Ada bangsawan muda yang tiap malam larut dalam pesta dan mabuk, hidup dalam mimpi tanpa tujuan, sementara ada pula jenderal yang gugur di medan perang, tulang belulangnya menjadi saksi bisu di padang tandus. Gemuruh senjata dan derap kuda perang, serta keintiman di ranjang, pada akhirnya hanyalah bagian dari nestapa hidup manusia. Di istana maupun di dunia persilatan, tipu daya dan pengkhianatan saling bersaing, namun pada akhirnya semua akan terkubur dalam tanah. Para Buddha, naga, dan gajah suci, juga pion-pion kecil di papan catur kehidupan, semuanya pergi tanpa pernah kembali. ... Novel baru telah diunggah, semoga para pembaca bersedia mendukung!
Li Muklin telah tiada.
Pria yang selama dua puluh tujuh tahun penuh mengabdi pada Dinasti Wuyang, mempertaruhkan nyawanya dan menjaga perbatasan, kini telah meninggal dunia.
Pada hari pemakamannya, seluruh pejabat Wuyang berkumpul, sementara rakyat yang datang mengantarnya berbaris dari Jalan Shen'an hingga ke gerbang barat kota Wuyang. Kaisar Agung, Ji Qi, turut hadir secara langsung, membakar dupa dan memberikan penghormatan. Duka negara, tak kurang dari itu.
Semua rangkaian upacara telah dijalani, para pejabat, entah sungguh-sungguh atau hanya berpura-pura, telah menangis hingga suara mereka serak dan bibir mereka kering. Namun, iring-iringan jenazah tak juga bergerak.
Duduk di atas tandu emasnya, Ji Qi mengernyitkan dahi, jelas mulai kehilangan kesabaran. Di sampingnya, seorang kasim tua bernama Lin Bai yang telah lama mengabdi padanya, segera menangkap ketidaksenangan sang kaisar dan buru-buru memerintahkan orang untuk mencari sosok yang mereka tunggu.
...
Li Danqing ditemukan dalam keadaan mabuk berat di kamar Nona Yuyan di Gedung Seribu Bunga. Orang-orang dari Biro Cermin membawa tubuhnya ke hadapan Ji Qi; putra tunggal Li Muklin ini menguarkan bau alkohol yang menyengat.
Dari atas tandu, Ji Qi menunduk menatap Li Danqing yang matanya sayu oleh mabuk, tatapan yang membuat seluruh pejabat yang mengelilingi tempat itu menahan napas dalam ketakutan.
“Kau tahu hari ini hari apa?” tanya Ji Qi dengan suara berat.
Li Danqing mengangkat kepala dengan pandangan kosong ke arah Ji Qi, tampaknya ia tak mengenali siapa