Bab Seratus Dua
Pada saat yang sama, Gong Yi juga sedang duduk menunggu di dalam kereta kuda.
Kereta kuda itu cukup luas, di atas meja kecil di sampingnya tersaji kue gula yang baru saja matang. Setelah memakan dua potong, dia merasa sangat enek, lalu mengambil teh di dekatnya dan meminumnya sedikit.
Tirai kereta tersibak, Xiao Luzi berlari mendekat dengan napas terengah-engah, lalu menyodorkan sebuah kotak kayu kepadanya seraya berkata, "Pangeran Ketujuh, di dalam ini ada buku kas dari pengelola Toko Taihe, dan juga surat yang dikirim dari Kuil Lingquan."
Gong Yi menerimanya, lalu dengan santai menyerahkan kue di atas meja kecil itu kepadanya.
Aroma manis dari kue itu membuat hati terasa hangat. Xiao Luzi menerimanya dengan gembira dan berkata, "Memang hanya Tuan yang paling menyayangi pelayan ini."
"Sudahlah, jangan banyak bicara." Gong Yi melewatinya dan menatap papan nama Kuil Dali yang tergantung tinggi.
Pagi-pagi sekali hari ini, Ayahanda Kaisar telah mengutus seseorang untuk memanggilnya, memintanya menemani keluar dari istana menuju Kuil Dali ini.
Seluruh anggota keluarga Adipati Lu ditahan di penjara bawah tanah Kuil Dali.
Gong Yi awalnya mengira Ayahanda Kaisar membawanya ke sini untuk membantunya menginterogasi Adipati Lu. Tak disangka, begitu tiba di depan gerbang Kuil Dali, Ayahanda Kaisar hanya menyuruhnya menunggu di dalam kereta kuda, sementara beliau masuk sendiri.
Kereta kudanya sangat mencolok, terparkir tepat di depan gerbang Kuil Dali, membuat rakyat yang sesekali lewat melirik ke arahnya. Bahkan para pengawal yang berjaga di depan gerbang Kuil Dali pun memandang ke arahnya dengan penuh rasa ingin tahu.
Jika Ayahanda Kaisar tidak segera keluar, kereta kuda ini rasanya akan berlubang karena terus-menerus ditatap orang.
Dia menurunkan tirai kereta, membuka kotak kayu di tangannya, dan hal pertama yang terlihat adalah sekuntum bunga tiruan aprikot musim semi yang tampak sangat nyata. Di bawah bunga itu, terdapat selembar surat yang terhimpit. Amplop surat itu terlipat rapi dengan hiasan jarum pinus sebagai segelnya, tampak sangat unik.
Matanya sedikit berbinar, dan dia segera membuka surat itu.
Awal surat itu berbunyi: 'Kepada Adikku tercinta: Melihat tulisan ini bagaikan kita saling bertatap muka. Aku telah tiba dengan selamat di kuil. Hari-hari di kuil begitu damai dan tenang, aku sangat menyukainya. Segala hal di sekitar sini terasa menyenangkan, para biksu memiliki kebajikan yang mulia bagaikan batu giok murni, dan ibumu yang pengasih juga berada dalam keadaan sehat dan tenang...'
Gong Yi baru saja hendak membaca lebih lanjut ketika Bai Jiu mengetuk tirai kereta dan berbisik, "Pangeran Ketujuh, Yang Mulia sudah keluar."
Dia segera merapikan kembali surat itu seperti semula, memasukkannya ke dalam kotak kayu, lalu menyembunyikan kotak tersebut di sudut bawah bantalan kursi. Baru saja selesai menyembunyikannya, tirai kereta kembali disibak, dan Kaisar Tianyou melangkah masuk ke dalam kereta.
Bibir Kaisar terkatup rapat, dan sepasang matanya sedingin es. Beliau duduk di hadapan Gong Yi, menutup rapat bibirnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Terlihat jelas bahwa beliau sedang sangat marah.
