Bab Kesembilan Puluh Tiga: Bersiap untuk Kembali
Setelah selesai membicarakan urusan bisnis dengan An-An dan membeli sebuah peta harta karun, Ye Ming mengikuti An-An meninggalkan toko dan melanjutkan berkeliling di tempat lain. Sepanjang sore itu, An-An membeli banyak barang. Ia bilang, semua itu adalah persiapan untuk pergi ke tempat berikutnya, karena barang-barang yang dibeli di sini dapat dijual dengan harga lebih tinggi di tujuan selanjutnya.
Sementara itu, Ye Ming tidak membeli apa pun selain peta harta karun itu. Pertama, karena uangnya memang sudah menipis; di sakunya hanya tersisa kurang dari seribu koin emas. Kedua, ia memang tidak sedang membutuhkan apa pun untuk saat ini. Dari pasar Roh Bandel saja ia sudah memperoleh banyak bahan; sebelumnya ia pun sudah menyimpan beberapa bahan, dan bahan-bahan ketika mengalahkan bos Roh Bandel Kuno juga belum sempat ia gunakan.
Jika nanti saat akan membuat perlengkapan masih ada bahan yang kurang, ia bisa membelinya saat itu juga; sedangkan untuk barang jadi, Ye Ming merasa belum membutuhkannya.
Bagian bawah dan sebagian tengah pasar berbentuk bola di Lembah Jurang adalah area perdagangan barang. Sedangkan bagian atasnya merupakan area para pengrajin—tempat untuk membuat perlengkapan atau memesan berbagai alat. Selain itu, di bagian atas pasar juga terdapat banyak fasilitas hiburan, seperti kedai minuman, kasino, dan penginapan.
Setelah membeli cukup banyak barang, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. An-An dan Ye Ming makan malam di sebuah penginapan, lalu masing-masing kembali ke kamar untuk beristirahat.
Penginapan yang dibangun di dalam tebing ini memang unik; hampir semua yang ada di kamar terbuat dari batu, bahkan pintu kamarnya pun berupa pintu batu.
Kamar yang dipilih Ye Ming menghadap permukaan tebing. Ketika membuka jendela dan menyembulkan kepala ke luar, ia bisa melihat tebing di seberang, jalanan di bawah, dan di luar jendela, terbentang sebuah jembatan.
“Tempat ini sungguh menakjubkan,” gumam Ye Ming sambil duduk di ambang jendela, memandangi deretan rumah batu di tebing seberang yang mulai memancarkan cahaya pendar. Dinding batu di seberang, kala malam, tampak seperti langit bertabur bintang. Meski kedua sisi tebing tak disinari cahaya rembulan, pancaran pendar dari batu-batu itu seolah menggantikannya, menciptakan suasana tersendiri yang indah.
Besok, ia berencana mencari tahu tentang keterampilan pengrajin. Namun malam ini, ia memutuskan tidak bermalam di Lembah Jurang. Dengan memanggil bayangan Jiwa Pedangnya, Ye Ming kembali ke kamarnya di Kota Pengait Besi.
Dalam laga kenaikan tingkat kota kali ini, usai mengalahkan Kota Pengait Besi, seperti sudah diduga, Teluk Roh Bandel kembali menaklukkan Kota Hujan Maple dan berhasil meraih tiket promosi.
Di layar dalam ruang pertandingan, tayangan ulang laga tim hari ini masih terus diputar. Setelah menuntaskan pertandingan antara Teluk Roh Bandel dan Kota Hujan Maple, Ye Ming pun meninggalkan ruangan.
“Aku tadi ketuk pintu kamarmu, nggak ada jawaban. Kukira kau sudah keluar,” tegur Wang Luodong yang kebetulan berpapasan dengannya di pintu.
“Bukannya selama pertandingan kita tidak boleh keluar? Tadi malam aku begadang, jadi tidur terlalu larut. Mungkin makanya nggak dengar kau mengetuk pintu,” dalih Ye Ming seadanya.
“Soal pertandingan, kau pasti sudah lihat di layar kamar, kan? Kita menang,” ujar Wang Luodong dengan nada tenang. Kemenangan itu memang sempat membuatnya sangat bersemangat, tapi kini ia sudah kembali tenang.
“Sudah aku tonton. Wan Yue dan Si Tangan Baja tampil sangat baik di laga tim, dan tiga anggota lain juga bekerja sama dengan sangat apik,” puji Ye Ming.
“Semua pemain yang turun kali ini bermain di level tinggi. Pokoknya, Teluk Roh Bandel bisa lolos promosi, satu beban besar di pundakku rasanya sudah terangkat. Kalian semua sudah bekerja keras. Besok pagi jam sepuluh kita pulang, jangan begadang malam ini, jangan sampai besok aku ketuk pintumu dan kau masih tidur,” tutur Wang Luodong, menatap Ye Ming dengan makna tersembunyi.
“Baik,” jawab Ye Ming tanpa banyak ekspresi.
“Temanmu tadi, setengah jam lalu, mencari kamu. Sudah aku tempatkan di ruang tamu gedung pertandingan. Mungkin masih di sana, coba cek, jangan sampai mereka terlalu lama menunggu,” kata Wang Luodong lagi.
“Terima kasih,” sahut Ye Ming.
