Bab 34
Ruang rahasia di Istana Chengguang ini pernah menahan kerabat istana, pejabat jahat yang membahayakan negara, juga para pembunuh tangguh. Namun, belum pernah ada satu pun yang bisa keluar dari sini dengan utuh. Memberi kesempatan baginya untuk merenung di sini saja sudah merupakan kemuliaan.
Sebelum pergi, Putra Mahkota memperingatkan, “Jangan sembarangan bergerak, setiap sudut di sini penuh jebakan. Menyentuh satu batu bata biasa saja bisa memicu panah dingin menembus lehermu.”
Wajah Yun Kui seketika pucat pasi. Tangan yang baru setengah terjulur buru-buru ia tarik kembali dan genggam erat di balik lengan bajunya. Suaranya bergetar, ada nada pilu, “Hamba tidak tahu apa yang membuat Paduka murka, apalagi mengapa harus mengurung hamba.”
“Aku tidak akan pernah membuatkanmu penganan lagi!”
“Dan aku pun tak akan pernah jadi pengananmu lagi!”
Putra Mahkota terdiam sejenak mendengar kalimat itu, bahkan butuh waktu untuk mencerna, lalu wajahnya langsung diselimuti amarah. Ia semula berniat jika Yun Kui mau memohon ampun dengan patuh, ia mungkin akan memaafkan. Namun, setelah mendengar kata-kata yang kurang ajar itu, amarahnya meluap. Dengan suara tajam, ia berkata, “Berani sekali kau berulang kali menyinggungku, benar-benar menganggap aku takkan marah?”
Selama ini ia memang terlalu memanjakan, menutup mata atas tingkah laku yang tak pantas, hingga Yun Kui jadi semakin berani, berani berkata dan berbuat apa pun. Hari ini, bukan hanya kata-kata kotor dalam hatinya, Yun Kui bahkan berani menggunakan penganan persik dewa itu untuk memancingnya. Ia pikir dirinya pasti akan terpikat dan tak mampu menahan diri?
Jika tak segera memberinya pelajaran, besok Yun Kui mungkin akan makin besar kepala dan bertindak semaunya!
Putra Mahkota memandang telinga kelinci yang melorot di kedua sisi kepala Yun Kui, juga bibir mungil yang terkatup rapat, lalu memalingkan wajah. “Jika besok kau masih belum sadar apa salahmu, teruslah merenung. Kapan kau menyadari, kapan aku baru akan membebaskanmu.”
“Paduka, hamba...”
Begitu pintu tertutup, ruangan langsung suram, hanya sisa cahaya redup dari lilin di sudut ruangan yang berkelap-kelip.
Yun Kui kesal hingga menghentakkan kaki, tapi baru dua kali ia teringat peringatan sang Putra Mahkota tentang jebakan, sehingga ia tak berani bergerak lagi dan menatap sekeliling dengan hati-hati.
Untungnya, ruang rahasia ini tak semenakutkan ruang penyiksaan di luar sana; tak ada aroma darah yang menusuk atau jeritan pilu, dan di sini hanya ia seorang diri, tanpa algojo yang menginterogasi atau mencambuknya.
Setelah terbiasa dengan suasana hening, ia tak lagi merasa begitu takut. Namanya juga ruang gelap, ia pernah membaca tentangnya di sebuah cerita roman yang agak nakal.
Dalam cerita itu, dua saudara memperebutkan pemeran utama wanita. Sang wanita, yang seharusnya menikah dengan adik, pada malam sebelum pernikahan justru dikurung diam-diam oleh si lelaki utama yang dingin dan otoriter, dimasukkan ke ruang gelap, dan setiap hari dipaksa melakukan hal-hal yang tak senonoh.
Alur ceritanya sudah nyaris lupa, Yun Kui baru teringat lagi setelah melihat ranjang dan rantai di depannya, membayangkan ilustrasi cabul dalam buku itu.