Apakah beliau dibuat marah oleh Adipati Lu?
Saat kereta berjalan perlahan, Kaisar Tianyou tiba-tiba terbatuk-batuk hingga keningnya berkerut rapat dan wajahnya memucat.
Gong Yi buru-buru menyodorkan secangkir air. Kaisar Tianyou menerima air itu dan meminumnya hingga habis sekali teguk. Gong Yi segera menuangkan secangkir lagi untuknya, lalu sambil mengelus punggung beliau, dia berbisik pelan, "Jangan marah, jangan marah. Jika jatuh sakit karena marah, tidak ada yang bisa menggantikan, lagipula itu hanya membuang energi dan pikiran..."
Setelah meminum air, wajah Kaisar Tianyou akhirnya terlihat sedikit lebih baik. Beliau mendongak menatap Gong Yi, masih tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Gong Yi merasa agak gugup, dia menarik tangannya kembali dan bertanya, "Mengapa Ayahanda terus menatapku?"
Kaisar Tianyou tiba-tiba bertanya, "Xiao Qi, menurutmu takhta kekaisaran ini, apakah harus diwariskan berdasarkan garis keturunan sah atau diduduki oleh orang yang paling cakap?"
Tanpa ragu-ragu Gong Yi menjawab, "Tentu saja diduduki oleh orang yang paling cakap! Ayahanda begitu gagah dan bijaksana, merebut takhta ini dengan kemampuan sendiri. Jika ada yang berani protes lagi, Ayahanda tinggal mencincangnya dan memberikannya pada anjing!" Pasti si tua bangka Adipati Lu itu baru saja mengoceh tentang takdir langit atau garis keturunan yang sah lagi.
Kaisar Tianyou tertawa kecil dan berkata, "Tidak perlu sampai dicincang untuk makanan anjing, Adipati Lu sudah menabrakkan dirinya sampai mati."
Gong Yi bertepuk tangan dan berkata, "Bagus sekali dia mati! Serigala bermata putih yang tidak tahu balas budi seperti dia memang pantas mati sebagai pengkhianat! Mati menabrakkan diri benar-benar terlalu mudah baginya, harusnya dia dihukum mati dengan cara disayat-sayat!" Dia menggertakkan giginya, pipinya menggembung karena marah, tampak seperti seekor ikan buntal kecil.
Kaisar Tianyou tiba-tiba tertawa, "Memang pantas mati!"
Beliau teringat ucapan Adipati Lu tadi. Si tua bangka itu bahkan mengutuknya sebelum mati, mengatakan bahwa dia akan kehilangan semua kerabatnya dan anak cucunya akan saling bermusuhan.
Tidak peduli bagaimana orang lain berubah, putra bungsunya ini akan selalu menjadi anak yang paling berbakti dan menenangkan hatinya.
Melihat beliau tersenyum, Gong Yi akhirnya bisa bernapas lega.
Dia menyingkap tirai di satu sisi dan menunjuk ke luar, "Ayahanda, lihatlah. Pasar pagi di Yujing sangat ramai. Di bawah pemerintahan Ayahanda, Dinasti Chu benar-benar makmur."
Kaisar Tianyou ikut melihat ke luar bersamanya. Matahari pagi sedang terbit, jalanan sudah dipenuhi keramaian. Suara teriakan para pedagang kaki lima bersahut-sahutan, dan wajah orang-orang yang lalu lalang memancarkan kebahagiaan. Kedai teh, restoran, toko kain, dan toko kue semuanya telah membuka pintu mereka untuk menyambut pelanggan, suasananya sungguh meriah.
Beberapa anak kecil berlarian mengejar pedagang manisan buah melewati samping kereta kuda, suara tawa dan canda mereka menembus jalanan yang ramai hingga terdengar ke dalam kereta.
