Bab 95: Penuh Bahaya dan Ketegangan
Sinar matahari menembus barisan pohon yang tinggi, menyinari isi hutan dan dengan cepat melenyapkan kabut tipis yang menyelimutinya.
Yang Yinglong membawa pedang panjang yang berlumuran darah, mengedarkan pandangannya ke sekeliling, sementara anak buah Ge Maolao telah menghilang tanpa jejak.
Mereka telah bertarung sejak petang kemarin. Awalnya, anak buah Ge Maolao memegang keunggulan berkat jumlah mereka yang lebih banyak. Namun, dua gelompok bala bantuan Yang Yinglong tiba secara beruntun, lambat laun menekan pihak Ge Maolao.
Pertempuran sengit ini berlanjut hingga tengah malam, ketika kabut tebal tiba-tiba turun di dalam hutan. Di tengah kegelapan malam yang remang-remang, bahkan dengan obor di tangan, sulit untuk membedakan kawan dari lawan. Ditambah lagi dengan gulungan kabut yang semakin pekat merayap, pertempuran ini menjadi mustahil untuk dilanjutkan.
Ge Maolao memanfaatkan kesempatan itu untuk mundur bersama pasukannya, hanya menyisihkan sebagian kecil prajurit untuk menahan Yang Yinglong. Sekelompok kecil prajurit inilah yang memainkan peran besar di tengah kabut tebal, dan Yang Yinglong baru berhasil melenyapkan musuh-musuh yang terus melancarkan serangan mendadak itu menjelang fajar.
"Tuan, kami tidak menemukan jenazah Ge Maolao!" beberapa orang kepercayaan berlari terburu-buru menghadap Yang Yinglong untuk melapor. Yang Yinglong menggertakkan giginya, mengayunkan pedangnya dengan penuh kebencian, lalu membentak, "Ayo! Kembali ke kuil dan tunggu dia!"
Yang Yinglong sama sekali tidak akan membiarkan Ge Maolao memasuki kuil, jika tidak, situasinya akan benar-benar berbalik. Ketika berangkat tadi, ia telah memerintahkan orang-orang yang berjaga di kuil bahwa begitu mereka melihat Ge Maolao, dengan alasan apa pun mereka tidak boleh membiarkannya masuk. Oleh karena itu, ia tidak terlalu khawatir Ge Maolao bisa begitu cepat memasuki kuil.
Terlebih lagi, berdasarkan interaksinya dengan Ge Maolao sebelumnya, jelas bahwa Ge Maolao belum mengetahui bahwa plok giok pihak Yang Mulia telah diserahkan kepadanya. Maka, Ge Maolao yang menyimpan niat licik tidak akan bertindak gegabah memasuki kuil sebelum menyiapkan jalan cadangan.
Yang Yinglong mengumpulkan sisa pasukannya, meninggalkan prajurit yang menderita luka ringan untuk merawat yang luka parah, lalu memimpin yang lainnya kembali ke kuil dengan cepat untuk "menunggu kelinci menabrak batang pohon". Di atas puncak gunung yang jauh, Ge Maolao yang telah memimpin sisa pasukannya mundur ke tempat itu sedang mengamati pergerakan kelompok Yang Yinglong, alisnya berkerut sangat dalam hingga membentuk gumpalan erat.
Yang Yinglong jelas kembali ke kuil untuk bersiap dan menunggu. Karena keduanya telah merobek topeng kebaikan mereka, peluangnya untuk kembali ke kuil dengan selamat telah menjadi nol. Lalu apa yang harus dilakukan sekarang? Apakah benar-benar harus menerobos masuk dengan paksa?
Bukannya Ge Maolao tidak pernah memikirkan cara ini. Namun, kecuali terpaksa, ia tidak ingin menggunakan cara semacam itu. Ia tidak takut bermusuhan secara terang-terangan dengan Yang Yinglong, yang ia khawatirkan adalah ia tidak tahu apa niat pihak Yang Mulia dan pengaturan apa saja yang telah dibuat. Seandainya ia memaksa menerobos, sementara orang tua bangka itu masih memiliki tenaga untuk bangkit dan keluar berdiri tegak, bagaimana ia akan menjelaskan tindakannya? Pada saat itu, reputasinya benar-benar akan hancur lebur.
