Bab Empat Puluh Tujuh: Si Pembawa Pesan
Sekitar pukul empat dini hari, di salah satu ruangan gedung Serikat Shanglu, Wan Yue sedang tertidur di sofa dalam posisi miring. Pintu ruangan itu didorong terbuka, dua orang masuk ke dalam.
Mendengar suara pintu, Wan Yue perlahan membuka mata, dan ketika melihat kedua orang itu, ia langsung terbangun dengan kaget.
“Aku... kenapa aku bisa tertidur?” Wan Yue menepuk keningnya dengan kesal.
“Tak apa, kamu terlalu lelah,” kata Wang Luodong sambil tersenyum.
“Kamu memang harus beristirahat. Setelah pertarungan dengan Bos Gua Kuno, tubuhmu memang sudah terluka, lalu semalaman penuh sibuk mengurus urusan serikat, bahkan aku sebagai ketua pun tidak sekuat kamu,” ujar pria paruh baya di samping Wang Luodong. Usianya sekitar tiga puluhan, tubuhnya tinggi besar, mengenakan kemeja hitam yang rapi, berwajah tegas dengan potongan rambut pendek, tampak bersih dan sigap, suara berat, dan di wajahnya terpancar ketegasan.
Pria itu adalah ketua Serikat Shanglu, bermarga Tang, orangnya ramah, meski wajahnya selalu tampak serius, ia sangat mudah didekati, semua orang memanggilnya Pak Tua Tang.
“Ketua, kalian sudah selesai?” tanya Wan Yue sambil bangkit berdiri.
“Urusan internal serikat sudah hampir selesai. Untuk urusan di Jalan Tonggu, sudah diatur agar serikat-serikat bawah yang menangani. Tempat lain diserahkan ke pihak Maidong,” jawab sang ketua.
“Itu bagus. Di mana Xiaobai? Tadi dia masih di ruangan,” Wan Yue baru menyadari Xiaobai tidak ada di situ.
“Tadi aku baru saja mengantarnya pulang. Sudah larut masih bertahan di Serikat Shanglu, sudah aku tegur, eh malah ngambek sama aku,” Wang Luodong benar-benar tak bisa berbuat apa-apa jika sudah berurusan dengan Xiaobai.
“Luodong, jabatan ketua Serikat Shanglu ini cepat atau lambat pasti akan kamu warisi. Xiaobai itu anak perempuan ketua Serikat Maidong, kalau kamu bisa menarik dia ke Serikat Shanglu, itu luar biasa, mungkin nanti kamu bisa jadi satu-satunya ketua dari dua serikat besar itu,” Pak Tua Tang menepuk pundak Wang Luodong dengan nada menggoda.
“Ketua, jangan bercanda. Xiaobai masih kecil, belum mengerti apa-apa,” Wang Luodong tak menyangka ketua pun akan menggodanya soal itu.
“Sudah, kita bicara yang serius sekarang. Kali ini aku tidak berada di Teluk Guan, kemunculan Bos liar di alam bebas kalian tangani dengan sangat baik. Di sini aku ucapkan terima kasih secara lisan, kalian sudah bekerja keras.”
“Tapi aku punya kabar kurang baik. Langli Tanhua dan beberapa orang lainnya masih belum ditemukan. Kami hanya menemukan jejak yang diduga milik mereka di bagian timur Hutan Yewu. Namun setelah mengikuti jejak itu, jejaknya benar-benar hilang, tertutup kabut tebal.”
“Meigui dan orang-orang Maidong masih mencari di dalam hutan. Karena pertandingan sudah dekat, aku harus segera kembali untuk mengurus jalannya pertandingan. Waktunya tinggal sebulan lagi, dan sepertinya Langli Tanhua dan yang lain tidak akan sempat kembali untuk ikut pertandingan. Mereka tersesat di Hutan Yewu, bahkan mungkin mengalami bahaya.”
“Aku akan menambah orang untuk mencari mereka, tapi kemungkinan ditemukan dalam waktu dekat sangat kecil. Jadi kalian harus mulai mencari anggota baru untuk bertanding. Jangan hanya memilih dari dua serikat besar saja, siapa pun yang punya kemampuan di seluruh Teluk Guan masuk dalam pertimbangan,” ujar Pak Tua Tang dengan nada yang kini menjadi sangat serius.
Mendengar itu, Wang Luodong dan Wan Yue terdiam.
Saat ini, di antara para profesional tingkat D, Langli Tanhua adalah yang terkuat di Teluk Guan. Dalam pertandingan antara Teluk Guan dan kota-kota sekitarnya, ia selalu menjadi pilar utama tim. Ia adalah inti dari kelompok yang bertanding.
Namun dua bulan lalu, Serikat Shanglu dan Serikat Maidong secara bersamaan membentuk tim untuk menjelajahi sebuah rahasia di Hutan Yewu. Hal ini adalah rahasia besar kedua serikat, hanya para petinggi yang tahu. Dari Serikat Shanglu, Langli Tanhua termasuk dalam tim itu.
