Bab 79: Inisiatif, Membujuk
Paviliun Pustaka.
Di sinilah tersimpan koleksi buku Kerajaan Zhou selama delapan ratus tahun. Sejak Ying Ze menaklukkan Zhou Timur, ia memindahkan seluruh koleksi ini ke Xianyang. Namun, saat itu seluruh negeri Qin sibuk berperang, tak seorang pun memedulikan benda-benda ini, apalagi menatanya. Akibatnya, semua buku hanya ditumpuk secara acak di dalam paviliun.
Karena koleksi ini berisi segala macam kitab, Ying Ze bahkan pernah menemukan naskah tentang ilmu Yin-Yang serta sebagian karya ajaran Dao di sini. Hampir seluruh buku dibuat dari bambu, dan untuk mengaturnya, tak ada cara lain selain membukanya satu per satu dan membolak-baliknya perlahan.
Nian Duan telah berbulan-bulan menata koleksi di Paviliun Pustaka, namun sampai hari ini, yang berhasil diaturnya pun baru sebagian kecil. Tempat ini memang bukan sembarang orang boleh masuk. Nilai koleksi Kerajaan Zhou sudah jelas, dan penjagaannya pun tak kalah ketat dari Paviliun Harta Karun.
...
Di antara tumpukan gulungan buku dalam paviliun, Nian Duan sedang beristirahat.
“Mengapa tak pulang?” Entah sejak kapan Ying Ze mendekat, ia menyampirkan mantel di bahu Nian Duan.
Nian Duan tak menjawab. Ia hanya menatap Ying Ze dengan pandangan rumit, lalu membalikkan badan.
“Kau marah padaku?” Ying Ze bersandar di sisi Nian Duan. Kontak di antara mereka hanya sekejap, Nian Duan pun tak lagi menghindar seperti dulu.
“Tidak.” Jawab Nian Duan datar.
Ia bukan tipe yang mudah membenci dunia. Setelah bertahun-tahun berkelana, berbagai pertempuran tak lagi membangkitkan emosi dalam dirinya. Perang antarnegara sudah sering terjadi. Kali ini, yang membuatnya berat hanyalah jumlah kematian yang terlampau banyak, dan kerugian pasukan Qin yang nyaris tidak ada.
Andai pasukan Qin juga mengalami kerugian besar, kekalahan aliansi tak akan sehebat ini dampaknya.
“Lalu kenapa kau menghindariku?”
Ying Ze mengulurkan kedua tangan, memeluk Nian Duan dari belakang dengan lembut, menempelkan tubuhnya erat-erat.
Mata Nian Duan membelalak, tubuhnya kaku seperti tersengat listrik, seluruh ototnya menegang seketika.
Sebagai kepala keluarga tabib yang telah hidup tiga puluh tahun, ia kembali dipermainkan!
Auranya berubah seketika, seperti binatang buas yang wilayahnya dilanggar. Jarum perak di tangannya sudah siap digunakan. Meski ia tahu dirinya bukan tandingan Ying Ze, bukan berarti boleh dipermainkan begitu saja.
Saat ia hendak nekat bertindak, terdengar bisikan lembut di telinganya.
“Tenanglah, aku bukan orang yang tak tahu diri.”
Nian Duan tertegun, wajahnya memerah lalu memucat. Apa maksudnya… ia malah dianggap tak menarik?
Sudah dipermainkan, masih saja dicela?
Dasar bajingan!
Marah membuncah, Nian Duan berbalik dan menebas ke arah Ying Ze, berniat menghajarnya.
Serangan itu tepat sasaran, namun...
“Ugh!”
Mata Nian Duan berkaca-kaca, dan tangannya yang menyerang langsung ia tarik seperti kelinci ketakutan.
Ia merasa tulang tangannya retak.
Sementara itu, Ying Ze menatapnya dengan senyum geli, menyaksikan Nian Duan yang ingin menangis tapi malu.
“Wah, rupanya sang tabib berhati emas juga punya sisi seperti ini?”
Sejak menembus tingkat guru besar, reaksi tubuh Ying Ze sudah berada di level yang bahkan ia sendiri sulit pahami. Tak usah bicara tentang kemampuan Nian Duan yang hanya kelas satu, sekalipun yang menyerang mendadak tadi adalah pembunuh ulung seperti Jingni, tetap saja tak mungkin berhasil.
Apalagi sekarang ia menguasai Mantra Cahaya Emas. Semua serangan di bawah tingkat guru besar tak berarti apa-apa. Bahkan jika Nian Duan menebasnya dengan pedang, tak akan ada luka, malah pedang itu bisa patah.
Andaipun benar-benar terkena serangan, tingkat penyembuhan tubuhnya kini sudah luar biasa. Dengan teknik Qi, sebagian besar luka bisa diperbaiki, ia sama sekali tak khawatir.
Nian Duan hanya diam, sudut matanya basah. Namun ia menahan tangis. Ini perbuatannya sendiri, jadi harus ditanggung.