Sudut bibir Kaisar Tianyou sedikit melengkung ke atas. Namun, ketika melihat sebuah kediaman yang baru dibangun, senyum di bibirnya langsung memudar.
Kediaman itu baru saja selesai dibangun setahun yang lalu, awalnya disiapkan untuk dianugerahkan kepada Pangeran Kedua setelah dia berusia lima belas tahun.
Kediaman itu memiliki gerbang tembaga berlapis cat emas, terlihat sangat megah dan baru. Namun kini, pemiliknya tidak akan pernah mungkin bisa tinggal di sana lagi.
Gong Yi membatin bahwa ini adalah sebuah kesalahan, lalu dengan cepat menarik tirai jendela kereta hingga tertutup.
Sepanjang sisa perjalanan, ayah dan anak itu terdiam tanpa sepatah kata pun hingga mereka kembali ke Istana Ganquan.
Baru saja turun dari tandu kekaisaran, Kaisar Tianyou kembali terbatuk-batuk tanpa henti, bahkan sampai memuntahkan sedikit darah. Feng Lu panik dan segera memanggil Tabib Agung.
Setelah memeriksa denyut nadi dan melakukan terapi akupunktur pada Kaisar, Tabib Agung berkata dengan nada serius, "Yang Mulia memiliki api paru-paru dan jantung yang terlalu membara. Jika terus begini, dikhawatirkan akan menjadi penyakit kronis. Mulai sekarang, selain meminum obat untuk memulihkan kondisi tubuh, Anda juga harus memijat titik-titik meridian paru-paru dan jantung setiap hari."
Kaisar Tianyou mengernyitkan dahi, "Aku tahu sendiri kondisi tubuhku, tidak perlu serepot itu." Urusan pemerintahannya sangat padat, mana mungkin dia punya waktu untuk berbaring selama setengah jam hanya untuk memijat titik-titik meridian.
Tabib Agung menatap Gong Yi dengan bingung, dan Gong Yi segera menyahut, "Tidak repot, tidak repot sama sekali. Kebetulan aku juga sedang belajar ilmu pengobatan. Mulai sekarang, aku yang akan memijat Ayahanda setiap hari, anggap saja ini sebagai latihan untuk menghafal titik-titik meridian."
Kaisar Tianyou terdiam tanpa kata: Apakah aku ini kelinci percobaan untuk latihanmu?
Gong Yi tetap bersikeras dan tidak mau beranjak sedikit pun. Kaisar Tianyou yang tidak punya pilihan lain akhirnya berbaring di dipan empuk, membiarkan Tabib Agung mengajarkan cara memijat secara langsung.
Gong Yi mendengarkan dengan saksama, meniru teknik Tabib Agung untuk memijat titik-titik pada Meridian Paru-Paru Taiyin Tangan. Keduanya saling bertanya dan menjawab dengan suara yang lembut dan tenang. Perlahan-lahan, orang yang berbaring di dipan empuk itu pun memejamkan matanya.
Gong Yi terus memijatnya selama beberapa saat lagi, sebelum akhirnya meminta Feng Lu mengambilkan selimut untuk menyelimuti beliau.
Kasim istana dengan hati-hati merapikan bara api di dalam kamar peraduan. Setelah memberikan beberapa instruksi dengan suara berbisik, Feng Lu mengantar Gong Yi sampai ke pintu gerbang dan berkata dengan ramah, "Pangeran Ketujuh, Yang Mulia memiliki watak yang keras kepala. Mulai sekarang, kami sangat mengandalkan bantuan Anda setiap hari."
Gong Yi mengangguk dan berkata, "Kasim Feng, di malam hari tolong sering-seringlah menasihati Ayahanda. Urusan pemerintahan tidak akan pernah ada habisnya, hanya dengan istarahat lebih awal barulah tubuhnya bisa sehat."
Feng Lu mengangguk berulang kali, lalu berjalan keluar bersama Gong Yi.