Sama-sama ranjang besi, sang wanita dirantai pergelangan tangannya, matanya ditutup kain, dan kakinya—diangkat tinggi-tinggi, tali cambuk yang dingin dan kasar perlahan menyapu pinggang ramping dan sisi tubuhnya...
Semakin dipikirkan, wajah Yun Kui makin merah padam. Alat-alat penyiksaan yang menakutkan di ruangan ini, dalam benaknya berubah menjadi mainan yang menggoda.
Tak boleh dipikirkan, makin dipikir makin tak karuan rasanya.
Lebih baik memaki Putra Mahkota saja!
Memaki Putra Mahkota jauh lebih sesuai dengan perasaannya sekarang.
Ia diminta merenung, tapi ia sendiri tak tahu letak salahnya di mana.
Salahkah karena ia melihat mimpi anehnya hingga membuat Putra Mahkota malu?
Atau salah karena ia membuat penganan persik itu? Bahkan jika Putra Mahkota berpikiran buruk dan mengira ia sengaja, apakah pantas ia dikurung begini?
Tentu saja, andai semua pikiran nakal dan berani yang selama ini ia tujukan untuk Putra Mahkota—menggodanya, menginginkannya, menistakannya—diketahui sang Putra Mahkota, ia pun tak bisa berkata apa-apa.
Itu memang sudah dosa besar.
Putra Mahkota melangkah keluar dari ruang rahasia. Cao Yuanlu yang menunggu di depan pintu istana menyeka keringat dingin lalu maju berlutut dengan gemetar.
“Hamba yang melihat Paduka makan malam dengan sedikit selera, makanya hamba menyuruh Nona Yun Kui membuatkan penganan. Jika Paduka ingin menghukum, hukumlah hamba!”
Putra Mahkota melirik dingin, “Bentuk penganan itu juga kau yang ajarkan padanya?”
“Bukan,” wajah Cao Yuanlu memerah, “Tapi hamba jamin Nona tak punya niat buruk, paling-paling hanya ingin lebih dekat dengan Paduka.”
Ia tahu benar betapa tajam dan cerdas Putra Mahkota, terlebih sejak kembali dari perbatasan utara. Hanya dengan sepatah dua patah kata, bahkan sekilas ekspresi, Putra Mahkota bisa membaca sesuatu yang tak disadari orang lain.
Memang, banyak yang telah dihukum karena terbukti bersalah, tapi Cao Yuanlu yang telah puluhan tahun mengabdi di istana bagian dalam, cukup tahu menilai orang. Ia tahu benar watak Yun Kui, dan yakin Putra Mahkota pun bisa melihatnya. Gadis itu hanya pernah berani berkata kurang ajar sekali, selebihnya ia penurut, bahkan saat diancam racun tak pernah berniat mencelakai Putra Mahkota. Tapi tetap saja Putra Mahkota menghukumnya!
Cao Yuanlu menghela napas, “Ruang rahasia itu tempat apa, berteriak pun takkan ada yang menolong. Dia hanya gadis kecil, nyalinya kecil sekali, mana tahan ditakut-takuti begitu?”
“Jarang-jarang ada gadis yang peduli pada Paduka, harusnya Paduka bersyukur! Kalau sampai dia ketakutan dan pergi, Paduka pasti menyesal!”
Putra Mahkota mendengar pikiran lancang itu, mengepalkan tangan diam-diam, lalu mengusir dengan suara dingin, “Keluar.”
Cao Yuanlu tak bisa apa-apa, terpaksa mundur.
Putra Mahkota duduk sendirian di atas dipan, memijit pelipis.
Dua puluh tahun lebih terbiasa dengan tipu daya membuatnya mahir menyembunyikan emosi, mampu menghadapi segalanya dengan tenang. Sudah lama tak ada yang mampu mengguncang suasana hatinya seperti ini.
Bahkan ia sendiri tak mengerti.
