Bab Empat Puluh: Ternyata Akulah Sang Penerbit Sistem
Sebuah cahaya biru menyapu tubuh Li Qian, lalu memproyeksikan bayangan setinggi setengah manusia.
Li Qian menyesuaikan posisinya, memastikan proyeksi itu jatuh tepat di atas kuil.
“Hmm... masih kurang suasana,” pikirnya.
Ia mengambil segenggam kelopak bunga dari taman, lalu menebarkannya dari udara sehingga perlahan-lahan melayang turun.
Setelah semuanya siap, ia memerintahkan sistem untuk mengembalikan laju waktu menjadi satu banding satu.
“Wahai tiga penyihir agung, segala yang kalian lakukan telah diketahui oleh para dewa.”
Dentuman suara megah segera menggema di atas langit dunia para penyihir.
“Itu... suara utusan dewa, Tote!”
Modia menengadah dengan takjub, matanya basah oleh air mata.
Suara utusan dewa itu bagaikan samudra luas, menembus pegunungan dan dataran, melintasi lautan dan sungai, menggema ke seluruh kerajaan Argos.
Tiba-tiba, kelopak bunga raksasa nan indah mulai berjatuhan dari langit, membuat dunia terasa seolah tenggelam dalam lautan bunga.
Tubuh Cassandra bergetar hebat, ia berseru penuh haru, “Dewa! Dewa telah menurunkan hujan bunga untuk kita!”
Pada saat yang sama, sebuah bayangan raksasa yang menjulang dari bumi ke langit muncul di atas dunia para penyihir.
Sosok itu tinggi, berwibawa, megah, dan seluruh tubuhnya diselimuti cahaya suci yang tak terperikan.
Sekilas, di balik cahaya putih murni itu, tampak kilauan warna-warni, seolah seluruh warna di dunia ini berkumpul di tubuhnya.
“Itu... apakah itu wujud asli utusan dewa?”
Ketiganya melangkah ke alun-alun, menengadah takjub pada sosok yang menghubungkan langit dan bumi, hati mereka dipenuhi rasa haru yang mendalam.
“Sembah sujud kami pada utusan dewa.”
Setelah keterkejutan sesaat, Modia yang pertama sadar, lalu berlutut dengan hati penuh ketulusan.
“Dewa berkata, saat kalian tiba di akhir hayat, hujan bunga dan nyanyian dewa akan mengiringi langkah kalian. Aku datang untuk menunaikan janji para dewa.”
Alunan musik agung menggema, awan di langit pun perlahan menghilang.
Cahaya mentari yang cemerlang menari bersama musik, menyinari seluruh dunia.
“Sungguh suara merdu dari surga!”
“Ini musik yang hanya ada di dunia para dewa! Indah sekali!”
Seluruh dunia para penyihir larut dalam alunan musik itu.
Li Qian memandang proyektor dengan sedikit heran, “Ternyata masih menggunakan musik klasik, pantesan dulu harganya mahal.”
Setelah perang nuklir, banyak warisan budaya hilang. Segala sesuatu yang berasal dari dunia sebelum perang nuklir pun jadi sangat berharga.
Musik yang diputar adalah simfoni Dunia Baru karya Dvořák, lembut namun penuh semangat, seolah-olah menggambarkan dunia baru yang dirintis oleh tiga penyihir.
Setelah semuanya selesai, Li Qian mempercepat waktu seratus kali lipat, namun belum segera mematikan proyeksi.
“Kalian bertiga telah berjasa besar bagi dunia para penyihir, bukan hanya menciptakan ilmu sihir, tapi juga membawa terobosan baru bagi alkimia.”
Ia memandang patung-patung dalam kuil, Modia telah menuangkan segala pengetahuannya ke dalam patung Tote, menunggu orang yang tepat untuk membukanya.
Namun entah berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga saat itu tiba.
Di dunia para penyihir, semua orang menatap langit dengan mata berkaca-kaca.
Di tengah hujan bunga, wujud asli utusan dewa berdiri abadi, menatap bumi dengan tenang.
“Inilah pencapaian agung, bahkan utusan dewa di langit pun berhenti sejenak untuk menghormatinya.”
Meski berada di tempat berbeda, semuanya berlutut menghadap ke arah kuil.
“Ini adalah pujian dari utusan dewa untuk manusia!”
Dalam benak mereka, seolah-olah terbayang kembali saat Modia memimpin para ksatria menelusuri zona terlarang penuh bahaya.