Ia tahu dirinya tak mungkin melukai Ying Ze, tapi tak menyangka justru dirinya yang cedera!
“Sakit?” Ying Ze mendekat dengan raut penuh perhatian, lalu menggenggam tangan kanan Nian Duan yang terluka.
“Hai, kenapa buru-buru begitu? Kalau benar-benar mau, aku juga tak keberatan kok.”
Nian Duan terpana.
Mau apa maksudnya?
“Tak kusangka kau bisa seberani itu, Tuan Nian Duan...” Ying Ze berkata sambil menarik tangan Nian Duan ke arah tempat yang tadi hendak diserang.
“Kau tinggal bilang saja, tak usah repot-repot.”
Nian Duan terdiam.
“Kau... ugh!”
Pintu telah dikunci rapat, Nian Duan yang sudah duduk di kursi penumpang kini tak bisa turun.
Lalu, gas ditekan dalam-dalam.
Terdengarlah teriakan kaget.
...
“Hacim!”
Dengan aliran Qi dari Ying Ze yang menyegarkan, Jingni yang baru saja pulih tiba-tiba bersin. Ia merasa ada sesuatu yang menempel di kepalanya...
“Kau sakit?” Bai Zhi yang merawat Jingni meraba dahinya.
“Tidak demam kok?”
Bai Zhi benar-benar menyukai anak polos seperti Jingni. Bukan hanya karena putranya menyukainya, ia sendiri pun merasa nyaman dengan Jingni. Hatinya sederhana, tak banyak tingkah, sangat sesuai dengan seleranya.
Soal asal-usul Jingni yang berasal dari Jaring Bayangan, Bai Zhi sama sekali tak peduli. Bahkan itu menjadi keunggulan, karena ia tahu putranya adalah orang yang penuh curiga. Di posisinya sekarang, kewaspadaan adalah keharusan. Meski Ying Ze suka bicara lugas, tetap saja dibutuhkan sedikit strategi, walau setidaknya di rumah ia tak perlu berpura-pura.
Karena itu, rumah harus bersih. Yang tak bersih sudah lama dijadikan pupuk bunga di taman belakang. Dulu, Kepala Pedang Penutup Mata adalah tukang kebun istana ini, sangat ahli memangkas bunga.
“Nyonya Tua...”
Mendapat perhatian dari Bai Zhi, hati Jingni terasa hangat sekaligus gugup.
Bai Zhi dan Ying Ze sama-sama baik padanya, tapi ia benar-benar tak mengerti, kenapa?
Ia hanya seorang pembunuh dari Jaring Bayangan. Walau wajahnya lumayan, tidak seharusnya Ying Ze sampai segitunya memperhatikannya.
“Kau masih penasaran kenapa putraku seperti itu padamu?” Bai Zhi bisa menebak perasaan Jingni pada Ying Ze yang masih lugu. Ada getaran, tapi belum jelas. Mungkin karena latar belakang mereka, atau karena lingkungan hidup Jingni sejak kecil, atau gabungan keduanya.
Bai Zhi tahu betul seperti apa Jaring Bayangan itu. Anak-anak yang lahir dan tumbuh di sana, pikirannya pasti aneh. Tempat itu hanya melahirkan mesin pembunuh yang hanya tahu menjalankan perintah. Jingni yang masih punya sedikit jati diri, sangat langka. Mungkin karena bakatnya, ia mendapat perlakuan lebih longgar.
Namun, pemikiran yang sudah tertanam sejak lahir sangat sulit diubah, kecuali ada guncangan besar yang langsung menyentuh hati. Tapi Ying Ze tidak ingin memakai cara semacam itu. Ia selalu memilih pendekatan perlahan, atau mungkin ia memang tidak tega memanfaatkan Jingni.
Kalau tidak, Bai Zhi yakin, dengan kemampuan putranya, “serangan melumpuhkan”, “memanfaatkan celah”, semua bisa ia lakukan dengan mudah.
“Sebenarnya kau tak perlu banyak berpikir. Ia juga hanya seorang anak. Jangan terpengaruh apa kata orang. Dalam urusan perasaan, ia sangat keras kepala. Kalau suka, ya suka. Anggap saja perasaan itu sebagai kompensasi dari langit untukmu,” Bai Zhi mengangkat wajah Jingni yang polos.
“Atau kau bisa menganggapnya sebagai ketidakberuntungan, tapi satu hal pasti, kau tak akan bisa lari.”
“Yang tidak menarik baginya, tak akan ia ambil. Tapi yang ia inginkan, tak akan bisa lepas.”
“Dulu, bahkan posisi Raja Qin pun rela ia lepaskan. Tapi kini ia memilihmu dengan sepenuh hati. Artinya, baginya kau lebih penting dari tahta itu…”
Jingni terdiam, terpaku.
Bai Zhi mencubit pipi Jingni dengan senyum lembut.
“Mengerti, kan?”