Bab delapan: Adegan Menakutkan
Gua Kematian itu bagaikan makhluk jahat yang menganga lebar, menelan aliran air dengan rakus! Batu-batu runcing yang menjulang terbalik dari langit-langitnya menyerupai taring tajam makhluk itu, seolah ingin melumatkan apa pun yang masuk ke dalamnya!
Angin dingin yang menusuk langsung menerpa wajah, membuat seluruh tubuhku seketika sadar sepenuhnya.
Lambat laun, perahu kami makin masuk ke dalam, hingga tak secercah cahaya pun bisa dilihat, lalu ditahan oleh tali rami yang mengikat perahu, tak boleh terus melaju.
Di sini, yang bisa kulihat hanyalah kegelapan. Yang tercium, hanya angin dingin dan bau menyengat yang tak sedap.
“Kita sudah sampai?” tanya Wang Qianqian dengan suara penuh kekhawatiran.
“Ya,” jawabku sambil menyalakan obor.
Dari saku celanaku, kuambil sebilah pisau kecil dan kuberikan padanya. “Iris ujung jarimu,” lanjutku.
Walau tak tahu untuk apa, Wang Qianqian menurut tanpa bertanya.
“Peras darahmu ke sungai, lalu teteskan sedikit ke dalam mangkuk ini.” Aku mengulurkan sebuah mangkuk dan meletakkannya di hadapannya.
Tanpa ragu sedikit pun, seolah sedang menebus dosa, ia melangkah ke haluan perahu, menggores ujung jarinya, membiarkan darah segar menetes ke sungai. Setelah merasa cukup, ia kembali dan meneteskan darah ke dalam mangkuk.
Semua dilakukan dengan cekatan dan tanpa keraguan.
“Hitam,” panggilku.
Aku dan Hitam, anjingku, sudah sering melakukan pencarian mayat bersama. Langkah berikutnya sudah mendarah daging bagiku.
Hitam menjilati darah dalam mangkuk. Di kegelapan gua, matanya memancarkan cahaya aneh.
Byur!
Ia menggigit gulungan tali lain di atas perahu, lalu melompat ke dalam air.
Pada saat bersamaan, aku menyalakan lilin di atas perahu, untuk memberikan penanda posisi kepada Hitam yang menyelam ke dasar sungai.
Kini, yang bisa kulakukan hanyalah menunggu. Selain menunggu, aku tak bisa membantu Hitam sedikit pun.
Seperti yang selalu dikatakan ayah: keluarga Li berdiri karena anjing.
Angin dingin berhembus kencang dalam gua, membuat perahu bergoyang pelan. Kegelapan tanpa batas membuat aku dan Wang Qianqian harus berjuang melawan rasa takut.
Sekitar setengah jam berlalu.
Permukaan sungai tiba-tiba beriak. Hatiku langsung berbunga, aku menengok ke luar perahu.
Begitu aku menengok, wajahku seketika pucat pasi!
Sebuah kerangka tanpa daging dan pembuluh darah mengapung tepat di bawah perahu!
Tengkoraknya menghadap lurus ke arahku yang sedang membungkuk, mengintip ke permukaan air!
Pemandangan itu membuat napasku terhenti, jantungku berdegup kencang, nyaris saja aku pingsan di tempat!
Ketika aku mampu menguasai diri kembali, kulihat kerangka itu mengenakan kaus putih berlengan pendek, dan celana pendek denim. Aku pun memanggil Wang Qianqian untuk memastikan.
Begitu ia melihatnya, wajahnya seketika memucat, lalu matanya memerah, ia menarik napas dalam-dalam, dan tanpa ragu langsung mengangkat kerangka itu dengan kedua tangan!
“Kakak!”
“Tidaaaak!” Ia mendekap erat kerangka itu di tepi perahu, menangis meraung-raung.
Dalam situasi seperti ini, aku hanya bisa membujuknya dengan lembut, memintanya meletakkan kerangka itu.
Kerangka itu kini terbaring di atas perahu, namun aku menatap permukaan air dengan perasaan aneh.
Kenapa kerangka itu bisa mengapung tanpa tali pengikat?
Apakah Hitam yang mendorongnya ke atas?
Tapi Hitam belum juga muncul.
Rentetan pertanyaan membuatku terus memperhatikan kerangka itu.
Wang Qianqian masih berjaga di samping kerangka, sementara aku hanya bisa menghela napas panjang.
Bagaimanapun juga, kali ini kami selamat.
Aku bersandar di tepian perahu, menunggu Hitam muncul ke permukaan.
Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar suara gonggongan anjing dari belakang, disusul dengan jeritan Wang Qianqian!
“Guk! Guk! Guk!”
“Ah!”
Aku menoleh, jantungku seolah meloncat ke tenggorokan!
Itu sama sekali bukan kerangka sungguhan.
Itu jelas-jelas hanyalah boneka kertas yang dibuat menyerupai kerangka!
Kerangka itu bergerak liar seperti binatang buas, matanya yang kosong menatap lurus ke arahku.
Sekejap, aku merasakan gelombang kemarahan yang luar biasa!
Tanpa peringatan, kerangka itu menerjang ke arahku!