Buku Pertama: Ada Angin dan Embun Beku di Dunia Manusia Bab Seratus Lima Puluh: Ingatkan Dia untuk Mengingatnya
Mendengar perkataan tersebut, Ji Shifei tertegun di tempatnya. Alisnya berkerut, sementara orang-orang yang hadir serempak mengarahkan pandangan ke arahnya.
Jelas sekali, keinginan Zhou Jiang untuk menjelajahi gunung dan sungai serta menjalani sisa hari-harinya sebagai rakyat biasa Wuyang bukanlah perkara mudah. Setidaknya, istana kekaisaran Wuyang sama sekali tidak akan menoleransi hal tersebut. Kecuali...
Ji Shifei, sang Putri Agung Wuyang, bersedia membantunya menyembunyikan semua ini.
Ini bukanlah urusan sepele. Tak seorang pun tahu apakah Zhou Jiang akan memiliki rencana tersembunyi setelah pergi, dan tidak ada pula yang tahu apakah demi kelangsungan hidupnya di bawah erosi kekuatan suci, ia akan kembali bergabung dengan faksi Istana Keabadian.
Baik bagi Ji Shifei maupun Zhou Jiang, ini adalah sebuah pertaruhan.
Ji Shifei hendak bertaruh apakah pria di hadapannya benar-benar layak untuk dipercayai, sementara Zhou Jiang hendak bertaruh apakah Ji Shifei bersedia menaruh kepercayaan padanya.
Beberapa detik berlalu, namun bagi orang-orang yang hadir di sana, itu terasa seperti penantian yang amat panjang.
Ji Shifei tiba-tiba tersenyum cerah. Ia menatap buku Sepuluh Doktrin Negara Mu di tangannya, lalu berkata, "Tuan adalah tokoh teluru negara. Buku Sepuluh Doktrin Negara Mu ini mungkin dapat menyelamatkan jutaan jiwa rakyat jelata. Dua nyawa ditukar dengan nyawa jutaan orang, kesepakatan ini, Wuyang terima."
Begitu ucapan ini dilontarkan, Zhou Jiang seketika menghela napas lega. Ia bangkit berdiri, kembali menangkupkan tangan, dan berkata, "Terima kasih, Putri Agung."
Sampai pada titik ini, tampaknya segala persoalan telah menemukan jalan keluar.
Setidaknya, masalah terbesar telah diselesaikan.
"Lalu bagaimana dengan pedangnya? Apa yang harus dilakukan terhadap pedang itu?" Namun, pada saat ini, Li Danqing yang sedari tadi tampak lesu tiba-tiba bertanya.
Zhou Jiang meliriknya sekilas dan berkata, "Pedang itu bernama Ji'e, dan ia adalah benda yang membawa malapetaka besar."
"Bakal pedang ini kudapatkan secara kebetulan. Di dalam bilahnya terkandung kekuatan yang sangat besar, lalu Wei Xiang menggunakannya sebagai pemicu dengan teknik rahasia, menempahnya setiap hari untuk menyerap niat jahat dari semua makhluk di Kota Huaji, dan pada hari ketika penempaannya rampung, ia mencabut vitalitas seluruh orang di kota ini agar proses pembuatannya sempurna."
"Benda terkutuk semacam ini sejak awal membawa celaka bagi umat manusia, tentu saja tidak boleh dibiarkan ada. Aku akan menggunakan teknik rahasia untuk menyegel aura permusuhan pada bilah pedang tersebut, lalu menyerahkannya kepada Putri Agung untuk dibawa kembali ke Kota Wuyang dan dijaga oleh keluarga kerajaan Wuyang. Kurasa itu adalah cara yang paling aman."
Penjelasan Zhou Jiang ini sangat rapi tanpa celah, dan Li Danqing pun mengangguk pada saat itu. Namun, di dalam benaknya justru terbayang ilusi yang ia lihat ketika memegang bakal pedang tadi. Ia samar-samar merasa bahwa pedang yang belum lahir itu seolah memiliki keterkaitan dengan Pedang Zhaoge miliknya, tetapi kaitan macam apa persisnya, Li Danqing tidak dapat memastikannya dengan jelas.
