Bab Seratus Tiga Puluh Delapan: Pakaian
"Hari ini kau tidak mengantuk," ujar Yelu Qing dengan tatapan lembut seraya menunduk menatap Ji Liuli. Melihat wajah Ji Liuli yang merona, ia pun terkekeh. "Apakah gejala tidak cocok dengan iklim di sini sudah membaik?"
"Ya, sudah jauh lebih baik," jawab Ji Liuli sambil mengangguk. Meskipun ia berkata demikian, kondisi tubuhnya tidaklah sebaik yang ia ucapkan. Alasan mengapa ia tidak mengantuk hari ini hanyalah karena ia tidak tidur semalaman.
Namun, Yelu Qing tidak lantas percaya begitu saja. Matanya yang jeli tentu menyadari suasana hati Ji Liuli yang murung. "Liuli, apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
"Tidak ada, hanya merasa sedikit lelah saja," sahut Ji Liuli dengan senyum manis. Setelah menutup pintu kamar dengan rapat, ia pun merangkul lengan Yelu Qing. "Ayo kita pergi, bukankah penjahit yang akan membuatkan pakaian untukku sudah menunggu?"
"Baiklah," Yelu Qing memandu Ji Liuli menuju ruang utama kediaman Pangeran Qing. Meski begitu, dalam hatinya ia tidak percaya dengan alasan klise yang diberikan gadis itu. Namun, jika itu adalah masalah pribadi, ia tidak akan memaksa untuk bertanya. Ia akan menunggu hingga saatnya tiba di mana Ji Liuli bersedia menceritakannya sendiri.
Sesampainya di ruang utama, Ji Liuli tertegun begitu melangkah masuk. Matanya membelalak kagum.
Terdapat dua puluh tujuh pemuda tampan berdiri berbaris di dalam ruangan. Sebagian mengenakan jubah panjang yang anggun, sementara sisanya mengenakan jubah hangat yang mewah.
Lebih dari sepuluh jubah anggun tersebut memiliki warna yang seragam, yaitu ungu muda. Meskipun warnanya sama, setiap potongan jubah memiliki keunikan dan pesonanya masing-masing; ada yang sederhana namun elegan, ada yang tipis bak sayap tonggeret namun tetap berwibawa, dan ada pula yang bergaya bebas namun tetap terlihat tenang.
Sementara itu, jubah-jubah hangat yang mewah meski memiliki model yang serupa, namun warnanya sangat beragam. Setiap jubah tersebut merupakan tumpukan dari delapan lapis kain sutra kapas dengan warna berbeda. Paduan warna-warni ini membuat siapa pun yang melihatnya merasa lebih ceria.
Melihat Ji Liuli yang terpana, Yelu Qing menepuk bahunya pelan. Setelah perhatian Ji Liuli teralihkan padanya, Yelu Qing menjelaskan alasan mengapa mereka ada di sana. "Liuli, ini adalah model pakaian yang akan dibuatkan untukmu, totalnya ada dua puluh delapan set."
"Dua puluh delapan?" Ji Liuli menarik napas panjang. Dua puluh delapan set pakaian! Itu berarti, bahkan jika ia mengganti pakaian setiap hari, ia harus memakainya selama sebulan penuh.
Terlebih lagi, sejak kecil ia hidup hemat bersama neneknya, Ji Qingqing. Ia tidak memiliki standar tinggi untuk pakaian, baginya yang penting bisa dipakai sudah cukup. Jadi, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa dua puluh delapan set pakaian ini cukup untuk ia pakai seumur hidup.
"Benar, dua puluh delapan," Yelu Qing mengira Ji Liuli merasa jumlahnya terlalu sedikit, sehingga ia mengusap kepala gadis itu dengan lembut. "Mulai sekarang, setiap tahun aku akan mengukur tubuhmu, dan setiap tahun akan dibuatkan dua puluh delapan set lagi."
Dalam benak Yelu Qing, Ji Liuli baru berusia enam belas tahun, usia di mana tinggi dan bentuk tubuh seorang pria masih terus berkembang. Oleh karena itu, ia tidak bisa memesan terlalu banyak pakaian sekaligus agar tidak sia-sia karena akan cepat kekecilan.
