Bab 135 Menerjang hingga Tersungkur
Dengan gayung kayu yang terombang-ambing mengikuti riak air di kolam pemandian air panas, Ji Liuli menimba satu gayung penuh air hangat. Ia meletakkan gayung itu di tepi kolam, lalu membersihkan noda darah yang telah mengering di tangannya.
Setelah tangannya bersih, Ji Liuli menuangkan air kolam yang telah berubah menjadi merah muda pucat ke dalam sebuah lubang kecil di samping kolam.
Tentu saja, satu gayung air belum cukup untuk membersihkan kedua tangannya. Karena itu, Ji Liuli menimba gayung kedua untuk membasuh tangan.
Setelah memastikan tangan mungilnya benar-benar bersih, Ji Liuli kembali menuangkan air di dalam gayung. Ia lalu mengambil setengah gayung air untuk membilas gayung kayu kecil itu, sebelum mengembalikannya ke dalam kolam yang terus mengeluarkan gelembung-gelembung kecil. Gayung itu pun kembali terayun mengikuti riak air.
Berbalik dan mengikuti arah semula, Ji Liuli berjalan menuju dinding batu. Ia meniru Yelu Qing, memutar silinder logam yang terpasang di dinding.
Dengan suara gemuruh, pintu batu terbuka. Dalam kegelapan pekat yang membuatnya bahkan tak dapat melihat tangannya sendiri, Ji Liuli meraba-raba jalan dengan hati-hati, dihantui kegelisahan.
Lorong rahasia yang biasanya dapat ditempuh dalam waktu setengah batang dupa ketika ditemani Yelu Qing, kali ini baru berhasil ia lewati setelah dua batang dupa. Pada akhirnya, ia melihat cahaya bulan yang redup menerobos masuk ke kamarnya.
Begitu ia keluar dari lorong rahasia, dinding batu itu menutup secara otomatis dan kembali seperti semula.
Ji Liuli memutar kembali gulungan yang sebelumnya dipindahkan Yelu Qing untuk membuka rak buku. Rak-rak buku yang terpisah di kedua sisi dinding perlahan-lahan merapat, dan dalam sekejap telah menyatu tanpa celah sedikit pun, menyembunyikan dinding berwarna abu-abu tanah di baliknya dengan rapat.
“Waktunya tidur~”
Dengan gerakan ringan, Ji Liuli melompat dari depan meja tulis ke sisi ranjang. Ia kemudian berbalik membelakangi ranjang, merilekskan tubuhnya, lalu menjatuhkan diri dengan keras ke atas kasur yang empuk. Namun, kepalanya mendadak terasa pening.
“Hmm~ pusing sekali.”
Ji Liuli berbaring diam di atas ranjang selama kira-kira setengah batang dupa sebelum rasa pening di kepalanya perlahan mereda.
Dengan susah payah ia menopang tubuh hingga duduk. Ji Liuli melepaskan jubah berbulu rubah putihnya dan meletakkannya sembarangan di sudut ranjang. Ia bahkan terlalu malas untuk menanggalkan pakaian yang dikenakannya, sehingga langsung menyusup ke balik selimut dengan pakaian lengkap. Sambil memejamkan mata, ia menanti dengan penuh semangat datangnya pukul dua dini hari.
Ia benar-benar ingin segera mandi di pemandian air panas yang begitu indah, seolah-olah berada di alam kahyangan.
...
Waktu kembali ke beberapa saat sebelumnya.
Setelah menggendong Qingyong yang tubuhnya tampak agak kurus, Qingfeng tidak membawanya kembali ke kamar bersama para pengawal rahasia dan pengawal terang yang terletak di belakang Kediaman Halilintar. Sebaliknya, dengan ilmu meringankan tubuh, ia diam-diam menuju halaman barat.
Ia menendang pelan pintu salah satu dari sekian banyak kamar samping. Di bawah tatapan penuh amarah Qingyong, Qingfeng menggendongnya melewati ambang pintu, lalu berjalan lurus menuju ranjang yang berada tepat di tengah kamar. Ia menurunkan Qingyong dengan lembut ke atas ranjang.
Qingfeng menarik selimut brokat dari sisi ranjang dan menyelimutkan tubuh Qingyong. Setelah itu, ia menyilangkan kedua tangan di depan dada dan berdiri di sisi ranjang, menatap Qingyong tanpa berkedip.
Karena titik akupunturnya telah ditekan, Qingyong bukan hanya tidak dapat bergerak, bahkan tidak mampu berbicara. Dalam ketidakberdayaannya, ia hanya bisa menatap Qingfeng dengan geram.
Tatapan itu seolah-olah memperingatkan, “Cepat buka titik akupunturku, atau kau akan menyesal seumur hidup.”
Qingfeng adalah orang yang sangat cerdas dan bijaksana. Tentu saja, ia dapat melihat amarah serta peringatan di mata Qingyong.
Namun, dialah ahli bela diri paling menonjol di Kediaman Halilintar, bahkan di antara anggota Seribu Phoenix. Bagaimana mungkin ia takut kepada Qingyong, yang kemampuan bela dirinya justru menempati urutan paling bawah di Kediaman Halilintar maupun Seribu Phoenix?