"Lalu bagaimana denganmu? Apa yang ingin kau lakukan?" Ji Shifei justru menoleh untuk menatap Xu Lian pada saat ini.
Jika memang benar Zhou Jiang telah melepaskan niatnya untuk memulihkan negaranya, maka Xu Lian yang saat ini telah mengungkap identitasnya sebagai pengikut Istana Keabadian bukankah berada dalam situasi yang canggung? Namun, Ji Shifei sama sekali tidak dapat melihat secercah kepanikan pun di wajah pria itu, sehingga ia mau tidak mau merasa curiga.
Mendengar pertanyaan tersebut, Xu Lian menoleh, menangkupkan tangan ke arah Ji Shifei, dan berkata, "Yang Mulia Putri Agung, Xu juga berniat membicarakan sebuah kesepakatan dengan Putri Agung."
"Hm?" Ji Shifei mengangkat alisnya, hendak mengatakan sesuatu.
"Apakah Tuan membuat keputusan sendiri seperti ini?" Namun, pada saat itu, sebuah suara rendah tiba-tiba terdengar.
Semua orang di tempat kejadian tertegun, lalu serempak menoleh ke arah asal suara tersebut, dan mendapati bahwa orang yang bersuara itu ternyata adalah Wei Xiang.
Saat ini, pria tersebut sedang menundukkan kepala, kedua kepalan tangannya terkatin erat, dan tubuhnya sedikit bergetar, seolah sedang memendam emosi tertentu.
Zhou Jiang menatapnya dengan alis berkerut, ekspresi di wajahnya tampak terguncang. Ia berkata dengan suara lembut, "Wei Xiang, itu adalah kesalahanku di masa lalu. Aku menyeretmu ke jalan yang seharusnya tidak kulalui, tetapi..."
"Tetapi sekarang kau sudah sadar, lho, apakah kau melupakan apa yang kau katakan kepadaku dulu!" Ucapan Zhou Jiang baru saja dimulai ketika ia langsung dipotong oleh Wei Xiang.
Wei Xiang bangkit berdiri, menatap Zhou Jiang dengan ekspresi penuh emosi, dan berseru dengan suara yang hampir menyerupai raungan, "Kkaulah yang mengatakan kepadaku bahwa orang yang menikmati limpahan rezeki dari penguasa harus turut menanggung kecemasan penguasa!"
"Kaulah yang mengatakan kepadaku, penguasa memperlakukanku sebagai tokoh terkemuka negara, maka aku akan membalas penguasa dengan nyawaku!"
"Kaulah yang mengatakan kepadaku, seorang abdi tidak boleh mengabdi pada dua keluarga, seorang menteri tidak boleh mengabdi pada dua penguasa!"
"Kau adalah Zhou Jiang! Orang yang paling berilmu di kolong langit ini! Aku mengira semua perkataanmu adalah benar! Jadi, saat kau memintaku membalas penguasa dengan nyawa, aku membalas penguasa dengan nyawaku! Saat kau memintaku menempa pedang, aku menempah pedang untuk membantumu!"
"Menempa siang dan malam!"
"Ketika bala tentara keluarga Ji mendobrak hingga di luar gerbang kota, aku sedang menempah pedang!"
"Ketika mereka merampas istri dan anakku serta menempelkan bilah pedang di leher mereka, aku masih menempah pedang!"
"Ketika mereka menyeret ibuku yang berusia enam puluh tahun dengan kereta kuda, aku tetap menempah pedang!"
"Aku tidak berani melihatnya! Aku hanya tahu bahwa jika pedang ini selesai ditempa, Tuan akan selamat, dan Da Shang akan selamat! Bahkan ketika pedang mereka menembus dadaku, aku masih berpikir untuk memukulnya sekali lagi, barangkali pedang ini akan menjadi..."
