Bab Empat Puluh Empat: Batu Giok Burung Phoenix dan Qilin yang Serupa
Di dalam tenda utama markas militer Donglin.
“Kita tahan pasukan, waspada sebelum bencana terjadi.” Yelü Qing yang berdiri di depan peta strategi militer, berbalik menghadap semua orang. “Nangong Mobai bukan orang licik, dia pasti tidak akan mengirim orang untuk menyerang kamp Donglin di malam hari. Namun, mengambil papan gencatan senjata lebih awal… sungguh mencurigakan.”
Sudah hampir satu jam sejak Negeri Nanzhi menurunkan papan gencatan senjata, tetapi Negeri Nanzhi belum juga melancarkan serangan. Hal ini membuat Yelü Qing dan para perwira di tenda utama tak berani menebak maksud Negeri Nanzhi secara gegabah.
Sejak perang antara Donglin dan Nanzhi berlangsung, Yelü Qing melihat dari cara Nangong Mobai memimpin pasukan Nanzhi bahwa ia adalah seorang yang jujur dan tidak sudi menggunakan cara-cara curang untuk memenangkan perang.
Gerak-gerik aneh Negeri Nanzhi kali ini membuat Yelü Qing tak bisa tidak menjadi jauh lebih waspada.
Zhang Yaozu sangat setuju dengan pendapat Yelü Qing. Dalam ketidakpastian seperti ini, menahan pasukan adalah langkah paling bijak. “Lebih baik hati-hati daripada menyesal kemudian.”
“Benar.” Meski Yelü Qing percaya pada integritas Nangong Mobai, bukan berarti ia akan menunggu sampai Negeri Nanzhi menyerang baru mengambil keputusan. “Tempatkan pasukan di beberapa titik yang barusan kusebutkan. Awasi tiap gerak-gerik pasukan Nanzhi, laporkan setiap saat.”
“Siap.” Li Kui, Sun Ji, Sun Chunshu, Zhang Yaozu, Liu Nanbei, Wu Bao, Li Wei, dan yang lain, yang telah hafal strategi militer di luar kepala, menerima perintah dengan kedua tangan mengepal di dada. “Kami siap menjalankan perintah.”
Di sisi lain, di depan tenda Yelü Qing.
Ji Liuli masuk ke dalam tenda Yelü Qing dengan membawa kain hitam bersulam dan liontin giok qilin berwarna hitam yang baru ia temukan, namun mendapati bahwa sang pasien tidak ada di dalam tenda.
Ia membalikkan badan, mengangkat tirai pintu, dan menatap tajam ke arah prajurit penjaga tenda sambil marah. “Kak Qing… Yelü Qing di mana?”
Bahkan panggilan ‘Kakak Qing’ saja enggan ia ucapkan. Ia benar-benar marah karena Yelü Qing yang sakit itu nekat keluar tanpa mempedulikan kesehatannya.
“Dokter Ji, Jenderal sedang berdiskusi di tenda utama,” jawab prajurit itu. Mendengar Ji Liuli memanggil nama sang jenderal begitu saja, ia semakin yakin akan rumor yang beredar di kalangan tentara tentang hubungan Ji Liuli dan Yelü Qing.
“Bodoh!” Ji Liuli memaki, tak menyadari ekspresi gugup dan mata prajurit yang terus melirik ke kanan.
Saat prajurit itu melihat Yelü Qing berjalan mendekati tenda, ia langsung mundur panik dan kembali ke posisinya semula.
“Ada apa ini? Siapa yang membuat Li’er kita marah?” Yelü Qing mengira penjaga pintu tidak membiarkan Ji Liuli masuk ke tenda, maka ia langsung melotot ke prajurit itu. “Kau, ya?”
“Kau benar-benar menyebalkan!” Ji Liuli langsung menarik kerah baju Yelü Qing, menendang tirai pintu dengan ujung kakinya, lalu menyeret Yelü Qing masuk ke dalam. “Masuk sekarang juga!”
“Jadi aku?” Yelü Qing pun sadar bahwa yang membuat Ji Liuli marah dan memakinya bukanlah prajurit itu, melainkan dirinya sendiri.
“Mengapa kau keluar?” Saat berjalan ke tengah tenda, Ji Liuli melepaskan tangannya dari kerah Yelü Qing, wajahnya benar-benar kesal. “Tahukah kau, lukamu sangat parah hingga butuh istirahat total selama tiga bulan?”
“Li’er, ini salahku. Aku mengaku salah, maafkan aku, ya?” Yelü Qing membujuk Ji Liuli dengan suara lembut. Ia tahu Ji Liuli sangat marah karena khawatir akan kesehatannya.
Namun, di tengah perang seperti ini, sedikit saja lengah bisa berujung pada kematian. Mana ada waktu baginya untuk beristirahat dengan tenang?
