Jilid Pertama - Dunia Diterpa Angin dan Salju Bab Dua Puluh - Menghormati Li Muklin
Malam telah larut, Kota Angin Besar perlahan-lahan kehilangan keramaian yang biasanya memenuhi setiap sudutnya. Hanya di Jalan Embun Putih, bangunan Ikan Masih tetap bersinar terang.
Li Danqing berdiri di depan bangunan itu. Suara merdu dan gemuruh dari dalam sudah akrab di telinganya. Ia tersenyum tipis lalu melangkah masuk ke dalam Ikan Masih.
Di dalam, cahaya lampu berkilauan, perabotannya mewah, pita warna-warni melayang, aroma anggur menyeruak ke mana-mana, seolah-olah seseorang telah memasuki negeri para dewa di dunia fana. Para tamu memeluk wanita-wanita berpakaian terbuka sambil bersulang, berbicara dengan lantang, sementara di panggung utama, ada seorang wanita menari gemulai, tubuhnya lentur dan mempesona.
Tak diragukan lagi, Ikan Masih adalah sebuah rumah bordil.
Dan soal rumah bordil, Li Danqing sangatlah berpengalaman.
“Tuan muda tampaknya wajah baru, ini pertama kalinya datang ke Ikan Masih, bukan?”
Saat itu, seorang pria paruh baya berpenampilan pelayan datang mendekati Li Danqing dan berkata dengan senyum menjilat, “Tuan muda, silakan cari tempat duduk, saya akan segera memanggil dua gadis untuk Anda. Tenang saja, semuanya cantik-cantik dan terbaik.”
Baru saja selesai bicara, pelayan itu hendak berbalik pergi, namun Li Danqing meraih lengannya dan berkata, “Tak perlu, aku sudah punya gadis pujaan.”
“Hah?” Pelayan itu tertegun sejenak, lalu kembali tersenyum dan bertanya, “Tuan muda maksudnya siapa? Sebut saja namanya, saya akan carikan untuk Anda.”
Li Danqing menunduk menatapnya, tersenyum dan berkata, “Nona Qian.”
Mendengar nama itu, pelayan itu tampak terkejut, menatap Li Danqing sejenak, lalu menurunkan suara, “Tuan muda bercanda, di sini tak ada gadis bermarga Qian.”
Cengkeraman Li Danqing di lengan pelayan itu makin kuat, ia berkata, “Pikirkan lagi baik-baik.”
Peluh mulai membasahi dahi pelayan itu, wajahnya berubah suram, “Tuan muda, jangan mempersulit saya. Aturan di Ikan Masih, kalau mau bertemu Nona Qian harus ada yang mengenalkan. Meskipun Anda membunuh saya, saya tetap tak berani melanggar aturan!”
Mendengar itu, Li Danqing menyipitkan mata menatapnya beberapa saat, lalu melepaskan tangannya, berkata, “Kalau begitu, panggilkan orang yang bisa mengambil keputusan di sini.”
Pelayan itu tampak panik, mundur ke samping sembari memijat lengannya yang kesakitan, lalu dengan takut-takut melirik Li Danqing sebelum buru-buru pergi.
Li Danqing tidak mempermasalahkan, ia santai mengambil kendi arak di atas meja kayu, menggenggam buah-buahan, lalu dengan nikmat menonton tarian di panggung tinggi, wajahnya penuh kepuasan.
Tak sampai waktu secangkir teh, pelayan itu kembali, kali ini ditemani tiga pria kekar dan seorang wanita berpakaian ungu ala istana, lalu mendekati meja Li Danqing.
“Nona Yu Jin, inilah orangnya!” Pelayan itu, dengan keberanian yang berbeda dari sebelumnya, menunjuk Li Danqing dan berkata.
Li Danqing menoleh, menatap wanita berbaju ungu itu. Matanya berbinar, pandangannya tanpa malu-malu menyusuri tubuh wanita itu, seakan hendak melahapnya bulat-bulat.
Wanita berbaju ungu itu berwajah secantik bunga teratai, kulitnya seputih salju, alisnya indah seperti lukisan. Tubuhnya semampai, lekuknya menggoda, dipadu gaun sifon setengah terbuka, pesonanya muncul samar-samar, benar-benar memikat. Bahkan Li Danqing, yang dalam hidupnya sudah melihat banyak wanita cantik, tak bisa menemukan satu pun cela pada wanita ini.