"Tetapi sekarang Tuan memberitaraku bahwa kau telah sadar. Kalau begitu, bisakah Tuan memberitaraku, mengapa di masa lalu kau tidak sadar, dan sebenarnya atas dasar apa istri, anak, dan ibuku harus mati?"
Sembari pria itu berbicara, nada bicaranya yang tergesa-gesa tiba-tiba melambat, dan suaranya mulai tersendat.
Di bawah rentetan pertanyaan Wei Xiang yang hampir tampak kegilaan itu, Zhou Jiang terdiam. Ia menatap sosok Wei Xiang yang tampak hampir putus asa itu, merenung cukup lama, dan akhirnya berucap, "Aku hanya tidak ingin terus berbuat salah..."
"Tidak ingin terus berbuat salah! Tuan! Wei Xiang sekarang sudah tidak punya apa-apa lagi! Selain balas dendam, apa lagi yang bisa kulakukan?"
"Istri dan anakku! Orang tuaku! Sanak saudaraku semuanya sudah mati! Mereka sudah mati sejak seatus tahun yang lalu! Aku tidak punya apa-apa lagi!" ucap Wei Xiang dengan suara rendah. Kedua matanya memerah, dan kepalan tangannya semakin mengerat.
Zhou Jiang mengulurkan tangan untuk memegang kedua bahu Wei Xiang, melirik sejenak ke arah gadis muda di belakang Wei Xiang yang sedang menatapnya dengan penuh kecemasan, lalu berkata dengan suara lembut, "Kau masih memilikinya."
"Dia?" Wei Xiang tertegun, lalu menoleh ke belakang dan mendapati Wei Qu sedang berdiri dengan manis di sana, menatapnya penuh kekhawatiran.
"Da Shang telah runtuh, dan orang-orang yang pernah mencelakaimu pun telah lama menjadi tulang belaka. Seratus tahun telah berlalu, orang-orang sudah lama melupakan Da Shang. Sekalipun kita memegang pedang ini, kita tidak akan mampu memulihkan Da Shang. Lagipula, apa artinya berbuat demikian? Orang yang telah mati tidak akan bangkit kembali. Apakah kau ingin ia juga ikut menanggung nasib malang dan getir seperti masa lalu bersamamu?"
"Membalas dendam untukmu, berlari ke sana ke mari demi dirimu, lalu hari demi hari disiksa oleh kebencian?"
"Lepaskan pedang itu. Mari kita pergi bersama, melihat dunia ini dengan sisa waktu yang kita miliki."
Perkataan Zhou Jiang sepertinya menohok bagian yang paling menyakitkan bagi Wei Xiang. Secercah keraguan melintas di mata Wei Xiang. Ia menatap Wei Qu, dan Wei Qu juga menatapnya balik. Sang gadis memasang ekspresi penuh kekhawatiran, ingin mengatakan sesuatu, namun topik yang dibicarakan oleh orang-orang di hadapannya jelas sudah jauh melampaui pemahamannya. Ia sama sekali tidak tahu apa yang harus dikatakan agar Wei Xiang merasa sedikit lebih baik.
Semua orang di tempat itu pun terdiam pada saat itu. Mereka masing-masing menatap Wei Xiang, di dalam hati sebagian besar dari mereka sulit untuk benar-benar menyelami pengalaman hidup Wei Xiang, namun mereka setidaknya dapat memahami betapa putus asinya seseorang ketika keyakinan yang dipegang teguh tiba-tiba kehilangan maknanya pada suatu hari, dan keimanan mereka runtuh seketika.
Begitu lama waktu berlalu, sorot mata Wei Xiang yang terus menatap Wei Qu perlahan-lahan melunak. Kedua tangannya yang terkepal erat pun perlahan mengendur pada saat itu...
Melihat hal tersebut, Zhou Jiang tersenyum cerah, sebuah senyuman yang sangat lapang dada.
...
"Bawakan sebotol anggur." Li Danqing berjalan menghampiri pria berbekas luka itu dan berkata kepadanya.
