Bab Sembilan Belas: Apa Pendapatmu
Ketika aku kembali membuka mata, aku mendapati diriku sudah terbaring di atas ranjang di dalam kamar, dan lewat jendela kulihat hari sudah gelap. Tampaknya sengatan tawon itu memang amat kuat, sampai-sampai membuatku tertidur begitu lama.
Aku mengangkat tangan untuk mengucek mata, namun tak lagi merasakan pembengkakan seperti sebelumnya. Kucoba menyentuh lengan dan kulitku yang lain yang terbuka, ternyata semuanya sudah sembuh.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bisa sembuh secepat ini?
Namun saat aku ingin bicara, tenggorokanku terasa sangat tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang menyumbat. Aku batuk-batuk lama, tapi tak kunjung membaik.
Anjing hitam yang selama ini selalu meringkuk di samping ranjangku, langsung menggaruk-garukku dengan cakarnya ketika melihat aku terbangun. Mungkin ia juga sangat ketakutan. Sejak aku lahir hingga sebesar ini, aku tak pernah sekalipun pingsan. Bahkan saat kejadian kecil di Gua Kematian waktu itu, ia tak sampai setakut ini.
Anjing hitam itu melihatku, lalu melirik ke arah gelas di atas meja, mendorongnya mendekat ke arahku dengan moncongnya.
Tubuhku sudah tidak terluka lagi, tentu saja aku merasa jauh lebih lega, hanya saja tenggorokanku masih terasa tak nyaman. Kuangkat gelas itu dan melihat ada buah Luo Han yang direndam di dalamnya. Tanpa ragu, kuteguk airnya sampai habis.
Benar saja, rasanya seperti meminum ramuan ajaib, setelah itu tenggorokanku tak lagi terlalu tidak nyaman, hanya terasa sedikit kaku karena terlalu lama tak bicara.
“Hit—, eh, hitam, ayah di mana?”
Belum sempat anjing hitam itu menjawab, ayah sudah masuk ke kamar sambil membawa sepiring buah.
“Aku perkirakan kau pasti akan terbangun sekarang. Hari ini kau tidak cocok makan nasi, jadi ayah potongkan buah Luo Han, makan bersama air ini, tenggorokanmu akan sembuh total.”
Tapi...
Buah Luo Han adalah salah satu obat tradisional yang paling tidak kusukai, juga termasuk buah yang tak kusuka. Rasanya terlalu manis, manisnya sampai membuat enek.
“Boleh tidak aku tidak makan buahnya? Aku minum air rendamannya saja, boleh?”
Aku masih ingin bernegosiasi, tidak ingin benar-benar memakan buah yang manis sekali itu.
Tiba-tiba terdengar suara dentuman keras saat piring porselen diletakkan di atas meja. Anjing hitam yang tadi meringkuk di tepi ranjang, langsung melompat ke sudut ranjang, menatap ayah dengan takut.
“Kau boleh saja tidak makan buah itu. Tapi jika nanti kejadian seperti ini terulang, apa yang akan kau lakukan?” Suara ayah terdengar datar dan tenang, seolah ia bukan bertanya soal kesehatan anaknya, melainkan bertanya tentang cuaca esok hari.
Tapi cara ini selalu ampuh untukku. Aku tidak dimarahi, tidak dipukul, tapi tetap saja aku merasa bersalah.
Aku tahu maksud ayah, tak ada ruang untuk tawar-menawar. Terpaksa aku memaksakan diri, menelan sepotong demi sepotong buah Luo Han itu seperti menelan racun, lalu memaksa diri meneguknya hingga habis.
Butuh waktu hampir dua jam untuk menghabiskan sepiring penuh buah Luo Han, dan selama itu ayah hanya duduk di kursi, mengawasi aku makan. Bahkan saat aku ingin diam-diam menyembunyikan beberapa potong untuk dibuang nanti, aku sama sekali tak sempat melakukannya.
“Apa pendapatmu tentang urusan Yang Shaoquan?”
Setelah aku menghabiskan semua buah Luo Han dan meneguk beberapa gelas air, ayah baru membuka suara.
“Menurutku, lain kali jika bertemu makhluk seperti itu, langsung saja bakar dengan api, tak perlu banyak bicara. Toh mereka juga bukan manusia betulan.” Aku teringat lagi pada apa yang dilakukan Yang Shaoquan padaku, membuatku kesal bukan main.
Ayah menatapku tajam, lalu menggeleng pelan.
“Bicara yang benar.”
Aku tahu maksud ayah, ia ingin aku menganalisis kembali kejadian itu, mencari kekurangan dan memperbaikinya.
“Ayah, sejak kecil aku sering bertemu hal semacam ini, hanya saja kali ini serangannya terlalu hebat, aku tidak sanggup menahan. Anjing hitam juga agak kewalahan, tidak bisa mengusir semuanya. Orang yang mengendalikannya jelas sangat hebat, mungkin kemampuannya setara dengan Ayah. Aku akan lebih berhati-hati ke depannya.”
Kupikir jawaban itu sudah cukup baik. Tapi ternyata ekspresi ayah tetap sama, tanpa sedikit pun senyuman.
“Lalu?”