Bab 54: Kemenangan Gemilang
Saat beberapa prajurit menggiring si pandai besi ke hadapan Bai Yan, Bai Yan pun menegur mereka dengan suara keras, “Sungguh tak sopan! Cepat lepaskan ikatan tuan ini! Apakah beliau seorang tahanan?”
“Baik!” Para prajurit itu buru-buru melepaskan tali yang mengikat tubuh si pandai besi.
Barulah Bai Yan berkata, “Tuan, kami banyak berbuat salah. Mohon jangan diambil hati. Bolehkah saya tahu bagaimana cara menyapa Anda?”
“Panggil saja aku Brown.” Brown adalah seorang pria Eropa berusia sekitar empat puluh tahun. Ia sangat menggemari senjata dingin, sehingga mengambil keahlian yang telah ditinggalkan orang modern dan menjadi seorang pandai besi. Tak disangka, di zaman prasejarah ini, kemampuannya justru bersinar terang.
Mungkin ada yang penasaran bagaimana mereka bisa berkomunikasi meski berbeda bahasa? Bai Yan berbicara langsung lewat gelombang otak, jadi hambatan bahasa sama sekali tidak ada.
“Tuan Brown, bergabunglah denganku. Aku butuh keahlianmu.” Bai Yan tidak berniat berbasa-basi. Sejak awal, tujuannya menyerang Suku Kepala Badak memang untuk merekrut Brown. Mau tak mau, Brown harus setuju.
“Baik!” jawab Brown.
Bai Yan sempat tertegun. Jawaban itu terlalu cepat dan tanpa ragu. Ia hanya bertanya sekilas apakah Brown mau setia padanya, dan Brown langsung mengangguk tanpa pikir panjang. Ternyata, baik di Timur maupun Barat, manusia tetap memiliki kepercayaan misterius terhadap naga. Kini, melihat naga putih hidup di depan matanya, siapa yang tidak bersemangat ingin berlindung di bawah sayapnya? Tinggal satu langkah lagi, mengabadikan momen ini dan mengunggahnya ke Facebook.
“Ehm, kalau begitu bekerjalah dengan baik,” kata Bai Yan memberi semangat.
“Raja Putih, kami menemukan batu ketiga,” saat itu, Jiang Wu datang membawa batu giok yang ditemukan di kamar Duke dan melaporkannya pada Bai Yan. Batu ketiga dari lima yang diperlukan untuk memanggil kapal luar angkasa, dua di antaranya telah didapat dari Suku Anjing Merah.
“Baik, simpan dulu. Masih ada dua lagi,” jawab Bai Yan.
Total ada lima batu, dua sisanya pasti berada di suku lain. Ia yakin menemukan semuanya tidak akan terlalu sulit.
Setelah beristirahat sejenak, Suku Naga Putih kembali ke kampung halaman dengan kemenangan. Mayat Tyrannosaurus ditempatkan di atas gerobak dan diarak menuju kampung. Para penduduk yang berjaga melihat para prajurit pulang dengan semangat membara dan panji-panji berkibar, sudah bisa menebak mereka pasti menang besar. Secara spontan, mereka berkumpul di depan gerbang suku, membuat barisan untuk menyambut kepulangan para pahlawan.
“Kita menang!”
“Suku Anjing Merah dan Suku Kepala Badak sudah kita kalahkan! Sekarang, kita yang terkuat!”
“Lihat itu, apa yang diangkut di atas gerobak? Tyrannosaurus!?”
“Wah, besar sekali! Siapa yang berhasil memburunya?”
“Itu Raja Putih! Saat menyerang Suku Kepala Badak, mereka melepaskan seekor Tyrannosaurus yang sebelumnya dikurung. Agar serangan tidak berantakan, Raja Putih langsung turun tangan, bertarung melawan Tyrannosaurus itu. Pertarungannya benar-benar luar biasa! Aku menonton dengan mulut menganga dari awal sampai akhir, deg-degan dan takjub, telapak tangan sampai berkeringat. Keduanya sama-sama kuat, nyaris saja sama-sama celaka. Tapi akhirnya, Raja Putih menusuk tubuh Tyrannosaurus itu, mengeluarkan jantungnya dengan satu serangan, darahnya menyembur tinggi, lalu berdiri dengan gagah sebagai pemenang. Benar-benar luar biasa! Keren! Raja Putih memang layak jadi kepercayaan suku kita!” Prajurit yang bercerita itu tampak begitu kagum, seolah hidupnya jarang sekali bisa menyaksikan pertarungan dua raksasa seperti itu.
“Ah, kalau tahu begitu, aku juga ikut bertarung! Sayang sekali melewatkan saat Raja Putih menunjukkan keperkasaannya.” Mendengar kisah teman yang begitu bersemangat, siapa yang tidak tergugah? Mudah dibayangkan betapa heroiknya dua raksasa prasejarah itu saling mengadu, dan akhirnya Raja Putih berdiri di atas bangkai Tyrannosaurus, meraung ke langit, menegaskan bahwa dialah naga terkuat.
Kabar Bai Yan membunuh Tyrannosaurus menyebar seperti api ke seluruh penjuru, menjadi topik terpanas yang diketahui siapa saja. Selama ini, semua mengira Tyrannosaurus adalah dinosaurus pemangsa terhebat. Namun hari ini, sejarah berubah.
