Bab Seratus Empat Puluh Satu: Menghindar
"Tidak, kau..." Yelu Qing hendak menolak permintaan Ji Liuli untuk pergi keluar tanpa ragu sedikit pun. Namun, saat melihat binar antisipasi di mata Ji Liuli, ia pun luluh. "Sudahlah, baiklah, aku turuti keinginanmu."
"Terima kasih, Kakak Qing." Ji Liuli tersenyum lebar dengan perasaan berbunga-bunga. "Hehehe."
Tepat saat Yelu Qing dan Ji Liuli melangkah keluar dari ambang pintu aula utama, jalan mereka terhalang oleh sesosok tubuh ramping yang datang secepat kilat.
"Tuan, Nyonya Li." Qingfeng berlutut dengan satu kaki di hadapan mereka, wajahnya tampak serius saat mengutarakan maksud kedatangannya. "Mohon Tuan dan Nyonya Li mengizinkan hamba untuk pergi selama beberapa waktu. Setelah beberapa saat, hamba pasti akan kembali ke kediaman Pangeran Qing untuk melanjutkan tugas sebagai pengawal pribadi Nyonya Li."
Ia mengetahui keberadaan Yelu Qing dan Ji Liuli di aula utama bukan karena ia bisa meramal, melainkan karena ia sempat bertanya pada Qingyou di Halaman Petir tak lama setelah meninggalkan Halaman Barat.
Setelah mempertimbangkan semalaman, ia memutuskan untuk pergi sejenak selagi Qingyong belum terbangun, demi menenangkan diri. Jika ia tidak pergi, ia takut tak sanggup menahan dorongan untuk menerjang Qingyong suatu saat nanti. Jika itu terjadi, Qingyong pasti akan bertarung mati-matian dengannya.
Mengingat hal itu, hati Qingfeng terasa pahit.
"Mengapa kau ingin pergi? Hendak ke mana kau?" Yelu Qing ingin tahu alasan dan tujuan Qingfeng. Sejujurnya, ini adalah pertama kalinya selama bertahun-tahun Qingfeng ingin pergi tanpa peringatan apa pun, sehingga ia harus bersikap waspada.
Qingfeng menggeleng. "Hamba tidak bisa mengatakannya."
Yelu Qing mengernyit sejenak, lalu bertanya lagi, "Lalu berapa lama kau akan pergi?"
"Hamba tidak tahu." Mata Qingfeng penuh dengan kebingungan dan kekacauan. Ia tidak yakin berapa lama ia akan pergi.
Mungkin ia akan kembali setelah hasratnya terhadap Qingyong tidak lagi begitu dalam, lalu ia akan memohon ampun dan berharap Qingyong melupakan kejadian ciuman paksa tersebut seolah-olah tidak pernah terjadi.
Atau mungkin, ia akan kembali setelah pengendalian dirinya meningkat, sehingga saat melihat Qingyong, ia bisa menahan diri dan menggunakan ketulusannya untuk meluluhkan hati pria itu. Seperti pepatah, cinta tumbuh karena terbiasa. Ia yakin Qingyong akan luluh seiring berjalannya waktu, asalkan ia benar-benar bisa mencapai puncak pengendalian diri.
Atau mungkin, ia akan kembali setelah siap menghadapi amukan Qingyong. Karena jika ia tidak sanggup menahan diri dan melakukan hal yang tidak diinginkan, Qingyong pasti tidak akan tinggal diam.
Meskipun ilmu bela dirinya jauh di atas Qingyong sehingga ia bisa menekan Qingyong jika pria itu mengamuk, ia harus tega melukai Qingyong. Masalahnya, ia hanya bisa bertahan dan tidak sanggup melukai Qingyong sedikit pun.
Singkat kata, ia harus pergi untuk sementara waktu hingga pikirannya jernih dan ia tahu bagaimana harus bersikap di depan Qingyong.
Yelu Qing tidak marah meski pertanyaannya tidak terjawab. Qingfeng adalah orang yang sangat tahu batasan, dan ia percaya ada alasan kuat di balik kepergiannya. Karena Qingfeng bersikeras tidak ingin bicara, ia pun tidak mendesak. "Aku mengerti. Pergilah."
