Bab 91: Surat Emas
Tang Cheng mengenakan jubah panjang berwarna putih, tangan kanannya merapat membentuk telapak yang mengarah ke langit, sementara pedang ilahi muncul di sisi telapak tangannya, sejajar dengan lengannya.
Dalam sekejap, sejumlah pedang tajam yang terbentuk dari energi murni bermunculan di sekelilingnya.
Tang Cheng mengayunkan lengannya yang terangkat, dan seketika itu juga, semua pedang tajam meluncur dari udara, membabi buta seperti hujan peluru yang mengamuk.
Di dalam aula, orang-orang yang ada di sana seketika menjadi sasaran hidup; satu per satu pedang menusuk tubuh mereka. Meski Tang Cheng tidak berniat membunuh, tetap saja banyak yang terluka dan berdarah.
“Itu Tang Cheng! Apa yang ingin dia lakukan?”
Biasanya orang-orang segan pada aura tak terkalahkan milik Tang Cheng sehingga tak berani bicara banyak. Namun, kali ini warisan Dewa Petir sedang diperebutkan, mereka tak lagi peduli dan langsung melontarkan teguran.
Tang Cheng berdiri tegak sambil memegang pedang, wajah tampannya tanpa ekspresi. Ia berkata, “Aku sedang kesal!”
Sial! Orang-orang hanya bisa menggerutu dalam hati, ibarat mendapat pukulan telak tanpa alasan yang jelas. Mereka berharap penjelasan yang masuk akal, tapi jawaban seperti itu membuat semua hanya bisa terdiam.
Ibarat seorang konglomerat memerintahkan orang untuk memukuli seseorang, lalu melemparkan setumpuk uang sebagai kompensasi, apa yang bisa kau lakukan selain menerima?
Kekayaan bisa membuat seseorang semena-mena, begitu juga dengan kekuatan.
Pada akhirnya, Tang Cheng juga merasa waspada terhadap orang-orang ini. Ia tahu warisan Dewa Petir adalah Rahasia Empat Roh, namun mustahil baginya untuk menguasai sendiri. Sekte yang ia miliki belum cukup kuat untuk menentang dunia. Maka, ia pun melakukan tindakan licik ini untuk menghalangi siapa pun memahami Rahasia Empat Roh.
“Gila!”
Kata itu hanya bisa terpendam di dalam hati. Mereka yang tadinya baru saja memahami sedikit rahasia, kini harus memulai lagi dari awal. Sungguh membuat frustrasi.
Namun, di antara kerumunan itu, hanya satu orang yang tampak sama sekali tidak terpengaruh. Ia masih terus melatih jurus yang diperagakan oleh patung manusia.
Kening Tang Cheng mengernyit. Berdasarkan pemahamannya tentang Rahasia Empat Roh, orang itu hampir berhasil menguasai Rahasia Kura-Kura Hitam. Jika dibiarkan lebih lama, bukankah ia juga akan menyadari warisan ini adalah Rahasia Empat Roh?
Rahasia lengkap Empat Roh bahkan akan membuat sekte-sekte besar dari dunia atas memburunya dengan gila-gilaan. Jika ada satu orang lagi yang mengetahuinya, akan muncul lebih banyak masalah.
Tentu saja Tang Cheng tidak akan membiarkan itu terjadi, tapi ia tak langsung bertindak. Dengan perlindungan dinding warisan, serangan fisiknya nyaris tak bisa melukai lawannya.
“Rahasia Empat Roh!” Matanya tiba-tiba bersinar, lalu ia mulai mengaktifkan rahasia tersebut.
Jika menggunakan rahasia sekte lain, ia bisa menuntaskannya dalam sekejap. Namun Rahasia Empat Roh sangatlah misterius; bahkan seseorang sepandai dirinya baru bisa dikatakan mulai memahami permukaannya.
Setelah setengah menit, akhirnya ia selesai mengumpulkan energi. Kedua kakinya berubah menjadi cakar burung buas, sementara kedua lengannya menjadi sepasang sayap. Lembaran bulu emas yang tajam berkilau seperti pedang ilahi.
Dengan sekali kepakan, ruang sekitarnya bergetar. Ia lenyap seketika dari tempatnya, seolah benar-benar masuk ke dalam dimensi kehampaan.
Ketika muncul kembali, ia sudah berada di depan Li Yang, dan sayap emasnya menebas ke depan.
Li Yang tetap bergerak tanpa henti, tangan kanannya melepaskan energi, sekejap berubah menjadi setengah tubuh ular milik Kura-Kura Hitam, menyambut serangan sayap emas.
Sekilas, Rahasia Kura-Kura Hitam melawan Rahasia Burung Merah!
Benturan keras dan tajam terdengar, tanpa ada halangan berarti. Rahasia Kura-Kura Hitam dipaksa mundur, dan sayap emas itu menyapu tubuh Li Yang.
Li Yang terhempas seperti karung pasir, membentur dinding. Namun anehnya, dinding itu seperti terbuat dari air; saat tubuhnya menabrak, ia langsung larut dan menghilang tanpa jejak.
“Ke mana orang itu?”
Tang Cheng membatalkan rahasianya, menoleh ke segala arah, tapi benar-benar tidak menemukan keberadaannya.