Namun, saat ini kunci satu-satunya untuk memasuki kuil ada di tangannya sendiri, apakah ia harus duduk termenung menyia-nyiakan kesempatan emas ini, hingga pewaris pilihan Yang Mulia muncul di anjungan kuil, menerima sujud dan pemujaan jutaan rakyat, sementara dirinya sekali lagi terpaksa tunduk di bawah orang lain dan selamanya tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk bangkit? Ia tidak rela!
Perang batin berkecamuk di dalam dada Ge Maolao. Setelah bergelut cukup lama, otot-otot di wajahnya terus berkedut, menampilkan rupa yang tampak agak menyeramkan. Setelah sekian lama, ia akhirnya mengatupkan rahangnya rapat-rapat dan membuat keputusan: "Pengawal, kumpulkan orang-orang kita! Hubungi para pemimpin perkampungan gunung yang memiliki hubungan dekat dengan kita. Jika benar-benar tidak ada jalan lain, kita akan menerobos masuk ke kuil dengan paksa!"
"Baik!"
Beberapa orang kepercayaan yang sedari tadi berdiri di samping menunggu perintah langsung menangkupkan tangan memberi hormat, lalu berlari kencang menuju tujuan masing-masing...
Suntingan: Sinar matahari yang hangat menyinari punggung Ye Xiaotian. Karena serbuk sari yang diisapnya semakin sedikit, ia menjadi orang pertama yang terbangun. Begitu sadar, Ye Xiaotian merasa hidungnya gatal dan tak kuasa menahan diri untuk bersin beberapa kali berturut-turut.
Ye Xiaotian tiba-tiba merasa tubuh di bawahnya begitu empuk. Saat itulah ia menyadari bahwa dirinya tengah menelungkup di atas tubuh Zhan Ning'er. Ia buru-buru duduk tegak, menggelengkan kepalanya, perlahan-lahan mengingat kembali situasi sebelum ia jatuh pingsan.
Ye Xiaotian mendongak untuk melirik sekilas bunga aneh di samping sana, lalu membatin, "Tempat ini sungguh penuh dengan kejanggalan, ada serangga yang bisa melahap manusia hingga tinggal tulang, ada pula bunga jenis ini yang mampu membius orang hingga pingsan."
Ia dengan lembut mendorong tubuh Zhan Ning'er dan memanggil beberapa kali dengan suara pelan. Zhan Ning'er masih berada dalam keadaan pingsan dan belum sadarkan diri, namun Ye Xiaotian kini memiliki pengalaman sendiri sehingga tidak terlalu khawatir.
Saat itulah ia baru menyadari postur telentang Zhan Ning'er. Pinggang rampingnya yang lembut, dengan separuh bagian tubuhnya menumpu di bawah lutut Ye Xiaotian, membuat dada yang membusung itu tampak semakin montok dan padat. Bentuknya yang bulat dan indah itu, jika dipandang oleh seorang pemula sepertinya, benar-benar memiliki daya tarik yang membuat telinga panas dan jantung berdegup kencang.
Ye Xiaotian tiba-tiba merasa tenggorokannya kering kerontang, jantung kecilnya berdegup kencang bagaikan tabuhan genderang, dan sepasang matanya terpaku dengan penuh kekaguman pada "puncak giok" yang memikat dan elok itu, sedetik pun tak rela dialihkan.
"Entah... entah seperti apa rasanya jika menyentuh bagian tubuh wanita itu, pasti sangat nyaman. Hm, rasanya pasti sangat lembut, Paman Zhuo Zi yang bilang begitu. Tapi... seperti apa sebenarnya rasanya?"
Zhuo Zi adalah tetangga sebelah rumah Ye Xiaotian. Ye Xiaotian mengenang kembali saat-saat paman yang tidak senonoh itu dengan penuh semangat mengajarkan "ilmu kewanitaan" kepadanya. Di dalam hatinya terasa seolah ada seekor serangga kecil yang merayap, semakin gatal dan semakin ingin menyentuhnya, namun seketika itu pula ia tidak memiliki keberanian untuk melancarkan serangan diam-diam.
Meskipun Zhan Ning'er sedang pingsan dan bahkan jika ia melakukan sesuatu pun gadis itu tidak akan mengetahuinya, ia tetap tidak mampu mengumpulkan keberanian. Perasaan itu mirip dengan pengamalan masa kecilnya ketika suatu hari ia bermain di halaman rumah Paman Mu, tetangga sebelah kanannya. Tiba-tiba ia melihat jendela rumah Paman Mu terbuka, dan di atas meja terdapat sebuah buah persik madu yang tampak segar dan ranum. Cukup dengan mengulurkan tangannya saja ia sudah bisa mengambilnya, namun ia sama sekali tidak berani mengulurkan tangan.