Ada yang gembira, ada yang cemas. Semakin banyak suku mulai bermigrasi ke lembah tempat Suku Naga Putih bermukim, berniat bergabung dengan Bai Yan.
Setibanya di suku, Bai Yan langsung masuk ke gua. Setelah pertarungannya melawan Tyrannosaurus, ia mengalami luka parah. Tangan kanannya benar-benar tak bisa digerakkan, bahkan jari-jarinya pun lumpuh. Ia kembali mengagumi betapa kuat gigitan Tyrannosaurus itu, sampai-sampai tulang lengannya remuk, patah menjadi beberapa bagian.
“Kau terluka?!” Jiang Qiuhui yang melihat Bai Yan pulang dengan tubuh berlumuran darah, sangat terkejut.
“Tak apa, sebulan lagi juga sembuh,” ujar Bai Yan santai. Ia pernah memperkuat gen penyembuhan dengan bunga darah, luka seperti ini akan sembuh seiring waktu.
“Masih bisa sembuh? Tulangnya saja kelihatan!” Jiang Qiuhui tak percaya. Walau luka bisa sembuh, tapi satu bulan rasanya terlalu cepat. Orang biasa saja butuh seratus hari untuk sembuh dari cedera tulang!
“Jangan ribut, sudah besar kok masih panik?” Bai Yan lalu merebahkan diri di atas batu tempat tidurnya, berniat tidur.
“Aku... aku ini peduli padamu!” Jiang Qiuhui kesal sekali.
“Peduli untuk apa? Jaga saja dirimu sendiri.”
“Bukankah kau yang bilang aku harus menjagamu!?” Mata Jiang Qiuhui tampak berkaca-kaca.
“Oh, soal itu... Kau boleh pergi, kau sudah bebas.” Sekarang suku sudah aman, Bai Yan tak perlu lagi melindunginya. Silakan jalani hidupmu.
“Dipanggil datang, disuruh pergi, kau kira aku ini orang macam apa!?” Jiang Qiuhui berkata dengan suara pecah, lalu marah-marah keluar dari gua.
Bai Yan hanya bisa menghela napas. Gadis ini memang sulit dipahami.
Di pintu, Shi Hua kebetulan berpapasan dengan Jiang Qiuhui. Ia menatap bingung pada Jiang Qiuhui yang pergi dengan marah, lalu masuk ke dalam gua dan bertanya, “Ada apa dengan Xiao Hui? Kenapa terlihat marah sekali?”
“Entahlah.”
Melihat Bai Yan tidak ingin bercerita, Shi Hua pun tidak bertanya lebih jauh. Ia justru terkejut melihat luka di tangan Bai Yan, dan bertanya, “Kau terluka?”
Sebenarnya, pertanyaan ini tadi sudah diajukan Jiang Qiuhui, tapi nada suara keduanya sangat berbeda. Shi Hua jauh lebih tenang.
“Iya,” jawab Bai Yan singkat. Sudah jelas-jelas, namun ia tak mengerti kenapa kedua gadis itu menanyakan hal serupa.
“Baiklah, Tyrannosaurus yang dibawa pulang dari luar, itu kau yang membunuhnya?”
“Benar.”
“Kebetulan, aku akan menguliti dan memasaknya untuk membuat sup tulang. Sangat bergizi.”
Bai Yan sempat terdiam, tak tahu harus membalas perhatian Shi Hua seperti apa, akhirnya hanya berkata datar, “...Terserah.”
“Kalau begitu, aku akan lihat bahan makanan apa saja yang bisa dimasak. Belakangan ini, suku kita mendapat banyak bahan makanan, jadi pilihan menu pun makin beragam.”
“Hmm... Ambil saja sebagian dagingnya, sisanya bagikan ke penduduk sebagai hadiah.”
Tyrannosaurus itu panjangnya setidaknya tiga belas meter, tinggi lima meter, Bai Yan jelas tak sanggup menghabiskannya. Untuk mendapatkan poin gen, cukup sedikit daging yang diolah Shi Hua. Sisanya, biar jadi hadiah bagi penduduk.
“Baik, aku mengerti.” Setelah itu, Shi Hua langsung melaksanakan perintah Bai Yan. Daging terbaik dari Tyrannosaurus diambil untuk dimasak, sisanya dibagikan ke penduduk. Semua orang sangat berterima kasih pada kebesaran hati Bai Yan, dan berencana mengadakan pesta syukuran malam itu, mempersembahkan hadiah khusus untuk Bai Yan.
Soal Tyrannosaurus yang pernah tersengat listrik, apakah masih bisa dimakan? Tentu saja bisa, selama tidak beracun dan tidak mematikan. Dalam situasi kekurangan makanan, apa pun tak boleh disia-siakan.
Walaupun Suku Naga Putih sudah mulai membangun penggilingan dan kincir air untuk menanam gandum, panen dua kali setahun pun hasilnya belum bisa segera dirasakan.
Fakta membuktikan, teknologi adalah kekuatan bertahan hidup yang utama!
Para pendatang dari Bumi sudah mulai bisa beradaptasi hidup di sini. Meski hidup serba susah, setidaknya mereka tidak harus makan mentah dan hidup seperti manusia purba.