Mungkin ia merasa, sebagai putra mahkota, tak seharusnya diperlakukan begitu kurang ajar oleh seorang pelayan kecil.
Atau mungkin, rasa dekat yang langka itu membuatnya asing, hingga naluri waspadanya langsung muncul.
Ia sudah terlalu sering melihat sanjungan palsu dan pengkhianatan dari orang terdekat, sehingga tak lagi mau menaruh perasaan pada siapa pun yang tak penting.
Di puncak kekuasaan, selalu terasa sepi dan dingin. Apalagi dengan posisinya sekarang, penuh musuh di sekeliling, setiap hari penuh ancaman. Ia tak butuh hiburan palsu untuk menipu diri sendiri.
Kedatangan Yun Kui memang berbeda. Aroma bunga matahari di tubuh gadis itu bisa meredakan sakit kepalanya. Kata-kata liar dalam hati Yun Kui membuatnya terkejut dan marah, tapi juga menghadirkan perasaan hidup yang nyata, tanpa topeng. Jadi, candaan kecil sesekali tak cukup membuatnya benar-benar marah.
Yang benar-benar ia tolak adalah kedekatan yang dibuat-buat, perasaan dikendalikan oleh ucapan Yun Kui, dan akumulasi rasa malu karena sering ditantang kata-kata gadis itu.
Ia menekan pelipis, teringat bibir mungil Yun Kui yang terkatup rapat saat keluar tadi, juga wajah pilunya.
Jangan-jangan benar-benar sudah menangis ketakutan?
Ruang rahasia ini sangat kedap suara, bahkan jika di dalam ada jeritan pilu, orang di luar takkan mendengar apa-apa. Jika dikurung berhari-hari, terputus dari dunia luar, bahkan seorang prajurit tangguh pun bisa gila karena ketakutan.
Sekalipun Yun Kui berani, ia tetaplah gadis muda yang polos, barangkali kini sudah menangis memohon ampun di dalam.
Tapi kalau baru satu jam sudah dikeluarkan, bukankah ia akan dianggap tidak konsisten, kehilangan wibawa?
Sudahlah, apa gunanya memikirkan itu.
Yun Kui memang tak pernah bisa bersikap layak, ia tahu itu sejak awal.
Semua orang ingin mencelakainya, tapi Yun Kui berbeda. Sejak awal, yang diinginkan gadis itu hanya tubuhnya. Bahkan saat merasa ajal menanti, Yun Kui hanya ingin berbaring di sisinya sekali saja, sudah merasa hidupnya tak sia-sia. Bukankah itu juga suatu ketulusan?
Tatapan Putra Mahkota jatuh ke tungku perunggu bermotif telinga gajah yang membara di tengah aula. Sudahlah, udara di bulan dua belas terlalu dingin, nanti kalau Yun Kui masuk angin, harus menghabiskan obat He Bailing lagi untuk menyembuhkannya.
Putra Mahkota menghela napas panjang, lalu bangkit memutar lilin.
Perlahan ia melangkah masuk ke dalam, pertama-tama mendengar suara lirih seperti orang mengigau, berat dan terselip nada tangis.
Hatinya tiba-tiba berdebar, segera ia menemukan sosok kecil mengerucut di sudut ruang rahasia.
Gadis kecil itu memeluk lengannya, meringkuk di lantai, tubuhnya tampak bergetar, mulutnya menggumam tak jelas.
Putra Mahkota mengerutkan kening, lalu membungkuk mengangkat tubuh Yun Kui, memperhatikan wajah gadis itu di bawah cahaya lilin yang redup. Mata terpejam rapat, pipi memerah, sudut mata berembun seperti habis menangis.
Ia menempelkan punggung tangan ke dahi Yun Kui, lega karena tidak panas, lalu memanggilnya. Karena tak ada reaksi, ia pun mengangkat Yun Kui dan membawanya ke kamar tidur.