Pria berbekas luka itu meliriknya sambil tersenyum geli dan berkata, "Tidak bayar lagi, ya. Tidak akan ada kesempatan kedua."
Meskipun berkata demikian, pria berbekas luka itu tetap menyerahkan sebotol anggur ke hadapan Li Danqing.
Li Danqing menatap senyuman tipis di wajah pria itu dan merasa sedikit geli di dalam hatinya. Perjalanan ke Kota Huaji ini sungguh membukakan mata Sang Tuan Muda Li.
"Pedang Ji'e menyerap kebencian mereka. Seiring berjalannya waktu, mereka kehilangan emosi seperti amarah, itulah sebabnya mereka menjadi seperti itu." Li Danqing sedang memegang botol anggur dan hendak meneguknya ketika sebuah suara terdengar dari samping, dan rupanya itu adalah Zhou Jiang.
Urusan di Kota Huaji kini bisa dikatakan telah usai sepenuhnya, sehingga orang-orang memutuskan untuk tinggal sementara di kota itu. Bagaimanapun, mereka masih harus menunggu Zhou Jiang merapal mantra untuk menyegel kekuatan di dalam pedang terkutuk itu sebelum Ji Shifei dapat membawanya kembali ke Kota Wuyang. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, Li Danqing toh telah menunda perjalanan begitu lama di sepanjang jalan ini, jadi ia tidak keberatan untuk menunda beberapa jam lagi.
Hanya saja, karena sudah terlalu lama pergi, hati Sang Tuan Muda tanpa sadar merindukan orang-orang di Akademi Dafeng.
"Apakah Tuan benar-benar sudah melepaskannya?" Melihat Zhou Jiang menghampiri, Li Danqing bertanya sambil tersenyum, lalu secara alami menyerahkan botol anggur di tangannya.
Zhou Jiang tersenyum sambil melambaikan tangan, lalu melirik sekilas ke arah pria berbekas luka di belakang Li Danqing dan berkata, "Tidak ada yang tidak bisa dilepaskan. Sebenarnya jika dipikir-pikir baik-baik, di dunia ini sama sekali tidak ada hal yang begitu besar. Sekalipun sebuah dinasti runtuh, seratus tahun kemudian, apa arti semua itu?"
"Sebaliknya, rakyat di kota ini terseret ke dalam kebencian dari seratus tahun lalu ini, benar-benar merupakan malapetaka yang tidak beralasan. Untungnya, setelah pedang terkutuk itu disegel, mereka akan perlahan pulih kembali, hanya saja butuh waktu sedikit lebih lama."
"Jika Tuan pergi begitu saja, lalu bagaimana dengan Istana Keabadian yang telah mengerahkan begitu banyak tenaga untuk membangkitkan Tuan dan Senior Wei Xiang? Mana mungkin mereka melepaskannya begitu saja?" Li Danqing kembali bertanya.
Zhou Jiang menjawab, "Dengan adanya Saudara Xu di sana, kurasa tidak akan ada masalah. Lagipula, kita tidak akan hidup lama lagi. Bisa menikmati hidup sehari berarti untung sehari, jadi aku tidak menuntut macam-macam."
Li Danqing menyipitkan matanya. Perjalanan ke Kota Huaji ini, jika dibicarakan, kejutan terbesar justru datang dari kepala keluarga Xu tersebut. Li Danqing bahkan tidak dapat menebak perhitungan apa yang disembunyikan oleh orang itu, tetapi dipikir-pikir, dengan wawasan dan ilmu Zhou Jiang, ia seharusnya tidak akan mudah ditipu oleh pihak lain. Karena Zhou Jiang sendiri tidak membahasnya, Li Danqing tentu saja tidak bisa banyak bertanya.
"Lalu, apakah Tuan sudah memikirkan hendak pergi ke mana?" Li Danqing bertanya lagi.