“Bahaya dan kematian takkan menghalangi langkah kita untuk merintis dunia!”
“Dunia baru menanti untuk kita ciptakan!”
Di wilayah Argos, rakyat jelata, bangsawan, dan pedagang tertegun menatap bayangan utusan dewa, memandang tiga sosok kecil yang tampak begitu agung di bawahnya.
Para tetua berambut putih yang masih bertahan hidup, para penyihir yang mengasingkan diri di pegunungan demi menuntut kebenaran, semuanya berlutut pada tiga orang itu.
“Terima kasih kepada tiga penyihir agung atas segala yang telah kalian lakukan bagi kami, terima kasih atas anugerah utusan dewa...”
Di depan kuil.
Setelah bertahun-tahun tak pernah tersenyum, Modia kembali menampakkan senyum semekar bunga.
“Modia, kau seperti gadis enam belas tahun lagi,” canda Kaerke.
Ketiganya telah saling mengenal sejak kecil, sangat paham wajah masa kecil masing-masing.
Modia tetap tersenyum, menggeleng pelan, “Pada akhirnya, kita tak lagi berusia enam belas tahun. Sebesar apapun kekuatan kita, takkan mampu melawan usia.”
Cassandra tersenyum puas, “Sepanjang hidup ini, bersamamu dan diiringi utusan dewa, mendapat ucapan terima kasih dari seluruh dunia, itu sudah cukup.”
Ketiganya saling menggenggam tangan, membungkuk khidmat ke arah bayangan utusan dewa sebagai penghormatan terakhir dalam hidup mereka.
Kemudian, mereka rebah serempak, tidur untuk selamanya.
Di tengah nyanyian pujian yang meriah dan riang, hujan bunga perlahan turun, menutupi tubuh mereka bertiga.
Pemandangan itu sungguh indah tiada tara.
Akan diabadikan dalam batu, diwariskan sepanjang masa.
“Selamat jalan, para penyihir agung!”
Seluruh negeri dipenuhi tangis pilu di setiap sudut jalan dan gang.
Tiga legenda besar telah menghilang dari aliran sejarah.
“Jika kami pergi, pasti akan lahir penyihir yang lebih agung lagi, akan memimpin rakyat menuju masa depan yang lebih cerah, menciptakan dunia baru!”
Sebelum berpulang, Cassandra menggunakan seluruh kekuatannya untuk menyampaikan ramalan bagi semua orang.
Ramalan itu seharusnya penuh harapan dan membangkitkan semangat.
Namun, dalam catatan sejarah, ramalan itu justru menjadi pertanda awal Zaman Kegelapan.
Sebab, selama seratus tahun berikutnya, tak pernah lahir penyihir agung seperti yang dikatakan Cassandra. Sebaliknya, benua itu malah terjerumus dalam era kekacauan dan kegelapan yang belum pernah terjadi sebelumnya...
Barulah setelah ketiga penyihir benar-benar wafat, Li Qian mematikan proyeksi dan membereskan proyektor.
“Setelah tiga penyihir tiada, kedua belas leluhur penyihir akan menyegel kekuatannya dalam cincin dan segera punah. Pada tahap ini, manusia dunia penyihir akan mengalami masa kemunduran singkat. Tampaknya saatnya para pemain masuk ke sini.”
Tanpa tiga penyihir, tak seorang pun di Argos mampu menyaingi Barende.
Meskipun Lilith mengerahkan seluruh upayanya untuk menahan, invasi Barende ke Argos tinggal menunggu waktu.
Li Qian sangat paham ketangguhan manusia, namun sekuat apapun mereka, tetap butuh seorang pahlawan untuk memimpin.
“Para pahlawan lama telah jatuh, tersesat dalam kebingungan dan keputusasaan. Maka, diperlukan cahaya baru untuk menuntun umat manusia.”
Li Qian tiba-tiba teringat, jika para pemain masuk ke dunia penyihir, itu sama saja dengan mereka menyeberang ke dunia lain.
“Rasanya seperti cerita daring zaman dulu, tokoh utama menyeberang ke dunia para penyihir, menggunakan kelebihannya untuk meraih kejayaan tertinggi. Kalau begitu... aku ini sistem pemberi misi, ya?”
“Makin kupikirkan, makin menarik rasanya. Aku bersembunyi di balik layar, mengarahkan evolusi makhluk hidup, membentuk dunia-dunia baru. Siapa tahu, suatu saat nanti benar-benar tercipta tiga ribu dunia agung!”