Gadis itu, merasa dipeluk, secara naluriah berusaha menghindar, “Paduka, jangan...”
Putra Mahkota menahan kepala Yun Kui, menempelkannya ke lehernya, menatap dingin, “Jangan apa?”
Saat diletakkan di atas ranjang, Yun Kui pun langsung menggeliat masuk ke dalam selimut lembut dan hangat.
Putra Mahkota menatap wajah Yun Kui yang kemerahan, tak yakin apakah ia sakit atau hanya tertidur. Ia hendak memanggil He Bailing, tabib istana, namun tiba-tiba Yun Kui menggeliat, bergumam setengah sadar, “Paduka jangan, jangan pukul pantat Kui Kui...”
Putra Mahkota mendengar kalimat itu, pikirannya sejenak kosong, lalu mendadak tersulut api yang tak jelas asalnya.
Ia menggertakkan gigi, nyaris tak tahan, lalu menepuk pelan pantat mungil Yun Kui.
“Bangun.”
Yun Kui merasakan sedikit sakit, juga mendengar suara dingin Putra Mahkota. Tapi rasa sakit itu jelas bukan hasil cambuk kecil Putra Mahkota, melainkan sakit nyata, bukan mimpi.
Bulu matanya bergetar, perlahan membuka mata, dan baru sadar dirinya berada di tempat tidur yang hangat dan akrab, diterangi cahaya lilin.
Begitu menengadah, langsung bertemu dengan sorot tajam mata Putra Mahkota.
Jantung Yun Kui berdetak keras, lidahnya hampir kaku, “Paduka?”
Putra Mahkota menahan amarah, suara keluar dari sela gigi, “Bermimpi, ya?”
Yun Kui teringat mimpinya barusan. Mana berani ia menjawab jujur. Ia melunakkan suara, “Paduka tak jadi menghukum hamba? Ini berarti hamba sudah boleh kembali?”
Putra Mahkota tersenyum tipis, “Ceritakan, barusan bermimpi apa?”
Yun Kui mengelak, dengan suara pilu, “Bermimpi Paduka menyiksa hamba, memaksa hamba mengaku salah, hamba sangat takut...”
Mana mungkin ia bilang, “Aku bermimpi diputar-putar di ranjang besi itu, dan Paduka mencambuk pantatku dengan cambuk kecil!”
Putra Mahkota terdiam.
Ia mengepalkan tangan, menghela napas panjang.
Tadi ia khawatir Yun Kui ketakutan dan menangis minta ampun, berharap Yun Kui akan berubah dan jadi lebih sopan...
Putra Mahkota mendadak merasa bingung dan lelah.
Mungkin Yun Kui memang diciptakan berbeda, isi kepalanya tak sama dengan orang lain. Bahkan jika pedang diletakkan di lehernya, ia tetap ceroboh dan penuh pikiran kotor.
Yang jadi pertanyaan, apakah Yun Kui hanya berkhayal demikian di depannya, atau juga di depan orang lain?
Di depan Pangeran Keenam, atau saat diam-diam bertemu para pengawal, apakah juga muncul pikiran liar seperti itu?
Ia menggertakkan gigi, hendak bertanya, namun tiba-tiba merasa ada yang lembut menempel di lengannya. Si kelinci bertelinga jatuh itu perlahan memeluk lengannya, melihat tak ada reaksi, malah memeluk semakin erat.
“Paduka boleh menghukum hamba apapun, asal jangan mengurung hamba sendiri. Jika tak melihat Paduka, hati hamba jadi takut...”
Putra Mahkota memejamkan mata dalam-dalam. Ia tahu Yun Kui hanya bicara manis, tak benar-benar menyesal, tapi karena pelukan mendadak itu, hatinya terasa mencair, muncul sensasi lembut dan geli.
Saat Yun Kui sadar, dirinya sudah berada di bawah tubuh Putra Mahkota, tertekan di atas ranjang.