Melihat wajah Yelü Qing yang pucat pasi, semua amarah di dada Ji Liuli berubah menjadi rasa sayang dan kepedulian. “Kakak Qing, jaga dirimu baik-baik.”
“Baik.” Yelü Qing menjawab lembut, hatinya dipenuhi rasa manis. Benih bernama ‘cinta’ mulai tumbuh dan bersemi di hatinya.
“Oh ya, Kakak Qing, aku melihat dua orang mencurigakan mengubur sesuatu di hutan. Setelah mereka pergi, aku menggali barang itu.” Ji Liuli seperti anak kecil yang menemukan harta karun, mengeluarkan liontin giok dan kain hitam dari dekapannya lalu menyerahkannya pada Yelü Qing. “Coba lihat, Kakak Qing.”
“Liontin giok?” Yelü Qing menerima benda hitam itu dan mengamatinya. Setelah melihat dengan jelas bentuk liontin itu, ia tertegun lalu menatap Ji Liuli. “Li’er, bukankah menurutmu liontin ini pada beberapa detailnya mirip dengan liontin pencari keluargamu?”
Ji Liuli memiringkan kepala, mengamati liontin qilin hitam itu. Menurutnya, liontin qilin dan liontin burung hong miliknya sangat berbeda. “Yang satu qilin, yang satu burung hong… mana ada miripnya?”
“Aku bukan bicara tentang bentuknya. Lihat mata qilin itu.” Yelü Qing menunjuk mata qilin yang berwarna emas. Teknik memasukkan emas cair ke dalam giok seperti itu bukanlah kemampuan pemahat biasa.
Ji Liuli mengikuti arahan Yelü Qing, menatap mata qilin itu, tapi ia tidak melihat ada yang aneh. Mata itu justru berkilau dan hidup. “Apa yang aneh dengan matanya?”
“Mata qilin itu diberi emas, dan di tengahnya ada kaca merah. Kau lupa, di dada burung hong pada liontinmu juga ada emas dan kaca merah?” Yelü Qing dengan sederhana mengungkap rahasia di balik mata qilin itu kepada Ji Liuli.
Tak disangka, Ji Liuli yang begitu mahir dalam pengobatan, ternyata sangat awam dalam hal giok.
“Wah.” Ji Liuli baru tersadar, memang benar mata qilin itu agak mirip dengan bagian dada pada liontin burung hong miliknya.
Berdasarkan kemiripan pada kedua liontin, Yelü Qing membuat sebuah dugaan: jika benar demikian, pencarian orang tua kandung Ji Liuli akan makin mendekati titik terang. “Mungkin liontin qilin ini dan liontin burung hong milikmu dibuat oleh orang yang sama.”
Mendengar kata ‘mungkin’ dari Yelü Qing, pikiran Ji Liuli langsung terasa lebih jernih. “Berarti, kalau kita menemukan siapa pembuat liontin itu, kita bisa tahu milik siapa liontin yang ada padaku, dan aku bisa tahu asal-usulku?”
“Benar.” Yelü Qing mengangguk, namun saat ini mereka hanya punya liontin itu dan tidak tahu siapa pemilik aslinya. Mencari pembuat liontin seperti mencari jarum di tumpukan jerami. “Tapi, untuk mencari pembuatnya, kita harus punya petunjuk tentang pemilik liontin itu dulu.”
“Petunjuk?” Ji Liuli duduk lesu di tepi ranjang Yelü Qing. Mana ia tahu harus mencari petunjuk ke mana, di tanah asing seperti ini.
...
Petunjuk, petunjuk liontin itu, bukankah yang dimaksud adalah kain hitam yang membungkus liontin tadi?
“Aduh, aku ini pelupa sekali. Petunjuk, aku punya!” Ji Liuli langsung melompat kegirangan dari sisi ranjang, mengeluarkan kain hitam dari dekapannya dan melambai-lambaikannya. “Ini petunjuknya, ini petunjuknya!”
“Itu petunjuk apa?” Yelü Qing memandang Ji Liuli yang ceria dan melompat-lompat itu dengan bingung. Itu hanya selembar kain hitam, kotor dan dekil, petunjuk macam apa itu?
“Coba kau perhatikan baik-baik.” Ji Liuli melompat ke depan Yelü Qing dan menyodorkan kain itu ke telapak tangannya.
Dengan setengah percaya, Yelü Qing memegang kedua ujung kain itu dan membukanya. Matanya langsung tertarik pada sulaman emas yang mencolok di atas kain. “Mobai?”
“Kedua huruf itu adalah petunjuknya.” Ji Liuli tersenyum lebar. Dua huruf itu pasti merupakan petunjuk tentang pemilik liontin.
“Mobai… Mobai… Mobai…” Yelü Qing terus menggumamkan dua huruf yang tersulam di kain itu. Entah kenapa rasanya begitu familiar. Tunggu… bukankah itu nama orang itu? “Nangong Mobai!”