, orang normal mana bisa nahan berdiri seharian lihat laut, pasti otaknya ada yang nggak beres.”
“Siapa yang tahu? Nahkoda, sebentar lagi badai datang, mending cepat pulang saja.”
...
Para pelaut ribut membicarakan ini itu, cuaca semakin gelap. Meski memakai jaket bulu tebal, udara sedingin ini tetap membuat mereka menggigil.
Nahkoda menengadah menatap langit.
Awan tebal di kejauhan bergerak mendekat. Ia menghela napas, menunjuk jaring terakhir, “Angkat jaring terakhir ini, lalu aku akan bicara pada juragan, kita bersiap pulang.”
“Siap!”
Mendengar kata pulang, para pelaut langsung bersemangat, menarik kuat jaring terakhir.
Akan tetapi, kali ini jaring itu seolah menangkap sesuatu yang sangat besar; semua pelaut dan derek kapal sudah dikerahkan, tetap saja tak mampu mengangkatnya.
Bahkan kapal mulai miring perlahan.