Bab Tujuh Puluh Tiga: Isi Gulungan Berisi Usulan Perdamaian
Mendengar kata-kata Yelü Qing yang sombong dan angkuh, Ji Liuli bukannya merasa jijik, justru hatinya sedikit tergerak. Namun, ia tetap tak dapat menahan rasa ingin tahunya dan bertanya pada Yelü Qing, “Tak bolehkah aku terluka karenamu?”
Ia mampu tidak terluka demi orang lain, tapi tak bisa menjamin tidak akan terluka demi Yelü Qing; baginya, Yelü Qing sudah seperti keluarga sendiri.
Jika dia tertimpa bahaya, ia takkan ragu menerjang maju untuk melindunginya dari bencana. Jika dia keracunan, ia akan menggunakan darahnya sendiri untuk menarik racun itu. Jika dia menghadapi kematian... ia akan memilih menyambut kedatangan malaikat maut bersama-sama dengannya.
Karena dia adalah saudara angkat Ji Liuli!
Mengingat hal itu, tekad Ji Liuli untuk rela mengorbankan hidupnya demi Yelü Qing semakin bulat.
Yelü Qing seolah mampu membaca isi hati Ji Liuli, lalu dengan nada mengancam, ia berbisik di telinga Ji Liuli sambil mengepalkan gigi, “Mulai sekarang, jika kau terluka karenaku, aku akan melukai diriku sendiri di tempat yang sama persis dengan luka di tubuhmu.”
“!!!” Ji Liuli tersentak kaget, buru-buru melepaskan diri dari pelukan Yelü Qing. Wajah cantiknya menampakkan ekspresi ngeri seolah melihat hantu. “Kau...”
Dia benar-benar diancam, tak ada keraguan sedikit pun.
“Li’er, yang manis.” Yelü Qing tahu Ji Liuli ketakutan karenanya, maka ia pun beralih menggunakan nada membujuk seperti menenangkan anak kecil agar Ji Liuli benar-benar menurut pada ucapannya. “Jangan sampai kau terluka ya.”
Tak mau kalah, Ji Liuli menatap Yelü Qing dengan bangga. Kalau begitu, jika dia yang terluka, ia juga bisa membalikkan perkataan Yelü Qing tadi. “Kalau begitu, kau juga tak boleh terluka karenaku. Jika kau terluka, aku akan melakukan hal yang sama, melukai diriku sendiri di tempat yang sama seperti lukamu.”
Kali ini, pasti dia akan merasa ucapannya sendiri terlalu berlebihan, bukan?
Lihat saja, berani tidak dia bicara sembarangan lagi nanti!
“Kalau kau berani begitu, aku akan menambah satu luka lagi di tubuhku.” Yelü Qing tersenyum tipis, melingkarkan satu tangan di leher Ji Liuli dan menariknya ke dalam pelukan, sedikit membungkuk, lalu dengan tangan yang lain menahan kepala kecil Ji Liuli, memaksanya menatap langsung ke matanya. “Bahkan di jalan menuju alam baka, aku ingin berjalan di depanmu.”
“!!!” Ji Liuli tercekat tak bisa berkata-kata oleh sikap Yelü Qing yang begitu mendominasi, hanya mampu menatap Yelü Qing dengan mata besarnya yang bening, melihat senyuman indah namun sangat berbahaya di wajah pria itu.
Bagaimana mungkin di dunia ini ada seseorang yang sebegitu kerasnya...
Wu Bao, yang mendengarkan percakapan mereka tanpa ketinggalan satu patah kata pun, akhirnya tak tahan lagi dengan kemesraan mereka, ia membungkuk dan mulai muntah. “Uwek... uwek...”
Untunglah puluhan ribu prajurit yang mengikutinya berada setengah li jauhnya, sedang duduk di tanah makan bekal. Hanya dia seorang yang mendengar percakapan mereka yang membuat mual itu.
Kalau tidak, entah berapa banyak saudara prajurit yang akan ikut muntah mendengar percakapan Yelü Qing dan Ji Liuli.
Tentu saja gejala mual berat yang dialami Wu Bao langsung menarik perhatian Yelü Qing dan Ji Liuli.
“Wu Bao, kau baik-baik saja?” Ji Liuli segera melepaskan diri dari Yelü Qing dan menghampiri Wu Bao, berniat menepuk punggungnya agar lega. Kenapa tiba-tiba mual-mual begini? “Apa kau salah makan sesuatu?”
“Tak apa... tak apa...” Wu Bao, saat Ji Liuli mendekatinya, langsung mundur beberapa langkah. Ia tak berani membiarkan Ji Liuli, yang ibarat dewa besar itu, menepuk punggungnya. Ia takut Jenderal akan cemburu. Namun, ucapan Ji Liuli soal salah makan membantunya mencari alasan. “Sepertinya tadi aku makan mantou basi, jadi begini... uwek...”