Mereka yang dimaksud Wang Luodong seharusnya adalah Mai Mai dan ketiga temannya. Mereka sengaja datang sehari lebih awal ke Kota Pengait Besi untuk menonton pertandingan Ye Ming.
Ye Ming turun ke ruang tamu. Begitu membuka pintu dan masuk, suara penuh semangat langsung menyambutnya.
“Kakak Dewa, akhirnya kau datang! Kita menang! Kemenangan kali ini benar-benar indah. Saat kau melawan Bu Dai Miao Miao, aku benar-benar terkesima! Sampai suaraku serak, kebanyakan teriak karena saking semangatnya,” seru Langit Pinggir Awan sambil berdiri dari kursinya.
“Kakak Dewa, kau memang hebat! Aku belikan camilan malam, ayo makan bersama, coba ini,” kata Nona Mai Mai sambil menyodorkan sebatang sayap ayam panggang yang harum ke Ye Ming.
“Kak, kenapa kau tidak ikut laga tim? Dua kali duel, aku masih belum puas menontonmu,” ujar Penonton Pinggir Awan.
“Kalian ini, sudah, jangan terlalu heboh. Hampir saja baku hantam dengan penonton dari Kota Pengait Besi. Orang itu cuma bilang dua kalimat doang, kalian terlalu emosional,” tegur Cahaya Senja Pinggir Awan.
“Terima kasih sudah datang. Yuk, makan camilannya. Kebetulan aku juga lapar,” jawab Ye Ming sambil duduk.
“Kakak Dewa, para pemain tim kalian kapan kembali ke Teluk Roh Bandel? Kalau sudah pulang, aku mau adakan pesta makan malam untukmu, biar makin meriah,” tanya Langit Pinggir Awan.
“Para pemain akan pulang besok pagi jam sepuluh, tapi mungkin aku agak telat, ada urusan khusus yang harus kuselesaikan. Kalau kalian sendiri, kapan berangkat?” Ye Ming balik bertanya.
“Malam ini juga. Kami sudah putuskan untuk naik tingkat ke kartu profesi D, supaya nanti bisa lebih mudah masuk dungeon bareng kakak,” jawab Penonton Pinggir Awan.
“Tidak masalah, kalau ada waktu, pasti kita dungeon bareng,” Ye Ming tersenyum dan mengangguk.
“Kakak Dewa, soal pertanyaanmu tempo hari, setelah sampai rumah aku tanya ke Paman Wu. Katanya, suruh kau datang sendiri, dia akan jelaskan langsung kepadamu,” ujar Mai Mai tiba-tiba, mengingatkan Ye Ming pada pertanyaan yang dulu sempat ia ajukan.
Itu adalah soal tiga senar kecapi—Feng Ming, Hao Zhong, dan Lu Qi. Pertanyaan itu memang Ye Ming yang tanyakan, dan Mai Mai sangat mengingatnya. Begitu pulang, ia langsung meminta jawaban ke Paman Wu.
Namun saat itu Ye Ming sedang sibuk persiapan pertandingan, jadi walaupun Mai Mai sudah mendapat jawaban, ia belum sempat menghubungi Ye Ming.
“Oh? Paman Wu tahu rahasia tiga senar kecapi itu?” tanya Ye Ming, teringat kembali pada tiga senar tersebut.
“Iya, Kakak Dewa. Kalau nanti kau sudah kembali ke Teluk Roh Bandel, kabari aku. Aku akan antarkan kau menemui Paman Wu,” jawab Mai Mai.
“Baik,” angguk Ye Ming.
Setelah selesai makan camilan malam, mereka pun bersiap kembali ke Teluk Roh Bandel. Ye Ming mengantar mereka sampai ke pinggir Kota Pengait Besi, lalu kembali ke gedung pertandingan.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh malam.
Besok ia harus meninggalkan Kota Pengait Besi menuju Stasiun 36 Teluk Roh Bandel. Di Lembah Jurang, An-An masih menunggunya untuk mengajari cara berdagang. Karena mustahil Ye Ming bisa berada di dua tempat sekaligus, maka urusan berdagang dengan An-An diputuskan untuk ditunda dulu.
Ia ingin mencari tahu lebih dulu tentang kasus hilangnya Langli Tanhua di Hutan Malam Menari.
Pukul sembilan pagi keesokan harinya, Ye Ming keluar dari kamar di Lembah Jurang dan menemui An-An, mengatakan ada urusan yang harus ia selesaikan, jadi tidak bisa mengikuti An-An ke mana-mana.
An-An agak khawatir karena Ye Ming baru pertama kali datang ke sana, tapi mengingat Ye Ming adalah seorang ahli, ia tidak banyak berkata lagi. Ia hanya berpesan agar Ye Ming tidak sembarangan membeli barang saat belum tahu harga, dan kalau ingin membeli sesuatu, biar ia yang membantu.
Setelah berpisah dengan An-An, Ye Ming kembali ke Kota Pengait Besi.
Terdengar suara ketukan di pintu kamar.
“Kali ini kau benar-benar tidak begadang, ya. Ayo kita sarapan dulu. Setelah itu langsung berangkat,” suara Wang Luodong dari luar.
“Baik,” jawab Ye Ming.