Saat itu, ia mondar-mandir di depan jendela, terus-menerus mengamati situasi di sekeliling, dan tak henti-hentinya menyemangati diri sendiri. Pada akhirnya, ketika ia mengulurkan tangan dan dengan cepat merenggut buah persik madu yang segar itu, jantungnya hampir copot dari rongga dadanya, dan rasa tegangnya bahkan membuat gendang telinganya berdengung.
Kali ini, bahkan sebelum ia mengulurkan tangan, jantungnya sudah berdegup sampai ke tenggorokan, dan gendang telinganya pun sudah mulai berdengung.
"Hanya menyentuh sekali, aku... hanya akan menyentuh sekali..."
Ye Xiaotian berlutut di samping Zhan Ning'er. Bagian tubuh yang montok sempurna dan berlekuk indah itu berada tepat di hadapannya, bagaikan sebuah buah persik madu yang segar dan berair, terus-menerus merangsang indranya dan menggoda nafsunya. Setelah bergelut cukup lama, Ye Xiaotian akhirnya mengambil keputusan bulat.
Dengan tangan yang gemetar, ia mengulurkan tangan, meraba inci demi inci ke arah bungkusan daging yang membusung itu, sementara matanya menatap tajam dengan tegang ke wajah Zhan Ning'er. Ujung jarinya seolah hampir menyentuh pakaian Zhan Ning'er—padahal sebenarnya belum tersentuh—ia sudah melihat bulu mata Zhan Ning'er berkedip pelan. Ketakutan itu membuat Ye Xiaotian buru-buru menarik kembali tangannya.
Zhan Ning'er tidak bergerak dan tetap berbaring tak sadarkan diri. Ye Xiaotian memukul kepalanya sendiri karena merasa kesal dan membenci kepengecutannya sendiri: "Untuk apa takut padanya, toh dia tidak akan tahu. Aku... aku kan terjebak di sini gara-gara terseret olehnya, ini hanya mengambil sedikit kompensasi..."
Ye Xiaotian berusaha keras meyakinkan dirinya sendiri, lalu dengan tubuh gemetar kembali mengulurkan tangan, meraba ke arah puncak dada wanita yang misterius dan memikat itu. Tepat saat ujung jarinya nyaris menyentuh tempat misterius yang sangat diimpikan oleh para lelaki tersebut, Zhan Ning'er tiba-tiba mendengus pelan dan membuka matanya.
Hanya satu deheman pelan itu saja, di telinga Ye Xiaotian terdengar bagaikan sambaran petir menyambar. Tangannya seolah baru saja disengat kalajengking, ditarik mundur dengan kecepatan kilat.
Zhan Ning'er membuka matanya dan mendapati wajah Ye Xiaotian memerah bagaikan jengger ayam, bola matanya mendelik lebar, menatap dirinya dengan ekspresi sangat tegang. Zhan Ning'er sontak terkejut dan buru-buru menunduk untuk memeriksa tubuhnya sendiri, takut kalau-kalau begitu ia menunduk, yang terlihat justru kerangka putih yang mengerikan.
"Untunglah!"
Zhan Ning'er menghela napas lega, lalu menghibur Ye Xiaotian dengan berkata, "Aku tidak apa-apa, tadi itu... bunga apa sebenarnya yang menyemburkan sesuatu barusan?"
Ye Xiaotian nyaris tertangkap basah sedang melakukan niat buruk. Jantungnya sedang berdegup kencang karena takut Zhan Ning'er menemukan petunjuk apa pun, maka ia segera tertawa basa-basi dan berkelakar, "Bunga barusan itu adalah bunga percintaan."
Zhan Ning'er bertanya dengan heran, "Bunga percintaan?"
Ye Xiaotian menjawab dengan wajah serius, "Betul! Bunga percintaan menyemburkan kabut birahi, kau dan aku sama-sama telah terkena kabut birahi itu."
Zhan Ning'er berkata, "Kabut birahi..."
Ye Xiaotian melanjutkan, "Betul, makanya... sekarang kau adalah orangku!"
"Plak!"