Gong Yi mengira kasim itu hendak mengantarnya pergi, maka dia segera berkata, "Kasim Feng, tidak perlu mengantarku lagi, silakan kembali."
Feng Lu menjelaskan, "Hamba ini menjalankan perintah Yang Mulia untuk pergi ke Istana Zihe guna menjenguk Yang Mulia Pangeran Kedua."
Gong Yi bertanya dengan bingung, "Untuk apa menjenguk Kakak Kedua?"
Feng Lu melihat ke sekeliling terlebih dahulu, baru kemudian berbisik, "Yang Mulia meminta hamba untuk memastikan apakah Pangeran Kedua benar-benar sudah gila."
Selir Chen dan keluarga Lu sudah tiada, sehingga asal-usul Pangeran Kedua kini tidak memiliki bukti ataupun saksi lagi. Kaisar merasa sangat terganggu dengan keberadaan Pangeran Kedua. Begitu mendengar bahwa dia tiba-tiba menjadi gila, wajar saja jika Kaisar menaruh curiga.
Gong Yi tiba-tiba berkata, "Biar aku saja yang pergi menggantikanmu. Kasim Feng tinggal di sini saja untuk menjaga Ayahanda dengan baik."
"Tapi..." Feng Lu ragu-ragi.
Gong Yi berkata, "Tenang saja, aku pasti akan memastikannya dengan baik dan tidak akan membuatmu berada dalam posisi sulit."
Selama bertahun-tahun ini, Feng Lu telah menyaksikan sendiri betapa Gong Yi sangat disayangi oleh Kaisar. Sekarang, dari beberapa pangeran yang tersisa... siapa tahu Pangeran Ketujuh memiliki takdir besar di masa depan.
Dia menundukkan kepala dan menyetujui, lalu memberi perintah kepada dua kasim kecil di belakangnya, "Kalian berdua ikutilah Pangeran Ketujuh. Lakukan apa pun yang diperintahkan oleh beliau."
Kedua kasim kecil itu mengangguk dan berdiri di belakang Gong Yi.
Gong Yi memimpin kedua orang itu berjalan menuju Istana Zihe. Istana Zihe yang biasanya ramai kini telah disegel. Pintu gerbangnya terkunci rapat, dan suasana di dalamnya sangat sunyi senyap.
Kasim kecil di belakangnya membuka kunci pintu dan berbisik kepadanya, "Pangeran Ketujuh, Pangeran Kedua dikurung di dalam kamar peraduan Selir Chen. Kepala Kasim Feng telah memindahkan dua orang dari Departemen Rumah Tangga Kekaisaran khusus untuk melayaninya."
Gong Yi melangkah masuk dan langsung berjalan menuju kamar peraduan. Pintu kamar itu tampak setengah terbuka. Sebelum sempat masuk, dia sudah mendengar suara teriakan histeris Pangeran Kedua dari dalam, disusul oleh suara bentakan bernada memaksa dari seorang pelayan istana, "Cepat makan! Makan tidak?!"
Terdengar suara nyaring dari mangkuk dan sumpit yang dilemparkan hingga pecah, disusul dengan suara tangisan tersedu-sedu dari Pangeran Kedua.
Gong Yi segera mempercepat langkahnya dan masuk ke dalam. Kedua kasim kecil di belakangnya juga bergegas mengikutinya. Begitu melewati sekat ruangan, dia melihat seorang kasim sedang memegangi Pangeran Kedua yang berambut acak-acakan dan kotor, sementara seorang kasim lainnya mencengkeram wajah sang pangeran dengan kuat, mencoba menjejalkan sisa makanan dari pecahan mangkuk ke dalam mulutnya.
Makanan itu tampak kering dan sangat hambar, jelas sekali sudah dingin.
Pangeran Kedua tampak sangat kotor dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan ada beberapa bekas cakaran kecil di wajahnya. Dagu dan rahangnya memerah akibat cengkeraman kuat kasim tersebut, sementara kedua tangannya berusaha keras menarik tangan si kasim agar terlepas.