Li Danqing menilai sang wanita, sang wanita pun tak kalah meneliti dirinya.
Tiba-tiba, wanita itu tersenyum menutup mulut, “Dari dulu Ikan Masih berdiri di Kota Angin Besar, belum pernah ada tamu yang berani membuat keributan di sini. Aku sempat penasaran, ternyata yang datang adalah Li Danqing, putra bangsawan dari Dinasti Wuyang.”
Memang, Li Danqing ini selalu berbeda. Ke mana pun ia pergi, selalu saja menimbulkan bahan perbincangan di antara masyarakat.
Misalnya, hari ini, kabar tentang Li Danqing yang disiram sisa makanan oleh Yu Wen Guan sudah tersebar di Kota Angin Besar. Kini, ketika Yu Jin dengan sengaja mengucapkan nama Li Danqing agak keras, para tamu di Ikan Masih pun menoleh ke arahnya.
Pemandangan kehancuran seseorang dari puncak adalah pesta yang paling digemari orang, apalagi jika yang jatuh itu adalah seorang penjahat terkenal, maka sisa rasa bersalah pun akan sirna. Tak ada hal yang lebih mengasyikkan daripada ini.
Orang-orang mulai menunjuk dan berbisik, ada yang tertawa, ada yang menggoda, bahkan tak sedikit yang terang-terangan menghina.
Namun Li Danqing sama sekali tidak merasa malu, ia tetap duduk dengan tenang menerima semua ejekan itu.
“Kalau kau sudah tahu siapa aku, tunjukkan jalannya,” kata Li Danqing sambil berdiri, menepuk-nepuk bajunya yang bersih dari debu, lalu menegakkan kepala.
Sikap tenang Li Danqing benar-benar di luar dugaan Yu Jin. Ia terpaksa menilai ulang sosok pemuda yang selama ini dikenal sebagai anak nakal itu, lalu bertanya, “Dari mana kau tahu tentang ini?”
Li Danqing membusungkan dada, berkata bangga, “Aku sudah melihat banyak hal di dunia ini. Koin yang tergantung di depan pintumu itu sudah jelas memberi tahu semuanya.”
Mendengar itu, dahi Yu Jin mengernyit. Pelayan tadi memang tak berbohong, Ikan Masih memang tak punya gadis bernama Qian. Tapi di bawah bangunan ini ada sebuah ruang rahasia—sebuah arena judi.
Dinasti Wuyang sebenarnya tidak melarang adanya rumah judi. Namun pajak yang dibebankan sangat tinggi, sehingga banyak bandar judi besar memilih beroperasi di bawah tanah untuk menghindari pajak. Nama Nona Qian pun menjadi kode di kalangan penjudi, dan rumah judi biasa menaruh koin di depan pintu sebagai penanda.
Yu Jin kembali menatap Li Danqing, berkata dengan suara dalam, “Statusmu terhormat, tempat kami ini kecil saja. Seratus tael sudah cukup untuk masuk. Aku khawatir taruhan kecil begini tak sepadan buatmu.”
“Seratus tael perak?” Wajah Li Danqing langsung berubah. Kesan angkuh yang tadi terpampang hilang seketika.
Melihat wajahnya yang kusut, para tamu mulai berbisik.
“Aku dengar hari ini perguruan bela diri Yong’an menagih utang pada Li Danqing, tapi dia tak mampu bayar sepeser pun, sampai-sampai disiram sisa makanan…”
“Benar! Aku juga dengar itu! Walaupun ayahnya, Jenderal Li Muklin, sudah tiada, masa keluarga Li sampai sengsara begini?”
“Kau tak tahu saja. Saat Li Muklin masih hidup, dia makan uang rakyat banyak sekali. Li Danqing sendiri terkenal pemalas dan tukang foya-foya. Kaisar pun akhirnya menyita semua harta keluarga Li.”
“Ah! Sudah begini kondisinya, dia masih saja tak mau berubah. Kelihatannya, keluarga Li akan tamat di tangannya. Lihat saja, seratus tael pun pasti tak mampu dia keluarkan. Nanti juga pasti pergi dengan malu. Sungguh mencoreng nama besar Jenderal Tiance…”
Satu per satu orang mengomentari, wajah Li Danqing pun memerah karena malu.
