Bab Dua Puluh Enam: Perempuan Penyelam Sungai
“Jangan sembarangan membuang barang, nanti seluruh Sungai Nai jadi penuh sampah,” aku menegurnya.
Namun ia hanya mengeluarkan suara geraman rendah dari tenggorokannya, mulut tetap tertutup, suaranya mirip binatang liar.
Mata merahnya menatapku tajam, penuh garis-garis darah.
Aku terkejut, bukan karena ia sangat menakutkan, melainkan karena sikap tiba-tibanya yang cukup mengejutkan.
Dibandingkan dengan sang dukun, orang-orang di desa ini tampak jauh lebih wajar.
“Terserah kau saja,” akhirnya aku memilih tak mencampuri urusan mereka dan terus memandu perjalanan.
Sebuah perahu kecil dan sebuah perahu besar terus mengapung di atas permukaan Sungai Nai.
“Anak muda, bawa kami ke cabang sungai di depan sana, ingin ku lihat-lihat,” tiba-tiba sang kakek angkat suara.
Tugasku hari ini memang membawa mereka berkeliling untuk mengenal lingkungan sekitar, jadi aku mengikuti permintaan itu tanpa banyak bicara.
Waktu berlalu dengan cepat. Setelah kami menghafal letak dan medan sekitar, kedua orang itu pun tampak mulai letih.
Belum sempat aku berbicara, mereka lebih dulu mengatakan ingin kembali ke penginapan untuk beristirahat.
Setelah makan malam dan bermain sebentar dengan Anjing Hitam, aku memperkirakan waktu dan bersiap-siap untuk keluar lagi.
Karena sebelumnya sudah berjanji pada Mao Xingwang untuk memastikan urusan pengambilan mayat berjalan sempurna, walau siang tadi sudah ke sana, malam ini aku tetap harus membawa kedua orang itu ke tempat yang sama.
Ketika aku tiba di waktu dan tempat yang telah disepakati, tak kulihat sosok kakek berpakaian serba hitam di sana, hanya dukun aneh itu saja.
Sungguh canggung. Cara berpakaiannya yang nyentrik membuatku tidak tahu berapa usianya, ataupun bagaimana seharusnya menyapanya.
“Eh, halo… Kakek itu belum datang?” tanyaku ragu.
Simpel saja, seharusnya tidak salah, kan?
Namun wanita dukun itu sama sekali tak menanggapi, hanya menunjuk ke perahuku tanpa bicara.
Melihat aku tidak bereaksi, ia menghentakkan kaki di tempat lalu melangkah ke tepi perahu kecil.
Andai aku masih tidak mengerti maksudnya, aku pasti benar-benar bodoh. Ia menyuruhku segera berangkat. Mungkin kakek itu tidak datang, jadi kami jalan sendiri tidak dianggap melanggar janji?
“Cepat berangkat!” serunya, sengit.
Dukun yang biasanya irit bicara itu kini tampak agak gelisah dan mendesakku dengan nada tak sabar.
Dari caranya berbicara, jelas ada sesuatu yang membuatnya sangat cemas.
Sudahlah, memang sejak awal aku dan kakek itu punya semacam “medan magnet” aneh yang saling berlawanan.
Kalau memang dia sendiri yang tidak datang, bukan salahku juga.
Setelah memutuskan demikian, hatiku jadi lebih tenang. Aku mengajak sang dukun naik dan mulailah perjalanan malam menjelajahi Sungai Nai.
Malam telah larut, udara sungai terasa dingin menusuk.
Sambil memandu, aku menceritakan berbagai kisah dan hal-hal yang harus diwaspadai di sekitar sini.
Ia hanya mengangguk pelan tanpa sepatah kata pun.
Aneh, padahal kami sudah bersama cukup lama, ia tak pernah mengucapkan kalimat panjang, dan sekarang pun tidak tampak segelisah tadi.
Dukun ini memang luar biasa aneh.
Aku menahan rasa tidak nyaman dan tetap menjalankan tugasku dengan profesional, membawanya ke anak sungai pertama di Sungai Nai.
Perahu kecil kami bergoyang pelan memasuki aliran cabang itu. Tiba-tiba ia berteriak dan berdiri.
Aku menoleh, melihat matanya menatap tajam ke satu arah, seolah melihat sesuatu yang menjijikkan. Padahal bukankah ini memang pekerjaannya?
Aku mengikuti arah tatapannya.
Jantungku berdegup keras. Karena...
“Byur... byur... byur...”
Seorang perempuan bergaun panjang basah kuyup tengah berjongkok di tepi sungai, mengaduk-aduk air menggunakan ranting. Rambut panjangnya menempel basah di pipi, benar-benar seperti baru saja merangkak keluar dari dalam air.
Setelah tersadar dari keterkejutan, aku memandangi sosok itu dari kejauhan, terasa agak familiar.
Belum sempat aku menenangkan diri, dukun itu mulai melompat-lompat di perahu, hampir saja membuatnya terbalik.
“Tenanglah, ayo kita dekati dan lihat,” ujarku padanya.
Setelah mendengar kata-kataku, ia agak mereda, tetapi tetap gelisah dan mondar-mandir di atas perahu.
“Mbak, sudah malam begini, sedang apa di sini?” aku berseru keras, karena perahu kami makin mendekat ke arah perempuan itu.
Wanita berambut panjang yang seluruh tubuhnya basah mendengar suara kami, lalu mengangkat wajah menatap ke arahku.
Namun rambutnya menutupi separuh wajah, aku tak bisa melihat dengan jelas siapa dia.
Terdengar suara tawa lirih dan serak...