"Terima kasih atas pengertian Tuan." Setelah berterima kasih, Qingfeng menoleh ke arah Ji Liuli di samping Yelu Qing dengan penuh hormat. "Mohon maafkan hamba, Nyonya Li. Sampai jumpa."
Setelah berucap demikian, Qingfeng bangkit dengan anggun, ujung kakinya menyentuh tanah, dan dalam beberapa lompatan, sosoknya menghilang dari pandangan mereka.
"..." Ji Liuli menatap kosong ke arah kepergian Qingfeng, masih belum memahami kejadian yang serba tiba-tiba itu.
Yelu Qing meraih tangan Ji Liuli yang masih terpaku. "Ayo, Liuli, kita kembali ke Halaman Petir untuk sarapan."
Kepergian Qingfeng menambah satu misi lagi bagi mereka saat mengunjungi sarang 'Qianhuang' nanti, yaitu mencari pengawal pribadi baru untuk Ji Liuli dari antara para pembunuh di sana. Kekosongan yang ditinggalkan Qingfeng tentu harus diisi.
"Kakak Qing." Ji Liuli membalas genggaman tangan Yelu Qing, matanya masih tertuju pada arah kepergian Qingfeng. "Apakah kita membiarkannya pergi begitu saja tanpa bertanya? Sepertinya ia sedang menyimpan beban pikiran."
"Jika ia tidak ingin bicara, pastilah ada pertimbangan atau alasan tersendiri." Yelu Qing mengangkat bahu acuh tak acuh. Ia sangat mempercayai Qingfeng. Namun, memikirkan bagaimana Ji Liuli menyembunyikan kondisi fisiknya sendiri, Yelu Qing memegang dagu Ji Liuli dengan tangan lainnya agar menatapnya, lalu berkata dengan penuh arti, "Sama seperti dirimu."
"..." Hati Ji Liuli bergetar. Karena merasa canggung, ia segera mengalihkan pembicaraan. "Ah, aku lapar sekali. Ayo kita segera makan."
Yelu Qing tersenyum getir dan menggeleng, lalu menggenggam erat tangan kecil Ji Liuli yang dingin dan menuntunnya menuju Halaman Petir.
... Di kamar tidur Yelu Qing ...
Duduk di bangku bulat dekat meja makan, Yelu Qing melepaskan tangan Ji Liuli dan berseru ke arah luar pintu, "Qingyong."
Ji Liuli mengingatkan, "Kakak Qing, Qingyong terluka dalam pertarungan kemarin, mungkin dia sedang memulihkan diri."
Yelu Qing teringat bahwa Qingyong memang dibawa pergi oleh Qingfeng dalam keadaan terluka. Ia pun dengan tenang memanggil pengawal lainnya, "Qingshen!"
"Hamba di sini." Seorang pria berwajah dingin dengan jubah hitam masuk ke kamar dengan tenang. Saat melihat Ji Liuli, ia menunduk dengan sopan sebagai tanda hormat. "Salam, Nyonya Li."
"Qingyong tidak ada, hari ini kau yang bertugas menyajikan makanan," ujar Yelu Qing singkat.
Karena Qingfeng pergi dan Qingyong tidak ada, tugas menyajikan makanan tentu harus diambil alih oleh orang lain.
"Baik, Tuan." Qingshen menangkupkan tangan, menerima tugas yang sebenarnya sangat sederhana itu, lalu melangkah keluar kamar.
...
Sekitar satu batang dupa kemudian, saat Ji Liuli dan Yelu Qing sedang berbincang dengan ceria, seorang pria dengan aura penuh dendam melangkah masuk ke dalam kamar.
Orang itu adalah Qingyong, yang sebelumnya ditinggalkan sendirian oleh Qingfeng di kamar Halaman Barat.
Saat terbangun di kamar asing itu, ia sempat mengira dirinya sedang berjalan dalam tidur. Namun, ingatan akan adegan-adegan memalukan yang terlintas di benaknya membuat ia ingin menggali lubang dan mengubur dirinya sendiri.
Tidak, bukan itu!
Ia harus menggali lubang untuk mengubur si keparat Qingfeng itu!