Kemarahan Gong Yi langsung meledak. Dia melangkah maju dan menendang kasim yang memaksa memberi makan itu hingga terpental, lalu langsung mematahkan tangan kasim lainnya yang sedang memegangi tangan Pangeran Kedua. Dia membentak keras, "Apa yang sedang kalian lakukan?!"
Kedua kasim kecil itu sangat ketakutan begitu melihat siapa yang datang. Mereka langsung bersujud berulang kali dan memohon ampun, "Pangeran Ketujuh, ampuni hamba! Hamba... hamba semua terpaksa melakukan ini. Pangeran Kedua terus menolak untuk makan, dan hamba semua takut beliau akan mati kelaparan sehingga Yang Mulia akan menghukum kami..." Sejak insiden di Istana Zihe terjadi, Pangeran Kedua sama sekali belum menyentuh makanan ataupun air. Dia menjadi gila dan menolak untuk didekati oleh siapa pun, membuat mereka kehabisan cara.
"Lanu mengapa kalian tidak melapor?! Dia adalah seorang pangeran, beraninya kalian memperlakukannya dengan cara sehina ini!" Gong Yi sangat murka, lalu memerintahkan dua kasim di belakangnya, "Seret kedua orang ini keluar! Aku tidak ingin melihat wajah mereka lagi!"
Kedua kasim kecil itu pun diseret keluar di tengah suara teriakan memohon ampun mereka.
Gong Yi menatap Pangeran Kedua yang meringkuk di sudut tempat tidur sambil menangis ketakutan ke arahnya. Hatinya terasa begitu sesak bagaikan tersumbat segumpal kapas.
Meskipun Kakak Kedua biasanya senang bermain dengan hewan-hewan, dia adalah orang yang sangat menjaga kebersihan. Namun saat ini, bahkan sudut mulutnya dipenuhi noda darah dan kotoran.
Ketika dia melangkah mendekat dua langkah, Pangeran Kedua langsung melambaikan tangannya sambil berteriak histeris, matanya dipenuhi ketakutan yang mendalam.
Gong Yi berpikir sejenak, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Xiao Luzi. Xiao Luzi mengangguk dan segera pergi. Setengah jam kemudian, dia kembali dengan membawa sebuah kandang kayu yang berisi dua ekor kelinci kecil.
Gong Yi mengambil kandang tersebut dan melepaskan kelinci-kelinci itu ke lantai. Kedua kelinci kecil itu tampaknya mencium aroma sang majikan, lalu melompat-lompat mendekati Pangeran Kedua. Mereka mengendus dan mengesek-gesekkan tubuh mereka di dekat kaki dan tangan Pangeran Kedua.
Pangeran Kedua yang tadinya berteriak histeris perlahan-lahan mulai tenang. Dengan mata yang merah, dia menatap kelinci-kelinci itu. Ketika salah satu kelinci tersandung dan hampir terjatuh, dia dengan cepat mengulurkan tangan untuk menyambutnya, lalu dengan sangat hati-hati membelai punggung kelinci tersebut.
Kelinci kecil itu sangat jinak dan diam di tangannya tanpa bergerak. Tatapan Pangeran Kedua tampak seperti seorang anak kecil yang baru pertama kali melihat makhluk mungil ini, matanya dipenuhi rasa ingin tahu.
Mengambil kesempatan ini, Gong Yi berjalan mendekatinya perlahan. Dia juga mengulurkan tangan untuk mengelus kelinci itu, lalu berkata dengan suara yang sangat lembut, "Kelinci..."
Pangeran Kedua mengikuti ucapannya dan mengulungi, "Ke... Kelinci..."
Gong Yi berkata sekali lagi, "Kelinci putih kecil..."
Pangeran Kedua mengulangi lagi, "Ke... lin... ci... pu... tih..."
