Bab Dua Belas: Percakapan Malam antara Liuli dan Mulan
“Tabib Kecil, obat ini sungguh luar biasa.” Tabib Li mendekat dan kembali memeriksa luka para prajurit yang sudah diamatinya puluhan kali, tak mampu menahan kekaguman pada pencipta ramuan tersebut. “Bisa meneliti ramuan sehebat ini, gurumu benar-benar luar biasa.”
Tabib Li baru saja mendengar dari Sun Ji dan yang lain tentang ramuan ajaib yang mempercepat penyembuhan luka para prajurit, namun Sun Ji tidak menyebutkan bahwa ramuan itu adalah hasil ciptaan Ji Liuli sendiri, sehingga Tabib Li tidak tahu siapa penelitinya.
“Ehem.” Ji Liuli berdeham, menegakkan badan dengan penuh rasa bangga. Menemukan ramuan itu adalah pencapaian terbesar dalam hidupnya sebagai tabib. “Ramuan penyembuh cepat ini adalah hasil penelitian saya.”
Mengira Ji Liuli hanya bercanda, Tabib Li tertawa hambar. “Hehe, Tabib Kecil, jangan bercanda. Itu tidak sopan pada gurumu yang telah tiada.”
“Aku tidak bercanda.” Ji Liuli menatap Tabib Li dengan pipi menggembung, kesal karena tidak dipercaya. “Satu liang angelica, enam qian akar manis, tiga qian peony putih, empat qian darah naga, tiga qian ginseng, tiga qian catechu, empat qian rumput ungu, dua qian cinnabar, satu qian kamper, satu qian borneol. Itulah semua bahan ramuan penyembuh cepat.”
Menghafal resep ramuan bukanlah hal sulit, apalagi resep ramuan ajaib. Tabib Li menunjuk Ji Liuli, seluruh lengannya gemetar karena marah. “Kau! Bagaimana bisa kau mengakui hasil jerih payah gurumu sebagai milikmu sendiri? Dan begitu saja membocorkan resepnya pada orang lain...”
Ji Liuli memutar bola matanya lalu berbalik memeriksa luka prajurit lain, enggan berdebat lebih jauh dengan Tabib Li yang berpikiran kaku. Jika dia sudah menganggapnya sebagai pencuri resep egois, apapun yang dikatakan Ji Liuli sia-sia saja.
Sun Ji, Fei Tao, Zhang Qijia, dan Wu Shangjin yang sedari tadi hanya mengamati dari samping, merasa tegang. Dalam waktu sekejap, diskusi antara Ji Liuli dan Tabib Li berubah menjadi perdebatan lalu saling diam, mereka pun tak tahu harus berkata apa untuk menengahi.
Hingga malam tiba, Tabib Li tidak mendekati Ji Liuli, begitu pula sebaliknya.
“Tabib Ji.” Zhen Mulan yang seharian tak terlihat, masuk ke tenda perawatan dan mendekat dengan suara lembut dan ceria, “Aku datang untuk mengantarmu ke tenda istirahat.”
“Baik.” Ji Liuli langsung menggandeng Zhen Mulan keluar, tak memedulikan siapapun di dalam tenda.
Tak sempat berkata apapun untuk menahan Ji Liuli, Fei Tao menyikut perut Sun Ji, matanya mengikuti bayangan Ji Liuli yang tertutup tirai pintu. “Tabib Kecil itu... marah pada kita ya?”
“Kau kira?” Sun Ji menjawab dengan kesal lalu membungkuk menatap Tabib Li. “Tabib Li, kenapa kau tak percaya pada Tabib Ji? Tak ada alasan baginya untuk berbohong padamu.”
“Bukan... bukan aku tak percaya,” Tabib Li mengaku salah dengan suara pelan. “Aku cuma... cemburu.”
“Cemburu?” Urat di leher Sun Ji menegang. “Apa yang kau cemburui dari Tabib Ji?”
Tua bangka ini kekanak-kanakan sekali, pikir Sun Ji. Meski pun iri karena kemampuan Tabib Ji yang luar biasa, sudah tua begini, masak masih begitu?