Belum selesai Ye Xiaotian berbicara, tubuhnya melayang seolah menginjak awan, lalu terjun ke dalam air pancuran dengan suara "cipratan" yang kencang, membuat ikan-ikan terkejut dan berenang tercerai-berai ke segala arah. Ye Xiaotian berenang menggunakan gaya anjing untuk naik ke daratan, lalu mengeluh, "Kalau kau tidak mau menjadi orangku, ya sudah aku saja yang menjadi orangmu, kenapa kau menendangku?"
Zhan Ning'er baru saja sadar, pikirannya masih belum sepenuhnya jernih. Mendengar ucapannya barunya tadi, ia mengiranya sungguhan. Dalam balutan rasa malu dan geram, ia langsung melayangkan tendangan hingga pemuda itu terpental keluar. Kini setelah duduk dan mendapati tubuhnya tidak mengalami keanehan apa pun, tentu saja ia tahu bahwa pemuda itu sedang bercanda. Mengingat kembali betapa khawatirnya pemuda itu terhadap dirinya saat baru sadar tadi, Zhan Ning'er merasa sedikit tidak enak hati. Namun, sebagai seorang nona besar yang angkuh dan gengsian, tentu saja ia tidak mungkin meminta maaf, sehingga ia hanya bisa berkata dengan wajah memerah, "Siapa suruh kau berbicara sembarangan, pantas saja kena pukul!"
Melihat rupa Zhan Ning'er, Ye Xiaotian tahu bahwa gadis itu tidak menaruh curiga pada ekspresinya tadi. Beban di hatinya terangkat, dan nada bicaranya pun kembali santai: "Hanya bercanda saja, galak sekali, lihat saja nanti siapa yang berani menikahimu."
Zhan Ning'er mendelik tajam ke arahnya dan berkata, "Bukan urusanmu! Sejak aku mengenali wajah asli Xu Boyi, aku baru menyadari bahwa semua laki-laki itu murahan, nona ini memutuskan tidak akan menikah seumur hidup!"
Ye Xiaotian memeras air dari pakaiannya sambil berkata, "Begitu ya, begitu ya, kalau begitu aku adalah pedangnya, dan kau adalah sarung pedangnya."
"Brak!"
Ye Xiaotian menjerit kesakitan, kembali terjatuh ke dalam air, membuat ikan-ikan yang baru saja berkumpul kembali tercerai-berai untuk kesekian kalinya. Untungnya Zhan Ning'er bisa mengukur kekuatannya, setiap kali ia menggunakan tenaga terarah untuk melayangkan pemuda itu. Meskipun Ye Xiaotian jatuh ke air, ia sama sekali tidak terluka sedikit pun.
Ye Xiaotian berenang sekuat tenaga agar tidak tenggelam, lalu berkata kepada Zhan Ning'er, "Kita ini sedang berada di perahu yang sama, Nona Besar. Kalau kau sampai menenggelamkan diriku... byur byur... nikmatilah sisa hidupmu dalam kesendirian sampai tua di sini..."
Zhan Ning'er bersungut-sungut, "Kalau kau berani bicara omong kosong lagi, akan kubiarkan kau benar-benar tenggelam." Meski berkata begitu, ia tetap menyambar sebatang ranting pohon dan mengulurkannya ke dalam air agar bisa diraih oleh Ye Xiaotian. Ye Xiaotian memegang ranting itu dan ditarik olehnya ke tepi. Sambil memanjat naik, ia berkata, "Kau boleh memarahi diriku, tapi aku tidak boleh membela diri, logika macam apa ini?"
Zhan Ning'er mengangkat sedikit sudut bibirnya dan berkata, "Omong kosong! Kalau tidak begitu, menurutmu dari mana julukan Harimau Penguasa Langit ini kudapatkan?"
"Brugh!"
Baru saja Ye Xiaotian berdiri di atas tepian, tubuhnya kembali melayang ke dalam air. Namun kali ini bukan Zhan Ning'er yang menendangnya. Zhan Ning'er berdiri di tepi daratan, menatap kosong ke arah Ye Xiaotian. Baru saja ia merasakan embusan angin di telinganya, seolah ada sesosok bayangan manusia yang melesat lewat, dan seketika itu pula bayangan tersebut menabrak tubuh Ye Xiaotian, membuat pemuda itu terpental terbang dan kembali terjatuh ke dalam air.
"Bayangan manusia itu... siapa?"
Catatan penulis: Dini hari, dengan tulus memohon tiket rekomendasi!
(Bersambung...)