Namun, Yelu Qing tidak tahu apa yang ada di pikiran Ji Liuli. Ji Liuli bukan merasa jumlahnya kurang, melainkan merasa sayang jika harus membuang-buang uang Yelu Qing untuk membuat pakaian sebanyak itu.
Suatu hari nanti ia akan kembali ke jati dirinya sebagai wanita, dan dua puluh delapan set pakaian pria ini tidak akan berguna baginya. Terlebih lagi, ia sudah merasa bersalah karena menyembunyikan identitasnya, dan ketika Yelu Qing berkata ingin membuatkannya pakaian kemarin, rasa bersalah itu kian bertambah. Kini, membayangkan Yelu Qing berencana membuatkannya pakaian setiap tahun, ia merasa sangat canggung hingga ingin menghilang dari sana.
"Kakak Qing, dua set saja sudah cukup untuk saat ini," ucap Ji Liuli sambil menggenggam tangan Yelu Qing. Ia benar-benar tidak butuh sebanyak itu. Ia tidak ingin rasa bersalahnya semakin dalam.
"Dua set?" Yelu Qing mengerutkan kening, tampak tidak puas. Mana mungkin dua set pakaian cukup? "Tidak bisa, harus dua puluh delapan."
"Aku tidak akan sanggup memakai sebanyak itu," bisik Ji Liuli seraya berjinjit ke telinga Yelu Qing agar hanya bisa didengar oleh pria itu. "Jika besok kau bisa menemukan orang tua kandungku, aku pasti akan segera pergi dari sini."
Mendengar kata 'pergi' dari mulut Ji Liuli, tubuh Yelu Qing menegang. Ia kemudian tertawa garing dengan canggung. "Urusan masa depan, biarlah dibahas nanti. Yang paling penting adalah uang untuk dua puluh delapan set pakaian ini sudah kubayarkan."
Sebenarnya, uang tersebut hanyalah sebagian kecil dari kekayaannya. Ia tidak terlalu memikirkan uangnya, namun karena ia tahu Ji Liuli adalah orang yang tidak suka membuang-buang barang atau uang, maka inilah satu-satunya cara agar ia bisa membujuk gadis itu.
Ji Liuli mengerucutkan bibirnya. Setelah berpikir sejenak, ia mendapatkan ide yang cemerlang. "Aku tahu! Minta saja uangnya kembali!"
Ia merasa bangga dengan idenya itu. Bukankah tinggal meminta pengembalian uang dari si penjahit? Dengan begitu, ia tidak perlu menerima pakaian pria yang sia-sia, dan biaya bahan serta ongkos jahit yang sudah dibayar Yelu Qing tidak akan terbuang percuma.
Rencana Ji Liuli memang indah, namun kenyataan berkata lain.
"Toko ini tidak melayani pengembalian dana!"
Seorang pria yang mengenakan jubah longgar berwarna merah muda menyala tiba-tiba muncul dari balik barisan para pemuda tadi. Ia menatap sombong ke arah pemuda mungil yang baru saja melontarkan kata 'minta uang kembali' itu.
Mana mungkin uang yang sudah masuk ke kas Paviliun Xuanyi bisa ditarik kembali? Apa ia pikir Paviliun Xuanyi adalah bank? Ada empat peraturan di paviliun ini: tidak menerima pesanan dari orang miskin, tidak membuatkan pakaian untuk wanita, tidak melayani orang yang tidak disukai, dan tidak ada pengembalian dana dalam kondisi apa pun!
"..." Ji Liuli terperanjat. Apa yang baru saja dikatakan pria itu? Tidak melayani pengembalian dana?
"Lihat sendiri, bukan?" Yelu Qing mengangkat bahu seolah tidak berdaya. "Jadi, kau harus menerima dua puluh delapan set pakaian ini, mau tidak mau."
"..." Sudut bibir Ji Liuli berkedut.
Melihat Ji Liuli yang tampak lemas, Yelu Qing tahu bahwa gadis itu tidak akan lagi menentang pembuatan pakaian tersebut. Ia pun menoleh ke arah pria tampan itu. "Ketua Qin, saya serahkan urusan mengukur tubuh Liuli kepada Anda."