"Jujur saja, jika mengesampingkan seratus tahun tidur panjang itu, usia Zhou tahun ini sudah empat puluh dua tahun, tetapi tempat yang pernah kudatangi bisa dihitung dengan jari. Para orang bijak berkata, berjalanlah sejauh sepuluh ribu mil dan bacalah sepuluh ribu buku. Zhou hanya berhasil melakukan yang kedua. Sisa hari-hari ini akan kujalani dengan bebas, ke mana pun boleh," kata Zhou Jiang.
"Kalau begitu, jika suatu hari Tuan merasa sudah tidak kuat lagi, datanglah ke Gunung Yang. Putra Mahkota ini akan mengantarkanmu ke tempat peristirahatan terakhir dan mencarikan sebidang tanah dengan fengshui yang baik di Gunung Yang untukmu. Di kehidupan selanjutnya, siapa tahu Tuan bisa bereinkarnasi ke keluarga kekaisaran, hidup dalam gelimang harta dan kemewahan, bukankah itu luar biasa?" kata Li Danqing lagi.
Mendengar itu, Zhou Jiang tersenyum tipis. Ia melirik Li Danqing sekilas dan berkata, "Omong-omong, pada saat itu apakah aku juga harus mempertimbangkan bahwa tidak memiliki penerus untuk seluruh ilmu bela diri yang kupelajari semasa hidupku ini adalah hal yang kurang tepat, lalu mencari seseorang untuk mewariskannya? Bukankah begitu yang ada di benak Sobat Muda?"
Pikirannya terbongkar, namun Li Danqing sama sekali tidak merasa malu atau tersipu. Ia justru memasang wajah tebal dan tersenyum, "Seseorang yang tidak memiliki rencana jangka panjang pasti akan menghadapi kekhawatiran dekat. Aku kan hanya memikirkan hal yang terbaik untuk Tuan."
Zhou Jiang tertawa kecil tanpa suara. Ia menyipitkan mata menatap Li Danqing cukup lama, hingga tiba-tiba alisnya terangkat. Seberkas cahaya biru terpancar dari dalam tubuhnya, melesat dengan kecepatan yang mencengangkan ke arah Li Danqing.
Hati Li Danqing terkejut. Secara tidak sadar ia mengulurkan tangan untuk menangkis, namun siapa sangka berkas cahaya biru itu justru langsung merasuk ke telapak tangannya, meninggalkan sebuah tanda biru di sana sebelum akhirnya lenyap tak berbekas.
Mana pernah Li Danqing melihat pemandangan seperti itu? Seketika ia menatap Zhou Jiang dengan perasaan ngeri, namun ia mendapati Zhou Jiang tersenyum dan berkata, "Sobat Muda bersama Putri Agung telah membawaku berkelamar di dua wilayah kabupaten dan menghabiskan banyak biaya. Aku tidak memiliki barang berharga apa pun, jadi aku hanya bisa membalas budi dengan ilmu."
"Buku Sepuluh Doktrin Negara Mu telah kuberikan kepada Putri Agung, dan Sobat Muda tampaknya juga tidak tertarik dengan hal semacam itu. Jadi, aku memberikan secercah niat pedang fenomena langit milikku ini kepada Sobat Muda. Seberapa banyak yang bisa kaupahami bergantung sepenuhnya pada takdir Sobat Muda."
Mendengar perkataan itu, Li Danqing awalnya tertegun, namun sesaat kemudian wajahnya dipenuhi dengan ekspresi gembira dan terkejut. Niat pedang fenomena langit ini adalah jurus andalan Zhou Jiang. Memasukkan seberkas niat pedang ini ke dalam tubuh sama artinya dengan mewarisi ilmu Zhou Jiang—ini adalah keuntungan yang sangat besar!
Li Danqing seketika berseri-seri kegirangan dan berulang kali mengucapkan terima kasih kepada Zhou Jiang.
Namun, Zhou Jiang melambaikan tangannya dan berkata lagi, "Aku memberikan benda ini kepada Sobat Muda selain untuk berterima kasih atas penjagaan Sobat Muda selama beberapa hari ini, juga ada maksud lain. Mohon dengarkan baik-baik, Sobat Muda."