Awalnya, misi ini hanya eksplorasi percobaan. Siapa sangka akan timbul masalah. Awalnya jadwal penjelajahan hanya setengah bulan, setelah itu, apa pun hasilnya, tim harus kembali. Namun kini, dua bulan telah berlalu, tetap belum ada kabar dari Langli Tanhua dan kawan-kawan.
Segala alat komunikasi pun tidak bisa menghubungi mereka.
Sebulan lalu, Pak Tua Tang sendiri memimpin tim mencari mereka ke Hutan Yewu, tapi hasilnya nihil.
Kini sang ketua telah kembali dan memberitahu Wang Luodong dan Wan Yue bahwa kemungkinan besar Langli Tanhua tak bisa ikut bertanding. Wajah keduanya tampak muram. Pertama, mereka khawatir soal keselamatan Langli Tanhua, kedua, tanpa dia tim akan kehilangan penopang utama dalam pertandingan.
“Soal pencarian Langli Tanhua, kalian tak usah terlalu dipikirkan. Nanti aku akan menemui ketua Serikat Maidong, setelah membicarakan soal pertandingan, aku akan kembali ke Hutan Yewu. Untuk pertandingan kali ini, biar Serikat Maidong yang memimpin, kalian bantu dari samping, fokuslah cari orang yang tepat untuk ikut bertanding.”
“Jadi kita bagi tugas. Kalian urus pertandingan, aku sendiri yang cari Langli Tanhua. Kalau aku tidak di serikat, Luodong, semua urusan serikat kamu yang pegang penuh,” ujar Pak Tua Tang.
“Baik,” Wang Luodong mengangguk.
“Ketua, ada hal yang ingin saya bicarakan,” setelah hening sejenak, Wan Yue membuka suara.
“Katakan saja.”
Wan Yue lalu menceritakan pertemuannya dengan Ye Ming.
“Oh? Ada orang seperti itu? Jika yang dia katakan benar, maka Gulungan Guanling memang tak ada gunanya di tangan kita. Dia bilang mau membeli, apa dia menyebutkan harganya?” Pak Tua Tang jadi tertarik mendengar soal Ye Ming.
“Tidak,” Wan Yue menggeleng. Ye Ming hanya bilang ingin membeli, tapi tak menyebut harga.
“Dia ada bilang barang apa saja yang ada di Pasar Guanling? Butuh berapa koin emas untuk membeli?” Pak Tua Tang bertanya lagi.
“Itu juga tidak disebutkan,” jawab Wan Yue.
“Menarik, sepertinya dia tidak berniat membeli dengan uang, tapi ingin bertransaksi dengan kita. Kalau kita percaya padanya, Gulungan Guanling memang tak berarti apa-apa di tangan kita, sekalipun dia berani menawar, pasti harganya sangat rendah.”
“Dia tidak menyebut harga, jadi dia ingin kita sendiri yang mempertimbangkan transaksi macam apa yang akan dilakukan. Apa saja yang ada di Pasar Guanling, cuma dia yang tahu, dia bisa saja berbohong, kita sama sekali tak bisa menaksir harga gulungan itu.”
“Kalau kita pasang harga tinggi, dia pasti tidak mau beli. Kalau rendah, kita rugi. Cara terbaik, kita berikan saja padanya, lalu minta dia jadi perantara pembelian. Hanya dia yang bisa kembali ke masa lalu dengan alat waktu. Kita beri dia gulungan itu, minta dia buka Pasar Guanling, ambilkan beberapa foto, lalu tunjukkan apa saja barang yang ada di sana. Kalau ada yang kita inginkan dan tahu harga koinnya, kita tinggal kirim koin dan minta dia belikan.”
“Tapi aku baru dua kali bertemu dengannya, memberikan gulungan itu seutuhnya kepadanya, apa tidak terlalu...,” Wan Yue ragu. Ye Ming adalah orang yang sulit ditebak.
“Sepertinya memang itu satu-satunya cara, kecuali kita tidak ingin bertransaksi dengannya. Tapi kalau gulungan itu tetap di tangan kita, apa gunanya? Dia datang dengan itikad baik, rahasia alat waktu pun tak disembunyikan, tujuannya jelas, datang untuk memberi kita pilihan. Kalau tak kita tanggapi, jatuhnya kita yang tidak beretika.”
“Coba pikir, dia hanya tukang suruhan kita, bukankah lebih enak? Tapi orang seperti dia bisa dapat alat waktu, pasti bukan orang sembarangan. Orang seperti ini harus lebih sering kita dekati, siapa tahu suatu saat kita benar-benar butuh bantuannya,” analisis Pak Tua Tang.
“Tukang suruhan? Lumayan juga,” Wan Yue tersenyum tipis.
Di dunia ini, tak banyak orang yang bisa menyuruh-nyuruh Ye Ming. Selama setahun di Teluk Guan, dia belum pernah jadi tukang suruhan siapa pun, kecuali waktu mencari Nona Mai Mai, itu pun baru sekali.