Begitu selesai bicara, Wu Bao benar-benar muntah, membuat tanah jadi berantakan.
Aroma asam dan busuk tercium hingga ke hidung Ji Liuli. Ia tak perlu memeriksa denyut nadi Wu Bao untuk tahu penyakitnya. “Bukan karena salah makan, kau masuk angin. Nanti aku akan buatkan beberapa ramuan obat, minum saja akan sembuh.”
“Iya...” Wu Bao diam-diam bersyukur kalau hanya masuk angin. Kalau sampai Ji Liuli bersikeras memeriksa nadinya, kebohongannya soal mantou basi pasti akan terbongkar.
Kalau Jenderal dan Tabib Ji tahu ia mual karena mendengar percakapan mereka, bisa-bisa ia akan mendapat masalah besar.
...
Rombongan sepuluh ribu orang itu, setelah beberapa hari menempuh perjalanan jauh, akhirnya kembali ke tanah yang mereka kenal, bertemu kembali dengan para sahabat yang seolah sudah tiga tahun tak bersua meski baru satu hari berpisah.
Berdiri di tanah di luar perkemahan pasukan Donglin, Ji Liuli tak sabar menarik tangan Yelü Qing dan mengajaknya menuju tenda utama. “Kakak Qing, ayo kita ke tendamu dulu, kita lihat bersama-sama apa isi gulungan yang dikirimkan Mo Bai lewat Gu Suiyuan.”
“Hati-hati, jangan sampai lukamu di pergelangan tangan terbuka lagi.” Yelü Qing khawatir melihat Ji Liuli yang menggenggam tangannya dengan tangan yang ada lukanya. Sudah tiga hari baru mulai mengering, sekarang malah dipakai menariknya berlari. Kalau sampai terbuka lagi, bagaimana?
“Oh iya...” Ji Liuli baru sadar ia memang menggunakan tangan yang terluka itu untuk menarik Yelü Qing, buru-buru ia mengganti dengan tangan satunya. “Tangan yang pernah terkilir ini sudah sembuh total, tak perlu khawatir. Ayo, cepat!”
Ji Liuli menggandeng Yelü Qing berlari menuju tenda utama. Begitu menurunkan tirai pintu, ia melepaskan tangan Yelü Qing, lalu mengeluarkan semua barang dari dalam dekapannya dan meletakkannya di meja bundar besar di dalam tenda. Setelah duduk di bangku, ia tak sabar mulai membuka gulungan itu.
Yelü Qing, sementara itu, menatap tajam benda hitam yang familiar yang ikut dikeluarkan Ji Liuli. “Bukankah kau sudah bertanya pada Nangong Mo Bai soal giok qilin? Kenapa benda jelek ini masih ada?”
Ji Liuli yang sedang sibuk membuka gulungan hanya melirik sekilas dan menjawab santai, “Oh, itu... Mo Bai memberikannya padaku.”
“Diberikan padamu?” Yelü Qing langsung melepaskan jimat pelindung yang tergantung di lehernya dan meletakkannya di depan Ji Liuli. “Sebagai kakakmu, inilah pemberianku untukmu!”
Ia bahkan belum pernah memberikan apa pun pada saudara angkatnya itu, kenapa Nangong Mo Bai bisa-bisanya menghadiahkan sebongkah giok yang tak ternilai harganya?
“...” Ji Liuli, yang belum selesai membuka gulungan, hanya bisa memandang Yelü Qing dengan pasrah. Ia marah hanya soal giok?
Dengan tenang, Ji Liuli mengambil jimat itu, mengikat kembali talinya yang terlepas, lalu menggantungkan di lehernya sendiri. Setelah itu, ia tak mempedulikan Yelü Qing lagi dan lanjut membuka gulungan. Tak disangka, kali ini gulungan itu terbuka. “Sudah kubuka! Mari kita lihat... ini naskah perjanjian damai! Dan ada sepucuk surat.”
“Perjanjian damai?” Nangong Mo Bai berjalan ke belakang Ji Liuli, membungkuk untuk melihat isi gulungan itu.
Naskah perjanjian damai:
Hari ini, aku, Nangong Mo Bai, mengajukan perjanjian damai abadi dengan Donglin. Negeri Nanzhi bersedia setiap tahun mempersembahkan lima ribu gulungan sutra, seratus ekor kuda pilihan, seribu jenis barang antik dan langka, serta lima ratus ribu tail emas kepada keluarga kerajaan Donglin. Perjanjian berlaku hingga negeri Nanzhi musnah, maka perjanjian ini pun batal — Pangeran Nanzhi, Nangong Mo Bai.