Tak mampu berbicara, Qingyong mengedipkan mata yang mulai terasa pegal karena terus menatap Qingfeng. Menghadapi tatapan Qingfeng yang nyaris menekan, Qingyong memilih memejamkan mata untuk beristirahat.
Jika ia tak dapat bergerak dan tak dapat berbicara, lebih baik ia menenangkan diri dan memulihkan lukanya. Semakin cepat lukanya mengering, semakin cepat pula ia dapat menuntut Qingfeng. Berani-beraninya pria itu menekan titik akupunturnya, lalu menggendongnya seperti seorang perempuan! Lihat saja nanti!
Tepat ketika Qingyong memejamkan mata, Qingfeng membungkuk dan membuka titik akupunturnya.
Merasakan titik akupunturnya telah dibuka, Qingyong langsung membuka mata. Ia membuka mulut, hendak memaki Qingfeng habis-habisan, tetapi sebelum sempat mengeluarkan suara sedikit pun, bibirnya telah dibungkam oleh Qingfeng.
“...”
Qingyong menatap wajah tampan Qingfeng yang begitu dekat. Bahkan tahi lalat di bawah mata kiri Qingfeng tampak sangat jelas.
Sentuhan lembut di bibir dan napas panas Qingfeng membuat Qingyong yang biasanya bernyali besar itu benar-benar panik. Ia mengangkat kedua tangan dan menekannya ke dada Qingfeng, berusaha sekuat tenaga untuk mendorong pria itu menjauh.
Qingfeng telah memperkirakan Qingyong akan melawan. Karena itu, sejak memutuskan untuk menciumnya, ia sudah siap menghadapi perlawanan tersebut.
Dengan tubuhnya yang kekar menahan Qingyong yang ramping di bawahnya, Qingfeng menangkap kedua pergelangan tangan Qingyong dengan satu tangan dan mengangkatnya ke atas kepala. Tangan lainnya mencengkeram dagu Qingyong, memaksanya membuka bibir agar ia dapat memperdalam ciuman itu.
Tubuh bagian atas Qingyong ditekan kuat-kuat oleh Qingfeng. Ia hanya dapat menggunakan tubuh bagian bawahnya yang masih bisa bergerak untuk melawan tindakan Qingfeng yang sungguh mengejutkan itu.
Dengan satu lutut sedikit ditekuk, Qingyong mengangkat lututnya dan tanpa belas kasihan mengarahkannya ke bagian bawah tubuh Qingfeng.
Untunglah Qingfeng bereaksi cepat. Ia menahan serangan itu dengan pahanya yang panjang dan kuat, lalu menyelipkan tubuhnya di antara kedua kaki Qingyong.
Kedua kaki Qingyong terpaksa terbuka di sisi pinggul Qingfeng dan tak lagi mampu mengerahkan tenaga.
Bukan hanya kedua kakinya yang tak dapat bergerak. Kedua tangannya juga ditahan telapak Qingfeng di atas kepalanya. Dagunya yang rapuh dicengkeram sedemikian rupa hingga ia tak mampu menutup mulut. Bahkan jika ingin menggigit putus ujung lidah Qingfeng dengan sekuat tenaga pun, ia tak memiliki kesempatan. Pada akhirnya, ia hanya dapat membiarkan Qingfeng bertindak sesuka hati di dalam mulutnya.
Semakin lama ciuman itu berlangsung, pikiran Qingyong semakin kosong. Kepalanya mulai terasa berat dan kesadarannya perlahan menjadi kabur.
Barulah ketika Qingfeng menyadari bahwa orang di bawahnya telah pingsan karena terlalu lama kehabisan napas saat berciuman, ia dengan enggan melepaskan bibir Qingyong yang telah bengkak dan memerah.
Dengan sikap mendominasi, ia membungkuk dan berbisik di telinga Qingyong, mengucapkan sumpah, “Aku telah meninggalkan cap milikku di bibirmu. Mulai hari ini, kau adalah milikku, Qingfeng. Jangan pernah berharap bisa melarikan diri dariku!”
Namun, Qingfeng sepertinya merasa cap di bibir itu belum cukup dalam. Ia merenggut kerah jubah Qingyong hingga tulang selangkanya yang menggoda terlihat jelas.
Sekali lagi ia membungkuk. Bibirnya menempel tepat di tulang selangka Qingyong. Ia membuka bibir sedikit, lalu menggigit tulang selangka itu dengan kuat menggunakan giginya.
“Ah.”
Qingyong mengerang tertahan. Rasa sakit menusuk di sisi leher membuatnya membuka mata.
Sesaat setelah membuka mata, Qingyong tampak linglung. Ia mengira kejadian ketika Qingfeng menjatuhkannya dan menciumnya secara paksa tadi hanyalah mimpi.
Namun, langit-langit ranjang yang asing serta kasur empuk di bawah tubuhnya membuatnya mengingat kembali semuanya.
Peristiwa ketika ia dicium secara paksa itu sama sekali bukan mimpi!