“Coba saja, anak sekecil itu, ilmunya tinggi aku maklum. Tapi sampai bisa meneliti ramuan penyembuh cepat sendiri...” Tabib Li menggerutu, “Kenapa sih, anak kecil begitu, tak bisakah bakatnya biasa-biasa saja, supaya orang tua seperti aku tak merasa kalah...”
Mengikuti Zhen Mulan ke tenda, Ji Liuli melihat-lihat sekeliling. Tenda itu jauh lebih kecil dari tenda Yelü Qing.
Di bagian terdalam terdapat dua ranjang kayu. Salah satunya masih baru, jelas untuknya.
“Tabib Ji, ini tempat tidurmu.” Zhen Mulan sambil tersenyum menggandeng lengan Ji Liuli menuju ranjang.
“Kau tak takut padaku lagi?” Ji Liuli teringat, siang tadi Zhen Mulan bicara kepadanya dengan hati-hati dan tak berani menatap mata. Kini sikapnya santai, seolah sudah berteman lama.
“Aku bukan takut padamu, hanya saja aku tak tahu cara bergaul dengan laki-laki,” jawab Zhen Mulan sambil menggaruk kepala malu-malu. “Sekarang kau juga perempuan seperti aku, tentu aku tak takut.”
Ji Liuli duduk di ranjang, lalu merebahkan diri, menarik selimut menutupi tubuhnya. Selimut itu harum kayu cendana, aroma yang sangat dikenalnya—aroma yang menemaninya semalam. “Ini selimut milik Yelü Qing?”
“Itu perintah jenderal, Li Kui yang membawanya ke sini. Ia bilang, selimut milik tentara pasti sudah dipakai banyak orang, baunya seperti laki-laki, tapi selimut jenderal bersih dan tak berbau.”
Ji Liuli tertawa terpingkal-pingkal dari balik selimut. “Jadi dia tak menganggap dirinya laki-laki? Hahaha... perutku sakit!”
Sikap Ji Liuli tampak polos dan menggemaskan, membuat siapa saja senang melihatnya.
“Shh, Tabib Ji, pelankan suara!” Zhen Mulan melirik gugup ke luar tenda, takut ada yang mendengar dan masuk ke dalam. “Jangan sampai terdengar orang luar.”
Ji Liuli menahan tawanya, tapi senyum cerahnya tetap tak hilang. “Siapa yang akan mendengar? Tak ada orang di luar. Masa Yelü Qing berdiri di luar menguping?”
Padahal, Yelü Qing memang sedang berdiri di luar tenda.
Saat sampai di luar tenda Ji Liuli, ia mendengar ucapan “Dia tak menganggap dirinya laki-laki?” dan hanya bisa tertawa geli. “Hanya kau, bocah kecil, yang berani menertawakanku di belakang.”
Ia semula ingin memastikan apakah Ji Liuli nyaman di tenda itu. Jika tidak, ia akan membawanya ke tenda jenderal. Tetapi rupanya, ia sudah sangat puas dengan pengaturan ini.
Yelü Qing menggeleng, lalu kembali ke tendanya sendiri dengan hati ringan.
Tanpa tahu Yelü Qing sempat datang, Ji Liuli dan Zhen Mulan berbaring santai sambil mengobrol.
“Mengapa kau menyamar sebagai laki-laki dan masuk ke barak?” Ji Liuli bertanya sambil membalikkan badan, menumpu dagu di atas tangan, memandang Zhen Mulan yang di ranjang seberang.
“Itu permintaan guru Wen Bo,” jawab Zhen Mulan meniru gaya Ji Liuli, lalu mulai menceritakan kisah hidupnya. “Saat aku berusia tujuh tahun, ayah dan ibuku dibunuh musuh yang menyerbu kota. Aku bersembunyi sendirian di kuil tua pinggir kota selama tiga hari dua malam. Sampai akhirnya pasukan jenderal mengusir musuh, dan kebetulan Wen Bo yang sedang mencari obat menemukan aku pingsan di balik patung Buddha.”