Li Danqing yang telah menerima keuntungan tentu saja memahami prinsip "makan pemberian orang menjadi lemah, menerima pemberian orang menjadi tunduk". Mendengar hal tersebut, ia mengangguk berulang kali dan berkata, "Tuan, silakan katakan!"
Zhou Jiang menyipitkan matanya, menatap tajam ke arah Li Danqing, lalu tiba-tiba merendahkan suaranya dan berkata dengan lembut, "Aku mengenali pedang yang ada di punggung Sobat Muda..."
...
"Kasur-kasur ini sudah dipakai selama bertahun-tahun, bahkan ada yang sudah berjamur. Kita tidak usah membawanya, ya?"
"Hmm... kalau pakaian, pakaian yang kau kenakan ini juga sebaiknya tidak usah dipakai lagi, ya? Aku sudah membuatkan dua helai pakaian untukmu, tetapi kau tidak pernah mengenakannya. Kali ini bawalah dua helai itu saja. Pakaianku sendiri sudah pas-pasan, nanti kalau pakaianmu kurang, kita bisa membelinya lagi sesampainya di luar. Aku masih punya sedikit uang di sini."
Di dalam pondok kecil milik Wei Xiang, Wei Qu sedang sibuk merapikan sedikit barang bawaan mereka berdua sambil mengomel seperti seorang istri baru, sementara wajahnya dipenuhi dengan rona kegembiraan.
Tentu saja ia sangat gembira karena akhirnya bisa meninggalkan tempat yang telah ia tinggali selama tujuh tahun ini, dan Wei Xiang akhirnya tidak perlu lagi tenggelam dalam urusan penempaan pedang.
"Kurasa Tuan Zhou itu adalah seorang tokoh besar. Nanti kita bisa membicarakannya dengannya dan memintanya mencarikan cara untuk mengobati penyakitmu. Pasti akan jauh lebih mujarab daripada obat-obatan yang diberikan oleh orang-orang itu..."
Wei Qu berbicara, tetapi ia mendapati pria itu tidak memberikan tanggapan. Ia memeluk pakaian yang telah dirapikannya dan berjalan menghampiri Wei Xiang, lalu bertanya dengan alis berkerut, "Ada apa? Masih memikirkan pedangmu itu? Tuan Zhou sendiri sudah bilang tidak usah, jadi kau jangan..."
"Qu'er." Namun, pada saat itu, Wei Xiang tiba-tiba bersuara. Suaranya terdengar agak rendah, membuat Wei Qu tertegun.
Ia menatap pria itu, dan pria itu pun mengangkat kepalanya pada saat itu juga. Ia menatapnya dengan tatapan dingin yang belum pernah dilihat oleh Wei Qu sebelumnya: "Apakah kau lupa bagaimana ayahmu mati?"
Wei Qu merasa sedikit bingung, namun ia tetap menjawab beberapa detik kemudian, "Tentu saja aku ingat, tetapi hal-hal itu sudah berlalu..."
"Belum berlalu!"
"Selama kau tidak melupakannya!"
"Aku tidak lupa!"
"Maka masalah ini tidak akan pernah berlalu!"
Wei Xiang mengucapkan setiap kata dengan penuh penekanan. Suaranya rendah bahkan serak, dan kedua matanya perlahan-lahan diselimuti oleh lapisan warna kehitaman.
"Tetapi Tuan Zhou itu..." Wei Qu belum pernah melihat Wei Xiang dalam wujud seperti itu. Ia mundur selangkah karena ketakutan sambil berkata demikian.
"Dia telah melupakannya! Tetapi tidak apa-apa! Kita bisa membuatnya mengingatnya kembali!"
"Aku sudah membesarkanmu selama tujuh tahun, sekarang saatnya kau membalas budi kepadaku."
Begitu ia melontarkan kalimat tersebut, seberkas cahaya pekat terpancar dari kedua matanya, langsung merasuk ke dalam mata Wei Qu!