Gong Yi tertawa kecil, dan Pangeran Kedua, yang matanya masih berkaca-kaca, ikut menyeringai gembira bersamanya.
Apakah ini berarti sang kakak tidak lagi menolaknya?
Gong Yi mengulurkan tangan untuk merapikan rambut kakaknya yang berantakan, sementara Xiao Luzi dengan tanggap segera membawakan peralatan basuh dan meletakkannya di hadapan mereka.
Lima belas menit kemudian, rambut dan wajah Pangeran Kedua telah dibersihkan hingga rapi.
Xiao Luzi menghela napas di sampingnya, "Dulu Pangeran Kedua adalah orang yang sangat menjaga kebersihan. Ini semua gara-gara Selir Chen..."
Mendengar nama Selir Chen disebut, Pangeran Kedua tidak menunjukkan reaksi sama sekali. Dia masih asyik memeluk kelincinya dan bermain sendiri.
Gong Yi kemudian menyuruh orang membawakan makanan baru dari dapur kekaisaran. Kali ini, Pangeran Kedua memeluk mangkuknya, makan sambil menyuapi kelincinya.
Namun, kelinci itu tentu saja tidak suka memakan nasi, sehingga dia akhirnya berlarian di dalam kamar peraduan demi mengejar kelinci tersebut...
Setelah mengamati beberapa saat, Gong Yi memberi perintah kepada anak buah Feng Lu, "Kembalilah dan sampaikan pada Kasim Feng bahwa Pangeran Kedua memang benar-benar sudah gila. Minta beliau mengirimkan beberapa orang lagi untuk melayaninya. Kejadian seperti hari ini tidak boleh terulang lagi. Aku akan sering datang untuk menjenguknya."
Kedua kasim kecil itu mengangguk patuh berulang kali.
Gong Yi menambahkan, "Bawa juga semua hewan peliharaan yang dulu dipelihara oleh Pangeran Kedua ke Istana Zihe. Di masa mendatang, dia juga bisa diizinkan membawa hewan-hewannya berjalan-jalan di luar kamar peraduan."
Kasim kecil itu merasa agak bimbang dan berkata, "Tetapi... Yang Mulia telah menitahkan bahwa Pangeran Kedua hanya boleh berada di dalam kamar peraduan."
Gong Yi menegaskan, "Kalian lakukan saja apa yang kukatakan. Ayahanda tidak akan memedulikan urusan kecil seperti ini. Kalaupun beliau bertanya, aku yang akan bertanggung jawab."
Kedua kasim kecil itu saling bertukar pandang, lalu menyetujui keputusannya.
Gong Yi melayangkan pandangannya ke sudut kamar. Pangeran Kedua telah merangkak ke bawah tempat tidur untuk menangkap kelincinya, mulutnya terus bergumam tanpa henti, "Kelinci, kelinci..."
Gong Yi melangkah keluar dari kamar peraduan. Di luar sana, burung-burung bernyanyi dan bunga-bunga menebarkan keharuman, namun hanya dalam beberapa hari, tempat itu sudah dipenuhi oleh guguran daun kering.
Baru sekarang setelah menjalani hidupnya sejauh ini, dia benar-benar menyadari secara nyata bahwa dirinya berada di tengah pusaran perebutan takhta.
Lihatlah Ayahanda Kaisar, yang bekerja siang dan malam mengurus pemerintahan hingga jatuh sakit, namun masih sering ditipu oleh orang-orang di sekitarnya.
Apakah takhta kekaisaran itu begitu indah? Mengapa mereka harus saling bertarung sampai mati?
Sekarang Kakak Pangeran Pertama telah tiada, dan Kakak Kedua telah gila. Pangeran-pangeran yang tersisa seperti mereka, pasti akan segera mulai memperebutkan posisi putra mahkota, bukan?
Bagaimanapun juga, ini adalah dunia dari sebuah novel tentang perebutan takhta.