“Omong kosong! Mana mungkin aku tak bisa mengeluarkan seratus tael perak!” teriaknya lantang, wajahnya penuh emosi. Tapi justru sikap itu makin membuat para tamu yakin pada dugaan mereka, memandang Li Danqing dengan semakin sinis.
“Kalau begitu, silakan keluarkan seratus tael perakmu, supaya aku bisa menukarkan chip untukmu,” kata Yu Jin dengan wajah tenang, berbeda sekali dengan para tamu yang menertawakan.
Wajah Li Danqing semakin suram. Ia terbata-bata, tak juga mengeluarkan uang, hanya bergumam, “Aku… hari ini… pergi terlalu terburu-buru, lupa bawa uang. Catat saja dulu, lain kali aku bayar.”
Li Danqing berusaha mengelabui, namun Yu Jin menggeleng, berkata, “Kalau tak punya uang, lebih baik pulang. Ikan Masih tempat berbisnis, bukan tempat memberi sedekah pada pengemis.”
Kata-kata Yu Jin yang blak-blakan itu disambut tawa para tamu.
Li Danqing makin murka, berteriak, “Omong kosong! Omong kosong!”
“Aku putra Jenderal Tiance, Li Muklin! Mana mungkin aku tak punya uang!”
“Dulu, dalam semalam di Kota Wuyang, uang yang kubelanjakan bisa kupergunakan untuk membeli seluruh Kota Angin Besar ini…”
Semakin ia berusaha membuktikan diri dan makin meninggikan suara, tawa para tamu pun makin keras dan tak terkendali.
Yu Jin menatap Li Danqing yang kebingungan, matanya memancarkan sedikit belas kasihan, lalu berkata, “Antar keluar tamu ini.”
Tiga pria kekar langsung maju, hendak menyeret Li Danqing keluar dari Ikan Masih.
Li Danqing berusaha melawan, tapi jelas ia kalah kuat. Para tamu melihat putra bangsawan yang dulu bergelimang kemewahan kini dipermalukan seperti itu, pun semakin tertawa terbahak-bahak.
Entah karena tawa itu membakar harga dirinya, tiba-tiba Li Danqing melepaskan diri dari pegangan mereka, matanya merah, berteriak lantang.
“Aku punya uang! Tunggu! Aku punya uang!”
“Kebun Angin Besar! Aku gadaikan Kebun Angin Besar!”
…
Sementara itu, Sun Yu duduk santai di kedai minum, menikmati kacang tanah dan anggur.
Ia meraba-raba saku bajunya, merasakan berat kepingan perak di dalamnya, hatinya pun sangat gembira.
Li Muklin memang punya anak baik, suka menolong, menganggap uang tak lebih dari tanah, ratusan tael langsung diberikan tanpa pikir panjang.
Sun Yu mengangkat cangkir araknya ke arah malam di kejauhan, tersenyum, “Untuk Li Muklin!”
“Tahu berita belum?” Saat itu, seorang tamu masuk tergesa-gesa ke kedai, berteriak pada dua orang di sebelah Sun Yu.
“Kalian masih santai minum di sini? Ayo ke Ikan Masih, ada tontonan seru!” katanya.
Dua orang itu menatap heran, lalu bertanya, “Pak Xu, memang gadis-gadis di Ikan Masih cantik, tapi bukannya kita sepakat pergi besok? Malam sudah larut, gadis cantik pasti sudah di-booking semua, kita cuma dapat sisa, apa asyiknya?”
Orang yang baru datang itu makin cemas, menghentakkan kakinya, “Bukan mau lihat gadis! Kepala Kebun Angin Besar yang baru, anak Li Muklin itu! Barusan dia gadaikan seluruh Kebun Angin Besar untuk tukar seratus tael perak, sekarang sudah kalah lebih dari separuh. Jangan-jangan mulai besok Kebun Angin Besar bukan milik Yangshan lagi!”
Braak!
Mendengar itu, tangan Sun Yu yang sedang mengangkat cangkir bergetar, cangkirnya jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.
Sun Yu mendadak berdiri, bahkan tak sempat membayar minuman.
“Li Muklin! Bagaimana kau bisa punya anak sebodoh ini!”
Sambil mengumpat, ia pun lari terbirit-birit menuju Ikan Masih!